Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#16 Air Ngambek


__ADS_3

Badai lalu memberikan mie yang sudah ia masak tersebut ke hadapan Air, membuat wanita itu benar-benar senang sekali dan menyantap makanannya dengan lahap sekali. sedangkan Badai hanya tersenyum melihat istrinya tampak begitu lahap memakan mie tersebut.


Ia juga sedikit khawatir dengan kandungan wanita saat memakan mie pedas tersebut, bisa-bisa membuat calon anaknya kenapa-napa didalam sana. Badai hanya bisa berdoa supaya semuanya bakalan baik-baik saja.


"Badai,"


Brukh!


Badai menoleh dan kaget melihat Kakeknya terkapar di lantai, langsung saja ia mendekati sang Kakek. "Kakek, Kakek kenapa?" panik Badai sedangkan pria tua itu memegangi dadanya yang sesak. "Badai bakalan bawa Kakek ke rumah sakit sekarang," jelas Badai lalu membawa Kakeknya nya itu pergi.


Air memanyunkan bibirnya karena ditinggal oleh Badai, membuatnya begitu kesal sekali. Ia juga menatap sekelilingnya dan tak melihat siapa-siapa untuk menemaninya makan.


Ia menghela nafas kesal lalu mengikuti suaminya dan melihat Badai sudah menjalankan mobil meninggalkan sendiri di masion.


Wanita itu langsung mengunci pintu lalu menuju kamar nya untuk istirahat, ia juga sudah tak mood buat melanjutkan makannya kalau sudah tak di temani oleh suaminya itu. Setiba di kamar, langsung saja ia berhamburan ke atas tempat tidur sambil memejamkan mata tanpa berniat memakai selimut.


Keesokan paginya, Air tak melihat suaminya dan ia yakin kalau suaminya itu tak pulang semalam. Ia lalu mengambil tas sekolahnya lalu berangkat ke sekolah untuk mengajar.


"Nyonya gak sarapan dulu?"


"Gak mood, Bi. aku sarapan dikantin saja," jelas Air bergegas pergi dari sana dan memasuki taksi yang sudah di pesan tadi.


Baru saja Air pergi, tiba-tiba mobil milik Badai datang dan terlihat pemuda itu berjalan tergesa-gesa memasuki masionnya. "Bibi, apa istri saya sudah bangun?" tanya Badai penasaran karena semalam ia tak sempat pulang karena harus menjaga kakeknya yang tiba-tiba drop.


"Nyonya baru saja berangkat mengajar, Tuan. saya juga sudah menyuruh Nyonya buat sarapan tapi beliau gak mood,"


"Siapkan susu hamil dan bekal buatnya, saya mau siap-siap ke sekolah," jelas Badai bergegas ke lantai atas, ia yakin kalau istrinya itu marah padanya karena tak pulang semalam.


Setelah selesai, pemuda itu bergegas mengambil botol susu dan kotak bekal buat istrinya, ia langsung memasukkannya kedalam tas dan tak lupa mengambil beberapa buah untuk istrinya nanti. Ia tak mau wanita itu sakit karena tak sarapan pagi, bisa-bisa mengakibatkan janinnya terganggu.


Badai bergegas memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampai di sekolah. apalagi, jam masih menunjukkan pukul hampir jam tujuh..


Sesampai di sekolah, ia bergegas mencari istrinya yang entah dimana sekarang.


"Lo tumben cepat datangnya?"


Badai menoleh pada Ferdi yang mendekatinya. "Pengen aja, btw lo lihat Buk Air, gak?" tanya Badai melirik sekitar untuk mencari keberadaan istrinya.


"Udah ke ruangannya, emang ada ap...,"


"Gue duluan ya!"


Ferdi bingung melihat sahabatnya itu berlari pergi. sedangkan Badai langsung menuju ruangan istrinya dan melihat Air mengobrol dengan seorang pria yang membuat Badai menahan kesal.


Ditambah pria itu sengaja mencubit hidung Air yang membuatnya makin marah.


"Permisi,"

__ADS_1


Kedua guru itu menoleh, sedangkan Air kaget melihat kedatangan suaminya itu dengan tatapan marah sekali. "Kamu keluarlah, saya ada urusan dengan dia," jelas Air sehingga pria itu tersenyum lalu mengangguk dan pergi dari ruangan sana.


"Enak ya, pagi-pagi berangkat kesini dan malah berduaan dengan pria lain," sinis Badai membuat Air menoleh.


"Ka-Kau salah paham, di-dia itu...,"


"Dia apa, hah?! kau harusnya tau kalau gue gak suka yang namanya perselingkuhan!" bentak Badai membuat mata Air berkaca-kaca.


"Ada apa ini?"


Badai menahan marahnya lalu pergi dari sana, ia tak mungkin meluapkan emosinya saat ada guru lainnya yang masuk.


Badai memasuki kelasnya dan meletakkan tasnya ke atas meja dengan kasar, ia tak peduli dengan makanan atau botol susu yang ada di dalam tasnya tumpah.


"Lo kenapa, Bro? bukannya tadi lo tampak panik dan sekarang kenapa marah gini?" tanya Ferdi bingung, sedangkan Badai tak membalasnya dan memilih menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela nafas kasar. "Bukan urusan lo," ketus Badai dingin.


"Bro, di kelas sebelah ada cewe cakep banget!" lapor Kai mendekat membuat Badai tak tertarik sama sekali. "Lo bisa dekati tuh cewe, Badai. lagian lo masih jomblo terus," tawa Ferdi membuat Badai menoleh.


"Gak tertarik, mendingan kalian pergi sana! bikin gue kesal saja," usir Badai sehingga keduanya langsung pergi dari sana sebelum singa jantan mengamuk.


"Badai, Ferdi! tolong ambil buku di perpustakaan buat belajar hari ini!"


Badai berdiri dan pergi yang diikuti oleh Ferdi di sampingnya. Ia menatap Air yang menangis di pelukan pria tadi, membuatnya benar-benar tak mood dengan pasangan itu.


Keduanya hanya melewati pasangan itu, membuat Air menoleh pada Badai yang hendak melewatinya. Ia langsung menahan tangan Badai, membuat langkah Badai terhenti begitu juga dengan Ferdi. Badai langsung menarik tangannya dari Air lalu kembali pergi dari sana.


Brukh!


3 jam berlalu...


Air berusaha menelpon suaminya itu dan tak ada satupun yang di angkat oleh Badai, ia langsung turun dari ranjang dan bergegas menuju kelas suaminya itu untuk menjelaskan semuanya. Ia juga tak memperdulikan kepalanya yang masih pusing sekali.


Ia menatap Badai yang asik bermain ponsel bersama Ferdi, keduanya tampak asik bermain game online.


Air menarik ponsel suaminya membuat Badai menoleh dengan tatapan tajamnya. "Kembalikan ponsel tersebut!" pinta Badai dingin, membuat Air mematikan ponsel tersebut. "Kau harus mendengarkan saya dulu!" jelas Air membuat Badai menoleh.


"Apa yang akan kau jelaskan? gue yakin, dia kekasih baru lo, bukan?" sinis Badai dingin.


Plak!


Badai memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan kuat dari Air, sedangkan beberapa siswa yang ada di kelas itu menatap ngeri dengan tamparan Air barusan. Tiba-tiba, Air memegangi perutnya yang benar-benar sakit sekali. namun, ia berusaha bertahan.


"Astaga, Darah!" panik Ferdi sehingga Badai maupun Air menoleh ke kaki Air, pemuda itu sontak membulatkan mata melihat darah segar tersebut. "Awh, perutku," ringis Air yang sudah tak tahan lagi.


Badai langsung mengendong tubuh mungil Air dan pergi dari sana tanpa menghiraukan tatapan teman-teman sekolahnya. "Sakit sekali hiks," tangis Air kesakitan sekali.


"Bertahanlah, kita kerumah sakit sekarang," panik Badai langsung berlari menuju parkiran mobilnya.

__ADS_1


*


Badai tak henti-hentinya berjalan di sekitar ruangan istrinya, ia khawatir kalau istrinya kenapa-napa terlebih kandungan istrinya.


Cklek!


"Dokter, gimana keadaan Kakak saya?" bohongnya karena tak mungkin ia mengatakan istri disaat ia memakai pakaian SMA ini.


"Syukurlah anda membawa kakak anda kesini dengan cepat. kalau tidak, Kakak anda akan mengalami keguguran,"


Deg!


Badai yang mendengar itu benar-benar kaget sekali, ia tak ingin calon anaknya hilang.


"Terus, gimana kondisinya sekarang?"


"Kakak anda begitu lemah sekali. mungkin, 2 sampai 3 hari, Kakak anda harus dirawat disini dulu sampai kondisinya pulih. saya permisi dulu," Dokter itu langsung pergi membuat Badai bergegas memasuki ruangan istrinya.


Badai mengusap lembut perut Air, membuat wanita itu mulai membuka matanya.


"Maaf," lirih Air membuat Badai menoleh. "Harusnya aku yang minta maaf, kalau bukan karena aku yang marah. kau gak mungkin kayak gini," jelas Badai lembut, membuat Air terdiam.


"Pria itu adalah adik kandungku, orang yang selama ini aku cari,"


Badai menoleh pada Air, ia melihat wanita itu berkata jujur padanya. "Aku gak suka kamu di sentuh pria lain kecuali aku, walau dia adalah saudara kandung kamu. tetap saja aku gak mengizinkan nya menyentuh kamu seperti tadi," jelas Badai membuat Air terdiam. "Sekarang istirahatlah, aku mau telpon Ferdi buat antar tas sekolahku kesini,".


Air hanya memejamkan mata karena begitu pusing sekali.


***


Badai memasuki ruangan istrinya sambil membawa tas sekolahnya. "Bangunlah!" bujuk Badai mengusap pipi Air, membuat wanita itu membuka matanya. "Sarapan dulu ya, kau belum sarapan maupun belum minum susu tadi pagi," jelas Badai mengeluarkan semuanya termasuk buah jeruk yang sempat ia masukkan tadi.


Badai lalu menekan sesuatu sehingga Brankar bagian kepala Air mulai meninggi, setelah cukup pas. Badai lalu mengambil botol mineral dan memberikannya pada Air.


Wanita itu juga membuka mulutnya saat Badai menyuapi nya sarapan. "Makan yang banyak biar sehat, kenapa gak mau sarapan sebelum berangkat?" tanya Badai penasaran.


"Gak mood saja, ditambah kau gak pulang sehingga aku tidur sendiri,"


"Maafkan aku, aku harus membawa Kakek yang drop dan dia juga dirawat di rumah sakit ini sehingga aku bisa menjenguk kakek saat kau tidur nanti," senyum Badai membuat Air kesal.


"Kau gak boleh kemana-mana dan kalau aku tau kau pergi diam-diam, aku bakalan gak mau bicara lagi sama kamu dan gak bakalan ada kiss malam lagi," ancam Air membuat Badai ngeri.


"Baiklah, aku gak bakalan kemana-mana,"


Air hanya tersenyum sambil menerima suapan dari suaminya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2