
"Hey Cid, ini Diary kami semua. Katanya mau dibuat Novel?"
Pria ber-sweater biru menaruh kumpulan Binder di atas mejaku.
"Karena sudah lulus, kita semua ingin membaca kenangan-kenangan kami, melalui Novel yang telah Ocid janjikan."
"Kami tunggu update ceritamu tiap minggu nanti, 'yah!"
Yang bicara seperti itu ialah temanku. Dia seorang perempuan, dengan ... bagaimana aku menyebutnya, 'yah?
Baiklah, aku sebut saja dengan ponytail samping. Karena dia mengikat rambutnya sedikit ke samping kanan, bukan lurus ke belakang seperti kebanyakan.
"Ah iyah, terima kasih. Nanti aku posting ceritanya."
"Tapi ingat, akan aku ganti nama Kalian dengan Nama Samaran."
Aku menunjukkan bagian dari Binder milikku, berisi alamat situs dan akun yang sudah aku siapkan untuk posting ceritanya.
"Eeh, Ocid juga jangan lupa jadiin cerita yah, dari isi Diary mu!"
Wanita berkacamata, dengan rambutnya bergaya kepang Prancis di taruh di depan, berbicara dengan nada sedikit tinggi. Dia memakai baju yang berbeda dengan kami.
Di mana kami semua memakai baju putih yang ditutup oleh Almamater berwarna hitam, dia malah memakai baju batik, dengan warna hijau sebagai warna dominannya.
"Iyah, iyah. Nggak usah ngegass kok Neng."
Aku mencoba sedikit bercanda, lalu mereka semua tertawa begitu saja.
Dengan suasana seperti ini, aku jadi ingat, ketika pertama kali mendapatkan semua Binder ini.
Aku mendapatkan Binder ini dari kuis yang aku ikuti, sekitar 2 tahun yang lalu, beberapa hari setelah kenaikan kelas, lebih tepatnya awal Kelas 11.
2 tahun yang lalu :
"Kepada Rosid Firmansyah."
"Kami Mohon Maaf."
"Karena terdapat sedikit kesalahan, kami berikan hadiah Binder total sebanyak 16 biji (sesuai harga ganti 2 Binder yang tidak bisa kami penuhi) kepada anda sebagai permintaan maaf kami."
Aku mendapat paket disertai surat tersebut dari Banten Book Store.
Sebelumnya, aku mengikuti sebuah kuis berhadiah Binder yang terpajang di internet.
Aku mengikuti kuis karena tertarik dengan hadiah berupa 3 Binder edisi khusus yang dihiasi gambar-gambar dari karakter Light Novel (novel ringan), Manga, atau Anime Jepang yang pernah aku baca dan tonton, disertai tanda tangan pembuatnya.
Aku membuka paket kiriman seukuran kardus mie *instan*t yang dibungkus plastik berwarna hitam. Hmm ... tidak terlalu berat, tapi ukurannya terlalu besar.
Ketika dibuka, di dalamnya terdapat 1 Binder yang dihiasi gambar dari karakter perempuan tipe manusia setengah rakun (Demi-Human), yang sedang dijaga oleh karakter pria yang terlihat sedang menghalau serangan menggunakan perisainya.
__ADS_1
Tentu saja aku akan memilih Binder edisi khusus ini, atau mungkin sebagai kesukaanku.
Lalu, sisanya terdapat 15 Binder biasa dengan berbagai macam warna.
Aku yakin, pihak penyelenggara mendapatkan masalah dalam mendapatkan Binder edisi khusus ini. Kau tahu, ini adalah barang impor?
Karena beda pengarang, penerbit dan lain-lain, pihak penyelenggara kuis tidak bisa memenuhinya, hingga dia hanya memberikan 1 Binder edisi khusus dan 15 Binder biasa sebagai permintaan maafnya.
Baiklah, terima kasih atas permintaan maafnya.
Tapi ... aku bingung, bagaimana aku gunakan semua Binder ini?
Aku sampai tertawa karena melihat banyaknya Binder di depanku.
Baiklah, lebih baik aku minta bantuan saja kepada Klub Relawan disekolahku, Sekolah Menengah Atas desa Susukan.
Esoknya, sambil membawa kardus berisi 12 Binder biasa (aku simpan 3 Binder biasa di rumah untuk jaga-jaga) aku mendatangi Klub Relawan, berniat meminta bantuan, agar Binder yang aku bawa ini bisa berguna atau bermanfaat bagi yang lain.
"Permisi."
Aku mengetuk pintu ruangan Klub Relawan.
"Iyah. Silahkan masuk."
Suara Wanita mempersilahkanku dengan lembut.
"Silahkan duduk disini!"
Pria berambut ikal, mempersilahkanku duduk, sambil menunjukkan kursi yang ada di depan meja mereka berdua.
Aku pun duduk, menerima tawarannya.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Ada yang bisa kami bantu?"
Mereka mengucapkannya secara berbarengan.
"Hahaha, kalian cukup serasi. Ngomong-ngomong, langsung saja, aku kemari ingin meminta bantuan."
"Aku punya banyak sekali Binder di sini. Jadi ... bagaimana caranya agar semuanya bisa berguna?"
Lalu aku meletakkan kardus ke atas meja, dan menunjukkannya.
Dua anggota Klub Relawan itu mulai memikirkan bagaimana caranya, dan itu terlihat dari cara mereka memegang dagunya.
Mungkin dia juga berfikir, "Kenapa tidak dijual saja?"
Memang menguntungkan, hanya saja tidak baik rasanya bila barang hadiah malah berakhir dengan dijual begitu saja.
__ADS_1
"Aku ada ide!"
Pria berambut ikal mengacungkan jari telunjuknya.
"Bagaimana kalau kita taruh ini di suatu tempat. Misalnya Ruang Osis, Kantor, dan sebagainya."
"Lalu ... kita tawarkan siapa yang mau dengan Binder pemberianmu, Bagaimana?"
Saran yang bagus. Tapi, aku ingin sekali membuat Novel dari kisah nyata mereka, yang nantinya akan dicatat di dalam Binder/Diary ini. Aku harap anggota Klub Relawan bisa membantuku.
"Anu, boleh saya tambahkan?"
"Ya, silahkan."
Wanita berambut hitam legam yang panjang kini mempersilahkanku, disertai anggukan kecil.
"Idenya sangat bagus. Tapi kalau boleh saya tambahkan, Binder ini kan biasanya buat nulis Diary."
"Kalau berkenan, bolehkah saya jadikan Novel dari isi Diary-nya."
"Aku akan berikan nomor ponselku untuk mempermudahnya. Misal ingin memberikan Nama Samaran sendiri, takutnya tidak suka dengan Nama Samaran pemberianku."
"Termasuk ngobrolin masalah detail ceritanya."
Lalu, wanita berambut panjang itu menyetujuinya, dan mulai menjelaskan.
"Baiklah. Itu cukup bagus!"
"Besok kami akan taruh semua Binder ini di depan Kantor, sambil menaruh papan pemberitahuan dan juga nomor ponselmu."
"Kamu setuju, kan?"
"Tentu!"
Pria berambut ikal mengangguk kecil.
"Ah, terima kasih, Klub Relawan."
"Tidak-tidak, ini sudah menjadi tanggung jawab Klub Relawan."
"Berterima kasihlah ketika semua pekerjaan ini sudah selesai."
"Baik!"
Aku berpamitan, lalu pulang setelahnya.
Keesokannya ... aku lihat di depan Kantor, Binder yang aku tunjukkan kemarin dengan papan pemberitahuan dan nomor ponselku kini sudah terpajang.
Terima kasih, Klub Relawan. Karena bantuan kalian, akhirnya semua cerita kami dimulai ....
__ADS_1