
Diary: Indri Fauziyah
Selasa, 1 Agustus 2017
PERMINTAANKU
***
"Huh?"
Aku terbangun dari tidur lelapku.
Aku kemudian melihat sekeliling, dengan tanganku yang bergerak ke sana ke mari, mencari ponselku.
Ternyata, polselku ada di bawah bantalku.
Aku membuka tombol kuncinya dan melihat pada atas layar, disitu tertera angka 04.15.
Aku ternyata bangun, sebelum alarm berbunyi, yang sebelumnya sudah aku atur jam 05.05
Seperti biasa, aku harus menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Aku menuju dapur dan langsung menyiapkan bahannya. Aku ingin memasak nasi goreng hari ini.
Pertama, aku memotong bawangnya. Selagi aku memotong bawang, aku malah mengkhawatirkan kejadian kemarin.
Kalian masih ingat, 'kan?
Kemarin Fia terjatuh ketika latihan, dan tentu saja Ketua Klub Atletik menghentikan juga kegiatannya pada hari itu, karena khawatir menimpa kejadian yang sama kepada anggotanya.
Semua itu karena kesalahan Rei, anggota Klub Atletik.
Bagaimana aku tidak menyalahkannya? Lihat saja dengan pola fikirnya yang seperti itu!
Sudah tahu pada saat itu hujan baru beberapa jam reda ... kenapa dia malah terus melaksanakan latihan?!
Jujur saja, selain mengkhawatirkan Fia, aku juga mengkhawatirkan tentang beasiswaku.
Syarat jika aku ingin mendapatkan beasiswa adalah sekolahan ini harus menjadi juara umum. Sedangkan Fia, adalah anggota Klub Atletik yang selalu mendapatkan juara ketika kelas 10 dulu.
Lalu sekarang, dia malah kena cedera ankle? Sepertinya aku tidak akan bisa mendapatkan beasiswa itu.
"Aww!"
Ketika aku memikirkannya sambil memotong bawang, aku malah melukai tanganku sendiri.
Darah segar mengucur deras dari jari telunjuk kiriku.
Kemudian, aku menuju ke kamar mandi untuk membasuh jariku di bawah guyuran air yang mengalir.
Tapi, ketika aku membasuh lukanya, tiba-tiba air mata menetes membasahi pipiku.
"Eh? Kenapa ini? Padahal hanya sedikit rasa perih saja yang aku rasakan."
Meskipun sobekannya cukup lebar, aku tidak terlalu merasa perih.
Tapi ... kenapa aku menangis?
"Kenapa ini?!"
Aku terus menangis, sambil mengoceh tidak jelas.
"Apa semua ini karena beasiswa? Apa semua ini karena aku kehilangan harapanku yang berharga?"
Aku telah kehilangan seseorang yang paling berharga dalam membantuku mendapatkan beasiswa itu.
Dia adalah Fia, yang tidak bisa ikut karena cedera.
Aku menutup mata menggunakan lenganku, yang mana membuatku semakin tidak kuasa menahan tangis.
"Indri?"
Tiba-tiba, ada yang memanggilku. Aku kenal suara ini, suara itu pasti Kakakku.
Aku langsung mengusap air mataku dan berusaha menahannya.
"Kamu kenapa nangis?"
"Enggak kok, Kak. Kakak tumben, bangun jam segini."
"Itu tidak penting! Yang jelas, tanganmu kenapa?"
"Ke-Kena pisau, Kak."
Kakakku mendekat, mematikan aliran airnya, dan langsung menarikku menuju meja makan.
__ADS_1
"Kamu duduk di sini, biar aku obati kamu!"
"Kamu juga nggak boleh masak dulu, biar Kakak yang gantiin!"
"Oh iya, kamu 'kan sudah gede, kenapa luka sekecil ini kamu malah menangis?"
Apa itu saja yang difikirkan Kakakku? Mana mungkin aku menangis karena hal sepele seperti ini.
Aku hanya diam, tidak mau menceritakan yang sebenarnya karena tidak mau diejek Kakakku lagi.
Kakakku mulai mengobati jariku yang terluka, lalu langsung pergi memasak ketika jariku sudah dibungkus dengan plester luka.
Ayah dan Ibu kemudian datang, setelah masakannya matang.
Masakan itu berupa nasi goreng, dan kami makan bersama.
***
Makanku sudah selesai, aku juga sudah memakai seragam.
Kini ... aku sudah berdiri di depan gerbang Sekolah.
Sebenarnya, aku berdiri di depan gerbang bukan bermaksud memeriksa kerapihan setiap murid.
Aku berdiri di sini karena ingin memastikan, apakah para anggota Klub Atletik ada yang tidak hadir kali ini.
Kalian tahu, aku sangat khawatir jika anggota Klub Atletik kehilangan percaya diri karena salah satu anggota yang paling berharga malah cedera.
Waktu terus berjalan, bahkan hingga bel masuk berbunyi, aku mendapati bahwa para anggota Klub Atletik semuanya masuk, kecuali tiga orang.
Tiga orang itu adalah Fia, Syila, dan Rei.
"Di mana mereka bertiga?"
Jika Fia, aku tidak terlalu memikirkannya, karena memang dia tengah cedera.
Tapi ... ada apa dengan Syila dan Rei? Apakah mereka juga mendapatkan insiden buruk?
"Hei? Kak Indri kenapa?"
Lamunanku buyar begitu saja, mendapatkan pertanyaan itu. Dia adalah Beni, yang baru sampai di Sekolah.
"Eh, Beni. Enggak kok, aku cuma khawatir dengan Klub Atletik."
"Khawatir kenapa?"
Beni tiba-tiba menepuk bahuku dan mengucapkan sesuatu kepadaku.
"Kak Indri. Sebenarnya bukan mereka yang kehilangan kehilangan diri, melainkan Kak Indri sendiri."
"Sudah 'yah, aku harus masuk ke Kelas!"
Beni pergi begitu saja setelah mengucapkan kata seperti itu.
Tapi ... apa maksudnya? Kenapa katanya aku yang malah kehilangan percaya diri.
Sudahlah. Yang jelas, aku masih penasaran dengan keadaan Syila dan Rei.
Jadi, sebisa mungkin aku harus menanyakan langsung kepadanya dan melihat keadaannya.
"Ben, nanti jangan pulang dulu, 'yah! Kita ketemuan di depan gerbang Sekolah!"
Karena sudah jauh, aku berteriak kepadanya. Beni merespon dengan mengangkat tangan kanannya sambil mengacungkan jempol.
Aku kemudian menuju kelasku, karena dari tadi bel sudah berbunyi.
***
"Maaf, aku terlambat Ben. Aku ada tugas tambahan."
Sesuai janji, setelah pulang sekolah aku dan Beni akan ketemuan di depan gerbang Sekolah.
"Iyah, tidak apa-apa. Yang jelas, ada perlu apa?"
"Antarkan aku ke rumah Rei dan Syila!"
"Itu saja?"
Aku mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu."
Kami berjalan berdua, menuju rumah Rei dan Syila.
Sambil menyusuri jalan, Beni mengajakku mengobrol.
__ADS_1
"Kak, apa yang membuatmu khawatir seperti itu."
Sial, dia langsung bertanya ke intinya.
"I-Ini bukan masalah hal yang besar, Ben. Sa-santai saja!"
Bodohnya aku. Mana mungkin dia percaya dengan ucapanku yang terbata-bata seperti ini.
"Sudahlah, cerita saja!"
"Baiklah. Tapi janji 'yah, jangan bilang ke orang lain."
Beni mengangguk pelan. Kemudian aku menceritakannya, meskipun terpaksa.
"Aku sebenarnya mendapatkan beasiswa ... tapi dengan suatu syarat."
"Syarat apa?"
"Sekolahan ini harus menjadi juara umum, pada lomba memperingati hari kemerdekaan nanti."
"Oh, jadi itu yang membuat Kakak kehilangan percaya diri?"
"Apa maksudmu dengan aku yang dirasa kehilangan percaya diri?"
Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya seperti itu.
Lalu, beni menjelaskannya:
"Kakak jelas-jelas merasa tidak percaya diri. Lalu ... alasannya kenapa aku bilang begitu? Karena aku yakin, jika Fia tidak ikut lomba, Kakak merasa kemenangan turun bahkan sampai lima puluh persen. Aku benar, 'kan?"
Aku mengangguk, karena tidak bisa menyangkalnya.
"Apa juga khawatir dengan keadaanmu, Kak."
"Khawatir kenapa?"
"Karena ketika aku sampai di depan gerbang dan melihat mata Kakak yang sembab, seperti habis menangis."
"Kakak pagi ini pasti menangis, 'kan?"
Sial, aku tidak sadar. Pantas saja semua murid lebih sering melihatku pagi ini.
"Iyah, kamu benar. Kamu hebat, bisa selalu tahu tentang keadaanku."
"Apa Kakak meledekku? Tapi sudahlah, yang paling terpenting, aku akan membantu mengembalikan rasa semangatmu."
Hah? Apa maksudnya itu? Orang pemalas seperti dia ingin membantu mengambalikan rasa semangatku?
Aku tidak percaya dia bisa melakukannya. Lebih baik aku tanyakan terlebih dahulu.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?"
Beni tiba-tiba berhenti, lalu menjelaskannya.
"Kakak ingin mendapatkan beasiswanya, 'kan? Kalau begitu, ini demi Kakak ... aku janji, akan lebih giat lagi dalam membantu memantau Klub Atletik."
"Kakak juga jangan sampai terlihat putus asa dan patah semangat. Kakak harus mendukung setiap murid yang mengikuti lomba."
"Jika Kakak benar-benar berhasil, dan sekolahan ini mendapatkan juara umum ... aku siap untuk melakukan apapun, demi Kakak."
Benarkah dengan apa yang telah dia ucapkan itu? Lalu, bolehkah aku meminta sesuatu yang belum pernah aku rasakan?
Aku akan mencobanya.
"Benarkah?"
Beni mengangguk dengan mantap.
"Kalau begitu, jika aku berhasil ... aku minta kita melakukan kencan."
"A-Apa? Ke-Kencan?"
Beni sepertinya kaget dengan jawabanku yang tidak terduga.
"Apa Kakak sedang bercanda?"
"Tidak, aku serius."
"Kamu tidak boleh menolaknya dan jangan kamu tarik ucapanmu tadi."
"Ba-Baiklah, karena aku seorang pria, aku tidak akan menarik ucapanku."
"Jika Kakak berhasil membuat Sekolahan kita juara umum ... aku akan menuruti permintaan Kakak."
"Kita akan melakukan kencan, sesuai yang Kakak inginkan tadi."
__ADS_1
Kemudian setelah Beni berhasil membuatku percaya dengan ucapannya, kami melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya sampai di rumah Rei.