Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch1 - Rei: Suatu Syarat


__ADS_3

Diary: Rei Anggara


Senin, 24 Juli 2017


*S**UATU SYARAT*


***


Apakah kau tahu? Apa yang terjadi ketika masa SMA? Dan apa yang bisa kau temukan ketika masa SMA?


Masa SMA ialah waktu dan tempat dimana kita bisa membuat banyak sekali kenangan.


Kamu bisa menentukan seperti apa jati dirimu yang sebelumnya kalian cari pada masa SMP. Memperbaiki? Merusaknya? Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya, jika tidak ingin menyesal kemudian.


Persahabatan yang solid? Teman humoris nan konyol yang bikin kamu tertawa terbahak-bahak? Rivalitas antar teman yang membangun? Hingga suatu kejadian yang menyebabkan secuil pertikaian terjadi? Itu akan menjadi bumbu masa-masa SMA.


Jika beruntung, kamu juga bisa menemukan seperti apa indahnya Cinta.


Atau mungkin setidaknya kamu bisa melihat seperti apa proses Cinta terjadi, jika keberuntungan belum memihakmu.


Yang jelas, kamu harus mempercayainya.


Atau kamu harus baca kisahku ini agar bisa mempercayainya.


Karena ini Diary-ku, kisah masa SMA-ku


***



"Baiklah, semua sudah siap!"


Aku sedang menyiapkan bekal sebelum pergi bersekolah.


Tunggu, aku bahkan lupa satu hal, aku belum memperkenalkan diri.


Namaku Rei Anggara, usia 16 tahun. Aku siswa kelas 11 SMA jurusan IPA, atau lebih tepatnya Sekolah Menengah Atas desa Susukan, berjarak sekitar 1,4 km dari rumah Orang Tuaku.


Aku tinggal di rumah yang lumayan besar bersama kedua orang tua dan adik perempuanku (Kelas 7 SMP).


Aku juga mempunyai Abang yang sudah beristri. Abangku bernama Dhani, dia sering mampir dan kadang sampai menginap di sini setiap sebulan sekali bersama istrinya, Mbak Tasya, yang selalu dia ajak ketika berkunjung kemari.


Untuk masalah hobi, aku menyukai hal-hal yang berhubungan dengan olahraga lari, terutama Atletik. Oh iya, aku baru saja menjabat sebagai Ketua Klub Atletik di sekolahanku.


Aku tidak tahu kenapa bisa terpilih, mungkin karena ketika masih kelas 10, aku sering mendapatkan juara ketika lomba Atletik diadakan, bahkan ketika masih di SMP dulu.


Bagaimanapun ... sampai mana aku tadi? Oh iya, aku sedang membuat bekal. Jadi, ayo kembali ke kehidupanku.


Hari ini, aku lebih memilih membuat bekal dari pada sarapan terlebih dahulu karena aku takut terlambat mengikuti upacara senin pagi.


Aku memasukkan roti Sandwich beserta saus sachet kedalam kotak makan berwarna biru, dan membungkusnya dengan kain berwarna biru pula. Aku tidak tahu kenapa harus memilih warna ini, mungkin karena suka.


"Baiklah, semua sudah siap!"


"Waktunya pergi sekolah!"


Kali ini aku pergi sekolah bersama abangku dan istrinya.


Kebetulan, pagi ini abangku akan pulang ke rumahnya. Yang mana, semalam dia sempat berkunjung dan menginap di rumah Orang Tua kami.


"Ah, ini hari keberuntunganku dapat tumpangan darinya."


Abangku mengendari mobil mini bus berwarna hitam dengan pelan dan hati-hati, karena jalanan di desa tidaklah terlalu lebar dan banyak sekali siswa-siswi yang pergi bersekolah dengan berjalan kaki sambil bercanda ria bersama, hingga memenuhi bahu jalan.


Aku rasa, waktu sudah menunjukkan pukul 06.20. Karena dari dalam mobil, aku lihat pandanganku semakin terang, sepertinya matahari semakin menunjukkan taringnya, dengan rasa silau yang aku rasakan.


Sesekali abangku menaikkan kecepatan mobilnya, seperti mengusahakan agar aku bisa datang, sebelum upacara dimulai.


***


 


Kemudian ... ketika mobil sudah berjalan sejauh setengah jarak.


"Ah, siapa wanita itu?"


"Apakah dia itu Fia?" 


Aku melihat wanita berambut hitam dengan gaya kuncir kuda atau ponytail, sekitar 50 meter jaraknya, di depan mobil yang aku tumpangi.

__ADS_1


Aku terus memperhatikan belakang tubuhnya sambil menerka-nerka, "Apakah dia itu memang Fia, teman sekelasku?"


Menurut pandanganku, wanita itu tingginya kira-kira 160-an cm, rambutnya diikat kuncir kuda, warna kulitnya putih bersih, dan mempunyai lekuk tubuh yang terlihat indah.


Lalu, dia juga terlihat memakai jam tangan berwarna putih sambil menggendong tas berwarna hijau.


Akan aku beri tahu kalian. Di kelasku, bahkan di sekolahanku, tidak ada yang memakai tas berwarna hijau kecuali Fia seorang.


Dia satu-satunya yang memakai tas seperti itu.


"Itu pasti Fia!"


Aku merasa yakin, dan meminta Abang agar menurunkanku.


"Bang, aku turun aja disana, aku mau jalan kaki dengannya."


"Oh, boleh Rei, siap!"


"Kalau misal kalian nanti jadian, nanti beri tahu abang yah."


Abangku mulai menggodaku. Dan entah kenapa, kesal rasanya melihat senyuman lebar yang terkesan sedang mengejek itu.


"Yeeeh, punya abang, tapi kok koplak!"


Kini, mobil yang aku tumpangi sekarang berhenti sekitar 2 meter di depan Fia. Aku langsung keluar dari mobil, dan berterima kasih padanya.


"Good Luck, Rei!"


Abangku masih saja menggodaku seperti itu, sambil mengacungkan jempol tangan kirinya.


Aku menutup pintu mobil sambil tersenyum, melihat tingkahnya yang seperti itu. Lalu dia meninggalkanku setelahnya.


"Ah, Rei."


"Kenapa turun?"


Jari telunjuk Fia mengarah lurus kepadaku, sambil bertanya seperti itu.


Dan iyah, tebakanku benar. Wanita yang aku lihat hanya dari arah belakang tubuhnya saja, memanglah Fia.


"Nggak kenapa-kenapa kok."


Dan entah kenapa aku reflek menghampirinya, setelah menjawab pertanyaan tadi.


Padahal, aku bisa saja menunggu dia hingga sampai disampingku.


Tapi, tidak enak rasanya, jika hanya menunggu seorang wanita untuk menghampiriku.


Setelah sampai disampingnya, aku perhatikan dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya sangat manis, dan juga gigi gingsulnya makin membuat perfect ketika Fia tersenyum.


Kini, aku jalan kaki bersama Fia, teman sekelasku.


Oh iya, aku lupa memberi tahu. Aku dan Fia sudah lama kenal, kami berteman sejak kelas 10 SMA dan berada di jurusan yang sama, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam.


Jarak rumahnya dengan rumahku terpisah satu kampung, mungkin sekitar 600 meter jaraknya.


Dia juga satu Klub denganku, Klub Atletik. Aku dan Fia pernah beberapa kali mendapatkan medali juara ketika ikut lomba Atletik tingkat kecamatan hingga kabupaten, sampai kami dijuluki "Pasangan Emas" oleh anggota Klub Atletik dan teman-teman kami.


***


Tak lama kemudian, kami yang masih jalan kaki bersama ke sekolah, entah kenapa aku rasakan langkah Fia semakin melambat, padahal biasanya dia berjalan dengan cepat.


Aku harus mengikuti irama langkahnya, agar Fia tidak tertinggal jauh dariku. Tapi ... aku takut terlambat.


Hmm, baiklah, aku ada ide!


"Fia, kita lewat gang itu aja yuk!"


"Biar cepet."


Aku mengajaknya, sambil menunjuk Gang yang terlihat sempit.


"Boleh!"


Fia mengangguk, menyetujui.


Sekarang, kami berdua berjalan melalui Gang, agar bisa memangkas waktu.


Gang yang kami lewati hanya selebar bentangan tanganku saja, bisa dibilang kurang lebih 1 meter lebarnya, itu belum termasuk hitungan jarak antara tiang listrik ke arah tembok. Kau tahu bagaimana sempitnya, 'kan?

__ADS_1


Tapi ... baru beberapa meter kami berdua berjalan bersama, langkahku terhenti, di samping pagar besi berwarna hitam, setinggi perutku.


"Rei, kok tiba-tiba berhenti?"


Langkahku terhenti karena melihat seekor kucing berwarna putih bersih dengan bulu ekornya yang sangat lebat sedang berdiri di atas pagar besi berwarna hitam, setinggi perutku.


Aku secara reflek langsung mendekati dan mengelusnya, karena tidak tahan melihat kucing seindah itu.


Dan iyah, tebakan kalian benar, aku suka kucing.


"Ooh, karena kucing ternyata."


Bulu putihnya terasa sangat lembut, layaknya gumpalan kapas.


Aku terus mengelusnya dan juga melakukan salam yang biasa dilakukan kucing ketika bertemu kucing lain, yaitu saling menyentuhkan hidungnya.


Aku mencoba mendekatkan hidungku ke kucing itu secara hati-hati, dan ternyata dia langsung meresponnya, hidung kami saling bersentuhan, tapi sekejap saja.


"Hey, Rei. Aku baru tahu kalau kamu suka kucing."


Suara Fia terdengar semangat sekali, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan hadiah Jackpot.


"Ah, iyah."


Aku jawab dengan singkat, sambil terus mengelus kucing, keasyikan.


"Kenapa kau menempelkan hidungmu ke hidung kucing itu tadi?"


"Ah, jadi gini Fia. Kalau kau lihat kucing menempelkan hidungnya ke kucing lain, berarti dia sedang saling sapa."


"Eng ... ku-kucing menyapa seperti itu."


"Ooh."


Aku tidak bisa memberitahukan yang sejujurnya kepada Fia. Karena sebenarnya, kucing asli bukan menempelkan saja, melainkan mengendusnya.


***


"Rei, cukup!"


"Sudah 7 menit kamu bermain dengan kucing putih itu!"


"Ayo pergi!" 


Dengan sedikit menaikkan nada bicaranya, dia mengajakku pergi.


Tapi, aku menghiraukannya, karena keasikan bermain dengan kucing yang baru aku temui.


"Rei, Ayo!"


"Sekarang sudah jam 06.46, kita akan terlambat upacara!"


"Astaga, apa mau aku bilangin ke semua teman-teman di kelas, kalau kamu habis mencium kucing!"


"Dan aku juga akan bilang, Rei akan mudah disuruh-suruh, jika itu berkaitan dengan kucing!"


Fia sekarang mengancamku, menggunakan kucing sebagai alasannya.


Tunggu, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Karena jika semua orang tahu aku suka bahkan bisa disuruh-suruh jika itu berkaitan dengan kucing, maka habislah riwayatku.


Teman sekelasku tidak ada yang tahu bahwa aku suka kucing, apalagi jika kenyataannya bahwa aku dapat diperdaya hanya dengan seekor kucing saja.


Kau tahu? Aku tidak tahan untuk mengelus bulu lembutnya, jika kucing itu sudah ada di depanku.


"Eeh, jangan dong Fia."


Aku memohon kepadanya, sambil merapatkan kedua telapak tangan, ke depan mulutku.


"Oke, baik. Asal ada syaratnya." 


Fia kini memasang senyuman mencurigakan di wajahnya. Aku merasakan, seperti ada aura hitam yang mengelilinya.


Apa dia sedang berusaha memojokkanku?


"Ba-Baiklah, apa syaratnya?" 


Aku harap, dia akan memberikan syarat yang mudah.


Lalu, dia menunjuk kucing itu, sambil berkata dengan lantang.

__ADS_1


"Kau harus melakukan hal yang sama kepadaku, seperti yang kau lakukan ke kucing itu!"


__ADS_2