Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch12 - Syila: Ibuku Menceritakan Semua Rahasia Tentang Teman Masa Kecilku


__ADS_3

Diary: Syila Kartika


Kamis, 27 Juli 2017


IBUKU MENCERITAKAN SEMUA RAHASIA TENTANG TEMAN MASA KECILKU


***


"Kalian telitilah, catat atau amati tanggal di atas!"


"Yang paling penting, perhatikan! Diary milik siapa, yang sedang kalian baca!"


"Kalimat pembuka seperti ini, hanya untuk 'karakter baru' yang hadir di dalam Diary. Jika sudah pernah muncul, maka tidak ada."


***



Hai, namaku Syila Kartika, Kelas 11 IPA, dan bergabung di Klub Atletik Sekolah Menengah Atas desa Susukan.


Aku tinggal di desa Tirtayasa, berjarak sekitar 7.2 km dari Sekolah. Mungkin, aku adalah murid yang paling jauh bila dihitung jarak dari rumah ke Sekolah.


Ayah dan Ibu jarang tinggal di rumah karena tuntutan pekerjaan. Beliau akan pulang setiap 2 minggu sekali dan ketika hari libur atau hari-hari penting lainnya.


Jadi, aku biasa tinggal sendirian dan kadang malah sampai pindah tempat, ketika pekerjaan Ayahku dipindahkan tempat tugasnya.


Tapi aku bersyukur, mereka selalu sehat di setiap keadaan.


Sebelum itu, aku meminta maaf kepada kalian yang membaca Diary-ku. Karena aku terlalu sibuk dengan kegiatan lain, hingga menyita waktuku dalam menulis Diary ini.


Aku sampai bingung, entah darimana aku akan memulainya, karena sudah terlewat jauh, semenjak aku mengambil buku ini, yang terpajang di depan Kantor.


Ah, masa bodoh, aku akan mulai bercerita sesuai kejadian hari ini, sebagai pembuka kisahku.


***


"Baik Anak-anak, waktunya istirahat."


"Bapak akhiri kegiatan belajar kali ini. Dan sampai jumpa minggu depan."


Ah, akhirnya waktu istirahat datang juga. Pak Guru yang mengajar pelajaran Fisika kini meninggalkan Kelas kami.


Jujur saja, aku menunggu waktu istirahat hari ini dibanding kemarin. Kenapa? Karena aku menginginkan janji Rei, si pria berambut hitam bergelombang, akan memberikanku bekal yang sama seperti buatannya.


"Rei!"


Aku berteriak dengan semangat, sambil melambaikan tangan.


"Iyah?"


"Aku kesitu yah."


Rei mengangguk pelan, menyetujuinya. Kini, aku mendekati mejanya dan duduk di samping kursi yang kosong, ditinggal pergi oleh pemiliknya.


"Rei, bekalnya dong."


"Iyah-iyah, akan aku ambilkan dulu."


Rei kemudian membuka tas hitamnya, dan mengeluarkan 2 bekal, yang sama-sama dibungkus dengan kain warna biru.


"Rei? Bukannya kemarin kainmu dipinjam Dandi?"


"Apa kamu punya stoknya, atau mungkin kamu menimbunnya?"


"Hahaha, bukanlah Syila. Untuk apa aku menimbun kain berwarna biru seperti ini."


Aku hanya tersenyum, melihatnya bersikap seperti itu.


"Ini, Syila. Bekalnya!"


Aku menerima bekal yang dia sodorkan, dan langsung membukanya.


"Waah, sepertinya enak."


Kotak makan itu berisi 2 sosis bakar panjang, 2 telur dadar gulung ukuran kecil, 2 saus tomat sachet, bayam rebus, sekotak susu UHT, dan beberapa tusuk gigi untuk memudahkan makannya.


Cukup menyehatkan bagiku, karena aku sering sekali makan mie instant dibanding makanan seperti ini.


"Selamat maka—"


"Rei, kok cuman Syila yang dibikinin? Buatku, mana?"


Tiba-tiba, Fia, perempuan berambut ponytail, mendekat dan asal potong ucapanku.


"Eh? Fia minta dibuatin juga?"


"Tent—"


"Sudah Fia, kita bagi dua saja."


"Jangan susahkan Rei lebih dari ini."


Aku menyodorkannya, dan dia langsung menerimanya.


"Ba-Baiklah, te-terima kasih."


"Selamat makan!"


"Selamat makan!"


Hei, kenapa Fia bicaranya malah berubah menjadi terbata-bata seperti itu? Apa ada yang salah dari ucapanku? Padahal akku rasa tidak ada keanehan yang terjadi.


Aku mengambil 1 potong sosis dan saus sachet. Aku rasakan makanan buatan Rei benar-benar enak.


Sosis rasa sapi, dibakar dengan kematangan yang sempurna, renyah di luar, lembut di dalam, dan dilumuri saus tomat segar, membuat lidahku tidak berhenti bergoyang.


Hei! Apa aku akan bilang kata-kata memalukan seperti itu? Hah! Tentu saja tidak.


Itu hanya kiasan saja. Aku orangnya simple, jika itu enak, maka akanku ucap enak.


Jujur saja, bekal buatan Rei enak sekali, mungkin aku akan ketagihan dengan bekal buatannya.


"Hmmm, enak Rei. Kamu setuju 'kan, Fia?"


"I-Iyah, Syila. Enak."


Aku dan Fia terus menikmatinya, hingga yang tersisa hanya sekotak susu UHT. Dan seperti biasa, jika makanan/minuman tinggal satu, maka tidak ada yang mencoba mendekatinya, malah didiamkan begitu saja.


"Buat aku yah, Fia, susu kotaknya?"


"Iyah Syila, silahkan."


Susu kotaknya aku ambil saja, daripada tidak ada yang minum. Aku benar kan? Jadi, aku mulai meminumnya.


"Wah, Fia, kamu nggak kebagian."


"Mau bagi dua denganku?"


"Uhuk ... uhuk ...."


Aku tidak mengerti, kenapa aku tiba-tiba tersedak ketika meminumnya.


"Nggak usah Rei, aku ada air mineral."


"Baiklah."


Fia kemudian berdiri, dan pergi ke arah mejanya. Ah, sepertinya dia akan ambil air mineral dari tasnya.


Oh iya, aku sekarang sudah kenyang. Aku harus pergi dulu, mengunjungi temanku yang lain.


"Rei, aku pergi dulu yah."


"Terima kasih. Bekalnya enak sekali."


"A-Ah, iyah. Sama-sama."


Aku kemudian pergi, meninggalkannya, dengan rasa kenyang.


***


Teng-Teng!


"Baik Anak-anak, pelajaran terakhir sudah selesai, ditandai dengan bunyi bel sekolah kita."


"Silahkan, jika kalian ingin pulang."


Ibu Guru pelajaran Bahasa Indonesia sudah menutup kegiatan mengajarnya hari ini. Aku membereskan alat tulis yang ada di meja.


"Aaah, melelahkan."


Sebagai rakyat Indonesia, sejujurnya aku bingung, kenapa? Karena banyak yang nilainya jelek terhadap pelajaran Bahasa Indonesia, meskipun dari kecil orang itu tinggal di negara Indonesia.


Termasuk aku, yang kadang kena Remedial pada pelajaran tersebut.


Aku sudah membereskan Alat Tulis. Di dalam kelas sudah tidak ada orang lagi, karena ternyata aku orang yang terakhir berada di dalam kelas.


"Baiklah, waktunya aku pulang."


Aku berjalan pulang, menuju jalan raya. Iyah ... meskipun Sekolahan ini berada di desa, tapi akses jalan raya dan transportasi umum tetap ada. Ini sangat mambantu untukku, ketika pulang pergi ke Sekolah.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam Angkutan Umum, dan duduk paling pojok. Di depanku, ada Dandi yang selalu pulang pergi ke Sekolah menggunakan Angkutan Umum.


Dandi sebenarnya menjadi primadona para siswi di sekolah. Dia pria yang terlihat seperti aktor dari negara Ginseng, dengan rambut hitam gaya belah dua, dan warna kulit cerah.


Tapi, aku tidak mengerti kenapa dia masih tetap jomblo. Apa dia punya kelainan? Atau mungkin karena dia terlalu pilih-pilih dalam mencari pasangannya.


Oh iya, selagi aku pulang menggunakan Angkutan Umum, aku akan bercerita tentang alasanku, kenapa sekolah di SMA desa susukan.


Semua ini bermulai ketika aku masih SMP Kelas 9A


SMP Negeria Tirtayasa, Kelas 9A:


Waktu itu, aku mendapatkan info bahwa akan diselenggarakannya lomba Atletik yang diadakan di Stadion Sepakbola Sultan Agung Tirtayasa.


Ketika waktu pulang sekolah, aku mengajak Fia, teman se-Asramaku agar mau menemani menonton pertandingannya.


Kami berdua berjalan sekitar 450 dari sekolah, menuju venue yang menjadi tempat diadakannya lomba.


Setelah sampai, ternyata sudah banyak penonton yang berkumpul di luar stadion. Aku tidak kaget dengan keramaian seperti ini, karena sudah pernah menonton pertandingan lomba Atletik sebelumnya.


"Bagi yang ingin menonton, harap membeli tiket di Loket A dan Loket B!"


"Harganya dua puluh ribu rupiah!"


Suara speaker itu membuatku semakin semangat, karena aku yakin, pertandingan kali ini akan sangat ramai.


"Hey, Syila. Bawa uang berapa?"


Fia bertanya sambil merogoh saku bajunya.


"Aku bawa lima belas ribu."


Ah, tidak! Aku lupa membawa uang lebih. Pertandingan skala besar biasanya bayar tiket terlebih dahulu sebelum menonton. Dan aku hanya bawa 15 ribu, sambil menunjukkan uang pecahan 10 ribu dan 5 ribu rupiah kepadanya.


"Ah, kalau aku hanya tersisa sepuluh ribu."


"Gimana nih?"


Fia menunjukkan uang yang dia bawa, dengan pecahan 5 ribu rupiah, sebanyak dua lembar.


Bagaimana ini? Jika aku kembali ke Asrama dulu, maka aku akan ketinggalan pertandingannya. Belum lagi jika tiketnya habis.


"Hey, Syila. Mending kamu saja yang menonton pertandingannya. Aku rasa Syila yang lebih menginginkannya."


"Ini, bawa uangku."


Hei, apaan-apaan ini. Itu memang tawaran yang menggiurkan. Tapi ... akulah yang mengajaknya.


"Tapi kan ... ah, aku tidak enak denganmu Fia."


"Aku sudah mengajakmu kemari ... masa hanya aku sendiri yang menonton."


"Sudahlah Syila, nggak apa-apa."


Aku bingung ketika kondisi seperti ini.


Aku berdoa dalam hati dan berjanji, andai saja ada remaja yang memberikan bantuan kepada kami, mungkin aku akan mengikutinya atau ikut satu sekolah dengannya, meskipun aku harus bersekolah dengan menempuh jarak yang jauh.


"Hey, kalian berdua kenapa?"


"Kayaknya kalian terlihat sedang kebingungan?"


Aku mendengar suara pria dari arah belakang mengagetkan kami berdua.


Aku membalikkan badan dan melihat pria yang sedang berdiri menggunakan sweater berwarna biru.


Siapa pria ini?


Apakah pria ini jawaban dari doaku?


Dia pria yang warna kulitnya cerah, dengan rambut hitam sedikit bergelombang, dengan tinggi badannya sekitar 168 cm (kira-kira)


Aku harap, dia benar-benar jawaban dari doaku. Biar aku coba.


"Ah, nggak sih. Hanya saja kita kekurangan uang untuk membeli tiket."


"Ini, aku punya uang lima puluh ribu, kalian pakai saja untuk membeli tiket dan makanan."


Ternyata benar, pria itu menyodorkan satu lembar uang senilai 50 ribu rupiah kepada kami berdua.


"Ah, benarkah? Yeeey! Terima kasih."


Aku mengambil uangnya, dan langsung pergi ke Loket pembelian tiket, juga beberapa stand makanan.


***


Aku kembali, membawa 2 tiket, 2 brosur, dan beberapa makanan-minuman yang dibungkus plastik.


Apa Fia sedang berlagak bodoh atau bagaimana? Hingga berucap seperti itu? Ah, biar aku balas ucapannya.


"Iyah, tentu saja. Buktinya dia memberikan kita uang untuk membeli tiket ini."


Aku benar kan? Sekarang kami memasuki stadion, dan duduk di tribun barat.


Aku mengamati sekitar, dan melihat banyak sekali orang yang memakai baju warna merah, hijau, kuning, dan sebagainya. Tapi, tidak ada orang yang memakai baju biru. Lalu, di sebelahku Fia sedang seriusnya membaca brosur. Baiklah, aku lebih baik makan cemilannya.


Cemilan yang aku beli hanyalah keripik kentang, dan es teh.


Renyah dan gurih, dapat aku rasakan dari keripik singkong yang sedang aku makan ini. Jujur saja, aku suka makanan yang seperti ini.


"Hah? Apakah kau yakin?"


Tunggu, kenapa Fia berteriak? Memangnya ada apa di dalam brosur itu?


"Kau kenapa?"


"Ini ... Pria bernama Rei Anggara mengikuti ke-empat cabangnya."


"Sedangkan tiga teman satu perguruannya hanya ikut lomba estafet."


Dia menjelaskan, sambil menunjukkan bagian brosur yang sedang dia baca kepadaku.


"Aku rasa temannya hanya sebagai pelengkap."


"Karna kan lari Estafet atau lari sambung, sambil membawa dan memberikan tongkat butuh empat orang."


Aku benarkan? Jadi, kenapa harus diributkan.


"Hey, pertandingan belum dimulai, udah dimakan aja."


"Jangan ambil jatahku yah ...."


Aku terus memakan cemilan, tanpa memperdulikannya.


"Lomba cabang pertama akan segera dimulai!"


"Para peserta berharap mendekati garis Start!"


Tunggu, dia pria yang tadi, 'kan? Yang memberikan uang kepada kami? Sekarang dia tengah berdiri memakai kaos biru, tidak jauh dari garis start, mengikuti lomba ini.


"Fia, Fia. bukannya itu pria yang tadi?"


Aku bertanya, sambil menunjuk ke arah lapangan.


"Iyah, benar. Namanya Rei."


"Tadi dia sempat memberitahukan namanya,"


"Tunggu, namanya Rei?"


"Iyah, Rei. Dia yang bilang sendiri."


Fia menjawabnya, sambil menunjuk ke arah lapangan juga.


Kemudian, aku mengambil brosur yang tidak aku jamah tersebut, membolak-balikkannya, mencari nama Rei.


"Hey, Fia. Yang namanya Rei cuman satu doang loh."


"Dan Rei berasal dari desamu, Fia."


"Iyah benar."


Fia memberi anggukan kecil.


"Jadi, Fia tau dong di mana Rumahnya?"


Aku mendekat dan menatap langsung ke wajahnya.


"Eng ... sayangnya tidak. Aku baru kali ini bertemu dengannya."


"Aah, syukurlah."


Syukurlah jika dia tidak tahu. Karena aku berniat mengunjunginya, dan bertanya dimana dia atau dia akan sekolah. Aku harus menepati janji, dalam doaku tadi.


"Semuanya, ambil ancang-ancang!"


Baiklah, brosur ku taruh kembali, karena aku harus menonton lomba yang aku sukai, yaitu pertandingan lomba Atletik.


Aku bahkan punya poster 'Usain Bolt' si pelari tercepat yang ditempel di kamarku.

__ADS_1


Aah, aku ingin sekali mempunyai pacar seorang pelari.


"Semua bersedia ...."


"Siap ... priitt!"


Peluit nyaring terdengar dari tiupan sang pengadil lapangan, dan kini para peserta langsung meninggalkan garis start dengan kencangnya.


"Gilaa, Rei larinya cepet banget."


Aku takjub melihat dia berlari secepat itu. Bahkan Rei langsung menjadi terdepan, setelah peluit dibunyikan.


Kemudian, terdengar suara penonton yang menyoraki jagoannya. Tapi ... aku tidak mendengar teriakan yang mendukung Rei. Apa itu sebabnya tidak ada penonton yang memakai kaos biru? Maksudku, Rei mengikuti lomba memakai kaos biru. Itu berarti dia tidak punya pendukung, 'kan?


Prok-Prok-Prok!


"Come on Rei!"


"Come on! Come on!"


Aku mendengar Suara tepuk tangan dan dukungan kepada Rei. Aku mendengarnya dari arah lapangan.


Aku melihat ke arah lapangan, melihat ke arah tanda biru, dan ternyata suara itu dari teman-temannya, berjumlah 3 orang, dengan warna kaus yang sama.


Baiklah, aku juga harus berdiri, dan mendukungnya.


"Ayo Rei! Kamu pasti bisa!"


"Ayo Rei! Kamu pasti bisa!"


Suaraku ternyata berbarengan dengan Fia. Dia kemudian ikut berdiri denganku.


"Ayo Rei!"


"Kamu harus menang!"


Sepertinya Fia tidak biasa berteriak. Karena hanya sebentar saja, suaranya sudah serak.


"Dan pemenangnya adalah dari SMP Desa Susukan!"


"Rei, Nomor urut 002, si pelari kaos biru!"


Yaah! Akhirnya dia menang! Aah, aku terlalu bahagia, dengan kemenangannya.


Oh iya, aku akan menyingkatnya hingga ke penghujung acara, yaitu wawancara. Karena dari awal, Rei semua yang memenangkan cabangnya.


Aku ingin mendengar wawancaranya, siapa tahu dia akan bilang sekolah yang akan di tuju. Maksudku ... pertandingan lomba kali ini memberikan hadiah beasiswa, selain hadiah uang dan medali.


***


Dalam keadaan masih duduk, terlihat di lapangan, ada Rei dan seorang reporter, memakai seragam kerja yang didominasi warna merah, sedang memberikan mic kepada Rei. Dia menerima mic itu, dan dimulailah sesi wawancara.


"Apakah Rei ingin melanjutkan sekolah di SMAN Tirtayasa?"


"Sepertinya tidak."


"Kenapa tidak? Bukannya kamu akan mendapatkan 'Beasiswa' melalui jalur prestasi seperti ini?"


"Tidak, aku lebih baik melanjutkan sekolah di SMA desa Susukan."


Hah? Sekolah itu? Itu berarti dekat dengan Fia.


"Kenapa? Bukannya sekolah itu fasilitasnya kurang?"


"Karena aku ingin mengenalkan desaku, ke banyak orang di luar sana, bahwa sebenarnya banyak sekali siswa siswi yang berprestasi, tapi jarang diketahui orang luar sana."


"Karena faktor biaya juga, pihak sekolah tidak bisa sepenuhnya memberikan fasilitas yang kami inginkan. Aku harap, dengan hal ini lah akan ada banyak donatur yang membantu sekolah kami di desa Susukan."


Aku mencolek Fia, ingin bilang sesuatu.


"Iyah, ada apa?"


"Sepertinya aku ingin melanjutkan sekolahku di SMA desa Susukan."


"Ayo kita kesana. Sekolahnya dekat dengan rumahmu kan?"


Aku harap Fia ikut dengan ajakanku.


"Baiklah, akan aku bilang ke Ayahku. Dan kalau Ayahku tidak setuju, aku akan memaksanya."


Aku harap Ayahnya memberikan izin. Aku tidak mau sekolah tanpa ditemani Fia.


Tapi, sesi wawancara belum selesai. Aku menyimaknya kembali.


"Baiklah. Apakah ada yang ingin disampaikan sebagai penutup kita pada sesi wawancara ini?"


"Tentu."


"Kepada kepala sekolah, guru-guru, dan guru pembimbing Klub Lari SMP desa Susukan, serta teman-temanku yang sudah membantu disetiap keadaan, aku berterima kasih."


"Aku bisa memenangkan semua cabangnya, serta teman-temanku juga dalam lomba estafet bisa memenangkannya karena dukungan dan doa kalian."


"Termasuk kalian, dua gadis yang ada di sana ...."


Rei menunjuk ke arah kami.


Aku berdiri, sambil melambaikan tangan, dan tersenyum. Aku tidak menyangka, dia sampai menunjuk kami berdua.


Rei melanjutkan.


"Iyah, kalian. Terima kasih sudah mendukungku."


"Aku harap bisa mengingat wajah kalian. Karena aku punya masalah dalam mengingat wajah orang yang baru aku temui."


"Baiklah, itu saja. Terima kasih."


Sesi wawancara selesai. Aku mengajak Fia pulang, meninggalkan Stadion ini.


"Yuk pulang."


Kami berdua langsung meninggalkan stadion. Aku harus segera sampai di Asrama SMP, karena ingin menelpon dan meminta izin kepada orang tuaku.


***


Aku sampai di Asrama, mengambil HP yang ada di dalam laci, dan langsung menelepon ayahku.


"Halo Ayah?"


"Iyah, ada apa?"


"Aku ingin melanjutkan sekolah di SMA desa Susukan. Apakah boleh?"


"Oh, Sekolahan itu yah? Tentu, aku akan menyiapkan segera, ketika kamu sudah lulus."


"Terima kasih, Ayah."


Aku menutup panggilannya. Tapi aku heran, kenapa segampang itu Ayahku mengizinkan. Biasanya Ayahku susah sekali, jika menyangkut masalah perizinan.


"Kiri Bang."


Ah, maaf, aku bercerita terlalu lama. Sekarang aku sudah sampai tujuan. Aku turun dari mobil, dan membayar biaya perjalannya.


Jadi, sekarang ayo kembali ke masa SMA-ku.


SMA desa Susukan, Kelas 11 IPA:


"Aku pulang!"


Aku membuka pintu dan langsung masuk. Tapi, aku kaget, kenapa Ayah dan Ibu sudah pulang hari ini.


"Ayah, Ibu? Kok sudah pulang? Ada apa?"


"Ah, Ayah sudah izin kok. Oh iya Syila, kita akan pindah rumah."


"Apa? pindah rumah kemana?"


"Ke kampung Sampang, desa Susukan. Ayah dipindah tugas kerja lagi, di daerah sana."


Tunggu, aku tahu nama desa Susukan. Tapi, dimana itu kampung Sampang?


"Kampung Sampang dimana itu Ayah?"


"Kamu lurus saja terus, jangan belok ke Sekolah. Hmm ... Sekitar 1,4 km, jarak dari Sekolahmu sampai kampung Sampang."


"Kita akan kembali hidup bertetangga dengan teman masa kecilmu," kata Ibu, menimpali pembicaraan kami.


"Eh, aku dulu kecilnya hidup di sana? Dan aku mempunyai teman masa kecil?"


"Iyah, bahkan semenjak kamu berusia satu tahun, hingga kamu berusia sekitar 6 atau 7 tahun."


"Setelah itu, Ayah dipindahkan lagi, tempat kerjanya."


"Benar Bu. Kalau Ayah tidak salah, nama teman masa kecilmu itu ... Rei."


Tunggu, Ayah Ibuku tahu siapa itu Rei, dan aku adalah teman masa kecilnya Rei? Apakah itu benar?


"Ayah, Ibu? Aku lupa kenangan masa kecilku. Maukah Ibu ceritakan tentang kisah masa keciku."


"Baiklah, akan Ibu ceritakan."

__ADS_1


Kemudian, Ibu mengajakku duduk di dekat sofa, dan mulai menceritakan semua kenangan masa kecilku ....


__ADS_2