
Diary: Ibu Herawati
Senin, 31 Juli 2017
UJIAN MASUK UNIVERSITAS
***
"Kalian telitilah, catat atau amati tanggal di atas!"
"Yang paling penting, perhatikan! Diary milik siapa, yang sedang kalian baca!"
"Kalimat pembuka seperti ini, hanya untuk 'karakter baru' yang hadir di dalam Diary. Jika sudah pernah muncul, maka tidak ada."
***
"Selamat datang, Bu!"
Aku disambut oleh para Guru di Kantor, ketika berjalan menuju mejaku, dimana waktu istirahat telah tiba.
Namaku Herawati, seorang Guru Biologi, di Sekolah SMA desa Susukan.
Umurku 22 tahun, tinggal di desa Susukan, dekat dengan Sekolahan tempatku mengajar.
Di Sekolahan ini, selain mengajar pelajaran Biologi, aku juga menjabat sebagai Wali Kelas XI IPA dan Penjaga UKS.
Meskipun begitu, kebanyakan para murid tidak mengetahui jika aku adalah Penjaga UKS.
Itu karena, aku menutupinya selama ini. Aku tidak tahu kenapa aku sampai begitunya menutupi semua ini.
Hanya saja, aku tidak mau terjadi sebuah rumor atau pertikaian, jika aku sering berduaan dengan Dandi, Penjaga UKS yang mempunyai wajah yang tampan.
Wanita mana coba, yang tidak mau dengan Dandi.
Rambut belah tengah seperti aktor dari negeri Ginseng, berwarna kulit cerah, dan dipadu dengan jas putih yang selalu dia pakai ketika berjaga.
Tapi ... aku tidak bisa mendekatinya, karena aku seorang Guru.
Aku tidak mau kredibilitasku sebagai Guru hancur, hanya karena hal ini.
Biarkan aku bercerita terlebih dahulu, agar kalian mengerti akan maksudku.
Semua ini terjadi, beberapa tahun yang lalu.
Ujian Masuk Universitas:
Ketika lulus sekolah, aku mendapatkan Beasiswa dari Sekolah untukku melanjutkan ke jenjang kuliah.
Tapi, aku bingung ... apa aku harus menerimanya, ataukah tidak?
Aku memikirkan sejenak.
Pertama, aku dari kalangan bawah, dimana ekonomi keluargaku kurang dan tidak stabil.
Jika aku menerima Beasiswanya, tentu biaya kuliahnya gratis.
Tapi ... aku tetap harus membayar kebutuhan buku, print tugas, dan lain-lain, yang mana aku tidak punya uang sebanyak itu.
Kedua, aku mempunyai hobi menulis. Jadi setidaknya, aku harus kuliah pada jurusan Sastra.
Sedangkan Beasiswa yang aku dapatkan ini malah jurusannya Biologi.
Aku memang lulusan IPA ... tapi aku kurang begitu menyukai pelajaran ini.
Aku lebih suka pelajaran berbau bahasa, daripada pelajaran seperti ini.
Paling-paling, yang aku suka dari pelajaran Biologi adalah bagian mengingat nama-nama Latin-nya.
Karena aku bingung, akhirnya aku pulang dan bercerita kepada Orang Tuaku.
Setelah panjang lebar kami bercengkrama sambil bercerita, Abahku kemudian bilang:
"Nak ... mending kamu terima saja Beasiswanya. Itu kesempatan langka, yang jarang didapatkan oleh orang lain. Masalah biaya, itu sudah tugas Abah, kamu jangan khawatir."
"Bagi Abah, pendidikan tetap nomor satu. Masalah biaya, ada Tuhan yang maha kaya, yang siap membantu."
"Ingat Nak ... bagaimana kita takut miskin, sementara kita adalah Hamba dari yang Maha Kaya."
Seketika ... aku mulai menitikkan air mata, setelah mendengar nasihat dari Abahku.
Aku bersimpuh kepada kedua Orang Tuaku, meminta Ridhonya.
"Nak ... Emak ada sedikit simpanan uang. Kamu pakai saja buat keperluan hidup di sana."
"Tapi Bu ...?"
"Ambil saja, Abah dan Ibu masih bisa cari uang di sini. Abahkan sudah bilang tadi. Jadi ... jangan khawatir."
Aku semakin terisak semakin dalam, setelah mendapatkan perlakuan Orang Tuaku, yang selayaknya seperti malaikat.
"Makasih yah Abah, Emak ... aku harus bilang ke Guruku dulu, kalau aku setuju atas beasiswanya."
"Iyah Nak, Abah dan Emak di sini mendoakanmu."
Kemudian, aku pamit, dan kembali menuju Sekolahan.
"Pak ... aku setuju atas Beasiswanya. Lalu ... aku harus bagaimana?"
"Besok kamu harus pergi ke kota Serang, ini alamat lengkapnya. Kamu akan mendapatkan Beasiswa, jika lulus "Ujian Masuk'."
Pak Kepala Sekolah memberikanku kartu nama (semacam tiket masuk) dan secarik kertas berisikan alamat dan nama Universitas.
"Waah? Ada ujian masuknya yah Pak? Jam berapa aku harus ikut ujian masuknya?"
"Besok pagi, jam delapan tepat."
__ADS_1
"Hah?! Apa?!"
Aku kaget karena jadwalnya ternyata terlalu pagi. Aku dari desa, dan jika pergi ke sana harus menaiki Angkutan Umum.
Aku memikirkan sebentar ....
Jika itu benar harus jam 08.00 ... maka aku harus bangun jam 03.00, lalu membuat sarapan untuk keluarga, menyiapkan segalanya, mandi, dan lain-lain.
Lalu, aku harus selesai sebelum jam 04.00.
Ketika jam 04.00, aku harus jalan kaki lagi menuju jalan raya ... setidaknya 04.15 aku harus sudah menaiki Angkutan Umum.
"Baiklah Pak, aku mengerti."
Aku berterima kasih, lalu berpamitan dengannya.
***
Keesokannya, aku benar-benar bangun jam 03.00, padahal semalam aku sempat belajar, hingga jam 23.00.
Kemudian aku menyiapkan segalanya; mulai dari sarapan, mandi, dan memakai baju terbaik untukku.
"Nak? Kamu bangun pagi sekali hari ini?"
Aku tidak menyadari, ternyata Abah dan Emak sudah ada di ruang Dapur.
"Iyah Bah, ujian masuknya jam delapan. Jadi aku harus bangun pagi."
"Eng ... tapi tidurmu cukup, 'kan?"
"Cukup kok Bah. Yang penting ... yuk sini! Abah, Emak, kita sarapan! Aku sudah selesai masak nasi goreng."
Abah dan Emakku setuju, lalu duduk di meja makan yang terbuat dari kayu yang hanya dilapisi plastik putih, sebagai alasnya.
Aku mengambil porsi makan untuk kedua Orang Tuaku, dan juga untukku.
Kemudian, aku duduk di meja makan, dan mulai makan bersama.
Aku lihat Abah dan Emakku makan dengan lahapnya. Padahal ... Nasi goreng yang aku masak berbahan sederhana.
Bawang merah, cabai merah, sayur kol dan garam menjadi bahanku dalam membuat nasi goreng.
Bisa dibilang, nasi gorengku berbahan seadanya. Tapi kedua Orang Tuaku terlihat sangat lahap sekali dalan memakannya.
Setelah selesai makan, aku mulai membereskan piringnya, dan menuju tempat cuci piring.
Tapi ... Emak melarangku.
"Sudah Nak, biar Emak saja yang cuci."
"Betul, Abah juga setuju. Kamu harus pergi sekarang. Lihat saja, kamu sudah memakai baju yang rapih. Jangan sampai bajumu kotor karena mencuci."
Piring yang sempat aku bawa, kemudian diambil Emakku.
Karenanya, aku berganti mengambil tasku, dan berpamitan.
"Emak ... Abah ... kalau begitu aku pamit yah. Aku minta doa restunya."
Aku mencium tangan kedua Orang Tuaku, lalu pergi menuju jalan raya.
***
Aku sekarang sudah sampai di Kota Serang.
Tapi ... dimana Universitasnya?
Aku berada di pinggir jalan raya. Dari sini, aku melihat banyaknya kendaraan yang melintas, dan ramainya kumpulan orang yang berlalu-lalang.
Kemudian terdapat toko-toko berjejer rapi, dan berbagai bangunan yang menjulang tinggi.
"Apa Pak Kepala Sekolah salah memberikan alamat kepadaku?"
Aku berjalan sebentar, menuju salah satu toko, yang terlihat seperti menjual berbagai macam jam.
"Tidak! Aku harus bagaimana?"
Aku mulai panik, karena jam sudah menunjukkan waktu 07.25.
Sebagai anak yang hidup di desa, aku tidak tahu seperti apa kehidupan kota dan jalanan di kota.
Baiklah, kalau begitu aku harus tanya seseorang.
Aku berjalan sebentar dan melihat seorang Pria dan Anak yang sedang berjalan bersama.
Pria itu berumur sekitar 30 tahun, memakai celana dan jas hitam, dalamnya kemeja putih dan memakai dasi hitam.
Sedangkan Anaknya yang menurutku berwajah tampan, terlihat seperti siswa kelas 6 SD atau 7 SMP, memakai jas putih yang seperti jas putih dokter.
"Permisi Pak ...."
"Iyah? Ada apa yah?"
"Anu ... Universitas ini dimana yah, Pak?"
"Coba Ayah ... aku ingin melihatnya juga."
Ayah dan Anak itu membaca secarik kertas yang aku berikan.
"Oh, aku tahu Universitas ini."
"Hah? Jadi Adek tahu?"
"Iyah! Ayahku jadi Dosen disana."
"E~eh?!"
Aku membungkuk kepada beliau, karena ternyata orang yang aku tanya adalah Dosen disana.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak itu Dosen di sana."
"Sudah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ... kenapa kamu masih di sini? Ujian sebentar lagi dimulai."
Aku kembali berdiri tegak.
"Aku dari desa, Pak. Aku baru ke sini ... dan malah ... akhirnya tersesat."
"Kak, ikut kita saja. Aku juga ingin tahu lingkungan Universitas."
"Boleh, 'kan ... Ayah?"
"Eh? Memangnya boleh mengajak orang desa sepertiku?"
"Tidak apa-apa Nak, tidak usah merendah seperti itu."
"Kalau begitu, ayo kita jalan ke depan sebentar, mobilku di parkir di sana."
Aku mengangguk, setuju.
"Oh iya ... nama Adek siapa?"
"Namaku Dandi, Kak ... Dandi Darmawan."
Aku tersenyum, setelah mengetahui namanya. Nama dia sesuai dengan sikapnya yang baik hati, sampai rela membantuku.
Kemudian kami berjalan bersama ke tempat parkir mobil, lalu menuju Universitas.
Karena bantuannya, aku bisa mengikuti dan lulus Ujian Masuk Universitas.
Aku tidak akan melupakan kebaikannya, hingga aku bisa lulus dengan nilai sangat bagus, setelah beberapa tahun menuntut ilmu di sana.
***
Setelah lulus, aku mengajar di SMA desa Susukan, desa tempat kelahiranku.
Betapa terkejutnya aku, ternyata Dandi menjadi muridku di sekolahan itu.
Apa dia masih ingat denganku hingga sekarang?
Sudahlah, aku tidak terlalu mengharapkan itu.
Yang jelas, aku yang harus selalu mengingat, akan kebaikannya.
Eng ... aku rasa ceritaku sampai di sini saja.
Jadi, ayo kembali lagi ke kisahku yang sekarang.
Kantor, waktu istirahat:
Tidak terasa, ternyata selama aku menceritakan kisahku, kini diluar cuaca terlihat mendung.
Apakah hari akan turun hujan?
Eng ... ide segar muncul di kepalaku.
Kalian tahu, hobiku itu menulis, 'kan?
Aku mendapatkan ide setelah melihat di luar mulai gelap, karena tertutup awan hitam.
Sebelumnya, maafkan aku jika tulisannya jelek.
Kalau begitu, aku akan menulisannya.
SAPAANNYA BERUBAH
Aku merasa, siang kali ini berbeda dengan siang kemarin
Aku menatap ke atas dan nampak langit mulai gelap ditutupi awan-awan hitam yang datang secara bergerombol
Padahal kemarin, langit masih menyapaku seperti biasanya
Sapaannya yang berwarna biru dan terlihat indah itu, selalu dia berikan kepadaku ketika waktu siang tiba
Angin berhembus dari arah timur, dan terus mendorong awan-awan hitam itu, sampai tepat di atasku
Hawa dinginpun mulai terasa di kulit, hingga tembus, menggigit tulangku
Apakah langit sedang kecewa sekarang?
Suasana langit sekarang semakin murung dan cahaya semakin redup
Karena kali ini, cahaya keceriaan yang selalu terpancar dari Matahari, tidak bisa menembus pekatnya awan hitam
Apakah langit akan menangis kali ini?
....
"Permisi Bu?"
"E~Eh?!"
Aku terkejut karena ketika aku sedang menuliskannya, Dandi masuk ke Ruang Kantor.
"Ada apa, Dand?"
Dandi menghampiriku, dan memberikan beberapa lembar kertas kepadaku.
"Ini kertas laporan Bu, berisi Klub-klub apa saja yang akan kita pantau."
"Ibu jangan lupa mampir yah, di Ruang UKS, setelah pulang sekolah."
"Baiklah. Terima kasih Dand."
"Sama-sama Bu. Kalau begitu, aku kembali ke kelas."
Dandi membungkukkan badannya, lalu pamit, menuju ke kelas.
__ADS_1
Baiklah, aku harus lebih bekerja keras, dalam membantunya, dan para murid di Sekolahan ini.
Agar Sekolahan ini, bisa menjuarai lombanya.