Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V2Ch2 - Rei: Aku Minta Maaf


__ADS_3

Diary: Rei Anggara


Senin, 31 Juli 2017


AKU MINTA MAAF


***


"Baik Anak-anak, pelajaran Bapak Akhiri."


"Kalian sudah boleh istirahat."


Waktu belajar Bahasa Inggris telah selesai, dan sekarang waktunya istirahat.


Setelah Pak Guru pergi meninggalkan kelas, aku mengambil kotak makan dari tasku.


"Aku harus makan ... aku tidak mau sampai pingsan lagi."


Semenjak aku pingsan karena tidak sarapan dan juga lupa memakan bekal yang aku bawa, aku tidak melupakan lagi hal seperti ini.


Menu yang aku buat pagi ini berupa roti tawar dan selai kacang.


Hari ini, aku tidak membuatkan bekal untuk Syila ... karena dia sudah pindah rumah dan menjadi tetanggaku.


Jadi, hari sabtu kemarin, adalah hari terakhirnya memakan bekal buatanku.


"Baiklah ... waktunya makan!"


Baru saja aku menggigit salah satu roti tawar yang aku bawa, Syila dan Fia menarik kursi, mendekatiku, dan duduk di depan mejaku.


"Rei, aku ikut gabung yah."


"Aku juga Rei."


Aku mengangguk pelan, sambil mengunyah makanan.


Fia membuka kota makan berisi bakso goreng.


Sedangkan Syila membawa roti dengan isian coklat, yang entah kapan dan darimana dia dapatkan.


"Aku mau cek perlengkapan Klub Atletik setelah makan, ada yang mau ikut?"


Mereka berdua mengangguk pelan.


Roti dan selai kacang yang sedang aku makan, sangatlah nikmat sekali.


Tekstur lembut dari roti tawar, berpadu sempurna dengan manisnya selai kacang.


***


Akhirnya, makanku selesai, berbarengan dengan mereka berdua.


"Yuk kita pergi!"


"Yuk!"


"Ayo!


Aku berjalan, menuju Ruang Klub Atletik.


Kami harus melewati beberapa bangungan, hingga akhirnya sampai di depan pintu Ruang Klub Atletik.


"Kita bagi tugas yah, Syila, Fia."


"Aku bagian mengecek peralatan, Syila yang mencatat, dan Fia yang mencari daftar nama peserta."


Mereka mengangguk setuju.


Aku menuju ke kardus berbagai warna, dan mengecek setiap isinya.


"Syila, tolong catat yah!"


"Siap!"


Aku mulai membuka isi kardus, dan mengeluarkan semuanya, karena ingin membereskan ulang.


Semuanya acak-acakan, mungkin karena di pinjam Siswa lain, ketika pelajaran olahraga.


"Tongkat Estafet, ada!"


Syila mencatatnya, sambil mencoba mengajakku bercanda.


"Baru juga mulai, Rei sudah bilang tentang tongkat."


Aku melihat ke belakang dan Syila tersenyum dengan lebarnya.


Aku tidak memperdulikannya, dan terus melanjutkan.


"Peluit, cakram, bola tolak peluru."


Syila terus mencatatnya, dan aku terus menyebutkan yang lainnya, hingga selesai.


"Bagaimana Syila? Apa ada yang kurang?"


"Sudah semuanya aku catat, Stopwatch juga pas, ada lima."


Baiklah, karena sudah lengkap, aku sedikit lega.


"Kalau kamu, Fia? Daftar nama peserta, ada?"


"Ada!"


"Baiklah, taruh saja di bawah meja. Sekarang, kita harus kembali ke kelas."

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk setuju.


Setelah semuanya dirasa beres, kami kembali menuju kelas.


Tapi ternyata ... ketika kami mengecek barang di Ruang Klub Atletik, di luar langitnya mulai mendung.


Apakah hari ini akan turun hujan?


Dan benar saja, ketika kami bertiga sudah sampai di Kelas, hujan turun.


Hujannya tidak besar, tapi cukup untuk membuat becek tanah.


Aku menuju bangkuku, duduk sambil memikirkan sesuatu.


Apa aku harus membatalkan latihan perdana hari ini?


Ah, sepertinya tidak usah, karena lapangan Sekolahan ini terbuat dari batako.


Hujan juga tidak terlalu besar, sepertinya masih memungkinkan untuk latihan.


"Baik Anak-anak, semuanya duduk di meja masing."


"Pelajaran akan segera dimulai."


***


Setelah beberapa jam kami mengikuti kegiatan belajar, akhirnya bel berbunyi, menandakan waktu belajar sudah selesai.


Guru dan beberapa Siswa sudah meninggalkan kelas kami.


Kecuali Klub Atletik, yang belum pulang, karena ada jadwal latihan.


"Fia! Syila! Tolong bawa alat-alat latihannya yah ... kecuali peralatan lompat jauh."


"Aku akan menyusul, setelah ganti baju."


"Baik!"


"Siap!"


Kemudian, para Siswi meninggalkan kelas, munuju toilet untuk mengganti seragamnya.


Aku juga mulai mengganti baju, karena kelas sudah kosong.


Setelah ganti baju, aku menuju lapangan, yang ternyata sudah kumpul semua, termasuk Rosid dan Beni yang akan memantau Klub kami.


Aku ikut kumpul, lalu menyuruh mereka berbaris.


"Semuanya! Ayo baris!"


Mereka semua menuruti perintahku.


"Sebelum aku mulai latihan kali ini, aku akan menjelaskan kepada kalian."


"Lalu aku meminta kalian serius dalam latihan, karena prioritas kita untuk memenangkan lombanya."


"Hanya peserta terbaik saja, yang bisa ikut. Kalian mengerti?!"


"SIAP MENGERTI!!!"


Baiklah, karena peralatannya juga sudah ada di sini, aku sudah bisa mulai latihannya.


"Kalau begitu kita bagi tugas."


"Fia dan Syila bagian Lari Gawang, kemudian sisanya yang mencatat."


"Dan yang lainnya juga sama, kalian latihan Sprint, dan Jalan Cepat ... lalu yang lainnya mencatat. Nanti kita gantian."


"Kalian mengerti, 'kan?"


"SIAP MENGERTI!!!"


"Kalau begitu, silahkan bubar barisan dan lakukan tugasnya masing-masing."


Karena lapangan cukup luas, kami bisa melakukan 2 hingga 3 cabang olahraga sekaligus.


Sebelah kiri lapangan digunakan untuk Lari Gawang, tengah Sprint, dan sebelah kanan Jalan Cepat.


Karena semua telah mendapatkan tugasnya masing-masing, aku menghampiri Rosid dan Beni.


Mereka membawa banyak sekali peralatan, seperti termos yang berisi es batu, tandu, perban, antiseptik, dan lain-lain.


Mereka sepertinya sudah bekerja keras hari ini.


"Hei, Rei. Nanti hasil catatan latihannya berikan kepadaku."


"Eh? Kenapa harus begitu, Rosid?"


Aku tidak mengerti, karena diminta sesuatu yang seperti itu.


"Kali ini, Ketua OSIS yang menentukan siapa yang akan ikut lombanya, berdasarkan catatan terbaik setiap cabang latihannya."


Hah? Apa-apaan permintaan yang egois itu?


"Tunggu, aku kurang setu—"


Brak!


"Awww!"


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, aku mendengar suara wanita kesakitan.


Aku berbalik badan, melihat Fia terjatuh, di atas papan Lari Gawang.

__ADS_1


"Fia!"


Aku mendekat, dan langsung berlari, tanpa memperdulikan permasalahan Ketua OSIS tadi.


"Fia! Kamu kenapa bisa terjatuh?!"


Aku khawatir dengannya.


"Tidak apa-apa, aku bisa bangun kok."


Fia mencoba bangun, tapi kembali terjatuh.


"Rosid! Beni! Bawa tandunya."


Fia memegangi kakinya, dan aku bisa melihat terdapat luka-luka kecil.


"Hei Fia! Tanganmu terluka!"


"Tidak apa-apa ... ini hanya luka kecil."


"Biarpun luka kecil, kamu ini seorang wanita. Aku tidak mau kamu memiliki bekas luka pada kulitmu yang mulus."


Setelah aku mengatakannya, dia malah tersenyum.


Apa ada yang salah dengan perkataanku?


Beni dan Rosid kemudian mengangkat Fia ke atas tandu, dan membawanya ke UKS.


Selagi Fia di bawa ke UKS, aku memberitahukan kepada semua anggota Klub Atletik yang sedari tadi melihatku begitu khawatir terhadap keadaan Fia.


"Aku meminta maaf kepada kalian semua. Hari ini kita batalkan latihannya dan kalian boleh pulang."


"Sekali lagi, aku meminta maaf karena tetap menjalankan latihan, meskipun baru beberapa jam hujan reda."


Aku membungkukkan badan, meminta maaf kepada semua anggotaku.


"Tidak apa-apa Ketua. Yang penting, tolong rawat Fia."


"Iyah benar, Ketua. Aku takut Fia cedera."


"Kalau begitu, kami pulang Ketua."


Aku kembali menegakkan badan, dan melihat anggota yang lain mulai meninggalkan lapangan.


Aku menuju UKS sambil membawa termos yang berisikan es batu, jaga-jaga takutnya Fia benar-benar cedera atau memar.


Setelah sampai di UKS, aku melihat ada Syila, Beni dan Rosid memasang wajah khawatir.


Lalu ada juga Ketua OSIS yang memasang wajah murung serta Ibu Hera yang sedang duduk di mejanya.


Sisanya, Fia duduk di ranjang, dan ada Dandi yang berdiri di sampingnya.


"Ah, kebetulan sekali."


"Aku butuh es batu untuk mengompres kakinya?"


Aku memberikan termos yang berisikan es batu kepada Dandi.


"Eng ... memangnya Fia kenapa, Dand?"


"Dia ... kaki kanannya kena cedera Ankle."


"Apa?!"


Tunggu, dia kena cedera Ankle?


Itu berarti dia tidak akan bisa ikut lomba selanjutnya, karena harus menepi beberapa minggu.


"Fia, nanti jangan lupa sering-sering dikompres dengan es batu yah."


"Lalu jangan langsung dipijat kakinya, tunggu sembuh sendiri, baru dipijat."


"Pijatnya juga jangan di daerah yang terluka, tapi di luar itu. Biar lebih jelas, kamu kunjungi saja, tempat pijat yang faham dengan cedera Ankle karena olahraga."


Dandi menjelaskan masalah Cedera Ankle kepada Fia.


"Kalau begitu, ayo kita tinggalkan mereka berdua. Dan untukmu Syila, kamu ambil tasnya Fia, dan taruh di depan Ruang UKS."


Mereka menuruti perkataan Ibu Hera.


Sekarang, hanya ada aku dan Fia saja di dalam Ruang UKS.


Apa yang harus aku lakukan?


Aku sudah memutus harapannya untuk memenangkan lomba lagi.


Fia itu layaknya aset terpenting di Klub dan Sekolahan ini.


Aku juga memupuskan keinginannya, tentang masalah taruhan aku dan Fia kemarin.


Taruhan itu berupa, "Jika Fia memenangkan lombanya, maka aku harus pacaran dengannya."


Meskipun kemarin aku menolaknya, aku merasa tidak enak dan sedih dengan keadaannya yang sekarang.


Argh! Bodohnya aku! Aku lupa, jika batako itu terdapat lumut di beberapa titik.


Sedangkan jika hujan, maka tentu saja jadi licin.


Akhirnya, karena aku benar-benar menyesel, aku menurunkan badanku.


"Fia ...."


Aku menurunkan badanku, hingga bersujud kepadanya dengan tangan ditaruh di depan kepala, layaknya permintaan maaf orang jepang, jika merasa benar-benar menyesal.

__ADS_1


"... Maafkan aku."


__ADS_2