Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch10 - Dandi: Tingkah Guruku dan Rahasia Temanku


__ADS_3

Diary: Dandi Darmawan


Rabu, 26 Juli 2017


TINGKAH GURUKU DAN RAHASIA TEMANKU


***


"Kalian telitilah, catat atau amati tanggal di atas!"


"Yang paling penting, perhatikan! Diary milik siapa, yang sedang kalian baca!"


"Kalimat pembuka seperti ini, hanya untuk 'karakter baru' yang hadir di dalam Diary. Jika sudah pernah muncul, maka tidak ada."


***



Langsung saja, biarkan aku memperkenalkan diri.


Namaku Dandi Darmawan, tinggal di desa Sidayu bersama kedua orang tua dan kakak perempuan yang sudah bekerja.


Jika dihitung dari rumah, jarak ke sekolahan sekitar 2,3 km, dan aku biasa pulang pergi menggunakan Kendaraan Umum.


Aku Siswa Kelas 11 IPA di SMA desa Susukan. Di sini, aku ditunjuk sebagai Penjaga UKS.


Kalian tahu, kenapa aku ditunjuk sebagai Penjaga UKS? Alasannya simpel, karena aku pernah mengikuti Klub PMI, pada saat SMP dulu.


Tapi ... aku heran, kenapa SMA desa Susukan tidak mempunyai Klub PMI?


Apakah mereka kekurangan dana atau bagaimana? Atau kurang bijak dalam berbelanja?


Sudahlah, lupakan. Aku hanya berharap, semoga ketika aku naik ke Kelas 12 nanti, sekolahan ini mempunyai Klub PMI sendiri.


Aku menjaga UKS tidak seorang diri, melainkan ditemani oleh Ibu Guru Herawati. Aku biasa memanggilnya dengan Ibu Hera.


Ibu Hera rambutnya panjang, berwarna hitam, dan dibiarkan terurai, hingga ketika dia berjalan, rambutnya ikut bergerak.


Dia mengajar disini sebagai Guru Biologi, Wali kelas kami, dan merangkap juga sebagai Penjaga UKS.


Tapi ... banyak orang yang tidak tahu bahwa Ibu Hera merupakan Penjaga UKS.


Hal itu karena, dia jarang hadir menemaniku bertugas. Yang mereka tahu hanya sebatas 'Ada' guru penjaga UKS saja, tanpa tahu siapa nama dan orangnya.


Oh iya, apa kalian tahu, kenapa aku mau menjadi penjaga UKS, atau mungkin pernah ikut Klub PMI ketika SMP dulu? Baiklah, akan aku ceritakan.


Jujur saja, aku tertarik dengan dunia medis. Aku sampai rela membeli buku atau minimal paket internet, agar bisa membaca artikel tentang medis.


Aku juga hafal beberapa nama dan fungsi obat, penyakit, istilah medis, dan sebagainya.


Maka dari itu, aku mempunyai cita-cita menjadi Dokter di kemudian hari.


Eng ... Oh iyah, aku hampir lupa. Perihal masalah Diary yang dijadikan cerita Novel, akan aku ceritakan juga alasannya, kenapa aku mengizinkannya.


Jujur saja, aku sempat bingung tentang masalah ini.


Apakah aku lebih baik mengizinkannya? Atau mungkin tidak mengizinkan Diary ini untuk dipinjam kepada Rosid Firmansyah, agar dijadikan novel.


Maksudku ... Diary milikku ini kebanyakan isinya tentang nama-nama obat, penyakit, juga ceritaku tentang menjelaskan masalah medis.


Untuk masalah kisah romance-ku, tentu saja ada.


Bagaimana mungkin jika pria sekeren diriku (apalagi ketika memakai jas putih) tidak mempunyai kisah romance.


Tapi ... aku memikirkannya lagi, dan ternyata sepertinya cukup bagus jika dijadikan cerita Novel. Rosid Firmansyah mengatakan lewat pesan WhatsApp agar meyakinkanku, bahwa:


"Mungkin ... kamu bisa memberikan info, tentang rahasia-rahasia temanmu, yang berkaitan dengan dunia medis."


"Siapa tahu, kita bisa membantunya atau mungkin kita bisa berjaga-jaga dalam memberikan makanan, agar tidak ada kejadian fatal (misal tentang alergi suatu makanan) yang terjadi."


Karena isi pesannya yang seperti itu, aku mengijinkan Rosid Firmansyah untuk menjadikannya kisah Novel.


***


"Baik Anak-anak! Kita akan belajar BAB baru, masalah Tulang!"


Aku duduk di barisan kedua paling pojok kiri (tepatnya di belakang meja Rei) tengah mengikuti pelajaran kedua, yaitu Biologi.


Jujur saja, setiap hari Rabu dan Sabtu, aku tidak pernah ketinggalan mengikuti mata pelajaran Biologi yang dipimpin oleh Ibu Hera.


Alasanya, aku menyukainya (Biologi) dan tidak rela bila sampai ketinggalan.


Di depanku, Ibu Hera sedang menjelaskan masalah tulang bagian kaki sambil menggambarkannya di papan tulis.


Suasana kelas hening, sambil sesekali aku mencatatnya.


"Anak-anak, apa kalian tahu Mineral apa yang dibutuhkan tubuh dan bisa mempertahankan kepadatan tulang?"


Ibu Hera bertanya, di sela-sela keheningan.


Aku melirik ke arah kanan dan belakangku, dan yang aku rasakan hanyalah sunyi senyap, tanpa ada yang bisa menjawabnya.


"Dandi, ayo jawab, kamu tahukan?"


Baiklah jika semua orang diam, akan kujawab.


"Kalsium Bu!"

__ADS_1


"Iyah betul, Kalsium!"


Ibu Hera membenarkan jawabanku. Lalu, kembali bertanya ke semua muridnya.


"Nah, Kalsium bisa kita dapatkan dengan mudah dari ...?"


"Su—"


"Susu!!"


Belum sempat aku menjawabnya, teman sekelasku sudah duluan berteriak dengan sekuat tenaga ketika menjawabnya.


"Iyah, kita bisa mendapatkan Kalsium dengan mudah dari Susu."


"Di sini mungkin banyak yang suka Susu. Tapi, apa ada yang tidak suka minum Susu?"


Mendengar pertanyaan Ibu Hera, aku kembali menoleh ke arah kanan dan belakang.


Nampak di meja paling belakang, ada salah satu siswa yang mengangkat tangannya, dia adalah Beni.


"Pfftt."


"Hahaha."


Semua menertawainya, seperti tidak percaya dengan Beni yang tidak suka Susu.


"Apa-apaan?! Mentang-mentang kamu, Beni, sudah merubah penampilan, sekarang malah tidak suka Susu."


Apa yang diucapkan salah seorang siswa itu memang ada benarnya.


Dulu, ketika dia masih Kelas 10, penampilannya masih kutu buku.


Tapi ketika 3 bulan sebelum kenaikan Kelas, dia merubah penampilannya.


Rambut pendeknya dia panjangkan, hingga kadang memakai karet gelang, agar tidak acak-acakan.


Aku tidak mengerti, apa orang tuanya diam saja, dengan anaknya yang berubah seperti itu?


"Kamu kenapa tidak suka Susu, Beni?"


Ibu Hera kembali bertanya, dan Beni langsung dengan cepat menjawabnya.


"Males Bu, masa setiap aku minum susu atau makan keju, malah jadinya mules, bahkan sampai diare."


"Padahal dulu nggak seperti ini."


"Jadi, semenjak diare itu, aku sudah stop minum Susu lagi."


Gejala yang diderita Beni sudah masuk kalangan umum.


"Rei, ayo maju, jelaskan. Ibu yakin seratus persen, kamu bisa menjawabnya," ucap Ibu Hera dengan Spidolnya mengarah lurus kepadaku.


Aku langsung maju, menghadap ke temanku dan langsung menjelaskannya.


"Langsung saja. Jadi, yang dialami Beni ialah Intoleransi Laktosa, dan berbeda dengan Alergi Susu."


"Intoleransi Laktosa tidak sebahaya Alergi Susu. Karena Intoleransi Laktosa adalah suatu keadaan dimana tubuh kita tidak bisa mencerna gula Laktosa."


"Naah, untuk memecah Laktosa, diperlukannya Enzim dari usus yang bernama Enzim Laktase."


"Maka, jika kita kekurangan atau bahkan tidak mempunyai Enzim Laktase, kita akan menderita Intoleransi Laktosa."


"Laktosa ini biasanya ditemukan pada Susu dan Produk Turunannya."


"Begitulah. Jadi, Ada yang mau di tanyakan?"


Aku memberikan kesempatan bertanya untuk teman-temanku. Tapi ... hanya keheningan yang aku dapat.


Kemudian, ketika aku akan memulai penjelasan kembali, Ibu Hera mengangkat tangannya, dan mengajukan pertanyaan.


"Di usia berapa orang bisa terkena Intoleran Laktosa?"


Hah, pertanyaan ini terlalu mudah bagiku. Kalau begitu, akan kujawab dengan senang hati.


"Seseorang biasanya terkena Intoleransi Laktosa pada Usia 20 Tahun, karna mulai menurunnya Enzim Laktase."


"Tapi, tidak menutup kemungkinan ada faktor lain yang mempengaruhinya, seperti faktor Gen, kerusakan usus, atau hal lain."


"Orang yang baru lahir pun bisa terkena Intoleransi Laktosa, jika ketika lahir Enzim Laktasenya kurang atau bahkan tidak ada."


Prok-Prok!


Kemudian, setelah menjawabnya, aku mendengar tepuk tangan dari guruku, dan diteruskan oleh teman-temanku.


"Yah, kalian semua tepuk tangan. Dandi menjawab semuanya dengan benar."


"Wah, Dandi hebat yah!"


"Pasti yang jadi pacarnya Dandi bakalan bangga."


Tunggu, kenapa temanku malah membicarakan aku tentang pacar?


Kalau boleh jujur, aku masih jomblo. Mungkin, karena terlalu memilih.


Teng-Teng!


Kemudian, bel berbunyi, menandakan kegiatan belajar sudah selesai dan diganti dengan istirahat.

__ADS_1


"Baik Anak-anak, waktu Ibu sudah selesai, dan silahkan kalian istirahat."


"Dan untukmu Dandi, Ibu mau ke UKS, nanti kamu kesana yah!"


Aku mengangguk pelan, menyetujuinya. Tapi ... para Siswi bingung, kenapa Ibu Hera pergi ke UKS.


"Loh? Kenapa Ibu ke UKS?"


"Kalian tidak tahu?" kataku.


"Beliau adalah Penja—"


"Eeeh, Ibu cuman pusing doang kok, tidak usah difikirkan."


"Dandi, Ibu tunggu yah!"


Aku mengangguk pelan. Tapi ... aku tidak mengerti kenapa Ibu Hera memotongku ketika ingin memberitahukan masalah jabatannya.


Apa dia malu atau bagaimana?


Sudahlah, aku harus membereskan buku terlebih dahulu.


Aku kembali ke meja, membereskan semua alat tulis yang berserakan di meja.


"Rei, minta dong, bekalnya!"


Aku mendengar suara perempuan di depanku.


Aku menghadap ke depan, dan melihat Syila yang sekarang duduk di samping Rei.


"Loh? Kok tiap hari minta bekalnya?"


"Habis enak Rei."


"Baiklah, besok akan aku buatkan bekal untukmu."


"Yey! Hore!"


Mereka terus berbincang, tanpa memperdulikan aku yang berada di belakangnya.


Tapi ... aku mengkhawatirkan orang-orang yang dekat dengan Rei.


Coba saja kalian fikirkan, jika wanita yang suka kepadamu, lalu kamu (pria) baik kepada semua wanita, bahkan semua orang, pasti orang yang dekatnya akan mendapatkan goresan luka di hati, tanpa kita sadari.


Baiklah, aku sudah membereskan semuanya, aku harus pergi ke UKS.


***


Aku sampai di dalam ruangan UKS, dan melihat Ibu Hera sedang tiduran di meja pertama, dekat dengan meja jagaku.


Oh iya, UKS di sekolahan ini cukup luas, bahkan menurutku memang luas.


Ada 4 kasur beserta gorden sebagai pemisahnya, kotak P3K, poster, Alat Pelindung Diri berupa masker, sarung tangan medis, kacamata pelindung, bahkan ada 2 set baju sanitasi yang mana baju itu biasanya digunakan ketika wabah terjadi.


"Ibu? Ibu sudah minum Paracetamol belum?"


Aku mengambil jas putih dan memakainya, lalu duduk ke meja jagaku, setelah melontarkan pertanyaan.


"Nggak usah Dand."


"Loh? Kok nggak usah? Kan katanya Ibu pusing?"


"Udah mendingan kok, setelah melihat wajahmu."


Hey, hey, apa maksudnya itu? Ibu Hera sedang bercanda, 'kan?


Aku tahu aku memang jomblo, tapi tidak usah menghiburku seperti itu.


"Hahaha, Ibu mah suka bercanda mulu."


"Nggak kok, Ibu tidak bercanda."


Oke, oke. Sekarang aku mulai panik dan tegang. Aku tidak mengerti dengan tingkah guruku ini.


"Ma-Maksud ibu apa?"


Keringat dingin mulai menetes dari dahiku. Jujur saja, aku kaget dengan sikapnya yang seperti itu.


"Hei, Dand. Kamu kan tampan, layaknya wajah seorang aktor."


"Kamu sisir rambut hitammu dengan gaya belah dua, kulit cerah, dan juga terlihat keren dengan balutan jas putih itu."


"Persis sekali, dengan aktor dari negara Ginseng."


"Tapi ... kenapa kamu jomblo?"


Sial, kenapa ujung-ujungnya malah menghina tentang status hubunganku?


"Aku terlalu pilih-pilih Bu."


Aku berbalik badan,melihatnya yang masih tiduran dan menjawab pertanyaannya, sambil menggaruk rambut.


"Oh, terlalu pilih-pilih yah?"


Aku mengangguk pelan. Lalu, Ibu Hera bangun, duduk di atas kasur, dan menatapku.


"Hmm ... kalau begitu, sama Ibu, bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2