
Diary: Rei Anggara
Senin, 24 Juli 2019
HITAM
***
"Uuh! Aku lapar!"
Beberapa jam yang lalu, aku dihukum membuang sampah yang ada di Kantor, oleh Ketua OSIS karena keterlambatanku.
Aku sudah selesai melakukannya, termasuk selesai mengikuti kegiatan belajar juga.
Sekarang sudah waktunya istirahat, aku harus makan bekal yang aku bawa dari rumah.
Aku tengah berada di dalam Kelas 11 IPA, duduk paling kiri depan, dekat dengan jendela.
Aku lihat ke sekeliling, hanya ada 4 siswi dan 2 siswa, termasuk aku yang masih tetap berada di dalam kelas.
Kotak makanku kini sudah kutaruh di atas meja belajar.
"Uuh! Aku lapar!"
Aku membuka kotak makan yang berwarna biru, dan langsung mengambil satu potongan kecil roti Sandwich (1 Roti sandwich ukuran sedang aku bagi 4 bagian kecil) yang aku bawa dari Rumah.
"Selamat makan!"
Belum sempat aku memakannya, tiba-tiba aku dipanggil oleh suara wanita yang terdengar sangat semangat sekali.
Dia adalah Syila, teman sekelasku.
"Eh, Rei. Minta dong! Aku lapar ... belum sarapan, dan aku juga lupa membawa uang jajan."
Aku tidak tahu kenapa dia sampai lupa membawa uang jajan. Tapi yang terpenting, aku harus berbagi Sandwich ini dengannya.
"Ini, ambil saja kalau Syila mau."
"Waah, terima kasih!"
Syila mendekat, mengambil 2 potong kecil roti Sandwich, dan duduk di samping mejaku.
"Baiklah, Selamat makan!"
"Selamat makan!"
Tapi lagi dan lagi, ada yang memanggilku ketika aku akan memakan Sandwich ini.
Kali ini, Kak Indri yang memanggilku.
"Hei! Rei!"
"Sini! Aku ada perlu!"
Kak Indri memanggilku di dekat pintu kelas, dengan memasang wajah serius.
Baiklah, aku harus menunda waktu makanku.
"Syila, nanti taruh sisa bekalku ke bawah meja yah."
"Aku dipanggil Kak Indri."
Syila mengangguk mendengar perintahku. Kemudian aku mendekatinya dan menanyakan bantuan apa yang dia inginkan dariku.
"Ada apa Kak Indri?"
"Stok buku Perpustakaan baru saja datang. Aku minta tolong kepadamu untuk membantunya."
"Membantu siapa?"
"Apa kamu lupa?"
"Tentu saja Beni dan Rosid! Dia kan dapat tugas jaga perpustakaan minggu ini."
Ah, dia benar. Beni dan Rosid merupakan Penjaga Perpustakaan (perwakilan dari kelas 11) dan minggu ini gantian mereka yang jaga.
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan Kak?"
"Ambil bukunya dari depan Kantor, dan bawa ke Perpustakaan."
"Lalu buku yang jarang dipakai dari Perpustakaan kamu bawa saja dan taruh di depan Kantor. Soalnya buku itu nanti buat disumbangkan."
"Kamu mengerti kan?"
"Iyah Kak, aku mengerti. Ngomong-ngomong, Kakak mau ikut?"
"E-Eh, nggak usah. A-Aku ada tugas yang lain."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu!"
Sekarang, aku berjalan menuju Kantor, sesuai apa yang dikatakan oleh Kakak kelasku itu.
Aku tidak begitu memperdulikan kenapa Kak Indri malah menjawabnya dengan terbata-bata.
Aku harus melewati Kelas 10 (IPA dan IPS) dan bangunan Perpustakaan terlebih dahulu, baru aku bisa sampai ke Kantor.
Sembari aku berjalan, aku malah memikirkan tentang Arsitektur sekolahan ini.
Coba kalian bayangkan. Arsitektur di sekolahanku bentuknya seperti huruf "U" terbalik.
Sebelah kiri ada Kantor, Perpustakaan, dan Kelas 10. Di tengahnya ada Kelas 11 dan Kelas 12. Lalu di bagian kanan ada ruangan OSIS, Klub, Gudang, dan sebagainya.
Karena bentuknya yang seperti itu, lapangan menjadi sangat luas sekali, dan aku harus berjalan cukup jauh hingga sampai ketujuan.
Tapi meskipun begitu, aku sangat bersyukur, semua itu karena para Donatur yang telah menyumbangkan semuanya, hingga sekolahan kami menjadi sekolah yang agak maju daripada yang sebelumnya.
__ADS_1
Terutama Klub Atletik, yang mana Klub ini banyak sekali menyumbang kemenangan (ketika ikut kompetisi) dibanding Klub yang lain. Hingga para Donatur sudi untuk membantu sekolahan ini.
Baiklah, sekarang aku sudah di depan Perpustakaan.
Lebih baik aku bilang dulu kepada Beni dan Rosid tentang aku yang akan membantunya. Lagian, Kantor juga ada di sebelah kiri bangungan ini.
"Permisi ...."
Aku membuka pintu, masuk, dan berdiri dekat pintu.
Aku lihat, Beni dan Rosid sangat sibuk sekali dalam menata buku ke dalam Rak, serta memisahkan beberapa buku ke dalam kardus.
"Anu ... kata Kak Indri, aku harus membantu kalian."
"Ah maaf. Aku tidak sadar bahwa kamu berdiri di situ."
"Eng ... bukunya ada di depan Kantor, tolong ambilkan. Biar kami saja yang menatanya."
Beni menjawab pertanyaanku tanpa melihat aku sama sekali dan tetap fokus dengan pekerjaannya.
Mereka terus menata buku dengan sangat sibuknya. Baiklah, aku rasa aku harus membantunya.
Aku langsung meninggalkan Perpustakaan, dan berjalan menuju kantor.
Jarak dari Perpustakaan ke Kantor tidak terlalu jauh. Jadi, tidak menunggu lama, akupun sampai.
"Waah, ternyata banyak sekali bukunya."
Aku melihat 17 Kardus seukuran TV tabung 20 inch, dengan di dalamnya buku-buku, yang hanya diikat dengan tali plastik.
Aku mencoba mengangkatnya, dan ternyata lumayan berat. Mungkin beratnya sama seperti berat Gas Elpiji 3 Kg ketika masih penuh.
Baiklah, waktunya aku membantunya.
Tapi tunggu dulu, sepertinya aku akan menyingkatnya.
Intinya aku membantu mereka. Lalu ketika selesai, bel yang menandakan waktu jam pelajaran ketiga sudah berbunyi, dan aku mengikuti semua kegiatan belajarnya.
***
"Ah ... melelahkan ...."
Aku merasakan lelah setelah ikut membantu di Perpustakaan, dan mengikuti kegiatan belajar kali ini.
"Kerja bagus, Rei."
"Kamu tadi ikut bantu di Perpustakaan, 'kan?"
"Ah iyah."
Aku menjawab pertanyaan Fia dengan singkat, sambil memegang bahu kanan dengan tangan kiriku.
"Mau aku pijitin?"
"Nggak usah, Fia."
"Mending Fia ganti baju aja dulu."
"E-Eh? Ga-Ganti baju? Sekarang?"
Hei, apa dia gugup? Kenapa dia menjawab pertanyaanku seperti itu?
Ah, aku rasa Fia salah faham denganku.
Ketika aku melirik ke sekitarku, ternyata semua siswa sudah keluar dan meninggalkan kami berdua di dalam kelas.
"Tunggu Fia, kamu salah faham. Aku bukan bermaksud begitu."
"Maksudku ... kamu harus pergi ke Toilet dan ganti baju di sana. Kita kan ada kegiatan Klub?"
"A-Ah, kau benar. Maaf, aku tinggal dulu."
Fia lalu berlari sambil membawa tas hijaunya, meninggalkanku seorang diri.
Baiklah, aku juga harus ganti baju.
Aku mulai melepaskan seragam yang aku kenakan, dan menggantinya dengan baju olahraga. Lalu, aku taruh seragam tadi ke dalam tas, dan menaruhnya ke bawah meja.
Baiklah, aku sudah siap. Aku harus pergi ke lapangan sekarang.
***
"Baik semuanya. Hari ini kita latihan Lari Estafet."
"Sebelum itu, kita lari kecil mengelilingi lapangan sebanyak 3 kali."
"Aku juga ikut kalian, mengawasi dari arah belakang."
"Apa kalian mengerti!"
"Siap! Mengerti!"
"Baiklah, yang paling depan, ayo mulai!"
Aku dan para anggota Klub Atletik mulai berlari kecil mengelilingi lapangan.
Jumlah anggota Klub Atletik cukup banyak dibanding Klub lain.
Di Klub Atletik ada sekitar 25 anggota, dengan 15 Siswa dan 10 Siswi.
Cukup menguntungkan jika kompetisi Atletik kembali diadakan.
***
"Priitt!!"
__ADS_1
Aku meniup peluit karena kami semua sudah berlari kecil sebanyak 3 kali putaran.
"Kalian jangan duduk, dan dengarkan penjelasanku tentang Peraturan Lari Estafet."
"Siap!!"
Dengan jawaban anggotaku yang semangat itu, aku berdiri di depan mereka, dan mulai menjelaskannya.
"Lari Estafet butuh empat orang per tim dan juga sebuah tongkat."
"Tongkat ini bukan sembarang tongkat—"
"Widdih, tongkat sakti," celetuk Syila, yang kemudian semua anggota tertawa karenanya.
"Bukan begitu Syila ... Maksudku tongkatnya memang tongkat 'Khusus', dengan panjang 30 cm, dan berdiameter 4 cm dengan berat sekitar 88 gram untuk dewasa."
"Jika anak kecil, tongkatnya memiliki panjang 30 cm juga, tapi diameternya hanya 2 cm dengan berat 50 gram."
"Wah, panjang yah ...," celetuk Syila yang kedua kalinya, dan membuat para Siswa terdengar heboh.
"Sstt! Sudah cukup! Aku akan menjelaskan lagi."
"Dalam memberikan dan menerima tongkatnya, harus saling berlawanan. Maksudku ... pelari pertama membawa tongkat dengan tangan kanan, nanti pelari kedua menerimanya dengan tangan kiri."
"Ada dua Teknik dalam menerima tongkat. Yang pertama Visual dan Non Visual."
"Cara Visual adalah menerima tongkat dengan cara melihat ataupun menoleh ke arah belakang. Untuk teknik jenis lari estafet ini memiliki jarak 4 x 400 meter."
"Lalu cara Non Visual, adalah cara menerima tongkat estafet tanpa melihat atau menoleh ke bagian belakang. Untuk teknik lari estafet jarak pendek ini memiliki jarak 4 x 100 meter."
"Apa kalian faham?!"
"Faham!"
"Baiklah itu saja, ayo kita coba sekarang. Kita pakai teknik Vision terlebih dahulu."
Aku ikut ke lapangan untuk mencotohkannya. Lalu aku memilih 3 Siswa lain sebagai pelari kesatu, kedua, dan ketiga.
Aku memilih posisi pelari keempat karena posisi ini paling menentukan dalam lomba lari, selain posisi pertama.
Kami berempat sudah berada di lapangan, dan aku mulai berteriak.
"Pelari pertama menggunakan Start Jongkok!"
"Sisanya Start Berdiri!"
Baiklah, sepertinya mereka sudah siap. Waktunya latihan Lari Estafet dimulai.
***
Jam 17.00
"Rei, sini tongkatnya, biar aku bantu."
"Oh, boleh."
Aku memberikan beberapa tongkat kepadanya.
Karena latihan hari ini sudah selesai, aku harus membereskan alat-alat yang tadi dipakai, seperti beberapa tongkat, peluit, stopwatch, dan alat tulis untuk mencatat rekor waktu.
Aku bersyukur Fia mau membantuku, dimana anggota lain memilih langsung bergegas pulang.
"Yuk, Fia. Semuanya bawa ke ruang Klub Atletik."
Fia mengangguk, setuju.
Kami berdua mulai berjalan, ke sebelah kanan, dan langsung menuju Ruang Klub Atletik.
Hal ini cukup memangkas waktu, jika berjalan langsung dari lapangan.
Aku merasakan latihan hari ini terasa sangat lelah sekali.
Aku tidak mengerti, padahal biasanya staminaku tidak cepat lelah seperti ini.
Tulangku terasa lepas semua dari tubuhku ... lemas ... lelah ... capek ....
Kemudian, aku sampai di depan pintu ruangan Klub Atletik.
"Fia, kamu tunggu di luar yah."
"Aku taruh dulu tongkat yang aku bawa, nanti aku balik lagi dan ambil tongkat darimu."
"Baiklah."
Aku membuka pintunya, dan langsung menaruh tongkat itu ke tempat paling pojok kanan, dimana ada beberapa kardus berbagai warna yang tertata rapi.
Aku masukkan alat tulis, peluit dan stopwatch yang sedari tadi aku kalungkan serta 2 tongkat ke kardus berwarna hitam, lalu keluar untuk mengambil sisa tongkat yang dibawa Fia.
"Sini Fia, tongkatnya."
Aku mendekatinya, sambil menjulurkan tangan.
"Nih!"
Aku menerima tongkatnya ... tapi tidak sengaja jatuh begitu saja.
"Aduh, Fia ... aku pusing."
"Eh? Kamu kenap—"
Aku menunduk sambil memegang kepalaku dengan tangan kanan.
Argh! Seperti diputar-putar rasanya ... badanku mulai terasa semakin lemas ... dan pandanganku semakin lama tambah buram.
Kemudian, pandanganku sekarang semuanya terlihat menghitam ....
__ADS_1