Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1: Epilog


__ADS_3

"Rosid, Ibu ada perlu."


"Sekarang tolong pergi ke Kantor, Ibu tunggu!"


Aku mendapat pesan WhatsApp dari Ibu Guru Biologi.


Eng ... Sebelum aku melanjutkan, aku ingin bertanya kepada kalian.


Apakah kalian sudah membaca Prolog? Termasuk Chapter 1 sampai Chapter 17?


Jika kalian sudah membaca, akan aku jelaskan sesuatu kepada kalian.


Sebelumnya, aku 'Minta maaf' kepada kalian jika kebingungan dengan banyaknya karakter yang diceritakan.


Lalu ... kenapa tidak memakai sudut pandang ketiga saja? Padahal karakternya 'kan banyak?


Apa itu yang kalian fikirkan?


Oke, akan aku jelaskan.


Aku berfikir, jika Diary yang mereka ditulis sebagai cerita Novel, akan lebih bagus jika memakai sudut pandang orang pertama, kenapa?


Itu kisah mereka semua, jadi aku merasa mereka harus menjadi karakter utama.


Tentu semua orang ingin menjadi karakter utama di dalam kehidupannya, bukan?


Aku juga ingin kalian merasakan apa yang mereka rasakan.


Satu lagi, mereka juga menulis Diary-nya menggunakan sudut pandang pertama.


Mana mungkin mereka akan menulis kisahnya sendiri, menggunakan sudut pandang ketiga, sampai tahu isi hati dan fikiran orang-orang yang terlibat dengan dirinya.


Jadi, kalian sudah faham, 'kan? Kenapa cerita yang aku buat seperti itu.


Lalu selanjutnya, mari kita kembali di acara kelulusan.


Aku mendapatkan pesan WhatsApp dari Ibu Guru Biologi, yang menyuruhku untuk menemuinya di Kantor.


Padahal, aku masih berkumpul dan bercengkrama dengan teman-temanku, menikmati acara Kelulusan Sekolah.


Ada pria yang memakai sweater biru, rambut ponytail samping, dan perempuan yang memakai kacamata, dengan rambut bergaya kepang prancis, ditaruh di depan agar semua orang bisa melihat rambut indahnya.


Lalu, dimana yang lain?


Mereka menjawab, "Ada yang makan ke Kantin, bertemu dengan Junior-nya di Klub, dan sebagainya."


Baiklah, lagipula aku sudah menerima banyak sekali Binder dari mereka semua, termasuk yang tidak hadir di sini, sudah menitipkannya langsung kepada mereka.


"Hei, aku pergi dulu yah. Aku ada urusan."


Aku berdiri, dan memasukkan semua Binder ke dalam tasku.


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu update ceritanya!"


"Hati-hati!"

__ADS_1


Aku pergi, meninggalkan teman-temanku, dan menuju ke Kantor.


Di luar kelas, tepatnya di Lapangan, suasana masih cukup meriah.


Ada panggung, stand makanan dan minuman, para orang tua setiap siswa, pengunjung, dan yang lainnya, hingga membuatku terharu dan mulai meneteskan air mata.


"Terima kasih kepada para Orang Tua dan Guru-guru, karena telah membesarkan dan mendidik kami, hingga kami bisa merasakan, indahnya lulus sekolah."


Kemudian, aku sudah sampai di depan Kantor.


"Permisi ...."


Aku langsung masuk, karena pintu Kantor terbuka lebar hari ini.


"Sini, Rosid, sebelah sini."


Wanita muda berambut hitam panjang yang dibiarkan terurai, melambaikan tangan kepadaku. Dia adalah Ibu Guru yang mengajar Biologi di Sekolahan ini.


Lalu, aku mendekatinya.


"Ada perlu apa yah, Bu?"


"Ibu juga bisa tahu nomorku dari siapa?"


"Sudah sudah, nanti Ibu jelaskan."


"Kamu duduk saja terlebih dahulu."


Aku menurutinya, dan duduk di depan mejanya.


Tanpa basa-basi, Ibu Guru Biologi itu memberikan 3 Binder berbagai warna kepadaku, dan menaruhnya di atas meja.


"Hah? Binder? Itu artinya ...."


"Iyah Rosid, Ibu juga ikut ambil Binder punyamu yang di pajang di depan Kantor."


"Eh? Benarkah Bu? Lalu ... kenapa ini ada tiga? Yang dua lagi punya siapa?"


Aku penasaran, dengan dua Binder sisanya.


"Ah, ini Binder punya Abangnya temanmu dan Istrinya."


"Hah? Temanku yang siapa itu Bu?"


"Temanmu yang suka warna biru itu. Hari ini juga Ibu lihat dia sedang memakai sweater warna biru."


"E~Eh?!"


Aku heran. Kenapa Binderku bisa sampai pada seorang Suami dan Istri?


Lebih baik, aku tanyakan saja terlebih dahulu.


"Mereka bisa dapat Binderku dari Siapa? Dari Ibu?"


Ibu Guru Biologi itu mengangguk, lalu berkata:

__ADS_1


"Istrinya kenalanku, jadi ketika aku tanyakan masalah Binder dan akan dijadikan cerita Novel, mereka menginginkannya."


Hmm, dugaanku memang benar. Pantas saja Binder yang aku bagikan bisa dimiliki oleh orang luar dari sekolahan ini.


Aku tidak menyangka, ini bisa terjadi.


"Lalu ... itu artinya Ibu juga mau ceritanya di jadikan Novel?"


"Iyah, tentu saja. Asal ... kamu gunakan dengan bijak."


Aku mengangguk, setuju.


"Eng ... kalau dua Binder milik Suami Istri ini? Bagaimana Bu?"


Aku bertanya karena tidak tahu, harus aku apakan.


"Mereka juga ingin ceritanya dijadikan Novel."


"Tapi Bu? Mereka 'kan Suami Istri?"


Ibu Guru Biologi itu melanjutkan.


"Justru itu, mereka ingin memberikan pesan kepada kita."


"Pesan?"


"Iyah, pesan. Mereka berpesan agar kalian lebih giat belajar."


"Siapa tahu, kalian akan mendapatkan kesuksesan, jika berhasil dalam menempuh pendidikan."


"Nanti setelah itu, kalian 'kan bekerja, dan tentu saja akhirnya menikah."


"Kalian pasti akan merasakan, pahit dan manisnya sebuah pernikahan."


"Maka dari itu, mereka ingin membagikan pembelajaran tentang kisah indah dan kesedihan mereka berdua, sebagai suami istri."


Aku mengangguk, faham akan maksudnya.


Kalau begitu, aku ingin memastikan.


"Ibu dan Suami Istri itu sudah menentukan 'Nama Samarannya', 'kan?"


"Tentu saja."


"Langsung saja Rosid, Ibu akan beritahu kepadamu."


"Kalau Ibu memakai nama samaran Ibu Hera, lalu mereka memakai nama samaran Dhani dan Tasya."


Baiklah, sepertinya, aku akan menambahkan karakter lagi di dalam Novelku.


Karakter seorang Guru dan Karakter Suami Istri.


Sepertinya aku harus berterima kasih lagi kepada Klub Relawan, atas kerja keras dan bantuan mereka, hingga jadi seperti ini.


"Terima kasih Klub Relawan, karena bantuanmu, cerita ini akan terus berlanjut, dengan warna yang baru."

__ADS_1


__ADS_2