Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch9 - Fia: Biru


__ADS_3

Diary: Fia Sofia


Senin, 24 Juli 2017


BIRU


***


Sebelum mulai bercerita, akan aku ingatkan kalian dengan kejadian yang sebelumnya.


Aku dan Rei sempat dihukum untuk membuang sampah yang ada di Kantor oleh Ketua OSIS, karena aku terlambat datang upacara.


Lalu setelah selesai menjalankan hukumannya, aku mengikuti kegiatan belajar seperti biasanya.


Dan setelah selesai kegiatan belajar, waktu istirahat pun tiba.


Aku langsung keluar dari kelas menuju kantin, makan, sambil memikirkan kejadian tentang ancamanku pagi tadi, yaitu agar Rei melakukan hal yang sama kepadaku, seperti yang dia lakukan ke kucing putih.


Aku sampai tidak percaya dia berani melakukannya.


Ngomong-ngomong, apa kalian ingin tahu, kenapa aku mengancam seperti itu?


Jujur saja, aku hanya "Cemburu" dengan kucing putih itu.


Maksudnya ... ketika ada aku dan kucing yang berada di samping Rei, dia malah lebih memilih kucing itu, dibandingkan aku.


Ah! Aku benar-benar cemburu dengan kucing itu. Makanya, aku tidak mau kalah dengannya.


Tapi daripada itu ... Sekitar jam 17.00, dimana anggota lain memilih pulang, aku malah ikut membantu Rei yang sedang membereskan alat-alat yang habis digunakan untuk latihan Lari Estafet.


Dan Iyah, sebelumnya kami, para anggota Klub Atletik mengikuti latihan Lari Estafet yang dipimpin oleh Rei, Ketua Klub Atletik.


"Rei, sini tongkatnya, biar aku bantu."


"Oh, boleh."


Rei setuju dengan tawaranku, dan langsung memberikan 2 tongkat kepadaku.


Aku menerimanya, dengan Rei sendiri membawa 2 tongkat, peluit, stopwatch dan alat tulis yang dia gunakan untuk mencatat rekor waktu para anggota Klub Atletik.


"Yuk, Fia. Semuanya bawa ke ruang Klub Atletik."


Aku mengangguk, dan mengikutinya dari belakang.


Sembari berjalan berdua menuju Ruang Klub Atletik, entah kenapa ada sesuatu hal yang membuatku kefikiran.


Sore ini, langkah Rei terasa cukup lambat, padahal biasanya dia selalu berjalan dengan cepat.


Apa ada yang salah dengannya? Atau dia lelah karena latihan tadi?


"Fia, kamu tunggu di luar yah."


"Aku taruh dulu tongkat yang aku bawa, nanti aku balik lagi dan ambil tongkat darimu."


Rei menyuruhku untuk menunggunya dari luar, setelah sampai di depan pintu ruangan Klub Atletik.


"Baiklah."


Aku mengangguk, menyetujuinya.


Oh iya, aku pernah memasuki ruangan Klub Atletik.


Ukurannya tidak terlalu besar, karena di dalamnya hanya ada 1 meja ukuran sedang dan 3 kursi serta alat-alat keperluan Olahraga Atletik saja.


"Sini Fia, tongkatnya."


Rei keluar, sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


"Nih!"


Aku mengulurkan tangan, dan dia menerima tongkatku. Tapi ... kenapa Rei malah menjatuhkannya?


"Aduh, Fia ... aku pusing."


Aku lihat, Rei memegangi kepala dengan tangan kanannya.


"Eh? Kamu kenapa Rei?"


Setelah aku perhatikan, wajahnya terlihat pucat sekali.


Tunggu-tunggu, Rei terlihat kesakitan, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.


Kemudian, Rei jatuh ke arahku.


Karena tiba-tiba, aku malah dengan sigap memeluknya, bermaksud untuk menjaganya agar tidak terjatuh.


"Rei!"


"Hey, kamu kenapa?!"


Aku menepuk-nepuk punggunya, dengan posisiku yang masih memeluknya.


"Hei! Rei!"


"Bangun!"


Ah! apa yang harus ku lakukan, jika ada orang yang pingsan di depanku.


Oh iya, aku ingat. Ruangan UKS berada tidak jauh dari ruangan Klub Atletik.


Aku coba teriak saja, dan semoga anggota atau guru penjaga UKS belum pulang.


"Tolong!! Tolong!!"

__ADS_1


"Hey! Tolong! Ada orang yang pingsan di sini!"


"Siapapun!! Tolong!!"


Kemudian, aku melihat ke sebelah kiri, ada seorang pria yang terlihat seperti aktor dengan rambut hitam gaya belah dua, warna kulit cerah, dan memakai jas putih lengan pendek layaknya jas putih dokter, tengah berlari sambil membawa tandu berwarna kuning.


Dia adalah Dandi Darmawan, teman sekelasku.


"Tunggu!! Aku datang!!"


Dia berteriak sambil berlari mendekatiku. Lalu ... aku juga mendengar suara hentakan kaki dari arah kanan.


Aku menoleh, dan melihat Syila sedang berlari ke arahku.


Apa dia mendengar teriakanku, hingga dia tidak jadi pulang?


Dandi sampai tepat di samping kiriku, diikuti Syila yang tidak lama kini sudah berada di samping kananku.


"Rei kenapa?!"


"Rei kenapa?!"


Mereka berdua bertanya dengan berbarengan, dan terdengar sangat khawatir sekali, begitu pula dengan raut wajah mereka.


"Aku tidak tahu."


"Dia tiba-tiba pingsan begitu saja."


Dandi kemudian menaruh tandu itu ke atas lantai.


"Baiklah. Kamu Syila, pegang bagian atasnya Rei. Aku akan memegangnya dari kaki."


"Kalau aku pegang dari atas, takutnya nanti tanganku mengenani tubuh bagian atas Fia."


Dandi benar, dia bisa mengerti keadannya.


"Baik!"


Mereka mulai melakuan tugasnya. Syila menggapai tubuh atas Rei, dan Dandi menyeimbangkannya dengan memegang kakinya.


Setelah mereka sepertinya sudah benar dalam menjaganya, aku melepas pelukanku, dan memegangi bagian punggung dan pahanya, membantu mereka agar tidak terlalu berat dalam menempatkan Rei ke atas tandu.


"Fia, kamu ambil tasnya Rei sana ke dalam kelas."


"Aku dan Dandi akan membawanya ke ruangan UKS."


"Iyah!"


Aku menyetujuinya, dan langsung bergegas berlari menuju Kelas 11 IPA.


Semoga Rei baik-baik saja.


Ngomong-ngomong, karena dia tiba-tiba pingsan di hadapanku, aku malah memeluknya agar tidak terjatuh ke lantai.


Bukan maksudku tidak memperdulikan keadaannya. Tapi meskipun begitu ... aku merasa nyaman ketika memeluknya.


Aku sudah sampai di Kelas 11 IPA, masuk, dan langsung menuju ke arah kursi paling pojok kiri depan.


Di atas meja dan kursinya, aku lihat tidak ada tasnya Rei.


Lalu, dimana dia menaruhnya? Apa di bawah mejanya?


Aku mendekat, dan mengeceknya. Dan benar saja, tasnya ada di bawah meja.


Aku menariknya, dan berniat langsung meninggalkannya.


Tapi ... ketika aku menarik tas berwarna hitam ini, ada kotak makan dan isinya yang jatuh berserakan.


Kotak itu berwarna biru, dengan ditutup kain yang berwarna biru pula.


Untuk masalah isinya, terlihat beberapa potong roti, sayuran, dan daging yang jatuh berserakan.


Apa ini bekalnya Rei?


Iyah! Ini pasti bekalnya Rei! Soalnya dia suka warna biru! dan kotak makan ini berwarna biru.


Apa dia lupa memakan bekalnya? Maksudku ... aku takut tebakanku benar, karena dia 'kan pelupa.


Sudahlah, aku harus kembali ke UKS.


Aku merapikan kotak makannya, memasukkannya ke dalam tas, dan membuang makanan yang sudah terlanjur berserakan itu.


Aku kembali berlari, menuju UKS.


***


"Permisi ..."


Aku mengetuk pintu Ruang UKS


"Iyah, silahkan masuk"


"Masuk saja!"


Aku masuk ke ruang UKS, dan aku lihat Rei sudah sadar, duduk di atas kasur, sambil makan kue berwarna hitam, yang sepertinya itu adalah Brownies.


Lalu Dandi dan Syila sedang duduk di meja jaga ruang UKS.


"Apa kamu tidak apa-apa, Rei?"


"Aku harap begitu."


"Yang penting, aku harus memakan Brownies ini terlebih dahulu."

__ADS_1


Dia dengan lahapnya memakan Brownies itu, sambil sesekali meneguk air putih.


"Rei, aku ingin tanya kepadamu."


"Tanya ... apa?"


"Apa kau lupa memakan bekalmu?" kataku, sambil mengeluarkan kotak makannya dari tas.


"Tunggu ... biar aku habiskan dulu."


"Baiklah."


Aku duduk, ikut gabung dengan Dandi dan Syila, sambil menunggu Rei selesai makan.


Aku melirik ke sekitar sambil menunggunya. Ruangan UKS cukup luas, hingga bisa menyediakan 4 kasur dengan gorden sebagai pemisah.


Di sebelah kiri, terdapat kotak P3K. Dan di sebelah kanan, ada banyak poster dan benda-benda yang tidak aku ketahui apa isinya.


"Baiklah, aku sudah selesai."


"Aku akan mulai menceritakannya."


Rei mulai bercerita. Tapi sepertinya lebih baik aku meringkas apa yang Rei katakan:


Sebenarnya, Rei akan menyantap bekalnya. Tapi ada Kak Indri yang datang meminta bantuan.


Katanya, ada buku baru yang harus di taruh dari depan Kantor ke dalam Perpustakaan.


Lalu buku yang jarang dibaca akan ditaruh dari Perpustakaan ke depan Kantor, yang mana tujuannya untuk disumbangkan.


Tapi setelah semuanya selesai, bel berbunyi. Tentu saja Rei tidak jadi makan sebab waktu makannya sudah selesai dan pelajaran ketiga-keempat akan dimulai.


Jadi, Rei harus menunggu kegiatan belajar berakhir, agar bisa memakannya.


Tapi ... Ketika waktunya tiba, dia malah lupa untuk memakannya. Rei lebih memilih untuk memikirkan latihan Klub Atletik, dari pada waktu makannya.


Seperti itulah yang Rei ceritakan.


Kemudian ... aku memegangi tutup kotak makannya, berdiri, dan menghampirinya.


"Aww!"


"Fia? Kenapa kau memukulku?"


"Rei, dengar. Aku tahu kamu itu selalu baik. Tapi ... pentingkanlah dulu kebutuhanmu, baru orang lain!"


"Kamu faham?!"


Kemudian, Syila menghampiri kami berdua, dan mengelus rambut Rei.


"Jangan gitu dong Fia."


"Dia memang salah, tapi kamu jangan memukulnya."


"Apa kamu lupa, kalau dia baru saja siuman?"


"Ah, maaf, Rei ... Syila. Aku terlalu terbawa emosi."


Aku menunduk, meminta maaf.


"Tidak apa-apa kok Fia. Aku yang salah."


"Tenang, santai saja."


Aku merasa beruntung, mereka tidak memarahiku. Malahan, mereka berdua memaafkan kesalahanku.


"Anu ... sekarang sudah sore. Kalian harus pulang. Aku akan mengunci ruangan ini."


Dandi sekarang sudah berdiri, sambil memegangi kunci dengan tangan kanannya.


"Baiklah. Yuk kita pulang Rei!"


"Yuk!"


Rei berdiri, meninggalkan kasur yang terlihat empuk itu.


"Tunggu dulu, Fia ... Rei."


"Aku lupa bawa uang jajan. Boleh aku meminjam uang 15 ribu kepada kalian?"


"Aku pergi ke sekokah diantar ayahku. Dan aku harus pulang dengan transportasi umum."


Astaga ... aku tidak mengerti dengan kelakuan Syila.


Dia selalu menggunakan transportasi umum ketika pulang. Tapi Kenapa dia sampai lupa membawa uang jajannya?


Aku mengeluarkan uang dari sakuku, dan memberikannya selembar uang 20 ribu.


"Ini, 20 ribu dariku."


"Besok kamu kembalikan 5 ribu saja kepadaku. Yang 15 ribu itu, aku kasihkan ke kamu."


"Benarkah?"


Aku mengangguk pelan.


"Yey! Terima kasih Fia!"


"Sama-sama."


Syila mengambil uangnya, dan kami semua pulang ke rumah masing-masing.


Tapi ... aku pulang membawa perasaan kesal di dada. Kamu tahu alasannya apa?

__ADS_1


Alasannya karena Syila sudah mengelus rambut Rei.


Padahal, aku saja yang biasa dekat dengannya ... belum pernah melakukan hal seperti itu.


__ADS_2