Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V2Ch3 - Fia: Keterlaluan!


__ADS_3

Diary: Fia Sofia


Senin, 31 Juli 2017


KETERLALUAN!


***


"Rei? Apa yang kamu lakukan?"


Sebelumnya, aku sempat terjatuh ketika latihan Lari Gawang di lapangan, karena melamun.


Pada akhirnya, aku tergelincir ketika mendarat dan mendapati beberapa luka dan cedera.


Kemudian, Dandi memberikan pertolongan pertama kepadaku dan mengatakan bahwa aku terkena cedera Ankle.


Jujur saja, aku sedih mendengarnya.


Selain harapan mendapatkan medali emas hilang, aku juga sudah kalah taruhan sebelum bertanding.


Argh! Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Kalau begitu, ayo kita tinggalkan mereka berdua. Dan untukmu Syila, kamu ambil tasnya Fia, dan taruh di depan Ruang UKS."


Ibu Hera menyuruh yang lainnya pergi, meninggalkan Rei dan aku berduaan di Ruang UKS.


Terima kasih Bu, aku rasa aku bisa berbicara empat mata dengannya.


Tapi, sebelum aku mengucapkan beberapa kata, Rei menurunkan tubuhnya.


"Fia ...."


Apa yang akan dia lakukan kepadaku?


Rei semakin menurunkan badannya, hingga bersujud, dengan tangan berada di depan kepalanya.


"... Maafkan aku."


Rei terus mempertahankan posisinya yang seperti itu.


"Rei? Apa yang kamu lakukan?"


"Pokoknya aku minta maaf."


"Sudahlah Rei ... ini bukan salahmu."


Jujur saja, aku kecewa karena kalah taruhan sebelum bertanding.


Kalian bayangkan saja, bagaimana rasanya kalah taruhan sebelum bertanding?


Menyedihkan, bukan?


Jika aku pulang nanti, aku akan mengangis sepuasnya di dalam kamar.


"Rei, sudah cukup. Angkat kepalamu."


"Tapi ... karena kebodohanku yang tetap mengadakan latihan, meskipun baru beberapa jam setelah hujan reda, akhirnya malah berakhir seperti ini."


"Aku juga merasa tidak enak denganmu, karena menggagalkan harapan taruhanmu kemarin."


Rei? Apa kamu bodoh?!


Kenapa kamu malah membahasnya?


Air mata tiba-tiba menetes begitu saja, karena memang, akhirnya aku kehilangan semuanya.


"Kumohon, maafkan aku."


Aku tidak kuat menahan rasa kecewa, yang akhirnya membuatku tidak kuat membendung air mata.


"Sudah cukup ... Rei."


"Tolong angkat kepalamu ... jika tidak ... aku bisa-bisa menangis lebih keras lagi."


Rei kemudian mengangkat kepalanya, dan terlihat kaget setelah menatap wajahku.


Aku yakin, mataku pasti terlihat sembab sekarang.


Rei masih dalam keadaan duduk, dan terus menatap wajahku yang sudah basah oleh air mata.


Tatapannya yang terus melihat wajahku, entah kenapa membuatku tersipu malu.


Ah, aku tidak kuat. Aku harus pulang sekarang.


"Rei, ayo kita pulang saja."


Aku turun dari ranjang dengan kaki kiri terlebih dahulu. Tapi ketika kaki kananku berpijak, aku terjatuh.


Aku baru tahu, ternyata cedera Ankle rasanya begitu menyakitkan.


"Fia!"


Rei mendekatiku, dan membangunkanku.


"Biarkan aku mengantarkanmu pulang."


"Tidak usah!"


Aku menolaknya dengan keras.


"Kenapa tidak boleh?"


"Pokoknya tidak boleh!"


Aku tetap bersikeras menolak tawarannya.


"Memangnya Fia bisa jalan sendiri?"


"Bi-Bisa Kok."


Aku mencoba bangun, tapi tetap terjatuh lagi karena tidak kuat menahan rasa sakit.


"Sudah, biar aku gendong kamu ... sekalian aku minta maaf sama Orang Tuamu."


"Jangan!"


Itu yang membuatku khawatir ... jika Rei bertemu Orang Tuaku dengan keadaanku yang seperti ini.


"Tunggu dulu, aku mau ambil tas punyaku dulu. Kalau tas punya Fia aku yakin sudah ada di depan ruang UKS."


"Enggak us—"


Belum sempat aku selesai menjawabnya, Rei sudah meninggalkanku sendirian.


Jujur saja, aku takut terjadi hal-hal yang buruk dengannya.


Akan aku ceritakan, jika aku sudah sampai di kamarku.


Sekarang, aku harus melepas kompres es yang melekat pada kakiku.

__ADS_1


Kaki kananku pergelangan kakinya memar. Pantas saja aku merasa kesakitan.


"Fia ... ayo pakai tasmu. Biar aku gendong."


"Ge-Gendong?"


Rei tiba-tiba masuk sambil membawa tasku. Tapi ... dimana tas miliknya?


"Iyah, gendong."


"Aku sudah cari-cari tasku di kelas, ternyata tidak ada. Sepertinya Syila yang membawa tas milikku."


Pantas saja dia langsung ke sini tanpa membawa tas miliknya.


"Cepat pakai tasmu, Fia."


"Biar aku gendong."


"Tu-Tunggu dulu. A-Apa memang harus gendong?"


Digendong seorang pria, sampai ke rumahku?


Aku malu jika dilihat orang dengan keadaan seperti itu.


Lalu, apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak bisa berjalan, jadi apa aku harus menerima tawarannya?


"Ayo Fia!"


Rei membungkukkan badannya, dan sudah memberikan punggung yang gagah kepadaku.


Aku mengalah, dan menerima tawarannya.


Aku pakai tas gendongku terlebih dahulu, lalu melingkarkan tanganku ke arah lehernya, dan Rei membantu mengangkatku.


Kini, aku sudah digendong Rei.


"Aku jalan sekarang nih, 'yah."


"I-Iyah."


Aaah, malunya aku digendong Rei seperti ini.


Rei kemudian mulai melangkah, berjalan pulang mengantar ke rumahku.


"Hei, Rei, kamu curang."


"Curang kenapa?"


"Aku sudah tidak bisa memenangkan lomba dan taruhannya, sedangkan kamu menggendongku dan bisa merasakan dadaku."


"A-A-Apa yang kamu katakan, Fia?"


"A-Aku tidak bermaksud begitu."


Aku tertawa melihat wajahnya memerah karena malu-malu seperti itu.


"Hei Fia, jangan gerak-gerak. Aku takut kita berdua jatuh."


Dia benar, aku terlalu berlebihan.


Aku menurutinya, dan mendekapkan kepalaku ke punggungnya yang gagah, dan terus berjalan, dengan posisi seperti ini.


***


"Rei, sampai di sini saja. Kamu sudah boleh pulang."


Aku turun, dan berdiri dengan satu kaki sambil memegang tembok.


"Tidak, aku harus minta maaf terlebih dahulu ke Orang Tuamu."


"Tidak usah. Bisa-bisa aku yang malah melakukan hal itu kepadamu."


"Hah? Maksudmu? Sudahlah, biar aku bertemu dengan Orang Tuamu."


Rei tidak memperdulikan ucapanku, dan langsung mengetuk pintunya.


"Permisi!"


Pintu terbuka, dan ternyata yang membukakannya adalah Ibuku.


"Iyah, Ada apa?"


"Maaf Bu. Eng ... aku kesini mengantarkan Fia, dia habis jatuh ketika latihan."


"Apa?!"


Ibuku kaget ketika mendengar kalau aku terjatuh ketika latihan.


"Hei, Nak. Ayo masuk, sekalian bantu Ibu antar Fia ke ruang tamu, dia harus duduk terlebih dahulu."


Rei membantuku berjalan. Dia dengan hati-hatinya menuntunku berjalan.


Sesekali, aku meringis kesakitan.


"Ibu, aku minta bak dan air es, aku mau merendam kakiku."


Aku duduk di sofa, dan Rei berdiri di sampingku.


"Nggak duduk, Rei?"


"Nanti, jika sudah dipersilahkan Orang Tuamu."


Ibuku datang, sambil membawa bak berisi air es.


Rei menerimanya, dan menaruhnya dekat dengan kaki kananku.


Aku merendam kakiku, sesuai saran Dandi.


Sepertinya itu bertujuan untuk mengurangi memar dan mengurangi rasa sakit.


Karena setelah merendam kakiku, jadi agak baikan.


"Nak, silahkan duduk dulu."


Rei kemudian duduk, setelah dipersilahkan oleh Ibuku.


Tapi, setelah Rei duduk, hal yang tidak aku inginkan terjadi.


Ayahku pulang dari kerja, sambil membawa tas hitamnya.


Ayahku terlihat memakai baju kemeja biru, dasi hitam dengan celana hitam.


"Bu? Anak laki-laki ini siapa?"


"Dan anak kita kenapa?"


Kumohon Rei, jangan jawab pertanyaannya. Biar aku yang menjawabnya.

__ADS_1


"Nama dia R—"


"Namaku Rei, Pak. Temannya dan juga sebagai Ketua Klub Atletik."


Bodoh! Kenapa kamu menjawabnya dengan jujur?


"Apa?!"


Ayahku terlihat marah.


Kemudian Ayah menaruh tasnya ke bawah, meraih kerah baju Rei, menariknya dari sofa, dan menghujamkan tinju keras ke arah pipi kanannya.


"Ayah!"


"Sayang?"


Rei terjatuh, sambil memegang pipi kanannya, dengan meringis kesakitan.


Ibu dan aku tentu saja kaget dengan sikap Ayahku yang tiba-tiba meninjunya.


"Jadi kamu, yang membuat Anakku ingin bersekolah di Sekolahan SMA desa Susukan?!"


"Padahal dia bisa Sekolah lebih jauh lagi! Dan karena ulahmu, dia malah melanjutkan Sekolah di tempat yang jelek seperti itu?!"


Ayah kemudian menarik kerah bajunya lagi hingga Rei berdiri, dengan tangan satunya dia angkat ke atas.


Tapi ketika Ayahku akan meninju yang kedua kali, tangannya ditahan oleh Ibuku.


"Sudah, cukup sayang!"


"Jangan lakukan lebih dari ini!"


Ibuku berhasil meredakan amarah Ayah.


"Kamu namanya Rei, 'Kan? Kamu pulang saja sekarang. Dan maaf atas perlakuan Suamiku."


"Sayang, lepaskan tanganmu!"


Setelah cengkraman Ayahku lepas, Rei langsung pulang, tanpa mengucapkan kata apapun, sambil terus memegangi pipinya.


Setelah itu, aku memarahi Ayahku.


"Apa yang Ayah lakukan? Ayah sungguh tega, keterlaluan!"


Aku meninggalkan kedua Orang Tuaku, dan menuju kamarku.


Dengan rasa sakit yang masih sedikit aku rasakan, aku tetap menuju kamar, seorang diri sambil menahan rasa sakitnya.


Aku masih bisa mendengar Orang Tuaku ribut, karena sikap Ayah tadi.


Hei, sekarang aku sudah sampai kamarku, dan kebetulan Adik Perempuanku sudah tertidur pulas.


Sepertinya aku bisa bercerita, kenapa Ayah tega melakukan hal seperti itu.


Hari Kelulusan SMP:


Tepat setelah pulang dari acara kelulusan, aku dan kedua Orang Tuaku membicarakan masalah sekolah SMA apa yang harus aku tuju.


Ibu bilang terserah aku, tapi Ayah bilang aku harus sekolah di daerah Tanara, yang jaraknya malah lebih jauh lagi dari SMP Tirtayasa, yang mana aku baru saja lulus dari sana.


Karena setelah acara Lomba Atletik, Rei bilang akan sekolah di SMA desa Susukan, aku bilang kepada kedua Orang Tuaku bahwa aku juga ingin sekolah di situ.


"Aku ingin sekolah di SMA desa Susukan."


"Hah? Sekolahan jelek itu? Tidak, aku tidak mau itu. Sekolahannya juga jaraknya terlalu dekat."


"Ayah kenapa sih, seperti terlalu terobsesi dengan jarak jauh?"


"Pokoknya aku mau Sekolah di SMA desa Susukan, di sana ada Klub Atletik dan juga ada Rei—"


Ah tidak, aku malah keceplosan.


"Siapa itu Rei? Dan ada apa dengan Klub Atletik?"


"Kamu jalan kaki saja pelan, apalagi lari. Kamu nggak akan bisa memenangkan lombanya."


"Ayah!"


Karena aku dan Ayahku terus memanas, Ibu mengusulkan sesuatu kepadaku.


"Sayang, bagaimana kalau Putri kita sekolah saja dulu di sana. Jika Fia tidak bisa mendapatkan medali atau piala apa pun, Fia harus menuruti kehendak Ayahnya, bagaimana?"


Terima kasih, Bu. Karena sudah membantuku.


"Bagaimana Ayah? Kalau begitu Fia setuju."


"Baiklah."


Ayahku menjawabnya dengan pasrah.


Esoknya, aku mendaftarkan diri di SMA desa Susukan.


Setelah mendaftarkan diri, sebelum dimulai ujian masuk sekolah aku latihan lari, bahkan setelah ujian masuk.


Aku mencari cara latihan yang benar lewat situs berbagi video, Youtube.


Setiap hari, aku berlari untuk membiasakan diri ketika bergabung di Klub nanti.


Selain itu, aku juga berniat meningkatkan kecepatan dan stamina tubuhku.


Aku bahkan sampai muntah-muntah dan deman, karena terlalu keras latihan larinya.


Kemudian, setelah aku diterima dan beberapa bulan bersekolah di sana, aku akhirnya mendapatkan berbagai medali dan piala.


"Lihat Ayah, Ibu, aku membawa medali dan piala kemenangan sesuai janji. Jadi ... aku boleh tetap meneruskan sekolah di SMA desa Susukan."


Ibu memasang wajah senang, dan sesekali memujiku. Tapi beda dengan Ayahku yang malah memasang wajah masam.


"Baiklah, janji tetaplah janji. Ayah biarkan kamu sekolah di sana."


Aku dan Ibuku merasa senang, setelah mendengarnya.


"Tapi, Ayah masih kesal, dan ingin memberinya sedikit pelajaran."


Aku tidak mengerti maksud Ayah, karena Ayah berkata seperti itu sambil mengepalkan tangan.


Semenjak itu, aku khawatir, jika sampai Ayahku dan Rei saling bertemu.


Dan memang benar saja, ketika mereka akhirnya bertemu hari ini, Rei mendapatkan pukulan telak ke arah pipi kanannya.


Aku tidak tega dengannya.


Rei sudah membantu dan mengantarkanku, malah mendapatkan pukulan di wajahnya.


Aku tidak tahu, aku harus bilang apa kepadanya.


Karena kejadian ini, jangan kan mengobrol ... menatap wajahnya pun aku tidak berani.


Aku takut Rei membenciku.

__ADS_1


__ADS_2