Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1: Extra Chapter - Dhani dan Tasya: Jangan Lupa Bersyukur


__ADS_3

Diary: Dhani & Tasya (Suami Istri)


Sabtu, 29 Juli 2017


JANGAN LUPA BERSYUKUR


***


"Kalian telitilah, catat atau amati tanggal di atas!"


"Yang paling penting, perhatikan! Diary milik siapa, yang sedang kalian baca!"


"Kalimat pembuka seperti ini, hanya untuk 'karakter baru' yang hadir di dalam Diary. Jika sudah pernah muncul, maka tidak ada."


***


"Baiklah, laporan yang sudah kamu kerjakan hasilnya bagus. Kamu sudah boleh pulang!"


Aku berjalan menuju parkiran, karena bos sudah memperbolehkanku pulang.


Namaku Dhani Anggara, seorang pegawai kantoran biasa. Aku berusia 27 tahun, dan sudah menikah, dengan wanita bernama Tasya.


Istriku berumur 25 tahun, mempunyai rambut tipe belah tengah, dengan gaya rambut shaggy panjang dan terlihat sangat cantik dengan warna kulitnya yang seputih salju.


Aku menikah dengannya baru berjalan sekitar 1 tahun. Iyah ... bisa dibilang kami adalah pengantin baru.


Kalian tahu, 'kan? Bagaimana masih hangatnya pengantin baru?


Oh iya, aku hampir lupa.


Aku menceritakan tentang kisahku bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, karena ingin memberi pesan saja kepada kalian.


Untuk kalian yang masih dalam proses belajar, aku minta kalian lebih giat lagi dalam belajar.


Semoga saja, kalian mendapatkan keberhasilan dalam menempuh pendidikan dan kesuksesan setelahnya.


Jika kalian sudah mendapat kesuksesan, lalu bekerja dengan gaji yang lumayan, kalian jangan lupa menabung.


Uang gunakan seperlunya, jangan di hambur-hamburkan untuk membeli barang-barang yang dirasa tidak dibutuhkan.


Lalu, jika kalian sudah merasa mampu untuk menikah ... maka menikahlah. Tuhan pasti membantumu, dan memampukanmu.


Jangan lupa, manis yang kamu rasakan dari sebuah ikatan suci pernikahan, jangan sampai membuatmu terlena.


Suatu saat, jika kamu menghadapi masa-masa sulit, berjuanglah, dan berusahalah, diiringi dengan doa.


Semoga kalian yang sedang mengalami masa-masa sulit, dapat terbebaskan, seperti mendapatkan secercah cahaya yang menyelamatkanmu dari kegelapan.


Tunggu ... sekarang aku sudah sampai di parkiran.


Aku kemudian masuk ke dalam mobil, dan mengambil ponsel dari kantong celana, dan memanggil Istriku, sebelum pulang.


WhatsApp berdering, menandakan WhatsApp Istriku sedang aktif.


"Halo Neng."


"Iyah, halo Abang."


"Abang sudah pulang."


"Eh, sudah yah? Kalau begitu, Neng masak dulu yah."


"Iyah Neng, masak yang enak yah! Tunggu Abang di rumah!"


Aku menutup panggilannya, dan langsung tancap gas, menuju rumah.


Dari ponsel yang aku genggam tadi, jam sudah menunjukkan waktu 20.02


Karena kami tinggal hanya berdua, jauh dari rumah orang tua masing-masing, aku merasa kasian, karena dia selalu sendirian di rumah, ketika aku pergi bekerja.


Eng ... aku sedikit heran dengan Istriku, yang selalu 'baru' mulai masak, ketika aku menelepon akan pulang.


Iyah aku tentu merasa senang, karena ketika lelah bekerja, Istriku malah menyiapkan makanan hangat di atas meja makan.


Sebelumnya aku sempat khawatir, apakah siangnya Istriku makan, atau tidak?


Tapi Istriku bilang, "Tidak usah khawatir Bang. Aku selalu membuat sarapan dengan porsi banyak karena itu sengaja untuk sarapan kita, bekal Abang, dan makan siangku ketika menunggu Abang pulang bekerja."

__ADS_1


Ah ... aku bersyukur, mempunyai Istri seperti dia.


Sekali lagi, aku bersyukur.


***


Akhirnya, aku sudah sampai di rumah, dan mobilku sudah aku masukkan ke garasi.


Rumahku tidak terlalu besar, tapi aku tetap bersyukur, karena mempunyai tempat bernaung.


Aku berdoa, semoga kalian yang mungkin belum mempunyai tempat yang layak, akan mendapatkan tempat yang layak, bahkan lebih layak lagi dariku.


"Neng ... Abang pulang!"


Aku masuk sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher.


Hmm ... tak ada jawaban? Aku harus mengeceknya.


Sebelum itu, aku masuk ke kamar, menaruh tas dan melepas dasi, kemudian menuju ke dapur.


"Neng."


"Eh Abang. Maaf Bang, Neng sibuk masak, jadi enggak tahu kalau Abang sudah pulang."


"Nggak apa-apa kok."


Istriku terlihat sibuk sekali.


Kompor sebelah kiri, terlihat ada wajan yang berisikan Kari. Lalu di sebelah kanannya ada makanan khas jepang yang sedang digoreng, bisa aku sebut dengan Ebi Furai (udang tempura goreng).


"Abang, ini minum dulu. Sebentar lagi selesai kok. Nasi juga udah, tinggak lauknya."


"Abang tunggu saja di meja makan."


Selagi aku memperhatikan menu masakan yang ada di atas kompor, istriku ternyata sedang mengambilkanku air minum.


"Terima kasih Neng."


Aku menerimanya, menuju meja makan, duduk, lalu meminumnya hingga habis setengah gelas.


Karena aku mendapatkan Istri yang sehebat dia, sepertinya aku harus banyak-banyak lagi bersyukur.


Kemudian, Istriku menata semua masakannya di atas meja. Mulai dari Nasi, Kari, dan juga Ebi Furai.


Selanjutnya, Istriku mengambil piring, sendok, serta gelas dan air minum.


Setelah itu, Istriku duduk di sampingku.


"Abang, ayo dimakan. Jangan senyum-senyun mulu."


Lalu, aku mengelus rambutnya, dan berterima kasih kepadanya:


"Makasih yah Neng, sudah membahagiakan Abang selama ini. Makasih juga atas semua kerja kerasnya."


Istriku menunduk, sepertinya tersipu malu.


"Yuk Neng, kita makan makanannya."


"I-Iyah Bang."


Istriku mengambilkan nasinya kepadaku, termasuk Kari dan Ebi Furai-nya.


"Ini Bang."


Aku menerimanya, dan menunggu Istriku selesai mengambil porsi makannya sendiri.


Setelahnya, kami makan bersama menikmati hidangannya.


"Selamat makan!"


"Selamat makan!"


Hmm, Kari buatannya sangatlah enak.


Rasa kaldu yang kuat dan sedikit pedas, serta dengan campuran ayam dan sauran di dalamnya, sangat nikmat sekali.


Dan untuk Ebi Furai-nya, Istriku memasaknya dengan kematangan sempurna. Gurihnya rasa udang dan renyahnya balutan tepung, membuat lidahku tidak berhenti bergoyang.

__ADS_1


"Ah ... Abang kenyang ...."


"Terima kasih yah, Neng. Masakannya enak sekali, Abang suka."


"Syukurlah Bang, jika Abang suka masakanku."


"Kalau begitu, Abang bantu beres-beres yah."


"Nggak usah Bang, biar Neng aja."


"Eng ... kalau begitu, Abang tunggu yah, di ruangan tempat nonton TV."


Aku mengangguk, menyetujuinya.


Kemudian, Suamiku pergi, menuju ruangan tempat nonton TV.


Aku mulai membereskan semuanya, termasuk piring bekas makan kami tadi.


Aku menuju tempat cuci piring, dan mulai mencucinya.


Hei ... selagi aku mencuci piring, aku ingin sedikit bercerita.


Aku mendapatkan Binder ini dari teman kenalanku yang seorang Guru, namanya Ibu Hera, seorang Guru muda di sana.


Waktu itu, katanya ada salah satu siswanya yang membagikan Binder, dan berniat dari isi Diary-nya akan dijadikan cerita Novel.


Dia menawarkan kepadaku. Tapi, aku tanyakan terlebih dahulu kepada Suamiku, apakah memang boleh/di izinkan?


Dan syukurlah, Suamiku mengizinkannya ... malah mendukungku, katanya, "Minta saja Binder-nya, nanti ayo tulis kisah kita bersama, sebagai pesan pembelajaran dan penyemangat mereka."


Begitulah kira-kira.


Akhirnya, aku memintanya, dan Ibu Hera memberikan 2 Binder kepada kami.


Semenjak itu, aku dan Suamiku mulai menulis kisah kami berdua.


Suamiku sangat hebat, aku beruntung bisa menikah dengannya.


Suamiku mempunyai gaya rambut undercut dan rambut atasnya disisir ke belakang. Satu lagi, Suamiku juga mempunyai brewok halus dan tipis, yang menambah kesan tampan serta macho di wajahnya.


Yang paling aku suka darinya adalah, ketika dia mengelus lembut kepalaku, sambil berterima kasih.


Ah, rasanya sangat menenangkan hati. Aku sangat bahagia, dan bersyukur, bisa menikah dengan Dhani, suamiku.


Eng ... aku sudah selesai cuci piring sekarang, aku harus menemani Suamiku yang sedang nonton TV.


Aku mengelap tanganku yang basah, lalu menuju ruang tempat nonton TV.


"Abang, Neng sudah selesai."


Ini aneh. TV-nya masih menyala, dan Suamiku tidak menjawabku.


Aku mendekatinya, dan melihat dari balik sofa.


"Waah ... ternyata sudah tidur."


Sepertinya Suamiku terlalu lelah, hingga tertidur di bawah sofa begitu saja, dengan beralaskan karpet lembut berwarna merah, dan menggunakan bantal yang diambilnya dari sofa.


Kemudian aku mematikan TV-nya, dan berjongkok, menatap wajah Suamiku.


Wajahnya terlihat lesu, dan sesekali tarikan nafasnya menjadi panjang.


Apa aku harus membangunkannya?


"...."


Kemudian, aku lebih memilih bangun, masuk ke kamarku, mengambil selimut dan kembali ke ruang tempat nonton TV.


Lalu aku mengambil bantal dari sofa, menyelimuti badan Suamiku, dan ikut tidur ... di samping Suamiku.


***


***


Pesan:


Boleh saja kau lupa atas kewajiban kepada Tuhanmu. Tapi tetaplah ingat, bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa untuk memberikan hakmu

__ADS_1


Apa kau tidak malu? Jika hakmu terpenuhi, tapi kewajiban tidak kau jalani?


—Izah Diamond (Teman SMA-ku)—


__ADS_2