
Diary: Syila Kartika
Kamis, 27 Juli 2017
SETELAH INI, APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?
***
"Dulu, Ayahmu mendapatkan tugas dari pusat, untuk mengajari dan mengawasi para nelayan di kampung Sampang."
Ibu mulai dari awal cerita.
"Kamu baru berumur 1 tahun, jadi Ibu harus ikut sama Ayah."
"Jadi, Ayah harus cari rumah yang cocok dan dekat dengan para nelayan."
"Dan akhirnya ketemu. Rumah itu ukurannya sedang, warna cat temboknya hijau telur asin, dengan beratapkan genteng."
"Pemiliknya ialah Bapak Anggara. Ternyata dia juga memiliki anak yang baru berumur 1 tahun, namanya Rei Anggara."
Akhirnya, Ibu sudah mulai masuk ke bagian utama yang aku tunggu-tunggu.
"Mereka keluarga yang baik, sering berkunjung, membantu, bahkan memberi diskon harga rumahnya."
"Setelah melewati 3 tahun, akhirnya kamu Syila, bisa saling kenal."
"Hahaha."
Tunggu, kenapa Ibu tertawa? Memangnya ada yang lucu?
"Kenapa Ibu tertawa?"
"Ibu ingat sekali, kejadian ketika kamu pertama kali berkenalan dengannya."
"Iyah ... seperti anak kecil lainnya, kalian terlihat sangat polos."
"Pas kalian kenalan, dan memberitahukan nama masing-masing, kamu malah memanggil Rei dengan nama belakangnya, 'Anggara'."
"Rei tiba-tiba marah, karena Ayahnya bernama Anggara. Dia tidak mau dipanggil seperti itu."
"Jadi, Ibu ikut melerai dan bilang kepadamu, 'Syila, dia lebih suka dipanggil Rei'."
"Akhirnya, kalian berbaikan dan sudah resmi berteman."
Apa Ibu tidak bisa cari kata lain, selain kata 'Resmi'? Aku ingin tertawa, tapi tidak berani.
"Lalu Ibu, apa selanjutnya?"
"Iyah kalian berdua berteman, bermain dan belajar bersama, bahkan pernah mandi bersama."
"E-Eh? Ma-Mandi bersama?"
Ibu mengangguk pelan.
"Namanya juga anak kecil, Syila. Kalian belum mengerti apa-apa."
"Ibu ingat dengan tingkah Rei yang malu-malu, dibanding kamu, yang malah menariknya dengan kencang hanya karena ingin mandi bersama."
"Stop Bu! Stop! Jangan ceritakan hal yang memalukan seperti itu."
"Haha, maaf Syila, maaf."
Ibu kembali bercerita.
"Eng ... Ibu juga ingat kejadian waktu Rei ulang tahun. Ulang tahunnya yang ke 5."
"Ulang tahun? Kapan Rei ulang tahun Bu?!"
"Tenang Syila. Biar Ibu mengingatnya terlebih dahulu."
Tangannya kini Ibu silangkan, dengan salah satu tangan memegang dagu, sambil mengetuk-ngetukannya menggunakan jari telunjuk.
"Ah, Ibu lupa tanggal berapa. Tapi kalau bulannya ... bulan Desember."
"Desember?!"
"Iyah, Desember."
Terima kasih Ibu, akan aku ingat itu. Kemudian, Ibu bertanya kepadaku.
"Kamu tahu, hadiah apa yang kamu berikan?"
"Eh? Apa? Hadiah? Hmm, apa yah?"
"Coba tebak Syila."
Aku mulai memikirkannya.
Pertama, dia suka lari, apa mungkin aku memberikannya hadiah sepatu khusus lari? ... Tidak, tidak, tidak. Dari mana aku punya uang sebanyak itu, untuk membelikannya sepatu yang harganya sangat mahal.
Kedua, dia sering membawa tas hitam besar dan bagus itu ... tunggu, tunggu, tunggu. Mana bisa dia memakai itu ketika kecil.
"Kamu lama, Syila. Ibu kasih petunjuk. Hadiah yang kamu berikan itu warnanya Biru."
"Biru, Ibu? Apa itu sweater?"
Aku pernah melihatnya memakai sweater biru, ketika lomba Atletik diadakan.
"Bukan!"
"Bukan? Jadi, apa Bu?"
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar lupa? Hadiah yang kamu berikan itu berupa Kotak Makan dan Kain yang sama-sama berwarna Bi—"
"Apa Bu?! Kotak makan itu?!"
Ibu kemudian berdiri, memasang raut muka yang penuh dengan amarah.
Tunggu, kenapa Ibu seperti itu?
"...."
Ah, sial, aku lupa. Ibu paling benci ketika ucapannya dipotong begitu saja. Tapi, Ibu akan marah jika dipotong olehku (anaknya), jika Ayah yang memotong, Ibu akan diam. Kalian tahu sendirilah, Istri harus nurut kepada Suaminya, dan Anak harus nurut kepada kedua Orang Tuanya.
"Syila. Kamu tahukan kenapa Ibu marah?"
"Iya Bu, aku tahu."
"Cepat, minta maaf!"
Aku kemudian berdiri dari sofa, dan Ibu kembali duduk. Aku mendekatinya, memegang tangannya, dan mencium tangan Ibu, sambil meminta maaf.
"Maaf Bu, Syila salah."
Ini aturan khusus di keluargaku. Ketika anaknya salah, maka harus 'sungkem' kepada Ibu atau Ayah. Makanya, aku lebih sopan ketika bersama orang tuaku, berbanding terbalik jika aku sedang bersama teman-temanku.
"Baiklah Syila. Ayo duduk di samping Ibu lagi, biar ibu lanjut bercerita."
"Iyah Bu."
Kemudian, aku kembali duduk seperti semula.
"Biar Ibu ulangi. Hadiah yang kamu berikan itu berupa Kotak Makan dan Kain yang sama-sama berwarna biru."
"Ulang tahunnya pun tidak meriah, hanya dirayakan 2 keluarga saja. Yaitu keluarga Rei dan Syila."
"Jadi, Ibu bisa tahu apa yang kamu berikan ketika ulang tahun."
Pantas saja ibu bisa tahu semuanya, ternyata keluarga kami sampai sedekat itu.
"Lalu, kenapa kamu kaget seperti itu?"
"Eng ... soalnya Rei ketika pergi sekolah selalu membawa bekal, menggunakan Kotak makan dan dibungkus kain yang sama-sama berwarna biru."
Tapi, Ibu malah tertawa kembali.
"Kenapa Ibu tertawa?"
"Ah, maaf. Kotak makan itu bukan hadiah yang kamu berikan."
"Jadi, hadiah yang aku berikan dimana, Bu?"
Ibu menghela nafas, lalu mulai bercerita.
"Jadi Syila ... setelah Rei menerima hadiahmu, ke-esokannya dia malah membeli 7 Kotak makan dan 7 Kain yang sama seperti yang kamu berikan."
"Iyah, benar."
Pantas saja Rei pagi ini membawa 2 kotak makan dan kain yang sama-sama berwarna biru. Padahal kemarin, salah satu kainnya dipinjam Dandi.
"Ibu yakin, Rei pasti menyimpan Hadiahmu di tempat yang sangat khusus, dimana orang lain tidak akan tahu, selain Rei sendiri."
Tunggu, kenapa ini? Kenapa aku tiba-tiba tersenyum ?
"Karna hadiah yang kamu berikan, Syila, dia malah menyukai hal-hal yang berwarna biru."
"Iyah Ibu, aku mengerti. Karena aku, dia memiliki sepatu berwarna biru, sweater biru, dan sebagainya."
"Tapi, kebahagiaan kalian bersama terhenti, ketika Ayah dipindah tugaskan kembali."
"Ayah sudah berhasil memajukan kampung Sampang melalui kekayaan hasil laut dan tambaknya."
"Kemudian, Ayah harus ditugaskan untuk mengajari dan mengawasi petani yang ada di desa Tirtayasa."
"Loh kok, Ibu? Dari mengajari Nelayan, lalu berpindah menjadi mengajari Petani? Apa Ayah sehebat itu?"
Aku bingung, dengan Ayahku, yang ternyata mempunyai kemampuan dalam mengajari masalah Perikanan dan Pertanian.
"Tentu Syila, Ayahmu hebat. Buktinya, Ayah juga berhasil memajukan desa Tirtayasa melalui sektor Pertaniannya."
Telapak tanganku kini saling beradu, memberikan rasa hormat atas kerja keras Ayahku yang sangat hebat.
Ibu kemudian meneruskannya.
"Waktu itu, kamu masih kelas ... satu atau dua SD, Ibu agak lupa."
"Yang jelas, ketika waktu istirahat, dan sudah berbicara dengan kepala sekolah perihal kepindahanmu, Ibu mengajak keluarganya Rei agar mau berfoto bersama, sebelum kita berpisah."
"Rei mau-mau saja jika berfoto bersama. Padahal, itu adalah hari terakhirnya berpisah denganmu."
Tanpa sengaja, aku malah menitikkan Air mata. Aku tidak mengerti, kenapa air mataku keluar begitu saja.
Ibu melanjutkan, tanpa mengeluh dengan rasa lelah yang mungkin Ibu dapati, ketika terus bercerita tentang kisah lamaku.
"Singkat cerita, setelah berfoto bersama, Ibu memberikan uang seratus ribu kepada Rei, sebelum memberitahukan masalah perpisahan kami."
"Tapi, Rei malah menolaknya."
"Kenapa dia menolaknya?"
"Itu semua karena kamu, Syila."
Hei? Kenapa aku yang disalahkan? Memangnya aku salah apa?
__ADS_1
"Lah? Kenapa memangnya Bu?"
"Karena hadiahmu berupa kotak makan dan kain yang berwarna biru, dia lebih suka diberi dengan uang lima puluh ribu, dibanding seratus ribu."
"Hah? Apa itu benar Bu."
"Iyah, benar. Ibu coba menggantinya dengan uang lima puluh ribu, dia malah langsung menerimanya sambil tersenyum."
Bodohnya aku. Aku malah tertawa kecil sekarang, karena mendengar kisah selucu itu. Ibu juga ikut tertawa bersama.
"Setelah Rei menerima uangnya, Ibu bilang kepadanya, 'Maaf Rei, Syila, Ibu dan Ayahnya Syila harus pergi'."
"Kemudian Rei menangis, sambil bertanya, 'Eh? Kenapa Syila diajak pergi? Kenapa tidak bersama Rei saja di sini, Bu?'."
"Lalu, Ibu jawab apa setelah itu?"
"Ibu jawab, 'Maaf nak, Syila harus ikut bersama kami. Tapi sebelum itu, Ibu minta kalian berfoto bersama yah, berdua saja'."
"Kalian kemudian berfoto bersama. Tapi, ada kejadian yang cukup mengagetkan dari momen foto kalian berdua itu."
"Kejadian seperti apa Bu?"
"Ketika Ibu menekan tombol kameranya, Rei ternyata mencium pipimu, dan itu semua terekam sempurna pada kamera."
"Eh? Apa? Mencium pipiku?"
Aku seketika kaget mendengarnya. Aah ... bagaimana ekpresiku nanti jika aku yang sekarang dicium seperti itu.
Aku tidak menyangka, ternyata Rei seperti itu dulunya.
Lalu, apakah itu 'Ciuman Pertamaku' ataukah bukan?
Ah, mungkin bukan. Karena aku merasa, ciuman pertama itu datangnya dari bibir ke bibir, bukan ke pipi maupun kening.
Ibu masih sanggup bercerita.
"Iyah, dia menciummu. Foto dengan keluarganya dan foto kamu berdua yang seperti itu juga ada kok, masih Ibu simpan."
"Dimana Bu? Dimana? Aku ingin melihatnya? Kenapa aku tidak tahu?"
"Baiklah, akan Ibu beritahu. Foto-fotonya ada di kamar Ibu, di dalam laci. Kamu boleh masuk dan melihatnya sekarang."
"Baik, Bu. Terima kasih."
"Tapi jangan kaget, jika penampilanmu dulu beda jauh dengan yang sekarang."
"Maksud Ibu?"
"Kamu lihat saja sendiri."
Aku mengangguk pelan, kemudian bangun dan langsung berlari dengan kencangnya, menuju kamar Ibu.
Jujur saja, baru kali ini Ibu memperbolehkanku masuk ke kamarnya. Karena semenjak pindah ke desa Tirtayasa, aku dilarang masuk lagi ke kamarnya.
Sesampainya aku di depan pintu kamar Ibu, aku buka pintunya dengan cepat.
Aku masuk, sambil melirik sekitar, mencari laci yang Ibu bilang.
Ah, itu dia. Aku melihat laci berwarna putih, di samping ranjang, dan langsung mendekatinya.
Laci yang berada di depanku ternyata berbahan plastik, dengan 3 buah laci yang harus kalian tarik, jika ingin membukanya.
Aku menarik laci paling atas, dan ternyata kosong.
Aku menarik laci kedua, dan ternyata kosong juga.
Ah, aku rasa laci terakhir yang benar.
Aku membuka laci terakhir, dan ternyata benar dugaanku, aku melihat 2 bingkai menghadap ke bawah, beralaskan kain putih bersih.
Aku mengambilnya, dengan kedua tangan. Di sebelah kiri tanganku, terpampang foto yang berisikan 2 pria dan 2 wanita dewasa, serta 2 anak kecil, laki-laki dan perempuan.
Lalu di sebelah kanan tanganku, ada foto 2 anak kecil, laki-laki dan perempuan, yang mana anak laki-laki itu sedang mencium pipi si anak perempuan.
Apakah ini benar Aku? Maksudku, wanita itu rambutnya panjang, memakai jepit rambut berwarna biru, dan sebagian rambutnya dipita berwarna biru, ditaruh di depan, agar semua orang bisa melihat rambutnya yang dipita itu.
Ah, aku harus menanyakannya pada Ibuku.
Aku kembali berlari, menuju sofa tadi, sambil membawa dua foto ini.
"Ada apa, Syila?"
"Ini ... siapa wanita ini?"
"Itu kamu, Syila?"
"Masa sih, Ibu? Bukannya rambutku pendek?"
Ibuku menjelaskan, berdiri sambil mengelus lembut rambutku.
"Dulu rambutmu panjang. Tapi, kamu malah memotongnya ketika SMP, dengan alasan panas, ketika ikut olahraga."
"Ibu khawatir sekarang, karena Ibu tidak tahu, Rei lebih suka rambut panjang atau rambut pendek."
"Hei Ibu, kenapa mengkhawatirkan hal seperti itu?"
"Ibu yakin, Rei dulu menyukaimu. Jadi ibu minta, panjangkan rambutmu, dan ubah gaya rambutmu, seperti waktu SD dulu."
"Ini perintah! Kamu harus lakukan, berapa lama pun itu waktunya!"
Aku diam, menatap lantai, sambil bingung memikirkan perintah yang Ibu berikan.
__ADS_1
Jujur saja, aku lebih suka rambut pendek karena mengurangi panas yang aku dapati setelah berolahraga.
Jadi ... setelah ini, apa yang harus aku lakukan?