Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V2Ch8 - Ibu Herawati: Semoga Dia Bisa Menemukannya


__ADS_3

Diary: Ibu Herawati


Rabu, 2 Agustus 2017


SEMOGA DIA BISA MENEMUKANNYA


***


"Eh?!"


Aku kaget dengan jawaban Dandi.


Setelah pulang dari rumah Fia, aku dan Dandi pulang bersama dengan berjalan kaki.


Di tengah jalan, kami mengobrol beberapa kata untuk melepaskan rasa bosan yang menghampiri.


Kemudian, aku sempat menyinggung perihal status hubungannya.


"Kenapa kamu masih jomblo, Dand?"


Setelah aku bertanya seperti itu, dia beralasan bahwa dia terlalu pilih-pilih.


Tentu saja aku menanyakannnya lagi, pilih-pilih seperti apa yang Dandi maksud.


Lalu, dia menjawabnya sambil menunduk, terlihat malu-malu.


"Aku ... aku ingin punya pacar, yang memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama sepertiku."


"Eh?!"


Wajar saja jika aku kaget. Maksudku ... itu terdengar aneh bagiku.


Ingin mempunyai pacar yang memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama? Hah! Itu terlihat seperti pemikiran anak kecil.


Padahal Dandi anak yang pintar, bahkan dia juga mempunyai Ayah seorang Dosen.


Dan untuk cita-citanya, aku yakin dia ingin sekali menjadi Dokter.


Hal itu terbukti dengannya yang selalu memakai jas putih ketika menjaga UKS serta ketertarikannya dengan Ilmu Medis maupun Biologi.


Lalu, dia berfikiran begitu? Aku tidak habis fikir dengannya.


"Kenapa kamu menginginkan hal seperti itu?"


"Aku tidak bisa menjawabnya. Yang jelas, aku harus itu terjadi."


Meskipun Dandi anak orang kaya, mungkin agak susah untuk mencari pasangannya jika dia tetap bersikeras menginginkan hal tersebut.


"Apakah kamu ada kriteria lain, jika kamu benar-benar menemukannya?"


Aku penasaran dengan jawabannya. Karena aku merasa, itu hal yang mungkin bisa terjadi, meskipun langka.


"Tentu, Bu!"


"Jika aku menemukannya, syaratnya itu adalah tidak boleh terlalu tua. Maksimal jangan melewati 6 tahun jaraknya dengan usiaku."


Lihat, Dandi bahkan berbicara sesuatu yang sulit seperti itu.


Dandi kemudian melanjutkannya.


"Meskipun wanita yang aku temui adalah seorang Bos, Kakak Kelas, Guru atau apa pun, aku akan berusaha untuk mendapatkannya."


Meskipun terdengar aneh, aku menghargai rasa percaya dirinya itu.


"Oke Dand, Oke. Itu sudah cukup. Ibu sudah faham sekali."


"Kalau begitu jangan beritahu yang lain Bu. Karena hanya Ibu seorang, yang tahu masalah ini."


Aku mengangguk, menyetujuinya.


Semoga saja, dia dapat menemukannya. Karena aku takut Dandi susah dalam menikah, karena kenginannya yang seperti itu.


Akhirnya, kami terus berjalan bersama, hingga sampai di depan rumahku.


"Dand, Ibu sudah sampai. Ibu pulang duluan, 'yah. Atau mungkinkamu mau mampir dulu?"


"Enggak usah, Bu. Aku harus pulang sekarang."


Kami berpisah, karena aku sudah sampai di rumahku. Rumah yang sederhana, tidak semegah punya orang lain.


Tapi aku tetap bersyukur, karena mempunyai tempat bernaung.


Dandi lalu berpamitan dan terus melanjutkan perjalanannya, ke arah jalan raya.


"Aku pulang!"


Aku membuka pintu, dan langsung masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Selamat datang. Oh iyah, kenapa pulangnya telat, Hera?"


Aku menjawab pertanyaannya, setelah mencium tangan Emak.


"Aku habis menjenguk Muridku, Emak. Kemarin dia sempat terjatuh ketika latihan."


"Kalau begitu, Emak do'akan Muridmu itu semoga cepat sembuh."


"Iyah Bu, aamiin."


Kemudian, aku menuju kamarku, mengganti baju formal yang aku kenakan inu, kemudian setelahnya menuju tempat cuci piring.


"Hera! Makan dulu."


"Kalau sudah makan, kamu boleh melakukan kegiatan yang lain."


Dengan terpaksa, aku munuju makan. Padahal sebelumnya, aku sudah mencuci sekitar 2 piring.


Aku mendekati meja makan, membuka tudung sajinya.


Di atas meja makan tersebut, terdapat menu tahu yang dimasak dengan cara di semur, lalu ada nasi putih, daun singkong muda rebus, dan tentunya sambal.


Di keluargaku, kami biasa makan seperti ini.


Abahku selalu menyuruh untuk menabung uang gajianku dan menyuruhku untuk menghemat uang. Abahku pernah bilang kepadaku:


"Kita tidak akan tahu, kapan masa-masa sulit itu akan datang."


Jadi, aku berusaha sebaik mungkin, untuk berjaga-jaga.


"Baiklah, waktunya aku makan."


***


Setelah selesai makan, aku taruh piring bekas makanku ke tempat cuci piring.


Tapi, ketika aku akan mencucinya, ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Permisi!"


Aku membatalkan kegiatanku lagi, mencuci tanganku yang kotor terlebih dahulu, lalu menemuinya.


"Eh, ada apa 'yah, Bu?"


Yang mengetuk pintu tadi ternyata tetanggaku, bersama anak laki-lakinya yang terlihat seperti anak kelas satu SMP.


"Anu Bu. Aku minta Ibu untuk membantu anakku. Tolong ajarkan dia tentang pelajaran Bahasa Indonesia."


"Iyah Bu. Dengan senang hati."


"Ngomong-ngomong, Adek mau belajar tentang apa?"


"Tentang cara penulisan 'di' dan 'ke', Bu. Aku ada PR seperti itu."


Oh, ternyata tugas Bahasa Indonesia yang dia terima dari Gurunya adalah perihal 'Kata Depan'.


Baiklah, aku menyanggupinya. Lagian, Ilmu Kepenulisan juga ada yang seperti itu.


Aku sepertinya bisa membantunya.


"Kalau begitu, sini! Kita belajar di ruang tamu."


Anak itu mengangguk, mendekat ke meja ruang tamu dan duduk di lantai.


"Maaf 'yah, Nak. Kalau kamu sampai duduknya di atas lantai."


"Enggak apa-apa, Bu. Sudah dibantu juga aku sudah berterima kasih."


"Buka bukumu, Dek! Sekalian dicatat."


Anak itu mengangguk pelan, kemudian membuka bukunya.


"Ibu yang jelasin, Adek yang nulis, 'yah!."


Anak itu mengangguk sebanyak dua kali. Tapi ... kenapa harus dua kali? Sudahlah, lebih baik aku memulainya.


"Kita mulai dari kata 'di' dulu. Kata 'di' ada yang dipisah dan disambung. Untuk membedakannya, ada cara yang paling mudah."


"Caranya ialah, kata 'di' akan terpisah jika berkaitan dengan tempat, waktu, dan letak."


Anak itu terus mencatat dan aku merasa kagum dengannya. Karena aku melihat isi bukunya, dia mencatat poin-poin pentingnya saja.


"Ibu beri contoh, untuk bagian tempat. Di Sampang, di Masjid, di Pasar, dan di Kantor."


"Lalu untuk bagian waktu, contohnya adalah di masa yang akan datang, di siang hari, dan di sore hari."


"Dan terakhir, bagian letak ialah di atas, di bawah, di samping kanan, dan sebagainya."

__ADS_1


Anak itu masih mencatatnya. Kemudian, setelah dia selesai menulisnya, dia mengangkat tangan.


"Jadi, jika kita menggunakan selain dari ketiga itu, apa harus dipisah?"


Aku mengangguk, setuju dengannya. Tapi, aku sedikit menjelaskan sedikit.


"Kamu benar. Tapi ada pengecualian untuk bagian 'di samping'. Karena memang, ada yang bisa disambung."


"Loh? Kok bisa, Bu?"


Aku tersenyum, melihatnya memiringkan kepala karena kebingungan. Lalu, aku menjelaskannya lagi.


"'Di samping'akan disambung jika memiliki makna kecuali atau selain. Contohnya 'disamping sebagai pegawai negeri, dia juga seorang pengusaha'."


Dia sepertinya faham dengan maksudku. Dia juga mencatat apa yang baru saja aku katakan.


Kemudian, aku melanjutkannya lagi.


"Untuk bagian 'ke' akan dipisah jika digunakan sebagai penunjuk tempat atau lokasi. Contohnya adalah ke Masjid, ke Banten, ke sana, dan sebagainya."


"Lalu, 'ke' akan disambung jika digunakan sebagai makna awalan."


Anak itu mengangkat tangan, dan melontarkan pertanyaan kepadaku.


"Maksudnya, Bu?"


Anak itu pasti bingung dengan rumitnya pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi, aku harus menjelaskannya lagi.


Tapi, aku lebih baik menjelaskannya dengan cara menuliskan di bukunya. Biar dia dapat lebih mudah memahaminya.


Selanjutnya, yang aku tuliskan itu berupa:


##


Ke- yang digunakan sebagai makna awalan:


a. Mempunyai sifat atau ciri: ketua


b. Di tuju sebagai: kekasih, kehendak


c. Menyatakan kumpulan: kesepuluh (orang itu)


d. Menyatakan urutan: (orang) kesepuluh. Tapi jika memakai angka, maka menjadi ke-10


e. Telah mengalami kejadian (dengan tidak sengaja atau dengan tiba-tiba): ketabrak, kepergok, ketemu


f. Dapat atau sanggup: kebaca, keangkat


##


Anak itu melihat buku yang sudah aku tuliskan tersebut. Dia terus memandanginya, sambil menunjuk dengan pulpennya.


Dia terus melakukannya, hingga sampai sekitar dua menit lamanya.


"Terima kasih, Bu. Aku sudah sedikit faham sekarang."


"Tapi, aku harus pulang sepertinya."


Anak itu kemudian berdiri, mencium tanganku, dan berpamitan.


Tapi ketika dia baru saja membuka pintu, Ibunya ternyata datang.


"Sudah selesai, nak?"


"Sudah, Bu."


"Iyah udah, kamu pulang saja dulu. Ibu nanti nyusul."


Si Anak itu menuruti perkataan Ibunya. Dia langsung pulang, dengan berlari.


Selanjutnya, Ibu itu menghampiriku, sambil memberikan plastik hitam.


"Eh? Ini untuk apa, Bu?"


Ake mengenggan plastik hitam yang Ibu itu berikan.


"Aku cuman mau berterima kasih denganmu, karena sudah membantu Anakku."


"Eh, enggak usah, Bu. Aku ikhlas kok."


"Udah, ambil saja. Aku juga ikhlas memberikannya."


Aku belum tahu dengan isinya. Tapi, aku terima saja kalau begitu, karena Ibu itu terus memaksa.


"Baikah, Bu. Aku terima ini."


"Iyah, Ibu Guru. Aku berterima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama, Bu."


Kemudian, Ibu itu pulang dan aku bisa melanjutkan untuk kembali mencuci piring, yang sebelumnya sempat aku tinggalkan.


__ADS_2