
Diary: Dandi Darmawan
Rabu, 2 Agustus 2017
BIAR AKU BERITAHU TENTANG RAHASIAKU
***
"Sebelum makan, harap cuci tangan di sini!"
"Jangan lupa lihat gambar tentang cara mencuci tangan yang benar!"
Sebelum bel masuk sekolah berbunyi, aku sedang menempelkan kertas pemberitahuan di Kantin Sekolah.
Tunggu, sepertinya aku harus menceritakan kejadian awalnya dulu.
Kemarin, pada saat waktu istirahat, aku sempat berdiskusi dengan Ibu Hera perihal masalah menjaga kesehatan peserta lomba.
Jika itu masalah kesehatan, tentu aku menyarankan untuk menerapkan budaya mencuci tangan.
Kalian pasti tahu kenapa aku menyarankan seperti itu, 'kan?
Seperti yang kita tahu, tangan merupakan anggota badan yang sering digunakan untuk menyentuh sesuatu.
Kita tidak akan tahu, ada makhluk apa yang berada pada objek yang kita sentuh.
Aku khawatir, jika objek yang kalian sentuh itu kemungkinan mengandung kuman atau mungkin virus.
Lalu kalian langsung makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Maka, apa yang akan terjadi?
Bisa jadi kalian akan terkena Tifus karena lupa mencuci tangan sebelum makan dan sebelumnya sempat menyentuh objek yang mengandung bakteri Salmonella Typhi (bakteri penyebab Tifus).
Lalu bakteri Shigella, jika masuk ke dalam tubuh, maka akan menggandakan diri di usus kecil, lalu menyebar ke usus besar. Bakteri ini kemudian akan melepaskan racun yang membuat usus besar mengalami kram.
Si penderita akan mengalami diare, yang bisa terjadi 10-30 kali dalam sehari.
Bahkan, bakteri ini dapat membuat feses penderita terdapat darah atau lendir.
Lalu, ada virus-virus hasil droplet (percikan air liur) dari si penderita yang menempel pada gagang pintu, tombol lift, dan sebagainya dapat membuat kita ikut tertular karenya.
Jadi, cara terbaik untuk menghindarinya adalah jangan makan dan menyentuh mulut, hidung, dan mata terlebih dahulu sebelum kalian mencuci tangan.
Cuci tangan dengan sabun Antiseptic dan air mengalir dapat membantu mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan mikroba.
Setelah aku menyarankannya, Ibu Hera setuju.
Kami berdua kemudian menuju Kantor, menemui Kepala Sekolah, berniat membicarakan masalah ini.
"Permisi, Pak!"
"Iyah, silahkan duduk."
Aku dan Ibu Hera duduk di depan meja Pak Kepala Sekolah
"Langsung saja, kami butuh dana untuk membantu menjaga kesehatan peserta lomba."
"Dana untuk apa?"
Hahaha, bodohnya aku. Aku malah langsung berbicara tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Tapi terserahlah, aku sudah terlanjut.
"Kami ingin sekali memasang tempat cuci tangan di beberapa tempat, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit dari bakteri atau virus yang masuk ke tubuh."
"Dan cara yang efisien adalah dengan mencuci tangan, Pak!"
"Ibu juga setuju denganku, 'kan?"
"Tentu."
Dengan anggukan Ibu Hera, Pak Kepala Sekolah tiba-tiba berdiri dan terlihat semangat sekali.
"Kenapa kalian baru bilang? Tentu saja aku setuju jika berkaitan dengan persiapan lomba."
Aku terkejut dengan sikap semangatnya yang seperti itu.
"Jadi, Bapak setuju?"
Aku memastikannya terlebih dahulu, takutnya Pak Kepala Sekolah sedang bercanda.
"Tentu saja!"
"Biar Bapak yang menyiapkannya, kalian yang bikin kertas pemberitahuannya."
Baiklah, itu sudah cukup, aku sekarang sudah percaya. Aku harus pamit kalau begitu.
"Baiklah, Pak. Terima kasih sudah mau membantu kami."
"Iyah, sama-sama."
Kami berpamitan dan kembali ke Ruang UKS.
***
Esok harinya, sudah ada tempat mencuci tangan yang ditaruh di berbagai titik.
Tempat cuci tangan itu bentuknya sederhana, hanya ada tanki air sedang, wastafel, sabun antiseptic cair dan selang untuk membuang air bekas cuci tangan.
"Sebelum makan, harap cuci tangan di sini!"
__ADS_1
"Jangan lupa lihat gambar tentang cara mencuci tangan yang benar!"
Di kantin, aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.55
"Syukurlah, aku sudah menempelkan semuanya."
Sisa kertasnya tinggal dua, karena kemarin aku sempat membuat lebih banyak, untuk jaga-jaga.
Aku harus kembali ke Kelas sekarang, karena bel sebentar lagi akan berbunyi.
"Dandi!"
Ada yang memanggilku ketika berbalik badan.
Di depanku, ada Kak Indri yang sedang melambaikan tangannya.
Sepertinya Kak Indri ada perlu denganku.
Kemudian, aku menghampirinya dan langsung melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Ada apa, Kak?"
"Aku ada perlu denganmu."
"Perlu apa?"
Kak Indri malah berjalan keluar dari kantin. Padahal dia belum menjawab pertanyaanku.
Kak Indri memberikan kode dengan menggerakkan tangannya.
Aku faham kode itu. Maksud Kak Indri adalah, "Ayo, ikut denganku!"
Dengan berjalan di belakangnya, aku mengikuti Kak Indri.
Kemudian, aku melihat teman-temanku sedang berkumpul di depan Kelas 12 IPS.
Di sana ada Rei, Syila, Beni, dan Rosid yang tengah berdiri dengan sikap terlihat seperti orang yang sedang gelisah.
Tapi, Rei yang lebih terlihat sangat gelisah dibanding yang lainnya.
Rei juga kenapa memasang perban pada pipi kanannya?
Apa kemarin dia tidak pergi sekolah karena kecelakaan?
"Hei! Dandi! Kamu dari mana?"
"Kami sudah menunggumu dari tadi."
Hah? Apa maksud mereka? Memangnya hari ini ada acara apa?
"Yuk, Dan. Kita adakan penggalangan dana. Kita akan menjenguk Fia."
"Sebenarnya dikit, Dand. Kita hanya butuh untuk membeli buah tangan saja."
Buah tangan saja? Baiklah, aku akan berbaik hati hari ini.
"Enggak usah, Kak. Pakai saja uangku."
Aku mengeluarkan uang senilai seratus ribu rupiah.
"Hah? Apa kamu yakin?"
Aku mengangguk, setuju.
"Baiklah, simpan saja uangnya. Nanti pas pulang sekolah, kita pergi bersama ke Rumah Fia."
"Kita nanti ketemuan di depan gerbang, yah!,"
"Iyah, Kak!"
"Baiklah!"
Teng-Teng-Teng!
Bel kemudian berbunyi, yang artinya pelajaran pertama segera dimulai.
Kami menuju kelas yang sama, kecuali Kak Indri.
***
"Baik Anak-anak, waktu belajar kita telah selesai. Waktunya pulang."
Aku mulai membereskan alat tulis karena waktu belajar sudah selesai.
Di depanku, Rei terlihat sangat buru-buru dalam memasukkan alat tulisnya.
Lalu, Rei langsung pergi keluar Kelas, meninggalkan kami semua.
"Rei? Mau kemana?"
Langkah Rei terhenti karena pertanyaan Syila.
"Aku mau pulang."
"Kok pulang? Bukannya kita akan menjenguk Fia?"
"Aku trauma."
Rei langsung pergi setelah menjawabnya.
__ADS_1
Tapi tunggu dulu ... kenapa dia menjawab trauma? Memangnya Rei kenapa?
Aku sudah membereskan semua dan langsung pergi menuju gerbang sekolah.
Sesampainya di sana, aku dan yang lainnya harus menunggu terlebih dahulu kedatangan Kak Indri.
Tapi, setelah beberapa menit kami menunggu, yang datang malah Ibu Hera.
"Ibu Hera sudah mau pulang?"
Ibu Hera terlihat kebingungan, setelah mendengar pertanyaanku.
"Eh, Pulang? Bukan, Dand. Aku disuruh menggantikan Indri yang sibuk dengan tugas tambahan hari ini."
"Tcih! Pantas saja. Dasar Kak Indri!"
Beni malah nenggerutu karenanya.
Karena sekarang sudah lengkap (selain Kak Indri dan Rei), kami memutuskan untuk langsung pergi, ke rumah Fia.
Di tengah jalan, kami sempat membeli buah tangan menggunakan uangku tadi.
Dan beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di Rumah Fia.
"Permisi!"
Ibu Hera mengetuk pintu rumah Fia.
"Eh, ada apa, 'yah?"
Terlihat ada Ibu yang membukakan pintunya kemudian bertanya seperti itu.
"Aku Gurunya, Bu. Dan mereka adalah teman sekelasnya."
"Kami berniat menjenguk Fia."
Kami menunduk sopan kepada Ibunya Fia.
"Eh, Rei mana?"
Kenapa Ibunya Fia malah menanyakan Rei?
"Memangnya ada apa dengan Rei, Bu?"
Beni terlihat penasaran ketika menanyakannya.
Kemudian, Ibunya Fia menjelaskannya.
"Beberapa hari yang lalu, Rei mengantar Fia yang cedera karena terjatuh. Tapi, ketika Ayahnya Fia pulang, Rei malah tiba-tiba ditinju pada pipi kanannya."
"Setelah itu, Fia tidak mau keluar dari kamarnya sampai hari ini. Fia hanya mau keluar jika Ayahnya sudah meminta maaf kepada Rei."
"Jadi, Ibu minta maaf. Fia sepertinya tidak bisa menemui kalian."
Pantas saja jika pipi kanannya Rei di perban, lalu mengatakan trauma juga.
Jadi itu penyebabnya.
"Kalau begitu, Bu. Tolong ambil buah tangan dari kami. Kami sepertinya datang di saat yang kurang tepat."
Ibu Hera memberikan buah tangannya, dan Ibunya Fia menerima dengan lemas.
"Eh? Silahkan duduk dulu. Kalian padahal baru sampai."
"Enggak usah, Bu. Terima kasih."
Lalu kami semua berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Karena Rumah Syila dan Beni arahnya berlawanan denganku serta Ibu Hera.
Lalu Rosid juga bilang katanya ingin bertamu sebentar ke rumah Beni.
Jadi sekarang, aku tengah pulang berdua dengan Guruku.
Kami sempat mengobrol juga, untuk menghilangkan rasa bosan.
Tapi, Ibu Hera malah bertanya kepadaku.
Pertanyaan yang sudah pernah Beliau lontarkan kepadaku, tentang status hubunganku.
"Kenapa kamu masih jomblo, Dand?"
"Ibu benar mau tahu kenapa aku masih jomblo?"
"Tentu, jika kamu berkenan."
Baiklah, aku akan menjawabnya.
"Aku masih jomblo karena aku pilih-pilih."
"Pilih-pilih bagaimana?"
"Aku akan bilang, tapi Ibu jangan tertawa, 'yah!"
"Iyah, Ibu janji."
Aku menundukkan kepalaku, lalu menjawabnya dengan perasaan malu.
"Aku ... aku ingin punya pacar, yang memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama sepertiku."
__ADS_1