
Diary : Fia Sofia
Minggu, 23 Juli 2017
MAKSUD TEMANKU INI APA? AKU TIDAK MENGERTI
***
"Fia, Fia. Bukannya itu pria yang tadi?"
Syila bertanya, sambil menunjuk ke arah lapangan.
"Iyah, benar. Namanya Rei."
"Tadi dia sempat memberitahukan namanya,"
"Tunggu, namanya Rei?"
"Iyah, Rei. Dia yang bilang sendiri."
Aku menjawabnya sambil menunjuk ke arah lapangan.
Di samping itu, Syila sekarang mulai memegang brosur, dan membolak-balikkannya, yang sempat dia abaikan tadi.
Aku lihat, ekpresi Syila dalam membaca brosur itu sangat serius sekali. Padahal, dia biasanya selalu santai di setiap keadaan.
"Hey, Fia. Yang namanya Rei cuman satu doang loh."
"Dan Rei berasal dari desamu, Fia."
"Iyah benar."
Aku memberi anggukan kecil.
"Jadi, Fia tau dong dimana Rumahnya?"
Syila kini mendekat dan menatap langsung ke wajahku.
"Eng ... sayangnya tidak. Aku baru kali ini bertemu dengannya."
"Aah, syukurlah."
Eh, Tunggu dulu. Kenapa dia tanya rumahnya? Dan kenapa dia bilang syukurlah ketika aku tidak mengetahuinya? Apa maksudnya ini?
Sudahlah, aku tidak mengerti. Lebih baik, aku tonton pertandingannya.
Aku kembali melihat ke arah lapangan.
Nampaknya, semua peserta sudah siap untuk memulai pertandingan.
Pertandingan pertama, lari Sprint 200 m akan segera dimulai.
"Semuanya, ambil ancang-ancang!"
Semua peserta lari mulai mengambil ancang-ancang. Karena ini lomba lari Sprint, maka yang digunakan adalah start atau awalan jongkok.
Dan iyah, semua peserta sekarang mulai menurunkan salah satu lututnya dan kedua tangannya ke tanah, termasuk Rei juga.
Rei berada di barisan ke 2 dengan nomor urut 002, memakai kaos dan celana biru, termasuk sepatu yang berwarna biru pula.
Sepertinya dia suka warna biru, aku sampai tertawa kecil karenanya.
"Semua bersedia ...."
"Siap ... PRIT!!!"
Peluit nyaring terdengar dari tiupan sang pengadil lapangan, dan kini para peserta langsung meninggalkan garis start dengan kencangnya.
"Gilaa, Rei larinya cepet banget."
Syila merasa takjub, dengan tatapan matanya yang berbinar-binar.
Dia benar, setelah meninggalkan garis start, Rei langsung menjadi yang terdepan, mendahului semua lawannya.
Para penonton mulai bergemuruh sekarang.
"Ayo Merah! Susul nomor 2!"
Dan sekarang, mulai terdengar teriakan penonton, mendukung jagoannya masing-masing.
"Ayo, kalahkan si kaos biru!"
"Jangan sampai kalah dengan si kaos biru!"
"Ayo nomor 5, susul!"
"Ayo Hijau! Kamu pasti bisa!"
Tunggu-tunggu, dari semua teriakan penonton, apa tidak ada yang mendukung Rei?
Dimana pendukung Rei?
Prok-Prok-Prok!
__ADS_1
Aku mendengar Suara tepuk tangan. Tapi, suara tepuk tangan siapa itu?
Aku rasa suara ini bukan dari penonton yang ada di Tribun.
"Come on Rei!"
"Come on! Come on!"
Ah, sepertinya itu suara pendukung Rei. Tapi dimana?
Aku mencari sumber suara, melirik kesana-kemari.
Mataku tertuju ke tenda kecil berwarna biru, dengan di pinggirnya terasang bendera panjang (bentuknya seperti itu, tapi aku tidak tahu apa namanya) berisi tulisan SMP desa Susukan.
"Apa kau yakin?"
"Masa itu doang?"
Aku terkejut dan tidak percaya akan hal ini. Maksudku, pendukung Rei sedikit sekali, dibanding pendukung yang lain.
Aku melihat 3 laki-laki yang memakai kaos yang sama seperti punya Rei, sedang memberikan dukungan di pinggir lapangan.
Hei, itu sangat menyedihkan bukan?
Ketika kita sedang memperjuangkan sesuatu, tapi hanya sedikit orang yang mendukung.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus ikut mendukungnya.
Aku berteriak mendukung Rei, tetap dalam posisi duduk, sambil menempelkan kedua tangan diantara mulut, agar suara yang aku keluarkan bisa terdengar nyaring.
"Ayo Rei! Kamu pasti bisa!"
"Ayo Rei! Kamu pasti bisa!"
Eeh? Suara siapa tadi? Suaranya berbarengan denganku.
Aku melirik ke arah kananku, dan kaget melihat Syila yang kini sudah berdiri, menampilkan wajah yang ceria dan terlihat sangat bersemangat.
Aku tahu dia selalu ceria, tapi ini begitu menyilaukan bagiku.
Maksudku, baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
Sementara itu, sepertinya Syila tahu apa yang aku fikirkan juga, tentang mendukung Rei.
Ah, aku tidak boleh kalah, aku harus ikut berdiri juga.
"Ayo Rei!"
Kami berdua berteriak dengan sangat kencangnya, hingga membuat serak tenggorokanku.
Tapi tunggu ... perasaan apa ini? Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini.
Aku merasa bahagia dan semangat sekali kali ini.
Apa aku tertarik ... tertarik dengan olah raga Atletik?
Aku rasa bukan, aku yakin bukan itu. Tapi ... tapi apa?
"Dan pemenangnya adalah dari SMP Desa Susukan!"
"Rei, Nomor urut 002, si pelari kaos biru!"
Suara sang komentator mengacaukan lamunanku.
Disamping itu, Syila yang dari tadi berdiri di sampingku, sekarang semakin heboh, karena Rei memenangkan lombanya.
"Yeeey!"
"Horee!"
"Wuuh!"
Aku rasa, jika ada 20 orang seperti Syila yang hadir di sampingku untuk mendukung Rei, mungkin telingaku akan mendapatkan masalah pendengaran, karena terlalu heboh dan nyaringnya suara yang dia keluarkan.
Oh iya, aku akan menyingkat cerita masalah rincian lombanya. Karena memang hasilnya dari awal sampai akhir itu sama, Rei terus yang menang, dalam semua cabangnya.
***
"Selamat kepada Rei!"
"Juara 1, bahkan disetiap cabang yang diperlombakan."
Kini di lapangan, para panitia sedang mengalungkan medali kepada peserta juara 1, 2, dan 3.
Juara 3 dimenangkan oleh SMPN Tirtayasa
Juara 2 dimenangkan oleh SMPN Pontang
Dan Juara 1, dimenangkan oleh Rei, wakil dari SMP desa Susukan.
Sungguh tidak bisa dipercaya, Rei bisa memenangkan semua cabang yang dia ikuti.
Para penonton kini mulai meninggalkan Stadion, memasang raut muka lesu, kecewa karena jagoannya kalah disetiap cabang.
__ADS_1
"Yuk, pulang!"
Aku berdiri, mengajaknya pulang, karena pertandingan sudah selesai.
"Tunggu dulu, masih ada satu acara lagi."
"Acara apa?"
"Wawancara. Aku ingin mendengar apa yang akan dia bicarakan."
"Baiklah."
Aku kembali duduk, mendengar sesi wawancara, sambil mengipasi wajahku menggunakan brosur tadi.
Terlihat di arena lapangan, ada Rei dan seorang yang bisa kalian sebut seorang reporter, memakai seragam kerja yang didominasi warna merah, sedang memberikan mic kepada Rei.
Dia menerima mic itu, dan dimulailah sesi wawancara.
"Apakah Rei ingin melanjutkan sekolah di SMAN Tirtayasa?"
"Sepertinya tidak."
"Kenapa tidak? Bukannya kamu akan mendapatkan 'Beasiswa' melalui jalur prestasi seperti ini?"
"Tidak, aku lebih baik melanjutkan sekolah di SMA desa Susukan."
"Kenapa? Bukannya sekolah itu fasilitasnya kurang?"
"Karena aku ingin mengenalkan desaku, ke banyak orang di luar sana, bahwa sebenarnya banyak sekali siswa siswi yang berprestasi, tapi jarang diketahui orang luar sana."
"Karena faktor biaya juga, pihak sekolah tidak bisa sepenuhnya memberikan fasilitas yang kami inginkan. Aku harap, dengan hal ini lah akan ada banyak donatur yang membantu sekolah kami di desa Susukan."
Tiba-tiba, Syila mencolekku. Aku rasa, dia ingin bilang sesuatu.
"Iyah, ada apa?"
Aku lihat Syila masih Fokus ke arah lapangan.
Lalu ... Dia menatapku, dan bilang, "Sepertinya aku ingin melanjutkan sekolahku di SMA desa Susukan."
"Ayo kita kesana. Sekolahnya dekat dengan rumahmu kan?"
Belum sempat aku menjawabnya, Syila malah mengajakku sekarang.
"Baiklah, akan aku bilang ke Ayahku. Dan kalau Ayah tidak setuju, aku akan memaksanya."
Aku menjawabnya tanpa fikir panjang, karena ini berkaitan dengan sahabatku.
Syila adalah sahabat yang paling berhaga bagiku. Jadi, aku tidak mau mengecewakannya.
Mungkin kalian bisa rasakan, jika kamu mendapatkan teman sebaik dia.
Maksudku ... Syila selalu membantu menghilangkan rasa gugupku ketika bertemu orang-orang yang baru aku kenal, apalagi ini di desa orang lain.
Dialah yang menanamkan rasa berani di dalam hatiku, hingga aku kuat dan bisa bersekolah dan berinteraksi di SMP Tirtayasa, yang mana sekarang aku sudah berada di sini selama hampir 3 tahun.
Tapi ... sesi wawancara masih berlanjut, dan kami berdua kembali mendengarkannya.
"Baiklah. Apakah ada yang ingin disampaikan sebagai penutup kita pada sesi wawancara ini?"
"Tentu."
"Kepada kepala sekolah, guru-guru, dan guru pembimbing Klub Lari SMP desa Susukan, serta teman-temanku yang sudah membantu disetiap keadaan, aku berterima kasih."
"Aku bisa memenangkan semua cabangnya, serta teman-temanku juga dalam lomba Estafet bisa memenangkannya karena dukungan dan doa kalian."
"Termasuk kalian, dua gadis yang ada di sana ...."
Rei menunjuk ke arah kami berdua, dan itu membuatku kaget.
Syila kemudian berdiri, sambil melambaikan tangannya, memasang wajah yang sangat ceria sekali, dengan tersenyum lebar.
Senyum yang memikat para pria di SMP-ku itu, kini dia pasang di wajahnya.
Aku juga ikut melambaikan tangan, tapi tetap duduk. Tidak seperti Syila yang begitu semangatnya, hingga berdiri seperti itu.
Rei melanjutkan.
"Iyah, kalian. Terima kasih sudah mendukungku."
"Aku harap bisa mengingat wajah kalian. Karena aku punya masalah dalam mengingat wajah orang yang baru aku temui."
"Baiklah, itu saja. Terima kasih."
Sesi wawancara selesai, dan Syila mengajakku pulang, meninggalkan Stadion ini.
Kami langsung keluar, tanpa menunggu Rei melalui pintu gerbang Stadion.
Bukan maksudku yang ingin menunggunya. Hanya saja, aku masih kefikiran dengan ucapannya tadi, 'Karena aku punya masalah dalam mengingat wajah orang yang baru aku temui'.
Apakah dia pelupa, hingga dia berkata seperti itu?
Aku sampai khawatir, jika nanti dia akan melupakan wajah kami berdua, ketika kami bertemu (dalam melanjutkan pendidikan kami) di SMA desa Susukan nanti.
__ADS_1