
Diary : Beni Wahyudi
Senin, 24 Juli 2017
KESIALAN YANG MEMBINGUNGKAN
***
"Hah! Dasar sialan!"
Ah, maaf dengan permulaan yang buruk ini. Jadi, biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Namaku Beni Wahyudi, usia 16 tahun, siswa kelas 11 IPA di SMA desa Susukan, berjarak 950 m dari rumahku.
Aku adalah anak tunggal, dan tinggal di rumah milik orang tuaku yang tidak terlalu besar, tapi masih terasa nyaman.
Karena faktor pekerjaan, orang tuaku hanya bisa mengunjungiku setiap dua bulan sekali. Jadi singkatnya, aku (biasanya) tinggal sendirian.
Untuk masalah biaya, setiap sebulan sekali orang tuaku akan mentransfer uangnya, untuk kebutuhan sekolah dan belanjaku.
Oh iya, aku sejatinya orang yang malas dalam melakukan sesuatu. Masalah cuci baju pun aku tugaskan ke tempat Laundry.
Tapi ... ketika aku melihat kumpulan Binder yang dibagikan di depan kantor, rasanya aku ingin memilikinya dan berniat menulis beberapa kejadian penting ke dalam Diary ini, serta beberapa hal yang aku benci (termasuk kejadian yang membuatku merasa kesal, dan sebagainya).
Aku mengambilnya, berkontak pesan dengannya, serta mengijinkan kepada temanku, Rosid Firmansyah, si pria berkacamata dengan rambutnya yang ikal, agar menjadikan Diary-ku sebagai cerita Novel, termasuk mempostingnya.
Dia juga bilang akan mengganti nama asli dan nama-nama di tempat kami, menjadi nama samaran.
Jadi ... Beni Wahyudi dan nama setiap karakter (termasuk nama tempat) yang dia posting nantinya hanyalah 'Nama samaran' belaka.
Oke, ayo kembali ke cerita.
Sesuai yang sudah aku bilang tentang 'Beberapa hal yang aku benci', aku akan menceritakan tentang kejadian hari ini.
Kejadian yang membuatku merasa kesal, sampai rasanya ingin 'membeli' sebuah cermin besar, lalu meninjunya dengan keras, hingga membuatku mengucurkan darah segar, yang keluar dari punggung tangan.
Aku sarankan kalian, sebelum membaca kisahku, silahkan catat atau setidaknya amati ulang tanggal kejadiannya, agar tidak tertukar dan salah dalam memahami ceritanya.
***
Jam 06.20, aku baru terbangun dari tidur.
Karena tinggal sendirian, tidak ada yang membantu membangunkanku, ketika saat-saat genting seperti ini.
Saat-saat genting yang aku maksud adalah senin pagi, dimana acara upacara sekolah diadakan.
Aku langsung bergegas meninggalkan tempat tidurku, dan menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuh dengan air hangat, dan mulai memakai seragam ketika mandiku selesai.
"Kalau bukan karna dimarahi guru, mungkin aku tidak mau memakai dasi abu-abu ini!"
Aku memakai dasi, karena terpaksa akan aturan sekolah, apalagi ini hari senin, dimana upacara berlangsung.
"Baiklah, aku pergi!"
Semua seragam sudah aku kenakan, lalu aku keluar, mengunci pintu rumahku, dan pergi menuju sekolah dengan jalan kaki.
Aku yakin, pasti akan terlambat, ketika aku sampai di sekolah nanti.
Aku ingin berlari, tapi tubuhku menolaknya. Karena buat apa berlari, jika akhirnya tetap terlambat.
Jalan satu-satunya yang mungkin pas buatku hanyalah 'Jalan Pintas', agar bisa memangkas waktu.
Aku harus terus menyusuri jalanan beraspal, hingga sampai di Gang rahasia yang biasa aku lewati.
Gang yang sangat sempit, dan tidak ada orang yang berlalu lalang. Tempat itu bisa memangkas waktu, hingga sebanyak 30%.
"Huh! Aku harusnya pakai topi."
Hari ini, entah kenapa langit cerah sekali. Aku sampai mengeluh karena sudah merasa kepanasan.
"Huh!"
Aku kembali mengeluh, karena terlambat bangun, hingga tidak sarapan terlebih dahulu pada pagi ini.
Ini semua karena aku menonton Film di TV hingga larut malam.
Film yang berisi adegan para shaolin master, dalam turnamen gulat yang belum pernah selesai alur ceritanya dalam beberapa sekuel, hingga Film itu mempunyai judul, "Mortal Kombat."
Terlepas dari itu, aku akhirnya sudah hampir sampai ke Gang yang aku tuju.
"Gang yang sempit dan selalu sepi, aku datang, wahai penye ... lamatku ...."
__ADS_1
... Seharusnya begitu, tapi kali ini berbeda.
Kalian tahu, apa yang aku dapati hari ini? Selain kesialan karena bangun telat?
"Hah! Dasar sialan!"
Aku kembali ke jalan raya, meninggalkan Gang yang akan aku lewati itu, sambil menggerutu habis-habisan, karena melihat dari kejauhan, ada siswa dan siswi dari sekolahanku, sedang melakukan hal aneh.
Aku tidak bisa menjelaskan siapa mereka, dan seperti apa rupa mereka.
Karena aku hanya melihatnya sekilas, dan yang aku ingat hanya rambut hitam sedikit bergelombang, dan juga tas punggung berwarna hitam.
Oh iya, Kenapa aku sebut mereka melakukan hal 'Aneh'?
Karena mereka terlihat seperti akan melakukan adegan ciuman.
Hei, tolong lah, ini masih pagi! Apa kalian tidak punya waktu, hingga sempat-sempatnya melakukan hal seperti itu?
Terlebih lagi, aku belum pernah merasakan hal seperti itu.
Jangankan ciuman, punya pacar saja belum pernah.
Sesak dan kesal rasanya, melihat seseorang melakukan seperti itu, tepat di depanku.
"Sepertinya, aku akan menjadi siswa terakhir, yang datang terlambat ke sekolah hari ini."
Aku terpaksa terus menyusuri jalur depan, dengan sedikit menaikkan kecepatanku, berusaha agar tidak terlalu terlambat.
***
"Ckckck, kamu ini kok datang setelah upacara selesai?"
"Nggak sekalian pas istirahat aja datangnya."
Pak satpam sekolah mengejekku ketika aku baru saja tiba.
"A—"
"Stop! Nggak usah dijawab. Ayo kumpul di sana."
Belum sempat aku menjawab pernyataannya tadi, aku langsung disuruh kumpul ke tempat yang dia tunjuk.
Di sana, terlihat ada 2 orang yang sedang berdiri sambil tertunduk, dengan di depannya ada wanita berkacamata, yang rambut hitamnya bergaya kepang prancis, yang di taruh di depan.
Dia adalah ketua OSIS kami, Indri Fauziyah.
"Hei kamu! Sini! Kumpul!"
Ketua OSIS itu meneriakku. Aku sekarang masuk ke barisan dengan tertunduk lesu, dan gabung dengan kedua siswa siswi itu.
Ternyata, dia adalah Rei Anggara dan Fia Sofia, teman sekelasku.
"Kalian ini kenapa bisa terlambat?!"
"Apa kalian tidak punya Alarm di handphone kalian?!"
"Aku tidak mengerti. Padahal, upacara hanya sekali dalam seminggu."
Apa yang dikatakan Kak Indri memang benar. Upacara diadakan setiap senin pagi, pada pukul 7 tepat.
Untuk hari-hari biasa, masuknya agak siang, tepatnya pada pukul 7.30.
Tapi tunggu dulu ... sepertinya ada yang melintas di fikiranku ketika melihat Rei.
Maksudku ... Lihatlah Rei. Rambutnya berwarna hitam, bergelombang, dan juga dia memakai tas punggung berwarna hitam.
Apa dia itu siswa yang aku lihat di Gang yang sempit pagi ini?
*Hoi, hoi, hoi, yang benar saja?!
Kalian seharusnya tidak melakukan hal semacam itu, berciuman dan melakukannya di Gang yang sempit itu. Dasar sialan*!
"Tciih ...."
Tiba-tiba, Kak Indri memarahiku.
"Kamu ini! Kenapa tadi diem mulu?!"
"Sekalinya ngeluarin suara, malah bilang 'Tchiih'!"
"Baiklah, akan aku beri hukuman kepada kalian."
Sial! Aku tanpa sadar mengeluarkan suara, ketika mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
Dan sekarang, aku sepertinya akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari Kak Indri.
Hah! Dasar sialan!
"Untukmu, Rei dan Fia, kalian buang sampah-sampah yang ada di kantor!"
"Dan untukmu, Beni. Kamu sama hukumannya, buang sampah. Tapi, kamu harus buang sampah dari kelas 10 sampai 12, termasuk IPA dan IPS."
Sial! Dasar sialan! Kenapa hukumannya benar-benar timpang sebelah?
Mereka berdua mengerjakan tugas mudah, sedangkan aku mengerjakan tugas yang lebih berat seorang diri.
Aku harus bilang kepadanya, bahwa ini terlalu berlebihan. Aku keberatan. Aku mulai mengangkat tangan.
"Ka—"
"Sudah! Diam! Tidak usah mengelak!"
"Kerjakan saja!"
Kampret! Aku sudah dua kali, tidak diperbolehkan berbicara. Kenapa ini terjadi kepadaku?
"Ayo! Mulai sekarang!"
Kini, Rei pergi bersama Fia ke ruang kantor sekolah.
Sedangkan aku, pergi ke gudang peralatan, mencari tempat sampah terlebih dahulu.
Aku mulai melangkah, menuju gudang peralatan.
Gudang peralatan berada di sebelah kanan bangunan, dekat dengan kelas 12, dan entah sudah berapa meter aku berjalan pagi ini, aku sudah merasa lelah.
Oh iya, sekolahan ku bentuknya seperti huruf "U" terbalik.
Dengan penempatan kantor, perpustakaan, dan kelas 10 berada di sebelah kiri, kelas 11 dan 12 berada di tengah, serta ruang OSIS, Klub-klub, gudang peralatan, dan ruang yang tak kalah penting lainnya berada di sebelah kanan.
Setelah sampai di gudang peralatan, aku langsung mengambil tempat sampah berwarna hitam.
Tempat sampah itu dapat dengan mudah aku temukan karna bentuknya yang besar.
Aku juga dapat mudah membawanya karena ada roda di bagian bawahnya.
Baiklah, waktunya menjalankan hukumanku, sendirian ... dan seharusnya begitu, tapi kenapa Kak indri mengikutiku ?
Aku baru tahu bahwa dia mengikutiku selama ini, ketika aku menutup pintu gudang peralatan dan berbalik.
Aku tidak mengerti, dengan pemikiran Ketua OSIS-ku ini.
"A-anu, kenapa Kak Indri mengikutiku?"
"Bu-bukannya aku mengikutimu."
"Hanya saja, a-aku tidak tega jika membiarkanmu sendirian, melaksanakan hukumannya."
Eh? Apa-apan dengan sikap sok manisnya itu. Tadi dia memarahiku habis-habisan, memberikan hukuman yang berat sebelah, dan sekarang merasa tidak tega?
Kalau begitu, kenapa tidak kau biarkan aku bergabung dengan mereka berdua?
Tapi ... sejujurnya aku merasa kaget dan merasa sedikit tertarik dengan sifatnya yang ternyata seperti itu, biarpun ketika dia marah, terlihat sangat menakutkan.
"Apa yang mau dibantu Kak?"
Aku sebenarnya berniat mengejeknya dengan bertanya seperti itu. Karena sudah memberikan hukuman yang berat sebelah, kini malah ingin membantuku? Bukannya membingungkan?
"Uuh, Bo-bodoh!"
"Dasar bodoh!"
Dia mengatakannya sambil malu-malu, terbukti dengan pipinya yang terlihat memerah.
Tapi ... dia itu berniat mengejekku atau apa?
"Pokoknya aku ingin membantumu! Aku yang nanti bawa tempat sampahnya, dan kamu yang masuk ke kelas, dan masukkin sampahnya ke tempat sampah ini!"
Lah kok dia malah kembali menaikkan nada bicaranya?
Bolehkah aku tolak saja bantuannya?
Tapi aku takut dia kembali marah padaku.
"Iyah sudah Kak. Aku mohon ke Kakak, aku minta bantuannya."
"Nah gitu dong."
__ADS_1
Dia sekarang malah tersenyum lebar, dan terdapat seperti ruang kosong kecil di pipinya. Bisa aku sebut dengan 'Lesung Pipi'.
Jadi sekarang, aku melaksanakan hukuman, ditemani Kakak kelasku, si Ketua OSIS.