
Diary : Fia Sofia
Minggu, 23 Juli 2017
AWAL MULA AKU BERTEMU
***
"Catat dan simak tanggalnya, dan jangan sampai tertukar, dengan karakter yang lain."
Sebelum aku memperkenalkan diri, sebaiknya aku harus menceritakan terlebih dahulu, bagaimana aku bisa mendapatkan Binder ini, hingga aku bisa menulis semua kenangan dan keseharianku, ke dalamnya.
Aku mendapatkan Binder ini pada hari Jum'at, tepatnya pada tanggal 21 Juli 2017.
Binder ini dipajang di depan kantor sekolahku, disertai papan pemberitahuan. Papan pemberian itu berisi:
"Binder ini 'Gratis', jika kalian ingin, silahkan ambil saja. Sebelumnya, jika ada yang berkenan, bolehkah saya jadikan isi dari Diary kalian yang ditulis melalui Binder ini, aku jadikan Novel. Untuk info lanjut, silahkan chat melalui WhatsApp saya, 62822601068XX. Terima kasih. Hormat saya, Rosid Firmansyah."
Begitulah kira-kira isi papan pemberitahuannya.
Aku mengambil satu binder, dan langsung berkontak pesan dengan Rosid Firmansyah, teman sekelasku, untuk menjelaskan masalah detailnya.
Lalu, ketika sudah selesai dengan komunikasinya, aku memutuskan sesuatu.
Aku meminta kepadanya agar memberikan 'Nama Samaranku' pada Novelnya adalah "Fia Sofia".
Dia juga meminta kepadaku, dan pemilik semua Binder-nya yang berkenan dijadikan Novel, untuk terus-terusan bertukar pesan, meskipun sudah lewat hari lulusan nanti. Katanya masalah 'Detail cerita'.
Karena ... dia berniat memposting Novelnya di internet, ketika selesai hari kelulusan SMA.
Jadi mungkin, semua Diary kami akan dipinjam Rosid Firmansyah, ketika waktu hari kelulusan tiba nanti.
Apakah kalian ingin tahu, seperti apa Rosid Firmansyah itu? Baiklah, akan aku ceritakan juga.
Rosid Firmansyah, teman sekelasku. Dia adalah pria berkacamata, dengan rambut hitam ikal yang terlihat selalu acak-acakan setiap harinya. Hmm, bagaimana yah ... katanya, "rambutnya susah diatur."
Dia pria yang baik, dan selalu berkorban demi teman-temannya.
Selain memberikan gratis Binder ini kepada orang lain, dia juga menjadi 'Penjaga perpustakaan sekolah', yang dimana siswa-siswi lain tidak mau untuk melakukannya.
Baiklah, sudah cukup aku menceritakannya. Selanjutnya, aku akan menceritakan tentang kenanganku, kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan.
***
Namaku Fia Sofia, siswi kelas 11 SMA desa Susukan, berjarak 800 meter dari rumah orang tuaku. Di sekolah ini, aku masuk ke Klub Atletik.
Aku tinggal di desa Susukan, bersama kedua orang tua dan adik perempuan yang sudah kelas 3 SD. Bisa dibilang, aku adalah Anak Pertama di keluarga ini.
Eng ... apa kalian tahu, apa itu Klub Atletik?
Klub Atletik ialah Klub yang isi kegiatannya berfokus pada 'Lari'. Contohnya Lari Sprint, Lari Gawang, Lompat Jauh, Lari Estafet, dan sebagainya.
Tapi selain dari semua itu, lempar cakram, tolak peluru, dan sebagainya masih termasuk ke dalam ranah Atletik.
Kegiatan (latihan dan pemusatan) Klub Atletik diadakan setiap hari senin dan kamis. Jadi, setiap hari senin dan kamis, aku akan pergi bersekolah sambil menggendong tas berwarna hijau, yang terasa cukup berat.
Kau tahu apa isinya hingga aku bilang cukup berat?
Isi dari tasku berupa buku pelajaran dan peralatan pribadi untuk kebutuhan klubku, seperti sepatu khusus lari, baju olahraga, dan juga handuk kecil.
Mungkin kalian berfikir, kenapa perempuan sepertiku harus melakukan hal semacam ini? Mulai dari masuk ke klub Atletik, hingga membawa tas yang terasa cukup berat? Well, semua itu ada alasannya.
Kau ingin tahu apa alasannya?
Baiklah, akan aku ceritakan kepada kalian, kenapa aku bisa melakukan hal semacam ini.
Semua ini berawal ketika aku masih SMP.
SMP Negeri Tirtayasa, Kelas 9 :
Pada saat itu, Lomba Atletik tingkat kecamatan diadakan. Setelah pulang sekolah, aku terpaksa ikut menonton pertandingan bersama Syila Kartika.
Syila Kartika, dia sahabatku (Kelas 9A) dan sudah berteman sejak kelas 7A.
Dia perempuan berambut pendek berwarna kecoklatan.
Rambutnya pendek, layaknya gaya rambut anak-anak cowok lainnya.
Jika dia memakai sweater hitam dan celana Jeans, mungkin kalian akan mengira dia itu pria.
Eits, tapi tidak, dia itu perempuan tulen.
Kulitnya pun tidak putih bersih seperti cewek lainnya, bisa dibilang kulitnya berwarna sawo matang, tapi sedikit gelap.
Tapi ... yang hebat darinya adalah satu. Dia memiliki senyuman yang manis.
Ya, senyumannya manis sekali, seimbang dengan warna kulitnya dan warna putih giginya, hingga banyak siswa mendekatinya bahkan menembaknya.
Kau tahu apa alasannya? Yaitu pernah melihatnya tersenyum.
Syila selalu menolaknya dengan lembut jika ada yang menembaknya.
Aku pernah menanyakan alasannya, dan dia menjawab, "Bukan tipeku."
Aku menjadi penasaran, seperti apa tipe pria yang disukainya.
Eng ... ayo kembali ke cerita masa SMP-ku.
Sebenarnya aku tidak tertarik untuk menonton Lomba Atletik. Tapi Syila Kartika terus memaksaku melakukannya.
Ah, baiklah. Karena jarak Venue-nya yang tidak terlalu jauh dari sekolahan kami, aku ikut.
"Yuk Fia, kita nonton pertandingan Atletik!"
"Temenin temanmu ini!"
__ADS_1
"Iyah iyah, aku ikut."
Kami berdua tiba di Lapangan Sepak Bola Sultan Agung Tirtayasa, berjarak 450 meter dari SMP kami.
Aku memandangi sekitar, dan mendapati ramai sekali orang yang datang untuk menonton lomba Atletik.
Di sebelah baratku, ada kumpulan orang yang memakai baju merah.
Di sebelah timur, banyak yang memakai baju hijau, dan berbagai macam warna lain dari segala sudut.
Tapi, hanya ada satu warna dari baju penonton yang tidak bisa aku temukan, yaitu biru.
"Apakah Lomba Atletik begitu populer?"
Terlepas dari itu, aku merasa kaget karena melihat keramaian seperti ini.
Maklum saja, aku belum pernah menonton pertandingan Lomba Atletik. Masuk ke dalam stadion sepak bola pun belum pernah, malah ini yang menjadi pertama kalinya bagiku.
"Bagi yang ingin menonton, harap membeli tiket di Loket A dan Loket B!"
"Harganya dua puluh ribu rupiah!"
Suara speaker mengacaukan lamunanku.
Tunggu, apakah harus bayar? Oh tidak, uang yang aku bawa sisa berapa?
"Hey, Syila. Bawa uang berapa?"
Aku bertanya sambil merogoh saku bajuku.
"Aku bawa lima belas ribu."
Syila menunjukkan uang pecahan 10 ribu dan 5 ribu rupiah.
"Ah, kalau aku hanya tersisa sepuluh ribu."
"Gimana nih?"
Aku menunjukkan sisa uangku, dengan pecahan 5 ribu rupiah, sebanyak dua lembar.
Kami berdua kebingungan, karena mendapati uang kami ternyata kurang untuk membeli dua tiket.
Apakah kami berdua harus pulang dengan rasa kecewa? Yah, sepertinya itu masuk akal.
Tapi ... bolehkah aku menjadi pahlawan kali ini?
"Hey, Syila. Mending kamu saja yang menonton pertandingannya. Aku rasa Syila yang lebih menginginkannya."
"Ini, bawa uangku."
"Tapi 'kan ... ah, aku tidak enak denganmu Fia."
"Aku sudah mengajakmu kemari ... masa hanya aku sendiri yang menonton."
Syila sepertinya sedang kebingungan.
"Sudahlah Syila, nggak apa-apa."
Syila mikirkannya kembali, terlihat dari cara dia bertingkah. Dia memegangi dagunya, dengan bola mata yang kadang menatap ke atas dan ke bawah.
"Hey, kalian berdua kenapa?"
"Kayaknya kalian terlihat sedang kebingungan?"
Suara sesosok pria dari arah belakang mengagetkan kami berdua.
Aku membalikkan badan dan melihat seorang pria keren sedang berdiri menggunakan sweater berwarna biru.
Siapa pria ini?
Dia pria yang warna kulitnya cerah, dengan rambut hitam sedikit bergelombang.
Tinggi badannya sekitar 168 cm (kira-kira) dan mungkin tahun depan akan lebih tinggi lagi.
Maklum saja jika aku berfikir seperti itu, karena tinggiku hanya sampai sepundaknya saja, jika saling berdiri berdampingan.
Dari dalam hatiku, aku merasa dia seperti kakak yang baik, terpancar juga keceriaan pada wajahnya.
Aku harap dia benar-benar orang baik yang sesuai dengan dugaanku.
"Ah, nggak sih. Hanya saja kita kekurangan uang untuk membeli tiket."
Syila tanpa basa-basinya, berkata seperti itu.
Ah, astaga ... kenapa temanku ini asal bicara seperti itu kepada orang yang baru dia jumpa?
"Ini, aku punya uang lima puluh ribu, kalian pakai saja untuk membeli tiket dan makanan."
Pria itu menyodorkan satu lembar uang senilai 50 ribu rupiah kepada kami berdua.
"Ah, benarkah? Yeeey! Terima kasih!"
Syila mengambil uangnya, dan langsung pergi ke Loket pembelian tiket.
"Maaf Mas, atas kelakuan temanku."
Aku meminta maaf dengan sopan, sambil membungkukkan badan.
"Tidak apa-apa. Lagian aku merasa akan ada keberuntungan yang datang hari ini."
"Ngomong-ngomong, jangan panggil 'Mas' dong. Aku masih kelas 9."
"Panggil saja aku Rei."
Malunya aku, memanggil dia dengan sebutan "Mas" hanya karena perbedaan tinggi badan.
"Ah iya, maaf Mas. Eh, Rei. Dan juga terima kasih."
__ADS_1
"Iyah, nggak apa-apa kok, sama-sama. Aku pergi dulu."
"Daah~"
Pria bernama Rei itu berpamitan, meninggalkanku.
Tidak lama kemudian, Syila datang membawa dua tiket dan dua brosur, berikut membawa plastik, berisi beberapa minuman dan makanan ringan.
"Aku rasa dia pria yang baik."
Aku tanpa sadar berucap demikian.
"Iyah, tentu saja. Buktinya dia memberikan kita uang untuk membeli tiket ini."
Astaga, apa dia tidak bisa berkata selain itu?
Tapi ... aku harap dia tidak salah faham dengan ucapanku tadi.
Kini, kami berdua memasuki stadion, dan duduk di tribun barat.
Aku mulai membaca brosur sambil memperhatikan sekitar stadion.
Oh iya, brosur yang aku baca ini bertipe lipat tiga, yang menampilkan tentang info stadion, cabang-cabang atletik yang diperlombakan, dan juga nama peserta yang ikut serta.
Aku menyimpulkan, daerah Kecamatan Tirtayasa merupakan daerah yang cukup maju.
Pemerintah menyediakan lapangan sepak bola yang sangat luas, dengan tambahan arena lari di pinggirnya.
Untuk masalah Tribun, aku rasa masih kurang banyak tempat duduk yang mereka bangun jika sekelas lapangan sepak bola. Tapi, mungkin saja mereka kekurangan dana, karena sebenarnya lapangan ini bagus.
Menurut brosur, mulai dari pencahayaan, kualitas rumput dan arena lari, semuanya memakai kualitas nomor 2 terbaik di dunia.
Aku membaca bagian berikutnya, yang isinya memberitahukan cabang apa saja yang diperlombakan. Akan aku kasih tahu ke kalian isinya.
Cabang Yang Diperlombakan :
Lari Sprint 200 m
Lari Estafet 400 m
Lari Gawang
Lompat Jauh
Ternyata banyak juga cabang yang diperlombakan hari ini.
Lalu aku mulai membaca bagian nama peserta.
Peserta Lari Sprint 200 m :
...
...
Rei Anggara - Mewakili SMP desa Susukan.
...
Tunggu, bukankah ini nama desaku? Akankah aku mengenalinya?
Ah, aku rasa sepertinya tidak. Aku sudah lama tinggal di Asrama SMP sejak kelas 7.
Aku bersekolah di SMP Negeri Tirtayasa, berjarak 6,8 kilometer dari rumah Orang Tua. Padahal sebenarnya di desaku sendiri ada sekolah SMP dan SMA yang masing-masing mempunyai Akreditasi B dan A.
SMP di desaku hanya berjarak 350 meter ke arah utara (arah menjauhi jalan raya) dari rumah.
Sedangkan SMA-nya berjarak 800 meter dari arah sebaliknya (selatan, arah menuju jalan raya), yang semuanya bisa aku tempuh dengan jalan kaki saja.
Hanya saja, kedua orang tua menyuruhku bersekolah di SMP Negeri Tirtayasa.
Aku penasaran, Apa mungkin orang tuaku ingin memperkenalkan seperti apa kehidupan di desa orang lain, jalan raya, serta budaya dari desa lain?
Memang baik, tapi ini terlalu jauh bagiku.
Aku mulai membaca brosur kembali, bagian terakhir.
"Hah? Apakah kau yakin?"
"Kau kenapa?"
Syila sepertinya kaget denganku.
"Ini ... Pria bernama Rei Anggara mengikuti ke-empat cabangnya."
"Sedangkan tiga teman satu perguruannya hanya ikut lomba Estafet."
Aku menjelaskan kepadanya, sambil menunjukkan bagian brosur yang sedang aku baca.
"Aku rasa temannya hanya sebagai pelengkap."
"Karna kan lari Estafet atau lari sambung, sambil membawa dan memberikan tongkat butuh empat orang."
Respon Syila secara santainya, sambil terus makan keripik kentang, dan memegangi gelas plastik berisi es teh.
"Hey, pertandingan belum dimulai, udah dimakan aja!"
"Jangan ambil jatahku yah!"
Tapi, memang benar perkataan Syila, lari Estafet harus empat orang.
"Lomba cabang pertama akan segera dimulai!"
"Para peserta berharap mendekati garis Start!"
Aku menutup brosur yang aku baca, dan melihat ke lapangan, sambil melirik kesana-kemari, menunggu pertandingan dimulai.
Betapa kagetnya aku, mendapati pria yang tadi memberikan uang untuk kami membeli tiket, ternyata memakai baju biru dengan nomor urut 002, tengah berdiri tidak jauh dari garis start, mengikuti lomba ini.
__ADS_1