
Diary: Dandi Darmawan
Rabu, 26 Juli 2017
TINGKAH GURUKU 2 DAN HARAPAN BARU
***
"A-Apa? Sama Ibu?"
"Iyah."
Ibu Hera mengangguk, lalu menatapku kembali.
Tapi tunggu dulu ... biarkan aku berfikir.
Aku rasa, Ibu Hera sedang bercanda denganku.
Bagaimana tidak, beliau jarang menemaniku berjaga, kini malah tiba-tiba langsung berucap seperti itu.
Ah, tidak mungkin, 'kan? Lebih baik, aku tes dulu.
"Oh, boleh Bu."
Aku beradu kontak mata dengannya, agar jawabanku terlihat serius.
"E-Eeh ...?"
"Kenapa Bu? Ibu 'kan udah bilang sendiri, jangan tarik kembali dong ucapannya."
"Tunggu, tunggu, Ibu bu-bukan bermaksud begitu. Ibu hanya berca—"
"Hahaha."
Aku tertawa melihat tingkah Ibu Hera yang seperti itu.
Ibu Hera nampak Grogi, matanya melirik kesana kemari, lalu kembali tiduran dengan menutup wajahnya yang memerah.
"Dandi?"
"Iyah Bu?"
"Sekarang, tolong ambilkan paracetamol dan air minum. Ibu benar-benar pusing sekarang!"
"Lah kok, bukannya tadi nggak mau Bu?"
"Sudah! Ambilkan saja!"
Aku tidak mengerti dengan sikap Ibu Hera. Beliau sebelumnya tidak mau minum obat, tapi sekarang kenapa minta obat?
Ternyata, perempuan itu membingungkan.
Aku kemudian berdiri, mengambil air minum dari dispenser, dan mengambil 1 butir pil paracetamol dari kotak P3K.
Aku mendekat, di samping tempat tidurnya.
"Ini Bu, obatnya."
"Terima kasih Dand."
Ibu Hera duduk, langsung menerima obatnya, dan meminumnya tanpa ada masalah.
Kemudian, Ibu Hera kembali tiduran.
Hei, tunggu dulu. Aku khawatir dengan kondisi Ibu Hera.
Maksudku ... aku lihat wajahnya memerah, keringat bercucuran dari dahinya, dan sesekali Ibu Hera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Aku harus cek keadaannya.
Aku mengangkat tangan, dan menaruh punggung tanganku ke dahi Ibu Hera.
"Hei, Ibu. Ibu demam!"
Aku berteriak, karena dari dahinya, aku rasakan punggung tanganku terasa panas sekali setelah menyentuhnya.
"Hah? ... benar ... kah?"
"Iyah! Ibu tunggu dulu di sini. Aku akan carikan kain dan wadah, buat kompres Ibu."
"Aku tinggal dulu."
"Tungg—"
Ah! Karena keadaannya yang seperti itu, aku langsung pergi tanpa mendengarkan apa yang akan Beliau bilang.
Aku harus mencari kain. Tapi ... tapi dimana?
Di Kantor tidak ada kain yang bersih. Aku harus cari kain yang lain.
"...."
"Ah, iyah! Rei!"
"Dia sering membawa kotak makan yang dibungkus dengan kain."
"Lebih baik aku pinjam saja dulu."
Aku berlari, kembali ke Kelasku, berniat mencari Rei.
Oh iya ... untung saja Ibu Hera sudah minum paracetamol tadi. Karena paracetamol (termasuk obat yang dijual bebas) bersifat Analgesik dan Anti Piretik, atau bisa dibilang berfungsi sebagai pereda nyeri dan penurun demam.
Kini, aku sudah berada di depan Kelas 11 IPA.
Aku membuka pintu, dan mencari dimana Rei berada.
__ADS_1
Syukurlah, Rei ternyata sedang duduk di mejanya, ditemani oleh Syila dan Fia yang sedang duduk di depannya.
Aku mendekatinya, dan berusaha bersikap tenang, agar tidak ada yang mencurigaiku.
"Rei."
"Iyah? Kenapa?"
"Anu ... boleh aku pinjam kain pembukus kotak makanmu?"
"Eh? Boleh Dand. Memangnya mau dibuat apa?"
"Eng ... nggak sih, mungkin aku mau cari kain yang semodel denganmu, tapi dengan warna berbeda."
"Baiklah, ini."
Aku menerima kainnya yang berwarna biru dengan motif polos, berterima kasih, dan langsung meninggalkan Kelas, menuju ke Ruang UKS.
***
"Ibu, aku kompres yah."
Kini, aku sudah memegang Wadah berisi air dari dalam Ruangan UKS, dan kain biru yang aku pinjam dari Rei.
"I-Iyah."
Aku mendekatinya, memasukkan kain biru tadi ke dalam wadah berisi air, dan memerasnya, agar tidak terlalu basah.
"Bagaimana Bu? Nyaman?"
Aku mengompresnya, dan memijat lembut kepalanya.
"Nyaman Dand. Apalagi ada kamu di samping Ibu."
"Yeeh si Ibu, lagi sakit malah sempet-sempetnya bercanda."
"Ngomong-ngomong, kok kainnya bau saus tomat?"
Sial! Malunya aku! Aku lupa mencucinya! Karena khawatir dengan kondisi Ibu Hera, aku sampai lupa untuk mencucinya terlebih dahulu.
"A-Ah, iyah ... bagaimana yah ...."
"Maaf Bu, aku lupa mencucinya. Itu kain aku pinjam dari Rei."
Aku menunduk, meminta maaf.
"Nggak apa-apa kok Dand ... yang penting Ibu bisa cepat sembuh. Jarang-jarang orang sakit ... dikompres dengan kain yang baunya saus tomat."
Ah, cukup Bu, cukup! Aku tahu aku salah. Jadi, jangan menyindirku seperti itu.
"Iyah Bu, maaf."
"Sana, kamu duduk di meja jagamu! Tapi, basahin dulu kainnya, udah mulai kering."
"Sudah, tidak apa-apa, Ibu sudah lebih mendingan sekarang."
"Ba-Baiklah."
Aku menuruti permintaan Ibu Hera. Aku celup lagi kainnya, lalu mengompresnya kembali, dan duduk di meja jagaku.
Aku harap, Ibu Hera baik-baik saja.
Tok-Tok-Tok!
"Iyah, masuk!"
Aku mendengar, ada yang mengetuk pintu Ruang UKS. Jadi, aku mempersilahkannya masuk.
"Permisi ...."
Ah, yang datang ternyata wanita berkacamata, dengan gaya rambut kepang Prancis, di taruh si depan.
Dia adalah Kak Indri, Ketua OSIS di sekolahan ini.
"Silahkan duduk Kak."
Aku mempersilahkannya duduk, di kursi yang berada depan mejaku.
"Dand, Ibu Hera kenapa?"
"Ibu Hera kayaknya demam Kak."
"Udah minum obat?"
"Udah, malah aku kompres juga."
"Syukurlah. Ibu Hera! Cepat sembuh yah!" teriak Kak Indri.
Ibu Hera membalasnya, dengan mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol kanan.
Aku tersenyum dengan sikapnya yang seperti itu.
Tapi ... Ibu Hera kenapa mengacungkan jempolnya? seolah-olah sedang berkumpul dengan teman sebayanya.
Padahal, kami ini muridnya.
"Ngomong-ngomong, aku ada perlu."
"Kak Indri ada perlu apa?"
"Bulan depan, tepatnya Agustus, akan ada lomba olahraga yang diadakan di kecamatan Tirtayasa."
"Lalu?"
"Apa kamu bodoh?"
__ADS_1
Tunggu, kenapa dia mengejekku? Aku 'kan hanya bertanya?
"Kamu diminta oleh para guru untuk terus menjaga dan membantu kesehatan peserta lomba."
"Jadi, kamu harus tetap menjaga Ruang UKS, ataupun memantu di lapangan, dan menangani para peserta, takutnya ada kejadian fatal yang mengakibatkan cedera."
"Meskipun di hari libur?"
"Iyah, meskipun hari libur!"
Aku memang suka apabila mengerjakan sesuatu yang berbau medis atau kesehatan. Tapi, aku juga benci jika waktu liburku dipotong seperti ini.
"Tenang, kamu akan diberi Insentif oleh Kepala Sekolah."
"Wah, baiklah! Aku terima!"
Hahaha, tolong yang membaca kisahku, jangan meniru sikap burukku yang seperti ini. Tapi aku janji akan merubahnya.
"Ngomong-ngomong, lombanya seperti apa? Dan dalam kegiatan apa?"
Lalu, Kak Indri mulai menceritakannya. Tapi, aku akan mencoba meringkasnya:
Lomba kali ini bertema 'Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia'. Jadi, pada tanggal 14 Agustus lomba akan dimulai, dan final diselenggarakan pada tanggal 17 Agustus.
Untuk itu, aku diberi tugas untuk mejaga kesehatan setiap peserta dan menangani peserta yang apabila terjadi hal-hal yang tidak terduga, misalnya cedera.
Kak Indri memprioritaskan Rei dan Fia, agar bisa ikut bersama, karena mereka berdua 'Pasangan Emas' yang selalu memenangkan juara di setiap cabang lomba.
Lalu, sebenarnya ada lomba selain olahraga, contohnya sastra. Tapi, Klub Sastra di sekolahan kami tidak percaya diri. Jadi, mereka mengundurkan diri.
Iyah, seperti itulah yang diceritakan Kak Indri.
"Oke Kak, aku mengerti. Tapi, kapan aku mulai bertugas?"
"Senin depan juga kamu sudah boleh memulai tugasmu."
"Ah, baiklah."
Aku mengangguk, menyetujuinya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Tapi sebelum aku pergi, ada yang mau aku bicarakan."
"Eh, apa yang dibicarakan Kak?"
"Kalau kamu melakukan tugasnya dengan baik, sekolah akan mendirikan Klub PMI."
"Benarkah?"
Aku sampai berdiri, karena senangnya.
"Iyah, tentu saja."
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Terima kasih Kak."
"Hati-hati."
Aku berterima kasih, dan Kak Indri melambaikan tangannya.
Baiklah, mulai hari ini aku harus semangat, dari hari-hari sebelumnya. Karena aku mendapatkan harapan baru, yaitu harapan 'Sekolah ini akan memiliki Klub PMI' jika aku melakukan tugasnya dengan baik.
Teng-Teng!
Bel kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat sudah selesai.
"Bu? Sudah waktunya aku kembali ke Kelas."
"Apa tidak apa-apa, jika aku tinggal?"
"Iyah Dand, nggak apa-apa. Tapi, tolong basahin lagi kainnya."
Aku berdiri, mendekatinya, dan mencelupkan kainnya yang ternyata sudah kering kembali.
"Bagaimana Bu? Apa ada yang harus aku lakukan lagi sebelum aku pergi?"
"Pijat kepala Ibu lagi dong Dand. Pijatanmu enak, dan lebih manjur dalam menghilangkan pusing, daripada paracetamol itu."
"Yeeh, si Ibu."
Aku menuruti permintaannya, dan mulai memijat lembut kepalanya.
"Bagaimana Bu?"
"Aah ... nikmat Dand."
Sial, kenapa Ibu Hera berkata seperti itu. Bukannya aku hanya memijatnya saja?
"Tunggu Bu, jangan bicara seperti itu. Takutnya ada yang salah faham."
"Ah, maaf Dand. Ibu tidak sengaja. Seharusnya Guru tidak boleh seperti itu."
"Oh iya, sakit kepala Ibu sudah mendingan sekarang. Sana Dand, kamu boleh kembali ke Kelasmu."
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Daah."
Aku berpamitan dengan membungkukkan badan, dan Ibu Hera meresponnya dengan anggukan pelan.
Baiklah, aku harus kembali ke Kelas, dan mengikuti pelajaran ketiga.
Tapi, aku masih bingung, dengan tingkah Guruku yang seperti itu.
__ADS_1