Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch16 - Fia: Ada Yang Berbeda Hari Ini


__ADS_3

Diary: Fia Sofia


Sabtu, 29 Juli 2017


ADA YANG BERBEDA HARI INI


***


Beep-Beep!


Pagi hari, aku terbangun karena mendengar ponsel yang berada di atas meja berdering, disertai getaran halus.


"Astaga, semalam aku ketiduran!"


"Aku bahkan melupakan makan malam!"


Aku ingat nada itu, itu adalah nada notifikasi pesan masuk di ponselku.


Kemudian, aku beranjak dari ranjang, berniat untuk mengecek pesan yang masuk.


Ternyata, pesan itu dari Grup WhatsApp Klub Atletik, sebanyak 3 pesan, yang berisi:


"Karena Ketua OSIS menginginkan penambahan jadwal latihan untuk persiapan Lomba nanti, aku memutuskan untuk menambah jadwal latihan menjadi tiga kali dalam seminggu."


"Apabila ada yang keberatan, silahkan pesan pribadi saja ke nomor saya. Tidak menjawab sama dengan setuju. Aku tunggu sampai besok."


"Terima kasih atas pengertiannya."


Semua pesannya dikirim oleh Ketua Klub Atletik, Rei.


Karena isi pesannya seperti itu, Grup Whatsapp sepi sekali, selama semalam penuh.


Buktinya, tidak ada pesan yang masuk lagi, sampai pagi ini.


Hmm ... tiga kali dalam seminggu yah?


Baiklah itu lebih masuk akal, antara latihan dan istirahat.


Kalau begitu, aku harus siap-siap, waktunya sekolah!


Lalu aku mandi, memakai seragam, dan sarapan.


Sarapan kali ini berupa nasi goreng buatan Ibuku.


Di meja makan, aku sarapan bersama Ibu dan Adik Perempuanku.


"Ayah sudah pergi, Bu?"


Ibu mengangguk pelan, dengan mulut yang masih mengunyah makanan.


"Eng ... Ibu."


"Iyah, Fia?"


"Bo-Boleh aku tambah, nasi gorengnya?"


"Aduh aduh, kenapa Fia? Masih lapar?"


"Bukan Bu, nasi goreng kali ini terasa enak."


"Hahaha. Ayah semalam membelikan saus dari supermarket, katanya khusus buat masak nasi goreng."


"Kalau mau tambah, ambil saja sendiri. Tidak usah malu."


Pantas saja rasanya enak, ternyata beli sausnya dari supermarket.


Aku tambah porsinya, dan kembali makan.


Rasa dari nasi goreng kali ini sangatlah enak, dengan tambahan daging ayam yang cukup banyak, beberapa sayuran, dan ditambah saus khusus dari supermarket yang entah bagaimana cara membuatnya, hingga lidahku tidak bisa berhenti bergoyang.


"Ah ... aku kenyang."


Aku minum sedikit, lalu menaruh piring bekasku, ke tempat cuci piring.


"Tidak! Sudah jam 06.35!"


"Biasanya sebentar lagi melewati depan rumahku!"


Aku terkejut, ketika melihat jam tangan putihku. Karena terlalu asik makan, aku sampai lupa dengan waktu.


Aku bergegas ambil tas, dan segera keluar.


"Aku pergi Bu!"


"Iyah Fia, hati-hati di jalan!"


Rei biasa melewati rumahku, sebelum jam 06.40.


Kalau begitu, aku tunggu saja sebentar di depan pagar rumahku, agar bisa pergi bersama Rei.


Detik demi detik, waktu terus berjalan. Padahal hanya sekitar beberapa menit lagi, tapi rasanya seperti 1 jam, ketika sedang menunggu seseorang.


Ayolah Rei, cepat datang.


Aku kemudian jongkok, karena lelah menunggu.


"Fia? Lagi ngapain?"


Ah, itu suara Rei. Akhirnya dia datang juga.


"Rei! Yuk jalan bar—"


"Eeeeeh?! Syila?"


"Kenapa jalan bareng sama Rei? Kok bisa?"


Aku terkejut karena melihat ada yang berbeda hari ini.


Syila jalan berdampingan dengan Rei.


Hei! Bukankah Syila tempat tinggalnya berlawanan? Kenapa dia bisa seperti itu?


"Oh, aku pindah rumah Fia, karena Ayah dipindah tugaskan lagi tempatnya."


"Eh? Benarkah?"


"Iyah Fia. Malah sekarang Syila tinggal bertetangga denganku."

__ADS_1


Tunggu, tunggu, tunggu! Apa maksudnya ini?


Apakah aku kalah start? Tidak, tidak, tidak! Bukan itu.


Maksudku, kenapa malah Rei yang jawab? Padahal aku tidak bertanya kepadanya.


"O ... Oh ... ternyata begitu."


"Ka-Kalau begitu, yuk kita jalan bareng. Kalau lama-lama disini, kita bisa terlambat."


Mereka berdua mengangguk setuju, dan mulai berjalan.


Kemudian, aku mengikutinya dari arah belakang.


Jadi, sekarang aku berjalan menuju sekolah, bertiga dengan mereka.


Tapi ... entah kenapa aku merasa risih karena menunggunya tadi, jika akhirnya seperti ini.


Iyah memang aku bukan pacarnya Rei. Tapi aku bingung, kenapa dadaku terasa sesak, ketika melihat mereka berjalan berdua di depanku.


Sesekali, aku lihat Syila mengajaknya berbincang, tanpa mengajakku ikut bergabung dalam percakapannya.


Ah, aku tidak mau kalah. Aku harus ada inisiatif sendiri.


Kalau begitu, akan aku katakan nanti, hanya berdua dengannya, ketika pulang sekolah.


Tapi jika setelah pulang sekolah, Syila juga ikut pergi dengannya.


Aah! Bagaimana caraku untuk mengatakannya?


"Fia, Syila, nanti temani aku yah, pas waktu istirahat."


"Eh? Kemana?"


"Kita beritahu para anggota Klub Atletik dan Ketua OSIS, bahwa setelah pulang sekolah, kita akan rapat masalah pesanku semalam."


"Oh iya, sekalian ke Perpustakaan. Hari ini adalah hari terakhirnya Beni dan Rosid menjaga perpustakaan. Aku ingin mengajak mereka juga, perihal tugas mereka, dan aku ingin memintanya juga tentang seleksi pemain."


"Bagaimana, kalian mau, 'kan?"


Syila dan aku mengangguk setuju.


Kami terus melangkah, menuju sekolah.


***


"Yuk Fia, Syila!"


Akhirnya, waktu belajar selesai dan sekarang waktunya istirahat.


"Eh? Nggak makan dulu?"


Syila sepertinya tidak bisa menahan laparnya.


"Habis makan aja Rei, aku lapar."


"Maaf Syila, aku takut yang lain pergi, nanti susah buat nyarinya."


"Syila makan aja, biar aku pergi berdua sama Fia. Bagaimana?"


"Eng ... baiklah kalau begitu."


Akan aku bilang kepadanya, ketika di perpustakaan nanti.


Disamping itu, Syila membuka kotak makan berwarna biru dan mulai memakannya.


"Fia mau?"


"Tidak usah Syila, aku makan banyak pagi ini, biar kamu saja."


Setelah menolaknya, aku kemudian pergi bersama Rei.


Kelas demi kelas kami kunjungi, memberitahukan masalah penambahan waktu latihan.


Lalu kami menuju Ruang OSIS, dan sedikit berbincang dengan Kak Indri, si Ketua OSIS.


Kak Indri setuju, dan akan ikut rapat.


Terakhir, kami mengunjungi Perpustakaan.


Mereka terlihat lebih santai sekarang, karena hanya sedikit yang menggunakan Perpustakaan. Sepertinya anggota lain sedang sibuk, untuk mempersiapkan lombanya.


"Beni, Rosid. Setelah pulang sekolah, kalian ikut rapat Klub Atletik yah!"


"Huh? Kenapa kami harus ikut, Rei?"


Beni terlihat kebingungan.


"Kalian 'kan yang akan memantau kami. Jadi kalian harus ikut rapat juga."


"Hahaha."


Rosid tertawa begitu saja, lalu ikut dengan percakapan kami.


"Aku tahu kenapa Beni terlihat seperti menolaknya."


"Karena dia penjaga Perpustakaan, kok malah diajak rapat Klub Atletik."


"Dia sepertinya tidak tahu, tugas barunya seperti apa."


"Kalau Fia wajar jika tidak tahu masalah memantau kesehatan para peserta lomba, karena Fia tidak ikut rapat OSIS kemarin."


Rosid kembali tertawa.


Memangnya, rapat kemarin bahas apa? Rei bahkan tidak cerita kepadaku.


"Tcih! ... apa yang Ocid katakan itu benar."


"Ngomong-ngomong, apa kamu seorang peramal? Hingga tahu apa yang aku fikirkan?"


"Hahaha, sudah Ben, sudah. Jangan tanya pertanyaan yang aneh. Kalau begitu Rei, Fia, nanti kami ikut kok."


Aku dan Rei tersenyum, karena berhasil mengajak mereka ikut.


"Yuk Fia, kita pergi."


"Tunggu, ada yang mau aku omongin."

__ADS_1


"Heh? Ada apa?"


"Kita duduk saja dulu. Sini, ke meja yang paling belakang."


Aku melangkah, dan Rei mengikuti.


Setelah sampai, aku duduk, dan Rei ikut duduk, di sampingku.


"Mau ngomongin masalah apa, Fia?"


"Eng ...."


Tidak! Bodohnya aku. Aku lupa mempersiapkan kata-katanya.


Ah, bagaimana yah? Apa yang harus aku katakan?


"Fia?"


"Eng ... aku ingin bilang ... aku ...."


"Aku apa?"


"Aku menyukaimu!"


Bodoh! Bodohnya aku! Kenapa aku malah bilang seperti itu.


Aku yakin, dia pasti akan menolakku, karena tiba-tiba bilang seperti itu.


"Eh? Eng ... bagaimana yah ...."


Eh? Kenapa Rei memasang wajah yang tersipu malu seperti itu?


"A-Aku bukannya membencimu."


Benar saja, dia menolakku. Tapi aku senang, aku rasa masih ada kesempatan, karena dia bilang tidak membenciku.


"Hanya saja, aku belum bisa."


Tunggu, aku tidak bisa menerima ditolak mentah-mentah seperti ini. Aku harus cari cara lain.


"Kita taruhan saja kalau begitu, bagaimana?"


"Eh? Taruhan? Taruhan apa?"


"Jika aku memenangkan lombanya, kamu harus pacaran denganku."


"Eng ... aku tahu taruhan itu tidak baik. Tapi kali ini aku terima, asalkan ada syaratnya."


"Syarat apa?"


Aku penasaran dengan syarat yang akan dia berikan.


Aku harap syaratnya mudah.


"Syaratnya adalah, Fia harus memenangkan minimal dua cabang lomba."


"Eh? Apa kamu yakin, Rei?"


Rei mengangguk dengan mantapnya.


Tapi, jujur saja, aku kaget dengan syaratnya. Syarat itu aku rasa cukup mudah, karena aku sering kali memenangkan lomba Atletik.


"Oke, baik. Sekalian saja, aku tambahkan level syarat milikmu."


"Rei mau aku ikut cabang apa?"


Aku sangat percaya diri, dan yakin sekali, bisa menjalankan misinya. Jadi sekalian saja, biar dia yang memilih cabang lomba untukku.


"Baiklah, kalau begitu, kamu harus ikut lomba lari Sprint dan juga lari Lompat Gawang, bagaimana?"


Apa Rei bilang lari Sprint? Apa dia lupa, aku selalu menang dalam lomba lari Sprint.


Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku setuju dengannya.


"Oke, aku terima."


Sebenarnya, aku sedikit khawatir dengan lari Lompat Gawang. Karena aku seperti kena kutukan ketika ikut lari Lompat Gawang, yaitu selalu juara dua.


Sudahlah, tugasku tinggal latihan lebih keras lagi, agar bisa memutus kutukan seperti itu.


Kemudian, setelah kami berdua sepakat, kami kembali menuju kelas karena bel masuk pelajaran ketiga sebentar lagi akan berbunyi.


***


"Apa?! Hanya tiga kali dalam seminggu?!"


Aku sekarang mengikuti rapat Klub Atletik, dan Kak Indri tiba-tiba marah, setelah Rei memberitahukan bahwa latihannya hanya tiga kali dalam seminggu.


"Para Guru menjagokan Klub Atletik dibanding Klub yang lain!"


"Dan kalian semua setuju begitu saja dengan tiga kali dalam seminggu?!"


Memang benar, Klub Atletiklah yang paling diharapkan di Sekolahan ini.


"Ah maaf, aku sampai berteriak."


"Rei, aku minta kalian ubah jadwal latihan menjadi empat kali seminggu!"


Kak Indri sepertinya punya beban yang berat, dan tidak mau mengambil 'Resiko'.


Dari raut mukanya saja terlihat jelas, dengan wajah yang tegang dan dibahasi keringat yang mengucur di dahinya.


Ah, aku kira wajar, karena dia adalah Ketua OSIS, yang mengemban tanggung jawab besar.


"Kalian juga tetap punya waktu istirahat."


"Latihan empat hari, dan istirahat tiga hari."


"Aku yakin, itu cukup untuk kalian."


Kak Indri terus mendesak, dan Rei meminta pendapat kepada para anggota Klub Atletik.


"Jadi, kita ganti jadwal latihannya menjadi empat kali seminggu. Eng ... ada yang keberatan?"


"Silahkan angkat tangan, jika keberatan."


Semua yang hadir tidak mengangkat tangannya, sepertinya setuju atau mungkin malah pasrah dengan keadaan.

__ADS_1


"Oke. Jadi aku— Rei, Ketua Klub Atletik, mengubah jadwal latihan menjadi empat kali dalam seminggu."


Aku tersenyum dengan keputusan terakhirnya, karena aku harus lebih latihan dengan keras, agar bisa memenangkan lombanya dan juga harus menyelesaikan syarat yang Rei ucap tadi.


__ADS_2