
Diary: Indri Fauziyah
Sabtu, 29 Juli 2017
*TERI**MA KASIH. SEKARANG, AKU KEMBALI BERSEMANGAT*
***
"Astaga, aku kehilangan kendali."
Aku sedang kembali ke Ruang OSIS, setelah ikut rapat Klub Atletik.
Sebelumnya, aku sempat marah-marah dengan anggota Klub Atletik.
Bagaimana tidak, ketika lomba sebentar lagi akan dimulai, mereka malah menentukan latihannya hanya tiga kali dalam seminggu.
Aku tahu, latihan Klub Atletik berbeda dengan Klub Drama, yang mana Klub Drama lebih mementingkan hafalan, dibanding Klub Atletik yang setiap kesempatan diharuskan terus berlari berulang kali, hingga stamina mereka terkuras habis.
Lalu, mereka akhirnya memilih latihan 3 hari, dan istirahat 4 hari dalam seminggunya?
Hah! Apa-apaan itu!
Klub Atletik juga perlu sering latihan, agar meningkatkan performanya.
Jika Klub Drama sering latihan agar bisa hafalan naskahnya, maka Klub Atletik harus sering latihan juga agar bisa meningkatkan performanya.
Aku benar, kan?
Aku tidak mau mereka sampai kalah di perlombaan, karena ... aku punya alasan tersendiri.
Setidaknya, biar aku ceritakan terlebih dahulu.
Beberapa hari yang lalu:
Waktu itu, aku yang sibuk dengan persiapan lomba, tiba-tiba temanku berkata, "Kak Indri disuruh menghadap Kepala Sekolah."
"Eh? Ada apa yah?"
Karena penasaran, aku pergi ke Kantor, berniat menemuinya.
"Permisi ...," Kataku, setelah sampai di dalam Kantor.
"Ada perlu apa, Indri?"
Ibu hera bertanya lembut. Tapi ... Itu membuatku penasaran, karena Ibu Hera bertanya sambil menulis sesuatu di buku yang mungkin malah terlihat seperti Binder/Buku Diary.
Bentuknya sama denganku, tapi warnanya berbeda.
"A-Anu Bu, Pak Kepala Sekolah ada?"
"Oh, ada kok Indri. Langsung masuk saja keruangannya."
Setelah dipersilahkan Ibu Hera, aku berterima kasih, dan langsung menuju ruangan Kepala Sekolah.
Kantor ini cukup luas, dengan ruangan Kepala Sekolah, para Guru, Administrasi, Ruang BP, dan Toilet yang semuanya terpisah satu persatu.
Padahal ketika aku masih kelas 10, bangunan Sekolahan tidak semegah ini.
Semua itu berubah, semenjak Rei dan Fia sekolah di sini. Mereka terus memenangkan pertandingan lomba Atletik, semenjak awal kedatangannya.
Lalu, banyak sekali donatur yang terus menyumbang, hingga bisa membangun Sekolah dengan fasilitas yang sangat hebat.
Tapi biarpun begitu, masih ada kekurangan. Contohnya masih belum disediakannya Klub PMI, dan sebagainya.
Sementara itu, kini aku sudah berada di ruangan Kepala Sekolah.
"Permisi Pak ...."
"Oh, silahkan duduk."
Pak Kepala Sekolah mempersilahkanku duduk.
Tunggu, aku lebih baik memanggilnya dengan sebutan 'Pak KepSek'.
Pak KepSek-ku gaya rambutnya di sisir ke arah belakang, mata yang tajam, dan sudah mulai ada kerutan yang muncul di wajahnya.
"Ada perlu apa yah, Pak? Sampai harus memanggil saya?"
"Memanggil? Kata siapa?"
"Eh? Kata temen saya ... katanya sih ada yang mau diomongin sama Bapak."
"Enggak kok Indri, mungkin kamu di kerjain."
Argh! Sial! Ternyata aku dikerjain.
"Kalau begitu, saya kembali lagi ke Ruang OSIS."
Aku kembali berjalan, membawa rasa kesal yang menumpuk di dada.
"Indri, Sini!"
"Eh? Ada apa Pak?"
Aku menurut, dan kembali mendekatinya.
"Duduk, Indri. Kali ini Bapak memanggilmu, Bapak ada perlu."
Aargh! Dasar, KepSek koplak!
Ternyata yang mengerjaiku bukanlah temanku, melainkan Pak KepSek itu sendiri.
__ADS_1
Aku sudah rela-rela berkata sopan dengan menggunakan kata 'saya', Pak KepSek itu malah tega mengerjaiku.
Lihatlah sekarang, dia malah tersenyum lebar sekali.
Dasar, KepSek Koplak!
"Kali ini ada apa Pak? Jangan coba-coba mengerjai saya lagi yah, Pak!"
Aku kembali duduk.
"Langsung saja. Kamu 'kan sudah bekerja keras, hingga bisa membantu Sekolahan ini lebih maju."
"Jadi ...."
"Jadi apa Pak?"
"Kamu mendapatkan Beasiswa Kuliah dari salah satu Donatur."
"E~eh?!"
Tunggu, Indri, kamu harus tenang. Pak KepSek baru saja mengerjaimu tadi. Jadi, jangan langsung percaya.
Lebih baik aku tanyakan saja terlebih dahulu.
"Bapak serius?"
Pak Kepsek meresponku dengan anggukan yang mantap.
"Tunggu dulu Pak, aku perlu bukti. Soalnya Bapak sempat mengerjaiku tadi."
Kemudian, Pak KepSek merogoh saku, mengeluarkan ponsel dari sakunya, menggunakannya sebentar, lalu menyodorkannya kepadaku.
Aku menerimanya, dan melihat apa yang ingin Pak KepSek tunjukkan kepadaku.
Ternyata, Pak KepSek menunjukkan isi pesan WhatsApp kepadaku, yang berisi:
"Pak Kepsek, aku ingin memberikan Beasiswa Kuliah kepada Ketua dan Wakil OSIS sekolahan Bapak."
"Aku ingin memberikannya Beasiswa karena ingin mengapresiasi saja. Aku rasa, mereka sudah berhasil dalam memajukan Sekolahan."
"Mereka juga sudah Kelas 12 dan tinggal menunggu mereka lulus saja. Jadi, bagaimana jawaban mereka?"
Wah, ternyata Pak Kepsek sekarang sudah mulai serius akan perkataannya.
Aku mempercayainya sekarang, karena telah melihat buktinya.
"Pak! Aku mau pak!"
"Baiklah jika kamu mau. Tapi ... ada syaratnya."
"Syarat? Apa syaratnya, Pak?
Aku mengangguk dan terus membaca, yang isinya:
"Oh iyah Pak, jika mereka setuju, mereka harus menjalankan syarat terlebih dahulu."
"Karena akan diadakan lomba memperingati kemerdekaan Indonesia, aku pilih itu saja sebagai syaratnya."
"Mereka harus jadi juara umum pada perlombaan tersebut. Bagaimana? Aku tunggu jawaban mereka Pak!"
Seperti itulah isi pesannya.
Jadi, jika aku menginginkan Beasiswa itu, sekolahan ini harus menang dalam perlombaan tersebut.
"Baiklah Pak! Karena Saya menginginkan Beasiswanya, syaratnya saya terima."
"Baik. Bapak akan beritahu sang Donatur."
"Terima kasih Pak!"
Aku menunduk, berterima kasih, lalu pergi meninggalkan ruangan Kepala Sekolah.
Eng ... sampai mana aku tadi?
Oh iya, aku masih membahas tentang jadwal latihan tambahan Klub Atletik.
Jadi, ayo kembali dengan masalahku yang sekarang.
Karena alasan yang seperti itu, aku ingin mengubah jadwal latihan yang sebelumnya sudah mereka (Klub Atletik) setujui bersama.
Jujur saja, aku ingin mereka latihan 5 kali dalam seminggu.
Hanya saja, olahraga Atletik sangatlah melelahkan, dan sangat menguras stamina.
Aku pernah melihat mereka latihan, dan terus-terusan berlari beberapa kali, sambil mencatat waktu terbaik dan tercepat yang dapat mereka tempuh.
Jadi, aku sedikit memikirkan, untuk mencari jalan tengahnya.
Mereka memilih tiga kali dalam seminggu, dan aku menginginkan mereka untuk latihan 5 kali seminggu.
Jadi ... bagaimana jika latihan empat kali dalam seminggu?
Antara latihan dan istirahat, semuanya seimbang.
Empat hari latihan, dan tiga hari latihan ... aku benar, 'kan?
Lalu, aku sarankan seperti itu, dan Rei meminta pendapat para anggotanya.
Akhirnya, mereka semua setuju, dan Rei mengikuti saranku.
"Oke. Jadi aku— Rei, Ketua Klub Atletik, mengubah jadwal latihan menjadi empat kali dalam seminggu."
__ADS_1
Seperti itulah, keputusan akhir dari Rei, Ketua Klub Atletik.
Aahh ... aku sedikit lega karena mereka setuju dengan saranku. Semoga saja, semuanya akan tetap berjalan lancar, sampai Sekolahan kami menjadi juara umum.
"Beasiswa! Tunggu aku!"
Kemudian, sekarang aku sudah berada di Ruang OSIS setelah mendapatkan hasil akhir rapat Klub Atletik tersebut.
"Baiklah! Aku harus semangat!'
Aku menyemangati diri sendiri, dan mulai membereskan sisa pekerjaan yang sempat aku tinggal.
Aku merapihkan kursi, meja, alat tulis, termasuk membuang sampah.
Setelah membuang sampah, aku mengunci Ruangan OSIS.
"Uuh ... aku lelah...."
Aku menghela nafas.
"Aku harap ... ada yang membuatku semangat ... dan mengobati rasa lelahku hari ini...."
Lalu, setelah semuanya dirasa beres, aku berjalan pulang, menuju jalan raya.
"Kak Indri!"
"Tunggu!"
Aku mendengar suara pria berteriak memanggilku dari arah belakang, ketika baru beberapa meter melewati gerbang sekolah.
Aku berhenti dan berbalik badan.
"Be-Beni?"
"A-Ada apa?"
Ternyata pria yang memanggilku ialah Beni. Dia berjalan pelan, menghampiriku.
"Cepetan jalannya, Beni!"
"Dasar, si Mata Ikan Mati."
Aku mengejeknya, karena berjalan pelan sekali. Aku tidak mengerti, sudah level apa rasa malasnya itu.
Dan sepertinya, dia termakan akan ejekanku. Itu terbukti dari cara dia yang sekarang mempercepat langkahnya.
"Kak Indri, aku ada perlu," ucap Beni, setelah sampai di hadapanku.
"Ada perlu apa?"
"Aku minta nomor telepon Kakak."
"E~eh?"
Tu— tunggu dulu. Beni meminta nomorku?
Bukannya aku tidak mau. Tapi ... memangnya mau dibuat apa?
Jujur saja aku senang, jika dia yang minta nomorku terlebih dahulu.
"Hah? Apa benar kamu Beni?"
"Tcih! Memangnya Kakak kira aku siapa?"
"Aku kaget, karena kamu tiba-tiba meminta nomorku."
"Memangnya, nomorku mau kamu buat apa?"
"Kakak 'kan Ketua OSIS, lalu aku dapat tugas baru juga dari Kakak. Jadi ... aku perlu nomor kakak, untuk memudahkan tugasku."
Jawabannya masuk akal. Tapi, aku ingin sedikit menggodanya.
Aku mengeluarkan buku dan pulpen, menuliskan nomorku, dan menyobeknya.
Kemudian aku menggenggam tangan kanannya dengan kedua tangan, lalu membisikkannya.
"Hei ... Beni ... jangan lupa telpon aku yah ...."
Beni kemudian menjauh, memegangi kuping kanannya, dan wajahnya terlihat memerah.
"Si-Sialan! Ka— Kakak menggodaku, yah?!"
"Hahaha. Maaf Beni. Ak-Aku tidak sengaja."
"Bohong!"
Beni terus saja memarahiku.
Dia pasti terkejut, karena aku bersikap tidak biasanya.
Jujur saja, aku sebenarnya malu. Tapi, aku merasa senang sekarang.
"Terima kasih Beni. Aku harus pulang."
"Hah! Terserah!"
Aku meninggalkannya, sambil terus tertawa karena melihat tingkahnya yang seperti itu.
Terima kasih Beni, harapanku terkabulkan karenamu.
Sekarang semangatku kembali pulih, dan rasa lelahku telah hilang.
__ADS_1