Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V2Ch4 - Syila: Rasa Sakit, Hilanglah!


__ADS_3

Diary: Syila Kartika


Senin, 31 Juli 2017


RASA SAKIT, HILANGLAH!


***


"Kalau begitu, ayo kita tinggalkan mereka berdua. Dan untukmu Syila, kamu ambil tasnya Fia, dan taruh di depan Ruang UKS."


Ketika aku dan yang lainnya sedang khawatir dengan keadaan Fia, yang baru saja terjatuh ketika latihan dan mendapatkan cedera, Ibu Hera menyuruh kami keluar dari Ruang UKS.


Aku menuruti perkataannya, meninggalkan mereka berdua, lalu menuju ke Kelas.


"Ini tasnya Fia. Tapi ... apakah aku harus membawa tasnya Rei juga?"


Aku sudah sampai, dan sedikit merasa bingung karena melihat ada dua tas yang tersisa di dalam Kelas.


Tas itu berwarna hitam milik Rei, dan tas satunya berwarna hijau milik Fia.


Eng ... baiklah, begini saja.


Biar aku bawa tas Fia dan ditaruh di depan Ruang UKS sesuai apa yang diucapkan Ibu Hera.


Lalu tas milik Rei aku bawa saja, sampai rumah. Karena aku yakin, Rei akan kesulitan jika tasnya dia bawa sendiri.


Aku benar, 'kan?


Akhirnya, aku memutuskan membawa kedua tasnya. Tas milik Fia aku taruh di depan Ruang UKS, dan tas milik Rei aku bawa sampai rumah, karena kami sekarang bertetangga.


Tapi ... apakah memang tidak apa-apa? Meninggalkan mereka berduaan begitu saja?


Jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aku harus bagaimana?


Sudahlah, aku tidak mau memikirkannya sekarang.


Yang penting, aku harus segera pulang, karena aku sudah lapar.


***


Sesampainya di depan rumah, aku berbelok terlebih dahulu ke rumah Rei.


Aku harus menaruh tas milik Rei dulu, baru aku bisa pulang ke rumahku sendiri.


"Permisi!"


Aku mengetuk pintu rumah Rei, dan tidak menunggu lama pintunya terbuka.


"Eh, ternyaya Syila? Ada apa, 'yah?"


"Ini Tante, aku bawa tasnya Rei."


"Memangnya Rei dimana?"


"Eng ... Rei katanya ada perlu, Tante."


Aku berbohong, karena aku tidak mau Tanteku merasa khawatir dengan kejadian hari ini.


"Hmm ... baiklah kalau begitu. Syila mau masuk? Ibumu juga ada di sini."


"Nggak usah, Bu. Terima kasih."


Aku menolaknya dengan lembut, lalu memberikan tasnya.


Setelah itu, aku langsung pulang menuju rumahku sendiri.


"Aku pulang!"


Aku membuka pintu, tanpa sambutan seorang pun.


Ayahku belum pulang dari kerjaannya, sedangkan Ibuku sedang bertamu di rumah Tante.


Baiklah, sepertinya aku harus makan seorang diri.


Aku menuju dapur, mengambil sepiring nasi dan lauk, lalu menuju ruang tamu.


Iyah, aku lebih memilih makan di ruang tamu, dibanding di dapur, karena bertujuan ingin langsung tiduran di sofa ruang tamu.


Aku memakan makanannya.


Lauk yang Ibu masak kali ini berupa ayam goreng dengan siraman kecap.


Rasa gurih ayam dan manisnya kecap, sangat cocok sekali dipadu dengan nasi hangat yang baru diambil dari penanak nasi.


Aku hanya makan dengan nasi dan ayam goreng, tanpa menambahkan sayuran apapun di dalam menuku.


Sebenarnya Ibuku memasak tumis kangkung hari ini. Tapi jujur saja ... aku tidak menyukainya, makanya aku tidak mengambilnya.


***


"Aah, kenyang ...."


Makanku sudah selesai.


Aku taruh piring yang aku pakai tadi di meja ruang tamu, dan langsung berbaring di sofa.

__ADS_1


"... Tidur kayaknya enak nih."


Aku mulai memejamkan mataku.


Karena aku baru saja selesai makan, rasa kantuk menghampiriku.


Beberapa menit kemudian, aku semakin tidak kuat menahan rasa kantuk.


Tapi ketika aku akan terlelap, pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka.


"Syila! Ayo bangun!"


Ada seseorang yang memegangi lenganku, sambil menggoncangkannya.


Aku membuka mata, sambil mencoba duduk.


Siapa pria ini?


Setelah dudukku sudah sempurna, aku memfokuskan pandanganku.


Dia ... dia ... terlihat seperti Rei.


"Syila, ini aku, Rei."


"Eh? Rei? Ada apa?"


Kini aku sudah seratus persen sadar dengan keadaan sekitar.


"Kenapa kamu memegangi pipi kananmu? Kamu sakit gigi?"


"Bukan Syila."


"Lalu apa?"


Rei menjauhkan tangan yang menutupi pipinya itu. Kemudian aku bisa melihat luka lebam dan beberapa luka kecil.


"Kamu kenapa Rei?!"


"Ce-ceritanya panjang, Syila. Yang penting, aku minta tolong padamu, obati aku."


Aku mengerti, lalu mempersilahkannya duduk, dan langsung mengambil kotak P3K dan beberapa handuk dan es batu.


Pertama, aku duduk di sampingnya sambil membasuh terlebih dahulu luka kecil yang ada di pipinya menggunakan alhokol.


Kemudian, aku membungkus es batu ke dalam handuk, dan mengompres pipinya yang lebam itu.


"Aw! Sakit Syila!"


"Tahan dong! Kamu laki-laki, 'kan?"


Aku melanjutkan dan dia terlihat sedang menahan rasa sakit. Hal itu terlihat dari alisnya yang naik turun.


"A-Apa yang kamu katakan?"


Aku terkejut, sampai membuatku tergagap dalam meresposnya.


"Ngomong-ngomong Syila ... apa ada cara yang membuatku ... sembuh lebih cepat?"


"Aku malu, jika pipiku terlihat seperti ini."


Kenapa Rei merasa malu? Bukankah bisa ditutupin lukanya?


Baiklah, aku kerjai saja dia, aku ingin melihat reaksinya.


"Aku ada cara terbaik buat mempercepat lukamu itu, Rei. Kamu mau coba?"


"Mau Syila! Apa pun itu, yang penting lukaku cepat sembuh."


Tanpa fikir panjang, Rei menjawab seperti itu.


Karena dia sudah setuju, aku menyiapkan kain kasa dan plester luka terlebih dahulu.


"Kamu sudah siap, Rei?"


"Sudah! Ayo lakukan saja!"


Setelah kain kasa dan plester luka sudah aku siapkan, aku meminta sesuatu hal kepadanya.


"Rei ...."


"Iyah?"


"Tutup matamu!"


"Eh? Kenapa harus ditutup?!"


Wajar saja jika Rei kaget. Tapi aku terus membujuknya agar mau menuruti permintaanku.


"Eng ... ini adalah pengobatan yang hanya diketahui oleh keluargaku. Aku tidak mau orang lain mengetahuinya."


"Jadi, Tante juga bisa dong?"


"Tentu!"


Aku beradu kontak mata dengannya, agar Rei percaya dengan perkataanku tadi.

__ADS_1


"Baiklah."


Rei setuju, dan menutup kedua matanya.


"Baiklah, aku mulai nih."


"Silahkan."


Setelah mendapatkan jawabannya, aku menyentuh pipi kanannya menggunakan tangan kananku.


Aku meniup pipi kakannya, lalu memutar-mutarkan, sambil mengucapkan:


"Rasa sakit, rasa sakit ... hilanglah!"


Akhirnya, setelah mengucapkan kalimat itu, aku mendekatkan wajah ke arah pipinya, dan berakhir dengan mencium pipinya yang lebam itu.


"Hei!"


Rei merasa kaget, dan langsung berdiri menjauhiku.


"A-Apa yang ka-kamu lakukan, Syila?"


Aku memalingkan wajahku, karena malu telah mengerjainya sampai melebihi batas.


"Ka-Kamu tadi menci—"


Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, aku langsung memotong perkataannya dan langsung memegang bahunya, agar mau duduk kembali.


"Sudahlah Rei, ayo duduk. Aku belum menutup lukamu itu."


"Ta-tapi kali ini, jangan macam-macam, 'yah."


Aku mengangguk, dan Rei kembali duduk sambil terus memegangi pipinya.


"Sini, awas tanganmu!"


Karena kain kasa dan plester luka sudah aku siapkan tadi, jadi aku tinggal menempelkannya saja.


Rei menurutiku dengan menjauhkan tangan dari pipinya.


Langsung saja, aku menempelkan ke pipi kanannya, bertujuan untuk menutupi lukanya itu.


"Sudah siap!"


"Semoga cepat sembuh, Rei. Pengobatanku pasti manjur kok, Rei!"


Aku tersenyum, menutup sebelah mata sambil memberikan jempol kananku kepadanya.


"Aku malah khawatir sekarang."


Rei menjawabnya, sambil memalingkan wajahnya.


Apa dia tersipu malu dengan apa yang aku lakukan tadi?


"Ka-Kalau begitu, terima kasih Syila. Aku harus pulang."


Setelah mengucapkannya, Rei langsung bangun dan pergi meninggalkanku seorang diri.


Tapi ... ada sesuatu yang membuatku khawatir.


Rei tiba-tiba berhenti setelah membuka pintu dan melihat ke arah kiri.


"Eh, ada Tante."


"Makasih Tante, aku sempat mampir di rumah Tante. Sekarang aku mau pamit."


Tunggu, Rei melihat ke arah kiri?


Aku melirik ke arah kiri, dan melihat jendela tidak tertutup oleh gorden.


Jangan-jangan ... Ibuku memergokiku dari tadi?


Tapi ... tapi semenjak kapan?


Ibu kemudian masuk, dan aku langsung melemparkan pertanyaan kepadanya.


"Ibu? Ibu semenjak kapan ada di situ?"


"Oh, Ibu? Ibu datang semenjak kamu bilang 'Rasa sakit, rasa sakit, hilanglah!'."


Sial, malunya aku.


Aku sampai menutupi wajahku dengan kedua tangan.


Tapi tiba-tiba, ada yang memegangi rambutku. Sepertinya Ibu mendekatiku dan berniat mengelus lembut rambutku.


"Syila ... Ibu senang kamu yang mulai duluan. Ibu dukung, Kok!"


Aku menjauhkan kedua tanganku yang menutup wajah, dan memegangi tangan Ibu.


"I-Ibu! Apa yang Ibu bicarakan?!"


"Sudahlah, lebih baik aku pergi mandi!"


Aku melepas tangan Ibu yang berada di atas kepalaku, meninggalkannya, dan langsung menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tapi sebelum itu ... apa Rei mengetahui kelakuan Ibuku itu?


Ah! Aku sepertinya tidak berani memandang wajahnya terlebih dahulu, karena kejadian ini.


__ADS_2