Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch7 - Indri: Ini Alasanku Yang Sebenarnya


__ADS_3

Diary: Indri Fauziyah


Senin, 24 Juli 2017


INI ALASANKU YANG SEBENARNYA


***


"Apa?! Maksud Ibu apa?!"


Aku tidak sengaja sedikit berteriak, karna kaget mendengar ucapan guruku itu.


Oh iya, akan aku jelaskan dulu.


Guruku rambutnya panjang, berwarna hitam, dan dibiarkan terurai.


Dia mengajar disini sebagai Guru Biologi dan Wali Kelas kami, namanya Ibu Herawati, biasa dipanggil 'Ibu Hera'.


"Ibu bilang mereka sudah pindah sekolah?"


"Tapi sejak kapan Bu?! Bukannya kemarin mereka keliling kesana-kemari mencari dukungan untukku?!"


Kenapa mereka tiba-tiba pindah sekolah? Padahal kemarin mereka mencari dukungan untukku, tapi besoknya malah pindah sekolah.


Aku sama sekali tidak mengerti.


"Ooh, jadi kamu Indri Fauziyah? Ibu kaget melihatmu merubah penampilan."


"Eh, iyah Bu, aku Indri. Ngomong-ngomong, Ibu tolong jawab pertanyaanku tadi."


"Eh, memang kamu tidak dikasih tahu? Mereka bahkan sudah mengajukan pindah sekolah ke Ibu sejak dua hari yang lalu."


"Tunggu Bu ... dua hari yang lalu?"


"Maksudnya apa ini Bu? Aku tidak mengerti?"


"Eng ... kamu tanyakan saja pada orang yang lebih mengerti denganmu, itu akan menjawab rasa penasaranmu."


"Ibu masih sibuk, jadi Ibu tinggal yah."


Lalu, guruku meninggalkanku begitu saja yang masih di ruangan Kantor.


Aku meraih kursi di dekat meja Ibu Hera, duduk, dan mencoba berfikir sejenak.


Padahal aku hari ini yang berubah baru penampilannya saja. Sedangkan untuk kepribadian, aku masih berusaha untuk merubahnya.


Lantas, memangnya ada yah, orang yang mengerti akan perasaanku?


Aku memejamkan mata, menaruh jari telunjuk ke dahiku, kemudian memikirkan kembali, siapakah yang lebih mengerti dengan perasaanku.


"...."


Aku membuka mata, dan aku mulai menyadarinya.


Iyah, benar! Aku ingat siapa orangnya, seseorang yang bisa mengerti akan perasaanku.


"Beni!"


"Itu pasti dia!"


Aku langsung berdiri, meninggalkan kantor, dan berlari menuju perpustakaan.


***


"Uh ... Huh ...."


Aku sampai di depan pintu Perpustakaan, dengan nafas yang tersengal-sengal.


Lalu aku membuka pintu, melirik ke setiap sudut, berniat mencari Beni.


"Aku sepertinya harus merubah peraturan nanti."


Kalian tahu, kenapa aku bilang seperti itu?


Kemarin aku pernah bilang, 'menurut peraturan sekolah, setiap 2 orang per kelas akan ditugaskan sebagai penjaga perpustakan. Jadi seluruhnya berjumlah 6 orang, dan akan bergantian tiap minggunya'.


Aku meminta maaf, karna lupa memberikan informasi penting kepada kalian.


Jadi, akan aku jelaskan lagi. Maksudku ... memang benar 2 orang per kelas. Tapi ... hanya 1 orang saja yang menjaga perpustakaan secara bergantian tiap minggunya.


Kau tahu betapa berat dan capeknya, 'kan?


Belum lagi kalau ada orang yang tidak disiplin dalam menaruh bukunya kembali, itu pasti membuatnya sakit kepala.


Sekarang, perpustakaan sedang kosong, dan Beni terlihat sedang tertidur, di meja jaganya.


Jadi, aku harus menambahkan satu orang lagi, untuk membantunya dan orang lain, dalam menjaga perpustakaan ini tiap minggunya.


Aku tidak mau Beni terus tersiksa karena ini. Dia sudah rela membantuku kemarin, jadi aku juga harus membantunya.


Aku mengambil kursi, membawa ke tempat meja jaganya, dan duduk disamping Beni, ikut tiduran, sambil melihatnya sedang tertidur.


Aku perhatikan, dari raut wajahnya tergambar rasa lelah, dengan sesekali dia menarik nafas yang panjang.


Tapi ... dengan melihatnya yang seperti ini, aku malah tersenyum sekarang.


Kalian pasti tahu kenapa aku malah tersenyum.


Aku fikir dia pasti tidak bisa mengelak, ketika semua teman sekelasnya menyuruh Beni, untuk bertugas sebagai Penjaga Perpustakaan.


Coba kalian bayangkan, jika orang yang sifatnya 'Pemalas', malah disuruh menjaga perpustakaan yang besar, seorang diri.


"...."

__ADS_1


"Eh? Kenapa ini?"


Air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja.


"Kenapa rasanya aku ingin menangis?"


Sepertinya, aku menyadari sesuatu, kenapa aku tiba-tiba mengeluarkan air mata.


Ketika melihat Beni yang nampak lelah seperti ini, tiba-tiba terlintas begitu saja di fikiranku, semua orang yang telah aku suruh dan asal tunjuk sana-sini.


Sambil memperhatikan wajah Beni, aku membayangkan, pasti orang-orang yang asal aku suruh itu pasti merasa tersiksa, seperti layaknya Beni.


"Aku ... menyesal ...."


Ketika aku terus membayangkannya, aku malah terisak semakin dalam.


"Eeh!!"


Beni tiba-tiba bangun, terkejut dan menjauh.


Aku langsung berbalik badan, dan mengusap air mataku. Karena aku tahu, dia benci melihatku menangis, seperti kejadian kemarin.


"Anu ... kamu siapa?"


"Apa yang kamu lakukan?"


Tunggu, dia juga tidak ingat siapa aku? Apakah aku merubah penampilan secara drastis?


"Hei! Apa kamu tidak ingat?!"


"Ini aku, Indri!"


"Bukannya kamu yang menyuruhku merubah penampilan!"


"Eh, apakah itu benar kamu?"


"Iyah, tentu saja!"


Aku meneriakinya, karena kesal.


Bukankah dia yang menyuruhku kemarin? Tapi sekarang malah dia sendiri yang lupa.


"Eng ... baiklah, aku akan duduk kembali, kalau itu benar Kak Indri."


"Lagipula, aku juga lelah. Aku harus mengistirahatkan tubuhku."


Beni kembali duduk, dan merapatkan bangkunya ke arahku.


"Kenapa tadi kakak nangis?"


"Apa kakak kalah?"


"Kalau aku kalah, mana mungkin aku menangis. Justru aku akan bahagia."


"Kalau begitu, alasannya kenapa?"


"Nggak apa-apa kok."


"Yang terpenting, aku ingin tanya sesuatu kepadamu."


"Eeh? Memangnya mau tanya apa?"


"Kenapa teman yang mencari dukungan untukku kemarin, kini malah pindah sekolah."


"Eh? Benarkah? Apa Kakak yakin?"


"Iyah, aku yakin. Ibu Hera sendiri yang bilang."


"Tciih!"


Hey, kenapa dia bilang begitu? Apa aku salah? Atau dia sedang merendahkanku?


"Kok kamu bilang 'Tciih', apa maksudnya?!"


"Hah?! Apa kakak tidak mengerti?!"


Aku menggelengkan kepala.


"Baiklah, biar aku beritahu Kakak."


"Mereka pindah sekolah karena tidak mau disalahkan."


"Disalahkan? Kok bisa?"


"Hah! Jadi begini Kak."


"Pertama, jika Kakak melakukan kesalahan dalam menjalani Ketua OSIS, mereka tidak mau disalahkan juga karena yang kemarin mencari dukungan untuk kakak iyah mereka itu."


"Yang kedua, mereka tidak mau ditunjuk untuk menjadi Komite atau Seksi apapun dalam kepengurusan OSIS yang dipimpin oleh Kakak."


Benar apa kata Ibu Hera, hanya orang yang mengerti dengan perasaanku, yang bisa menjawab semua rasa penasaranku.


Aku jadi heran, kenapa Beni bisa sampai tahu sejauh itu.


Kini, mataku mulai berkaca-kaca kembali, mendengar semua penjelasannya.


"Dan yang ketiga ... stop! Kakak nggak usah nangis lagi. Cukup!"


"Kemarin kan aku sudah bilang?!"


"Atau aku pergi sekarang!"


Aku mengusap air mataku, dan berusaha menahannya.

__ADS_1


"Baik-baik. Aku ku akan menahannya kali ini."


"Jadi, jangan pergi dan tetap di sini."


"Baiklah. Sekarang Kakak mengerti, 'kan? Aku sudah lelah menjelaskan tadi."


"Sekarang, aku mau tidur lagi. Soalnya mumpung hari ini Perpustakaan sedang sepi karena adanya pemilihan Ketua OSIS."


"Iyah, silahkan."


"Kalau begitu Kak, aku berterima kasih."


Beni kembali tidur sekarang.


Tapi tunggu ... perasaan apa ini? Jantungku berdegup kencang ... aku bahkan tidak sengaja tersenyum.


Apa aku bahagia? Bahagia karena Beni ... Beni mengucapkan terima kasih?


Jujur saja, aku belum pernah mendapatkan ucapan terima kasih dari orang lain.


Aku juga selalu menyuruh orang, tanpa berterima kasih setelahnya.


Dan kembali, akhirnya aku mendapatkan suatu pelajaran berharga. Ternyata ... berterima kasih itu penting.


Mulai dari jantung berdegup kencang, dan tiba-tiba tersenyum, aku bisa merasakannya hanya dari ucapan 'Terima Kasih'.


Baiklah, aku rasa aku harus membiasakan mengucap terima kasih lain kali, atau sebisa mungkin mendapatkan ucapan terima kasih, dari orang-orang terdekatku.


Ternyata hal itu bisa menjadi sumber kebahagiaanku.


Kalau begitu, aku harus pergi, dan merencanakan tugas OSIS sebaik mungkin. Agar aku bisa dengan mudah menjalankannya nanti.


"Terima kasih, Beni."


Aku mengelus rambutnya sebentar, sebelum pergi dari Perpustakaan.


Tapi ... hari ini menjadi kunjungan terakhirku di Perpustakaan. Karena sibuknya menjadi tugas OSIS, aku jarang bertemu dengannya, sampai-sampai aku tidak bisa berbalas budi kepadanya.


"Ind? Hoamm ... kau masak apa hari ini?"


Ah, suara kakakku yang datang tiba-tiba, mengagetkanku.


Baiklah, aku sudah banyak bercerita tentang kenangan pertamaku bertemu dengannya. Jadi, ayo kembali ke aktifitasku.


SMA desa Susukan, Kelas 12, Ruang Dapur:


"Ind? Hoamm ... kau masak apa hari ini?"


Mbakku sepertinya baru bangun tidur, karena dia bertanya sambil menguap.


"Eh ini Mbak, aku sudah selesai bikin Nasi Kepal dan Telur Dadar Gulung. Ini malah mau aku tata"


"Wah, kayaknya enak. Tapi aku nggak boleh makan banyak-banyak. Aku nggak mau jadi gendut."


"Iyah kak, aku juga tidak mau."


"Kalau begitu, aku panggil Ayah dan Ibu yah."


Aku mengangguk, menyetujuinya.


"Ayaah!! Ibuu!! Sarapan sudah siaap!!"


Kakakku ternyata lebih memilih berteriak dari Ruang Dapur, daripada langsung menemuinya.


Tapi, aku tidak memperdulikannya. Lebih baik aku tata saja semuanya di meja.


Kakakku sekarang duduk di meja makan, selagi aku menatanya.


"Waah, kayaknya enak."


Ayah dan Ibuku datang, kemudian langsung duduk di meja makan.


Mereka tidak langsung mengambil makanannya, sebelum aku menyelesaikan semua.


Oh iya, akan aku beritahu posisi meja makannya.


Ayah dan Ibu duduk berdampingan, dengan di depannya tempat dudukku dan Kakakku.


Kini, aku sudah selesai menyiapkan semuanya.


Di meja makan kini sudah tertata piring sebanyak 2 pasang yang berisi Nasi Kepal dan Telur Dadar Gulung.


Aku sekarang duduk, pada kursi kosong yang tersisa.


"Selamat makan!"


Sekarang kami semua menikmati makanannya dengan lahap.


"Terima kasih yah, Indri."


"Sudah susah-susah buat sarapan, setiap paginya."


Ayah dan Ibuku tiba-tiba berbicara seperti itu.


"Iyah. Makasih yah Ind. Kakak jadi bisa pergi bekerja dengan keadaan kenyang."


"Eh, iyah. Sama-sama."


Aku mengangguk pelan.


Jujur saja, aku mempunyai alasan, kenapa sampai membuat sarapan setiap paginya. Semua itu karna Beni, yang sudah membuatku begini.


Apa kalian ingin tahu, apakah itu alasannya?

__ADS_1


Alasannya sederhana.


Aku hanya ingin mendapatkan kebahagian ... kebahagiaan karena mendapatkan ucapan "Terima Kasih" dari orang-orang terdekatku.


__ADS_2