
Diary: Rei Anggara
Jum'at, 28 Juli 2017
ITU MENGINGATKANKU AKAN SESUATU
***
"Baiklah, rapat telah selesai. Kalian sudah boleh pulang."
Aku baru saja selesai mengikuti rapat yang diadakan Ketua OSIS, perihal masalah persiapan lomba olahraga yang bertujuan untuk merayakan hari kemerdekaan indonesia.
Lomba akan dimulai pada tanggal 14 hingga final pada tanggal 17 Agustus.
Baiklah, lebih baik aku pulang dan membicarakan perihal penambahan jadwal latihan, melalui grup pesan WhatsApp Klub Atletik.
Seperti biasa, aku pulang dengan berjalan kaki.
"Semangat!!"
Aku menyemangati diri, berharap semuanya berjalan lancar.
Langit telah berubah berwarna jingga, tanpa ditemani hembusan angin.
Jujur saja, aku kecewa. Karena setidaknya, temanilah aku dengan hembusan angin yang sejuk, untuk menghiburku dikala sedang berjalan sendirian seperti ini.
Beni dan Rosid juga masih belum bisa pulang, karena masih ada perlu dengan Dandi, perihal mereka yang akan memantau kesehatan Klub Atletik.
Tapi sudahlah, semoga semuanya berjalan lancar.
***
Akhirnya, aku sampai di depan pintu rumah.
"Aku pulang!"
Aku berteriak sambil membuka pintu, tapi tak ada jawaban. Apa tidak ada orang?
Di kamar, dapur, ruang tamu, dan setiap sudut, aku susuri semuanya. Tapi, aku tidak menemukan siapapun.
Lalu, dimana keluargaku pergi?
Prang!
Tunggu, sepertinya aku mendengar suara pecahan piring atau gelas, dan suara itu berasal dari rumah yang kosong ditinggal oleh pemiliknya, tepat samping rumahku.
Aku melemparkan tasku ke arah sofa, dan langsung berlari, menuju sumber suara.
Setelah sampai, aku langsung membuka pintunya, dan melirik sebentar ke arah sekitar.
"Rei? Selamat datang!"
Aku disambut Ibu, yang sedang membersihkan pecahan gelas.
Eh, tunggu, tunggu, tunggu. Apa maksudnya ini?
Di rumah yang tadinya kosong ini, ada Ibu, Ayah, dan Adik perempuanku, juga ada ... Syila.
Iyah, dia Syila, teman sekelasku beserta dua orang dewasa yang mungkin dia adalah kedua orang tuanya.
"Ibu ... ada apa?"
Aku bertanya, karena tidak mengerti, apa maksudnya semua ini.
"Ah, mereka akan kembali tinggal di sini."
"Kembali? Maksud Ibu?"
"Oh iya, Ibu lupa. Kamu mempunyai masalah dengan mengingat wajah."
Kemudian, kedua orang dewasa itu mendekati orang tuaku, dan bertanya dengan matanya yang terlihat penasaran.
"Hah? Mempunyai masalah dengan mengingat wajah?!"
"Hah? Mempunyai masalah dengan mengingat wajah?!"
"Iyah ... begitulah."
Kemudian setelah mendengar jawaban Ibuku, salah satunya berganti mendekatiku.
"Apa kamu benar tidak ingat sama Ibu?"
Aku mengangguk pelan, karena memang tidak tahu, meskipun Ibu itu menunjukkan dirinya sendiri menggunakan kedua tangannya.
Oh iya, aku lupa bilang. Baiklah, lebih baik aku ceritakan saja.
__ADS_1
Jujur saja, aku benci dengan keadaanku yang sangat susah sekali mengingat wajah seseorang, apalagi jika orang itu telah pergi selama beberapa bulan lamanya.
Bahkan namanya juga ikut hilang dari ingatanku.
Aku rasa, keadaanku seperti ini karena ketika kecilnya pernah ditinggalkan seorang keluarga yang sangat dekat dengan keluargaku.
Setelah itu, aku sering memimpikannya, dan yang paling sering muncul ialah sosok Ibu dan Anak perempuannya.
Anak perempuan itu adalah teman masa kecilku dan aku rasa sebagai cinta pertamaku. Dia perempuan berambut panjang, dengan pita birunya yang—
"Aargh ...."
Maaf. aku tidak bisa melanjutkannya. karena semakin aku mengingatnya, semakin sakit pula kepalaku.
Aku juga punya foto tentang mereka yang selalu hadir ke dalam mimpiku. Tapi aku memasukkannya ke dalam kotak, dan menaruhnya di dalam lemari, karena tidak berani lagi untuk melihatnya.
Aku bahkan pernah pingsan, ketika mencoba melihatnya, meskipun hanya sekilas.
Iyah ... bagaimana yah ... aku juga mengakui, foto orang-orangnya sama dengan yang ada di mimpi.
Ingin sekali aku menyembuhkan penyakit aneh yang aku alami ini. Tapi menurut kejadian di dalam mimpi, aku harus bertemu dengannya kembali, jika ingin menghilangkan keadaan yang terasa menyiksa seperti ini.
Sudah banyak dokter yang aku temui, tapi tidak ada yang bisa membantu menyembuhkan penyakit anehku ini.
Ah! Lupakan saja! Yang jelas, kenapa Syila juga ada di sini?
"Syila? Apa maksudnya ini?"
"Eh? Kamu kenal Syila, sedangkan dengan mereka berdua tidak?"
"Syila teman sekelasku Bu, jadi aku masih bisa mengingatnya dengan jelas."
Aku kemudian menatap Syila, menunggu jawabannya.
"Eng ... a-aku pindah rumah karena Ayah dipindahkan tempat tugasnya."
Hei, tunggu dulu! Aku baru lihat dia berbicara dengan nada seperti itu.
"Aku kenalkan kembali, Rei. Ini Ayahku, dan Ini Ibuku."
Aku tidak mengerti dengan kata 'Kembali' yang mereka ucapkan dari tadi. Apa mereka pemilik rumah ini sebelumnya? Tapi Syila ciri-cirinya berbeda sekali dengan wanita yang selalu hadir di dalam mimpiku.
Lihat saja rambutnya Syila, pendek seperti itu, aku tidak yakin kalau Syila orangnya.
"Iyah, aku Rei. Ngomong-ngomong, aku harus panggil apa yah, Syila?"
Keduanya mengangguk setuju.
"Rei, tolong bantu mereka beres-beres."
"Siap Ibu!"
Baiklah, jika itu masalah bantu membantu, aku setuju.
Aku membantu semuanya, dari mulai membawa barang-barang, menyapu, mengepel, menata ulang peralatan, dan sebagainya.
Itu semua kulakukan, hingga beberapa jam lamanya.
***
"Hah ... melelahkan."
Aku berbaring, di atas keramik putih yang berada di teras depan, setelah menyelesaikan semuanya.
"Rei, minum dulu."
Syila kembali merubah sikapnya menjadi 'Sembrono' seperti yang aku kenal. Dia memberikan airnya, tapi menunjukkan di atas mukaku. Padahal air itu dingin, lalu embunnya menetes ke mukaku.
Aku bangun, lalu duduk, menerima air yang dia berikan, dan meminumnya.
"Terima kasih, Syila."
Air yang aku minum ternyata jus jeruk dingin.
"Syila, aku ingin bilang sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Sekolahan akan ikut partisipasi dalam lomba memperingati hari kemerdekaan."
"Dan Ketua OSIS meminta untuk menambahkan jadwal latihan."
"Jadi, aku putuskan untuk menambah latihan Atletik jadi tiga kali seminggu. Bagaimana?"
"Oke, tiga kali aja dulu. Gampang nambah jika dirasa kurang."
__ADS_1
Apa dia fikir kita sedang ngobrol di dalam warteg, hingga seenaknya bilang 'Gampang nambah'?
Aku sebenarnya ingin latihan dilaksanakan 4 kali seminggu. Tapi takutnya berlebihan, dan stamina terkuras habis. Jadi, aku pilih 3 kali saja.
"Oke, nanti aku lanjutkan di Grup Pesan WhatsApp."
Syila mengangguk, setuju.
"Rei! Syila! Ayo masuk!!"
"Makanan sudah siap!"
Ibu berteriak, menyuruh kami masuk. Tapi, aku harus pulang dulu, mengambil HP yang ada di dalam kamar.
"Syila, kamu duluan saja."
"Eh? Mau kemana?"
"Aku mau ambil HP dulu, tolong bilangin juga sama Ibuku."
Syila mengangguk pelan, dan langsung meninggalkanku.
Kemudian, aku pulang, masuk ke kamar, dan mengambil HP yang ternyata ada di atas kasur, dan kembali menuju samping rumahku.
"Ayo Rei, Cepetan!"
"Kita makan bersama!"
Aku membuka pintu, dan langsung disambut oleh mereka semua, yang sedari tadi menungguku.
Acara makan bersamanya diadakan di ruang tamu, dengan posisi duduk bersila, beralaskan karpet, layaknya acara piknik.
"Re-Rei ... si-sini!"
Sumpah! aku tidak mengerti dengan sikap Syila yang berubah-ubah secara tiba-tiba.
Padahal ketika berduaan denganku, sikapnya kembali normal. Tapi jika kumpul bersama orang tuanya dan keluargaku, sifatnya berubah jadi malu-malu.
Baru kali ini, aku merasakan kebingungan dengan sifat wanita.
"Iyah, aku datang!"
Aku mendekat, dan ikut berkumpul bersama.
Menu makanan di depanku berupa menu makanan khas negara Asia Timur, yaitu Nasi Kari dan daging ayam goreng dibalut tepung.
Untuk minumannya ada 3 jenis, yaitu Air mineral, susu, dan jus jeruk yang sempat aku minum sebelumnya.
Aku duduk di samping Syila, dan di samping kiri ada Ibuku.
Aku memperhatikan sekitar. Ibuku mulai mengambil nasi juga kari dan memberikannya kepada Ayah, dan Adik Perempuanku.
Lalu samping kananku, Syila yang melakukannya.
Tapi ... Ketika Syila sudah selesai dan Ibuku juga selesai dengan tugasnya, aku malah tidak diberi nasinya.
Baiklah. Sepertinya aku harus ambil sendiri.
"Ekhem!"
Hei, suara siapa itu?
Aku melirik sekitar, dan mendapati Syila yang menunduk malu. Sedangkan Mata Tante malah menatap makanan, lalu menatap Syila, dan kembali menatap makanan, sambil memainkan alis.
Kemudian, Syila dengan malu-malu menjulurkan tangannya, meraih piring, mengambil nasi dan kari, lalu memberikannya kepadaku.
"Si-Silahkan."
"A-Ah, terima kasih."
Aku menerimanya dengan grogi, karena kaget dengan sifatnya yang kembali menjadi feminim seperti itu.
"Baiklah, karena semua sudah kebagian, waktunya makan."
"Selamat makan!"
"Selamat makan!"
Oh iya, sebelum aku menikmati makanan ini, aku harus memberitahu Klub Atletik lewat pesan WhatsApp terlebih dahulu.
"Karena Ketua OSIS menginginkan penambahan jadwal latihan untuk persiapan Lomba nanti, aku memutuskan untuk menambah jadwal latihan menjadi tiga kali dalam seminggu."
"Apabila ada yang keberatan, silahkan pesan pribadi saja ke nomor saya. Jika tidak menjawab sama dengan setuju. Aku tunggu sampai besok."
"Terima kasih atas pengertiannya."
__ADS_1
Baiklah, pesan sudah aku kirimkan. Sekarang, waktunya makan!