Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch14 - Beni: Tcih! Apa Ini? Lebih Baik Aku Tidur!


__ADS_3

Diary: Beni Wahyudi


Jum'at, 28 Juli 2017


TCIH! APA INI? LEBIH BAIK AKU TIDUR!


***


Teng-Teng!


Tepatnya jam 10.00, bel istirahat berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba.


Seperti biasa, aku harus pergi ke Perpustakaan, menjalankan tugasku.


Hanya saja, aku merasa lebih malas dari biasanya.


Ugh, badanku terasa lemas, dan mempunyai kantung mata akibat kurang tidur.


Aku baru ingat, aku menonton pertandingan sepakbola hingga larut malam.


Hanya saja, tim yang aku dukung malah kalah, dan akhirnya jadi seperti ini, lemas ... lelah ... dan tidak semangat.


Lebih baik aku tidur sebentar saja di mejaku, untuk mengisi beberapa energi yang telah hilang.


Zzz-Zzz!


"...."


Brak!


Aku membuka mata, kaget, karena mendengar suara keras.


Dengan mata setengah menahan kantuk, aku melirik ke depan. Ternyata, ada Kak Indri yang sedang berdiri, dan di mejaku terdapat kamus yang cukup tebal.


"Kamu ini! Tidur mulu!"


"Lihat jam tuh! Kamu sudah tidur berapa lama!"


Aku menuruti perkataannya, menatap ke arah papan tulis, yang mana di atasnya terdapat jam dinding yang terpampang.


"Sial! Jam 10.20!"


"Aku tidur selama 20 menit!"


Aku memegangi kepala, panik, karena takut dengan Kak Indri yang kini kembali memegang kamusnya.


"Sana, susul Rosid!"


"Dia tidak tega membangunkanku, dan sekarang dia bekerja sendirian!"


"Jadi ... ayo bangun!"


Amarah Kak Indri sangatlah seram, dan terasa seperti ada aura membunuh dari belakang tubuhnya.


Aku segera membereskan semua alat tulis, memasukkannya ke dalam tas, dan langsung pergi meninggalkan Kak Indri.


Aku tidak mau, jika terus-terusan dimarahi Kak Indri. Bisa-bisa, aku babak belur nantinya.


Kali ini, aku berjalan setengah berlari, agar cepat sampai.


Aah ... udara hari ini terasa menyejukkan kulit. Tapi ... rasa sejuknya tidak sampai menembus panasnya hatiku.


Ah, apa-apaan itu! Aku terlalu lebay!


Maksudku ... aku merasa kesal karena dimarahi Kak Indri, hingga angin yang terasa menyejukkan ini, tidak sampai meredakan rasa kesalku.


Tcih! Padahal penampilannya sudah berubah seperti orang yang kutu buku, dengan kacamata dan rambut kepang prancis yang ditaruh di depan ... tapi kenapa sifatnya masih keras seperti itu?


"Andai dia sifatnya pemalu, mungkin aku akan langsung menyukainya."


"Dia siapa?"


"...."


"Eeeh?!"


Aku terkejut, ternyata Kak Indri mengikuti dari belakang. Entah kenapa, dia suka sekali jika mengikuti orang dari belakang. Mungkin bisa aku sebut dengan 'Stalker'.


"Kenapa kamu terkejut?"


"Kak Indri kenapa mengikutiku?"


Aku berjalan pelan sekarang, karena Kak Indri ada di sampingku.


"Oh, aku ada perlu denganmu dan juga Rosid."


"Hah? Perlu apa?"


"Nanti aku bicarakan, di dalam perpustakaan."


Aku mengangguk, dan terus berjalan. Tapi, aku penasaran dengannya. Memangnya, ada perlu apa?


Ah, semoga saja dia meringankan tugas Perpustakaanku yang terasa melelahkan itu.


Akhirnya, aku sampai di depan pintu Perpustakaan.


Aku menarik pintunya, dan menahannya, agar dia bisa masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Silahkan, Kak."


"Te-Terima Kasih."


Hei, apa-apaan itu? Apa orang yang sering marah jika diberi kebaikan, maka sikapnya akan berubah seperti itu?


Kak Indri lalu masuk, diikuti denganku di belakangnya.


Aku menuju meja jaga, meraih kursi, dan langsung duduk di tengah, di samping Rosid yang sedang sibuk mencatat.


"Maaf Cid, aku ketiduran."


Rosid lebih suka dipanggil ocid, daripada nama aslinya sendiri.


"Tidak apa-apa, aku tidak tega membangunkanmu."


"Dan juga ... aku kasian kepadamu."


"Hah? Kasian kenapa?"


"Aku tahu, tim bola kesukaanmu semalam kalah."


Sial! Kenapa dia bisa tahu! Apa dia menonton juga pertandingannya semalam?


"Kampret kau!"


"Aku jadi tidak tahu, apa harus berterima kasih kepadamu, atau harus memarahimu!"


"Hahaha."


Dia tertawa, hingga mengeluarkan air mata.


"Eng ... Anu, Kak, kenapa kakak duduk di samping kananku?"


Aku melirik ke arah kanan, dan melihat Kak Indri sudah duduk dengan tenangnya.


"Aku lebih nyaman duduk di sini."


Tcih! Apa-apaan itu? 'Lebih nyaman duduk di sini' katanya.


Tinggal bilang 'Kursi jaga yang tersisa hanya ini', malah beralasan seperti itu. Ada-ada saja, pola fikir wanita yang membuatku bingung.


"Kalau begitu, apa yang mau diomongin tadi?"


"Oh iya. Ben, Cid, aku ingin bilang kepada kalian."


"Bilang apa?"


"Setelah waktu istirahat selesai, kalian tutup saja perpustakaannya."


"Nanti, kalian pas pulang sekolah, jangan pulang dulu."


"Kenapa?"


"Kalian harus ikut rapat OSIS."


"Baiklah, kamu mau ikut kan, Ben?"


"Jika kamu ikut, aku juga ikut, Cid."


***


Kemudian, waktu terus berjalan, dan sudah waktunya pulang.


Kini, aku mengikuti rapat OSIS, sekitar 20 orang lebih yang ikut. Sepertinya, para Ketua Klub dan anggota OSIS yang mengikuti rapat kali ini.


"Tcih!"


Aku menyesal telah memujinya ketika di Perpustakaan


Di papan tulis Ruang OSIS, terpampang tulisan yang sangat jelas sekali, yaitu 'Pemilihan Anggota Pengawas Peserta Lomba dan Penambahan Waktu Latihan'.


Aku tahu jalur seperti ini. Jika memang tugas Perpustakaanku sementara diberikan kepada orang lain ... tapi aku malah mendapatkan tugas baru yang lebih menyita waktu.


Sialan emang!


"Jadi, saya Indri Fauziyah, Ketua OSIS, ingin memberitahukan masalah lomba yang akan kita ikuti."


Kak Indri memulai rapatnya.


"Langsung saja, aku meminta kalian menambahkan waktu latihannya."


"Bisa dua hingga tiga kali per minggu."


"Ada yang keberatan? Silahkan angkat tangan."


Semua diam membisu, sepertinya setuju dengan permintaannya.


Aku terus memperhatikan dan menyimaknya.


"Aku anggap kalian setuju."


"Lalu, aku juga akan membicarakan masalah 'Jaminan Kesehatan Peserta'."


Aku mengangkat tangan, berniat menanyakan apa maksudnya.


"Iyah, Beni, silahkan."

__ADS_1


"Maksud dari 'Jaminan Keseharan Peserta' itu, apa maksudnya?"


"Pertanyaan bagus! Baiklah, akan aku jelaskan."


Kak Indri mulai menjelaskannya. Tapi, biar aku bantu meringkasnya:


Intinya, pihak sekolah menginginkan jaminan kesehatan para peserta lomba, dari awal persiapan, hingga akhir lomba.


Jadi, pihak sekolah menerima dana dari donatur, dan menggunakannya untuk membeli vitamin, air minum, perban, alkohol untuk membilas luka, dan sebagainya yang diperuntukkan untuk menjamin kesehatan peserta dan merawat peserta jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan.


Kak Indri sudah bekerja sama dengan pihak UKS, yaitu Dandi (teman sekelasku) dan Ibu Hera, untuk mengawasi para peserta yang sedang latihan.


Jadi, Kak Indri meminta bantuan aku, Rosid, dan anggota OSIS yang lainnya, untuk menemani Dandi dan Ibu Hera dalam mengawasi para peserta yang ikut lomba.


Seperti itulah, singkatnya.


"Kak? Kenapa aku diajak? Bukannya Kak Indri tahu sifatku seperti apa?"


"Iyah, aku tahu. Tapi aku ingin merubah matamu yang seperti ikan mati yang menyedihkan itu, menjadi mata yang lebih baik lagi."


"Apa-apaan itu?"


Karena pertikaian kecilku, semua yang ikut tertawa begitu saja. Ah! Sial! Memalukan!


"Sudah, kamu ikut saja! Ada Rosid, dan para anggota OSIS lainnya yang ikut membantu."


"Nanti ada Reward, setelah lomba berakhir."


"Baiklah."


Aku tidak tahu Reward seperti apa. Tapi setidaknya aku bersyukur, pekerjaanku akan dihargai.


"Beni, Rosid, kalian ingin membantu memantu Klub apa?"


Aku berbisik kepada Rosid yang ada di sampingku.


"Kita pilih apa Cid?"


"Klub Atletik saja, bagaimana?"


"Banyak yang dari kelas kita, anggotanya."


"Baiklah."


Aku kembali mengangkat tangan.


"Iyah, Beni? Silahkan."


"Kami pilih Klub Atletik."


"Baiklah. Rei, apa kamu setuju?"


"Aku setuju Kak!"


"Baiklah, aku putuskan, Klub Lari akan dibantu pantau oleh Rosid dan Beni."


"Dandi, silahkan bimbing mereka."


Setelah diputuskan, kemudian Kak Indri melanjutkan, hingga rapatnya selesai.


Lalu, Dandi membagikan beberapa kertas ke semua orang yang terpilih untuk memantau.


Baiklah, akanku baca di rumah.


Aku sudah lelah, dan aku harus pulang sekarang.


***


Aku tiba di rumah, dan langsung menjatuhkan diri di atas sofa.


Aku lapar ... hanya saja aku sedang lelah, lemas, dan malas untuk memasak. Nanti saja lah, setelah aku membaca kertas yang Dandi berikan tadi.


Aku mengambil kertasnya dari dalam tas.


Kertasnya ada 4 lembar, yang ternyata isinya tentang apa saja yang harus kita lakukan, dan juga daftar peserta yang ikut lomba.


Di sini tertulis bahwa aku harus memantau langsung di lapangan.


"Tcih! Pasti panas!"


"Aku meminta keringanan, malah nambah berat."


"Sialan!"


Aku kembali membaca.


Selain memantau, aku juga harus mengabsen dan membawa peralatan yang mungkin takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Untuk lomba lari, yang harus disiapkan berupa tandu, alkohol pembilas luka, plester luka, es batu, perban, plastik, dan air mineral.


Oke, aku mengerti, aku buang saja kertas ini, aku malas melakukannya.


Nanti, biar aku dan Rosid yang memantau bersama, Rosid yang mencatatnya, dan aku sendiri yang memberikan laporannya kepada Dandi.


Simpel, kan? Daripada hanya diam saja, mending aku yang membawa laporannya.


Baiklah, aku sudah mengantuk, waktunya aku tidur.

__ADS_1


__ADS_2