Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V1Ch2 - Rei: Apakah Aku Bisa Melakukannya?


__ADS_3

Diary: Rei Anggara


Senin, 24 Juli 201


APAKAH AKU BISA MELAKUKANNYA?


***


"E~eh?!"


"Ka-Kamu bilang apa?!" 


Aku terkejut, dan menanyakannya kembali, karena tidak percaya akan apa yang baru aku dengar tadi.


"A-Aku bilang, kau harus melakukan hal sama kepadaku."


"Seperti yang Rei lakukan ke kucing putih itu."


Fia menjawab pertanyaanku, dengan jari telunjuknya mengarah lurus ke arah kucing putih, yang sedang duduk manis di atas pagar besi berwarna hitam.


Tunggu ... apa aku tidak salah dengar?


Apakah maksud dia aku harus mengelus lembut rambutnya?


"Tunggu Fia, apa enggak ada cara lain?"


Aku meminta keringanan.


"Ti-Dak!"


Astaga, apa-apaan ini. Apa aku benar-benar harus melakukannya?


Tapi tunggu dulu, aku rasa ini bukan awalan yang bagus. Kalian tahu kan, kejadian ini masih terlalu dini?


Seharusnya kejadian ini ditunda dulu, hingga chapter selanjutnya.


Arrgh, sudahlah, aku bingung memikirkannya. Jadi, lakukan saja!


Karena jika tidak ku lakukan, bisa-bisa hancur sudah keseharian masa sekolahku.


Aku tidak mau itu terjadi.


Tapi sebelum itu, aku harus kembali memastikannya.


"A-Apa kau yakin, Fia ?"


"Tentu."


Fia dengan entengnya menjawab pertanyaan yang sangat sulit menurutku.


Aku rasa dia serius akan hal ini. Tapi ...


... Ah, masa bodo! tidak usah berfikir panjang, mungkin tidak ada cara lain. Aku harus melakukannya, apapun itu syaratnya.


"Baiklah !"


Aku mengiyakan syarat Fia.


Aku melihat situasi sekitar, melirik ke depan dan belakang. Aku lihat, Gang yang kami lalui ini nampak sepi, mungkin karena sempitnya Gang.


Huft, oke. Aku rasa lampu hijau telah menyala.


Mumpung Gang masih sepi, aku harus cepat-cepat melakukannya.


Sekarang, aku melangkah, menghampirinya, perlahan-lahan.


Langkah pertama, raut mukanya nampak biasa-biasa saja.


Langkah kedua, aku lihat mukanya mulai memerah. Apa dia sedang tidak enak badan?


Langkah terakhir, aku merasa heran, kenapa dia menundukkan wajahnya?


Oh iya, dia benar, aku baru faham. Aku rasa dia sudah memberikan kode, untuk mempersilahkan rambutnya dielus lembut.


Kini badan kami saling berhadapan, cukup dekat sekali, dan karena tubuhnya sedikit lebih pendek dariku, aku bisa mencium wangi shampo yang dia pakai hari ini.


Aku mengangkat tangan kananku, menggapai rambut hitamnya yang indah, lalu mengelusnya dengan lembut.


"Be-Begini?"


Ah, sial. Kenapa bicaraku jadi tidak lancar sekarang?


Ayolah Rei, Bukankah Fia hanya teman sekelasmu?!


"I-Iyah. Teruskan seperti ini dulu."


Sementara itu, rambut Fia terasa halus sekali pada telapak tanganku, juga terasa nyaman, bagaikan tanganku diselimuti oleh kain sutra.


Tidak aku sangka, rambut seorang wanita ternyata selembut ini. Tanganku kini malah jadi bergerak sendiri.


Aku merasakan kedamaian, hanya dengan mengelus rambutnya.


"...."


Eh, tunggu, kenapa aku yang malah keenakan? Cukup Rei, cukup! Wangi shamponya malah semakin jelas terasa.


Aku harus menghentikannya.


"Ah, sudah yah, syaratnya kan sudah terpenuhi."


Aku takut orang lain melihatku melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


Tapi sebenarnya ada hal lain yang lebih aku takutkan, yaitu takut tidak bisa mengendalikan diriku sendri.


"Jadi, nanti jangan bilang-bilang yah."


Aku menjauhkan tangan kananku dari rambutnya.


Kali ini aku merasa beruntung bisa melakukan hal seperti itu. Karna sebelumnya aku merasa takut dan ragu, tentang apa yang akan terjadi nanti jika tidak bisa melaksanakan syaratnya.


"Baiklah. Yuk kita jalan lagi!"


Aku kembali melangkah.


"Eh, tunggu dulu, ada satu lagi yang belum dilakuin."


Fia memegangi tanganku, berusaha menghentikan langkahku.


"Apa lagi?"


Aku bingung, bukankah syaratnya sudah terpenuhi? Memangnya apa yang belum?


"Me-melakukan salam kucing seperti yang kau lakukan tadi."


Fia menempelkan jari telunjuk ke hidungnya, mengetuk-ngetuknya, dengan kepalanya menunduk, menatap ke tanah.


"...."


Eh? Apa? Apa Maksud dia aku harus menempelkan hidungku ke hidungnya?


Tunggu, tunggu, tunggu. Apa-apaan ini? Ayolah, ini masih terlalu dini.


"Apa kau yakin, Fia?"


Aku memastikan, berharap perkataannya tadi hanya candaan saja.


"Tentu!" 


Aah, sial! Syarat ini terlalu susah. Bagaimana jika ada orang yang melihat kami melakukan hal seperti itu.


Tapi jika tidak aku lakukan, hancur sudah masa sekolahku.


Ayo Rei, berfikir ... berfikir ... berfikir ....


"...."


Ah! Aku tidak bisa berfikir sekarang.


Ini demi menjaga reputasi. Aku akan, ah bukan! Aku harus melakukannya.


Aku kembali melirik ke depan dan belakang, memastikan agar Gang ini benar-benar sepi.


Dan iyah, memang Gang ini sepertinya selalu sepi, aku rasa begitu. Karena dari tadi kami berada dalam Gang ini, tidak ada orang lain yang berlalu lalang.


Setelah yakin bahwa Gang ini terbukti sepi, aku kembali mendekatinya. Kali ini, aku harus sedikit membungkukkan badan, agar wajah kami berpapasan.


Aku terus-terusan memastikannya ... sambil kedua tanganku memegangi lengannya yang ramping dengan lembut.


"I-Iyah, te-tentu."


Apa dia grogi? Maksudku ... kali ini dia menjawabnya dengan sedikit terbata-bata, tidak seperti yang tadi.


"Baiklah."


Sejenak, aku kumpulkan tekad yang tinggi. Karna aku harus mendekatkan wajahku ke wajahnya.


"Okay, I am Ready!"


Aku sudah merasa siap.


Tanganku yang masih memegangi lengannya dengan lembut, kini agak sedikit kuat karna gugup. Aku harap ini tidak menyakitinya.


Aku mulai mendekatkan wajahku. Ketika mata kami berpapasan, dia malah menjauhkan pandangannya dari mataku.


Aku tidak peduli kenapa dia seperti itu, yang penting aku harus menyelesaikan syaratnya.


Aku mencoba mendekatkan hidungku pelan-pelan.


Jarak 50 cm, Fia masih bersikap biasa, yang kadang matanya sesekali kembali menatapku.


Jarak 30 cm, Fia kembali menjauhkan pandangannya, dengan sedikit menjauhkan wajahnya ke arah kanan.


Jarak 20 cm, Fia sekarang menutup matanya.


Jarak 15 cm, aku dengan jelas mendengar napasnya yang mulai agak cepat.


Jarak 10 cm, aku menutup mata, dan terus mendekatkan hidungku ke hidungnya.


Kurasa aku akan berhasil melakukannya.


Aku harap tidak ada yang melihat kami. Karena jika orang lain melihat kami, matilah aku!


Karna sekarang, aku terlihat seperti akan menciumnya, tepatnya terlihat seperti akan mencium bibirnya.


Aku semakin mendekatinya, dan akhirnya ....


Teet-Teet-Teet!


"Aww!"


Aku merasa kesakitan pada area dada.


Apa Fia mendorongku tadi?

__ADS_1


Aku kembali membuka mata.


"Rei, ayo kita pergi!"


"Alarm jam tanganku sudah berbunyi!"


"Sekarang sudah jam 7 tepat."


"Kita benar-benar terlambat sekarang." 


Fia memasang wajah khawatir sekarang.


Ah sial, aku melupakan hal penting, yaitu Upacara Sekolah.


Upacara Sekolah, maafkan kami, sepertinya kami akan terlambat.


"Sini tasnya Fia, kita lari saja."


Aku mengulurkan tangan.


"Eh, tapi kan kamu juga membawa tas?"


"Bukannya Tasmu terlihat berat?" 


Dia bertanya, sambil menunjuk tasku.


Iyah memang, dia benar, tas ini terasa cukup berat. Aku memasukkan sepatu khusus lari, baju olahraga, handuk kecil, bekal dan buku-buku pelajaran ke dalam tas punggung berwarna hitamku.


Disamping tasnya, aku masukkan juga dengan sebotol air mineral yang aku bawa dari rumah.


Meskipun terasa berat, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau dia merasakan sakit karena berlari sambil menggunakan tas.


Aku yakin tas dia juga isinya sepertiku, karna kita sama-sama dari Klub Atletik.


"Sini, nggak apa-apa."


"Aku yang bawa."


Aku mengambil tasnya.


"Ah, kalau begitu terima kasih Rei."


Fia berterima kasih, sambil tersenyum.


Tunggu, aku sudah mengambil tasnya, dan aku bingung. Bagaimana aku membawanya? Hahaha, Bodohnya aku.


Aku berfikir sejenak, memikirkan bagaimana cara membawa kedua tas ini.


"Rei, Ayo! Katanya lari?!"


Fia membuyarkan lamunanku.


Hmm, baiklah, akan aku bawa saja seperti aku sedang membawa tas kantoran. Aku harap tas ini tidak rusak.


Aku memegangi tas pada bagian atasnya, semoga jahitannya kuat ketika aku bawa sambil berlari.


"Hayuk, lari!"


"Yuk!"


Karena kita berdua anggota Klub Atletik, aku yakin bisa cepat sampai ke sekolah.


Jarak yang ditempuh sekitar 300-an meter lagi. Kami sudah biasa dengan jarak ini, bahkan lebih.


Kami menuju sekolah dengan berlari sekarang.


***


Tidak lama kemudian, akhirnya kami berdua sampai di depan gerbang. Dan tentu saja, kami datang dengan terlambat dan mungkin akan mendapat hukuman.


"Kalian terlambat!!"


"Silahkan kalian ikut ke lapangan, dan kumpul dibagian belakang barisan!!"


Pak Satpam setengah berteriak, ketika kami baru saja tiba.


Baiklah, namanya juga terlambat. Paling juga aku dapat hukuman.


"Ini Fia ... tas mu."


"Maaf jika ada ... kerusakan pada tasmu,"


Aku cukup merasa lelah, dengan nafasku yang kini tersengal-sengal.


"Ah iyah ... nggak apa-apa ... terima kasih."


"Yuk, kita kumpul ... di belakang barisan." 


"Yuk!"


Aku mengangguk, sambil memperhatikan wajahnya Fia, yang basah karena keringat.


Disamping itu, entah kenapa aku tertarik dengan wajahnya yang seperti itu, terlihat sangat natural sekali, tanpa polesan bedak yang menutupi wajahnya.


Lalu kami berdua menuju barisan paling belakang.


Aku lihat, pada barisan belakang, ada seorang wanita berkacamata, dengan gaya rambut kepang prancis, yang di letakkan ke arah depan, sedang berdiri membelakangi punggung para siswa-siswi yang sedang mengikuti upacara.


Wanita itu adalah Indri Fauziyah, Ketua OSIS di sekolahan ini.


"Hey kalian, ayo baris disini!" 

__ADS_1


Indri Fauziyah, sang Ketua OSIS, berteriak kepada kami berdua.


Jadi, kami berdua masuk ke barisan belakang, menunduk dengan membawa rasa pasrah, menunggu hukuman yang akan kami terima nanti.


__ADS_2