
Diary: Indri Fauziyah
Senin, 24 Juli 2017
BALAS DENDAM
***
"Kalian telitilah, catat atau amati tanggal di atas!"
"Yang paling penting, perhatikan! Diary milik siapa, yang sedang kalian baca!"
"Kalimat pembuka seperti ini, hanya untuk 'karakter baru' yang hadir di dalam Diary. Jika sudah pernah muncul, maka tidak ada."
"Kecuali kalau dia itu pelupa!"
Sebelum pertama kali mulai menulis ke dalam Diary ini, aku harus menuliskan kata tersebut, atas suruhan Rosid Firmansyah, adik kelasku (ketika aku mendapatkan bindernya, lalu bertukar pesan). Iyah meskipun, aku tambahkan sedikit kalimat disana, tapi tidak merubah intinya.
Menurutnya, hal ini untuk membantu pembaca dalam memahami cerita, dan juga berguna untuk mendalami karakter.
Oh iyah, aku meminta maaf jika aku baru bisa menuliskannya hari ini. Padahal, aku mendapatkan Binder ini pada hari sabtu, 22 juli 2017.
Baiklah, itu saja pesan yang dititipkan Rosid Firmansyah kepadaku. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri.
Namaku Indri Fauziyah, usia 17 tahun, kelas 12 IPA di SMA desa Susukan yang berjarak 2,1 Kilometer dari rumah orang tua. Di sekolahan ini, aku menjabat sebagai Ketua OSIS.
Aku tinggal di desa Pontang, bersama kedua orang tua dan kakak perempuanku yang sudah bekerja.
Oh iya, karena sudah menginjak kelas 12, maka aku akan melepaskan jabatan dari Ketua OSIS dalam beberapa minggu kedepan.
Kalian pasti tahu, kan? Seperti apa sibuknya murid kelas 12 dalam mempersiapkan ulangan, ujian, dan sebagainya.
Jadi ... sebelum selesai jabatanku, aku harus melakukan yang terbaik bagi SMA desa Susukan.
***
Kring-Kring!
Suara alarm yang mengganggu, membangunkanku.
Aku membuka mata, meraih Handphone yang ada di samping bantal putih milikku, lalu mematikan Alarm yang terus berbunyi dengan nyaringnya.
Pada layar Handphone yang terasa menyilaukan, aku lihat ke bagian kanan atas layar, ternyata menunjukkan angka 05.05. Lebih tepatnya, sekarang sudah jam 05.05.
Tapi, apa ini? Aku lihat pada bagian kiri atas layar, ada logo 'Telepon berwarna hijau' yang terpampang.
Ah, ternyata aku mendapatkan pesan WhatsApp.
Lalu, aku mengeceknya dan ternyata itu adalah pesan dari salah satu anggota Komite (Seksi) Kedisiplinan, yang berisi:
"Maaf kak, aku tidak bisa bertugas hari ini. Aku sedang sakit."
Aku membalasnya secara singkat. "Baiklah, kamu istirahat saja. Semoga cepat sembuh!"
Dengan masuknya 'Pesan' dari anggota Komite Disiplin yang mengatakan bahwa dia tidak bisa masuk hari ini, itu menandakan bahwa hari ini aku harus kerja lebih keras.
Kalian tahu alasannya kenapa aku berkata seperti itu?
Baiklah, akan aku jelaskan.
Pertama, hari ini adalah hari senin, dimana upacara sekolah diadakan. Dan kebetulan, ternyata ada salah satu anggota Komite Disiplin tidak bisa bersekolah karena sakit.
Kedua, upacara kali ini giliran kelas 11 IPS, yang mana 2 orang Komite Disiplin sisanya berasal dari kelas 11 IPS.
Otomatis, aku yang harus menggantikan tugasnya memeriksa kerapihan setiap siswa dan siswi.
Itu sudah menjadi tugasku, untuk menambal kekurangan mereka.
Kalian sudah mengerti, kan? Jadi, ayo kembali ke aktifitasku.
Aku berada di dapur sekarang.
Dapur rumahku ukurannya tidak terlalu besar, mungkin hanya muat 2 hingga 3 orang saja jika memasak bersamaan.
Peralatannya pun tidak lengkap, hanya beberapa alat masak yang penting-penting saja.
Tapi dari semua itu, yang penting aku bisa bangun pagi-pagi sekali.
Karnanya, aku mendapatkan banyak waktu untuk menyiapkan sarapan sekeluarga, sebelum waktu berangkat ke sekolah.
"Baiklah, menu sarapan hari ini aku pilih Nasi Kepal dan Telur Dadar Gulung."
Aku mulai menyiapkan semua bahan yang aku butuhkan.
Tunggu dulu, selagi aku menyiapkan menu sarapan, bolehkah aku bercerita tentang seorang pria yang bisa mengubahku hingga sedisiplin ini?
Bangun pagi-pagi, hingga bisa menyiapkan menu sarapan untuk sekeluarga?
Baiklah, aku akan bercerita sedikit, selagi aku memasak.
Kejadian ini terjadi setahun lalu, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku kelas 11.
SMA desa Susukan, kelas 11 IPA:
Pada akhir bulan juni, dimana kegiatan belajar mengajar di semester baru sudah berjalan selama sebulan, pemilihan Ketua OSIS sebentar lagi akan diadakan, dan aku sengaja dicalonkan oleh temanku untuk menjadi kandidatnya.
Tapi ... apakah aku setuju? Hah! Tentu saja tidak!
Biar aku ceritakan.
Jujur saja, meskipun aku seorang wanita, tapi aku bertingkah layaknya seorang "Boss".
Iyah, aku sering sekali menyuruh-nyuruh teman pria sekelasku, bahkan adik kelasku.
"Hey, kamu, bersihin tuh papan tulis!"
"Uy, adik kelas, sini! Beliin aku minuman, ini uangnya!"
"Dia saja Bu, suruh dia saja kalau buat bersihin kantor!"
Mungkin seperti itulah ketika aku menyuruh teman dan adik kelasku, disertai nada yang sedikit tinggi, dan asal tunjuk sana-sini.
__ADS_1
Lalu ... apa kalian membenci wanita yang kelakuannya seperti itu? Ah, aku rasa aku sudah tahu jawabannya.
Tapi tenang ... itu hanya kenangan burukku yang sudah aku hilangkan.
Kali ini aku sudah berubah, semenjak bertemu dengan seorang pria penjaga Perpustakaan.
Pria itu mempunyai ciri kulit berwarna kuning langsat, dengan rambut hitamnya yang agak panjang kebelakang, bahkan kadang dia sampai mengikatnya menggunakan karet gelang, agar tidak terlalu menyusahkannya dalam beraktifitas.
Dia juga orang yang unik, karena dia mempunyai mata yang terlihat seperti ikan yang mati.
Biasanya mata itu dimiliki oleh orang yang 'Pemalas', aku benar, 'kan?
Tapi meskipun begitu, dia telah merubahku menjadi wanita yang 'agak' baik dari sebelumnya. Dan semua kejadian ini dimulai, sehari sebelum pemilihan Ketua OSIS diadakan.
Waktu itu, aku sedang di Perpustakaan, duduk paling belakang, tengah memikirkan masalah pemilihan Ketua OSIS.
Perpustakaan yang aku masukki ini ruangannya cukup luas, dengan penempatan posisi rak buku, lalu di belakangnya meja, rak buku, dan meja lagi secara lurus berurutan, sebanyak 2 baris.
Kemudian ada 3 rak buku lagi yang berada di tengah. Jika dihitung, total ada 7 rak buku dan 4 meja.
Aku rasakan ruangan perpustakan ini terasa nyaman sekali, karena sejuknya AC dan senyapnya suara. Sangat pas untukku yang menginginkan ketenangan untuk berfikir.
Aku terus memikirkan perihal masalah pencalonanku, dimana teman sekelasku sedang ramai dan semangatnya, dalam mencari dukungan, meskipun aku sudah menolak untuk dicalonkan sebagai Ketua OSIS.
"Bagaimana jika aku benar-benar menjadi Ketua OSIS?"
"Bukankah orang lain banyak yang membenci sifatku ini?"
"Ah! Aku pusing!"
Aku mengacak-acak rambutku, karena rasa frustasi yang aku terima.
Ingin sekali rasanya aku memukul meja ini dengan keras, sambil berteriak sekencang-kencangnya.
Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, karena sedang berada di Perpustakaan, dimana tertera poster 'Jangan berisik' di semua sudut.
Lalu, disaat rasa frustasi yang semakin menjengkelkan ini, tiba-tiba ada salah satu adik kelasku yang menghampiri mejaku, dan bertanya sambil memunguti kembali buku yang ternyata sedari tadi berserakan.
"Kakak kenapa?"
Aku rasa adik kelas yang menghampiriku sedang bertugas sebagai penjaga Perpustakan minggu ini.
Karena menurut peraturan sekolah, setiap 2 orang per kelas akan ditugaskan sebagai penjaga perpustakan.
Jadi seluruhnya berjumlah 6 orang, dan akan bergantian tiap minggunya.
"Mau aku ambilin buku 'Matematika'? Siapa tahu kakak pengen baca, atau mungkin pengen ngerjain."
Hey! Belum sempat aku balas, dia malah mengucapkan kata seperti itu.
Apa maksudnya? Apa kau tidak lihat, rambutku yang terlihat acak-acakan ini?
"Hey! kamu mengejekku yah?!"
Aku bertanya kepadanya, dengan menaikkan nada bicaraku.
"Tidak kok kak."
"Halah, bohong!"
"Lah? Bukannya kakak senang jika menyuruh orang, apalagi adik kelas sepertiku?"
"Padahal aku sudah menawarkan diri loh."
Tunggu, apa dia benar-benar mengejekku sekarang? Apa kamu tidak bisa melihatku yang sedang frustasi?
Memang aku seperti itu, tapi setidaknya jangan ejek aku di situasi seperti ini.
"Kam—"
"Cukup kak, kakak tidak usah marah."
"Kakak duduk yang tenang, kita curhat saja, oke?"
"Engga m—"
"Baiklah, kalau begitu, aku duduk nih yah. Kita saling curhat."
Entah apa yang merasuki adik kelasku ini, hingga dia berani-beraninya memotong ucapanku terus menerus.
Sekarang, dia mulai duduk, sambil menaruh buku yang baru saja dia kumpulkan ke atas meja.
Tunggu, aku lupa menjelaskan. Meja yang aku tempati ini total ada 6 kursi, dengan penempatan 3 kursi yang saling menghadap 3 kursi lainnya.
Aku duduk paling pojok, dan adik kelasku ini malah ... duduk tepat disampingku. Padahal kursi yang lain kosong, kenapa dia malah lebih memilih untuk duduk di sampingku?
"Kamu ini ngelunjak yah!"
"Bukannya yang lain kosong?"
Sumpah! Aku tidak mengerti dengan pola pikirnya.
"Sstt, diam kak. Aku sudah capek ngumpulin buku, masa iyah aku harus memilih tempat duduk yang jauh."
"Malas ah! Mending duduk disini."
Dengan entengnya, adik kelasku berucap demikian.
Tapi ... ada benarnya sih, karena matanya yang terlihat seperti ikan mati itu, mencerminkan seorang 'Pemalas', sesuai yang dia katakan.
"Baiklah. Terserah mau kamu gimana."
"Tapi yang paling penting ... apa yang kamu inginkan dariku?"
"Nggak kok kak. Cuman mau nanya aja, sambil curhat."
"Mau nanya apa emangnya kamu?"
"Kakak lagi pusing mikirin masalah Pencalonan Ketua OSIS yah?"
"I-Iyah."
Aku tidak bisa menyangkal omongan adik kelasku ini. Perasaan pusing, frustasi dan gelisah semua menjadi satu hanya karena masalah ini.
__ADS_1
Tapi yang aku herankan ... kenapa dia bisa tahu? Ah, Lebih baik aku tanyakan saja.
"Kok ka-kamu bisa tahu?"
"Kakak duduk tenang, dengarkan ceritaku, dan fokus!"
"Nanti kakak faham sendiri."
Aku mengangguk, menyetujuinya. Lalu dia mulai bercerita.
"Kakak tahu enggak? Kenapa teman sekelas kakak, terutama yang pria bisa semangatnya dalam mencari dukungan?"
"Itu semua terjadi karena sifat kakak yang suka asal suruh sana-sini."
"Apa tujuan mereka selain mencari kemenangan?"
"Sudah pasti mereka ingin membuat kakak frustasi dengan sifat kakak yang seperti itu."
"Bayangkan saja jika kakak menang, pasti kakak sebelum menyuruh anggota akan berfikir terlebih dahulu."
"Misalnya, 'Apakah aku harus menyuruh dia seperti ini? Ataukah jika aku suruh begitu, apakah nanti dia akan membenci sifatku? Atau lebih baik aku saja yang melakukannya sendiri?' yang mana intinya kakak tidak akan bisa fokus dan selalu dihantui dengan rasa salah dan penyesalan."
"Aku juga sempat melihat mereka yang sedang mencari dukungan buat kakak menggunakan ancaman dan sedikit kekerasan, terutama kepada adik kelas, yang mana mudah dihasut."
"Hal itu dilakukan agar kakak benar-benar bisa terpilih menjadi Ketua OSIS."
Aku mulai menitikkan air mata, mendengarnya bercerita seperti itu.
Apa yang dia katakan tentangku semuanya memang benar.
Pipiku mulai basah oleh air mata. Aku menyekanya, tapi tetap saja, terus mengalir dengan derasnya.
Cukup! Aku tidak kuat!
Aku mulai mengerti alasannya. Aku merasa jika teman sekelasku sedang merencanakan 'Balas Dendam' yang sangat menyakitkan untukku.
Wajar saja jika aku menerima semua itu. Tapi ... apa yang harus aku lakukan untuk merubah semua ini?
Aku menyeka kembali air mataku, sambil terus mendengarnya bercerita.
"Kakak mau tahu, bagaimana cara memperbaikinya ?"
Aku bergetar mengangguk.
"Kakak harus berubah, dan ikuti caraku."
"Yang pertama, kakak harus berhenti nangis dulu. Aku tidak kuat dan tidak tega, melihat perempuan yang sedang menangis."
Aku mencoba melakukan apa yang dia perintahkan.
Aku menunduk, sambil menggigit bibir keras-keras, berusaha menahan air mataku agar tidak tumpah.
Lalu, aku merasakan tangannya mulai membelai rambutku yang masih acak-acakan itu.
"Yang kedua, kakak harus ubah penampilan. Rambut kakak jangan dibiarkan lurus dan terurai seperti ini. Mending ganti gaya rambut. Sama satu juga, pake kacamata."
"Dan yang ketiga, sifat kakak yang asal suruh itu buang saja jauh-jauh. Kalau kakak merasa bingung, tanyakan ke anggota OSIS nanti, pake sistem Musyawarah, jangan asal ceplas-ceplos."
"Untuk terakhir, kakak sering lupa untuk bilang terima kasih."
"Hei, tunggu, buktinya apa jika aku sering lupa untuk bilang terima kasih?"
Aku kali ini menyangkalnya. Tapi, dia langsung menjelaskannya tanpa berfikir panjang, dan terdengar seperti amarah.
"Inget nggak, adik kelas yang disuruh beli minuman sama kakak? Itu aku loh kak!"
"Setelah aku turutin permintaan kakak, kakak malah pergi begitu saja, tanpa mengucapkan terima kasih!"
"Kakak kelas macam apa itu!"
"Jujur saja, aku malas melakukan hal bodoh seperti itu. Tapi, jika bukan karena kakak kelas, aku sudah pasti tidak mau melakukannya."
Aku yang berhasil menahan tangis dan sudah agak tenang, kini malah mengucurkan kembali air mata yang sempat aku tahan.
Aku semakin terisak semakin dalam. Jika mengingat betapa bodoh dan jahatnya aku.
Aku harus berubah, demi masa depanku dan masa depan sekolah SMA desa Susukan, agar lebih baik.
"Ah ... kakak malah nangis lagi, padahal sudah aku bilang untuk berhenti."
"Aku tinggal sajalah kalau begitu!"
Adik kelasku kini bangun, dan meninggalkanku sambil membawa buku yang sempat dia letakkan.
Tunggu dulu, kenapa dia meninggalkanku? Apa aku terlihat jelek ketika menangis?
Tapi yang terpenting, aku harus tahu siapa namanya.
"Hey, kamu, adik kelasku. Siapa namamu?"
"Beni. Namaku Beni Wahyudi."
"Sudah yah, aku sedang sibuk sekarang."
***
Keesokannya, aku benar-benar terpilih menjadi Ketua OSIS.
Tapi, orang-orang tidak percaya bahwa aku, Indri Fauziyah yang terpilih.
"Hey, apa dia benar Indri Fauziyah? Kok beda jauh?"
"Apa ada siswi berkacamata yang bergaya rambut kepang prancis?"
"Bukannya kemarin dia terlihat seperti orang gila, yang rambutnya acak-acakan?"
Seperti itulah desas-desus yang sempat aku dengarkan.
Wajar saja jika mereka kebingungan, karena aku sudah merubah penampilan, sesuai permintaan Beni Wahyudi, si pria penjaga Perpustakaan.
Selain itu, aku merasa seperti ada yang kurang. Aku tidak melihat teman pria sekelasku di lapangan. Paling hanya beberapa orang saja.
Aku berlari menuju kantor, dan bertanya kepada guruku. "Dimana semua teman sekelasku yang tidak hadir hari ini Bu?"
__ADS_1
Aku terkejut, ketika mendengar jawabannya. Beliau bilang, "Hari ini, mereka baru saja pindah sekolah."