Tersimpan Dalam Kenangan

Tersimpan Dalam Kenangan
V2Ch6 - Beni: Kenapa Ibuku Malah Seperti Itu?


__ADS_3

Diary: Beni Wahyudi


Selasa, 1 Agustus 2017


KENAPA IBUKU MALAH SEPERTI ITU?


***


"Permisi!"


Aku mengetuk pintu, berniat bertamu ke Rumah Rei, bersama Kak Indri yang berada di belakangku.


Sebelumnya, Kak Indri memintaku untuk menemaninya bertamu ke Rumah Rei dan Syila.


Di tengah jalan, aku dan dia sempat mengobrol beberapa kata.


Yang pada intinya, dia sedang merasa kurang percaya diri untuk mendapatkan beasiswa, dikarenakan Fia kemarin terjatuh dan mendapatkan cedera.


Bagiku itu hal yang wajar, karena Fia sering memenangkan Lombanya ketika masih kelas 10 dulu.


Dan untuk mengembalikan rasa semangatnya, aku berkata kepadanya bahwa aku siap melakukan apapun, jika Sekolahan ini berhasil menjadi juara umum.


Tapi dia malah minta berkencan denganku, jika berhasil membuat Sekolah juara umum.


Aku sempat terkejut dengan permintaannya, tapi karena aku tidak bisa menarik ucapanku kembali, tentu saja aku menyetujuinya.


Eng ... sampai mana aku tadi?


Oh iya, aku sekarang sudah sampai di Rumah Rei.


Setelah aku mengetuk pintu rumahnya Rei, tidak menunggu lama lagi, pintu pun terbuka.


"Beni?"


Ternyata yang membuka pintunya adalah Rei sendiri.


Tapi ... kenapa pipinya ditutupi perban?


"Rei? Kamu kenapa?"


Kak Indri sepertinya terkejut dengan keadaan Rei.


"Enggak apa-apa, Kak. Ngomong-ngomong, kalian ada perlu apa? Sampai repot-repot menemuiku?"


"Yuk, kita duduk aja dulu!"


Aku yang sudah merasa lelah, ingin langsung masuk ke rumahnya. Tapi Kak Indri langsung menjawabnya, sebelum kami sempat masuk.


"Kenapa kamu tidak pergi sekolah hari ini?"


"Aku khawatir denganmu Rei, dan juga dengan Syila."


"Kalau begitu, kita ke sana saja. Aku dan Syila adalah tetangga."


Aku dan Indri mengangguk, setuju dengan saran Rei.


Kami sekarang menuju rumah Syila, yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.


Tapi tunggu dulu, bukannya rumah ini dulunya adalah sebuah kontrakan?


Rumah yang lumayan besar, dengan desain seperti rumah komplek seperti kebanyakan.


"Permisi!"


Rei mengetuk pintunya dengan hati-hati.


"Eh, Rei? Ada apa?"


"Syila ada, Tante? Temanku ada perlu dengan Syila dan juga denganku."


"Oh, sini masuk dulu, duduk di sofa. Nanti Tante yang panggilin Syila."


Yang dipanggil Tante oleh Rei itu sepertinya Ibunya Syila. Beliau mempersilahkan kami semua masuk.


Kami bertiga kemudian duduk di sofa, menunggu kedatangan Syila.


"Silahkan duduk."


"Eh, iyah Tante."


"Terima kasih, Bu."


"Iyah Ibu, terima kasih."


Aku memanggilnya Bu agar lebih sopan didengar. Bahkan, Kak Indri juga sama denganku.


Tapi, Ibu itu menolaknya.


"Enggak usah manggil Ibu. Panggil saja Tante 'yah, Nak."


"Eh, iyah Tante."


Jadi, sekarang aku harus memanggilnya Tante, karena beliau sendiri yang menginginkannya.

__ADS_1


Lalu, aku duduk di sofa panjang dengan di sampingku ada Kak Indri, dan Rei duduk di depanku.


"Aah ...."


Karena aku sudah merasa lelah, aku menyenderkan punggungku pada sofa yang terasa lembut.


"Kamu sudah lelah, 'yah? Memangnya level kemalasanmu sudah sejauh apa?"


Sialan! Kak Indri malah mengejekku.


Tapi di samping itu, Syila datang dan duduk di samping Rei.


Aku merasa seperti ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Maksudku ... kenapa mereka berdua malah duduk berjauhan dan saling membuang muka?


Hei, hei, hei. Ada apa dengan kalian?


"A-Anu ... kenapa kalian duduk saling berjauhan?"


Sambil mengangkat tangan, Kak Indri bertanya seperti itu.


Tapi ... Tante datang sambil membawa minuman yang terlihat seperti jus jeruk dan ikut mencampuri obrolan kami.


"Kalian tidak tahu? Oh iya, kalau begitu biar Tante beritahu saja."


Setelah semua minuman sudah berada di atas meja, Tante mulai bercerita.


"Kemarin, Syila yang menyembuhkan luka di pipinya Rei. Syila bahkan menggunakan obat khusus, loh. Obat khususnya itu ialah dengan menci—"


Belum selesai Tante itu bercerita, Syila dan Rei malah tiba-tiba berteriak dan memotong ceritanya.


"Ibu!"


"Tante!"


Kenapa mereka berteriak? Bahkan Syila sampai berdiri.


"Cukup Bu, jangan ceritakan hal memalukan seperti itu."


"Tapi 'kan ... kalian senang akibat kejadian kemarin?"


Kemudian, Syila dan Rei menundukkan wajahnya masing-masing.


Hei, hei, hei. Aku benar-benar curiga sekarang. Memangnya, kemarin mereka melakukan apa?


Apakah maksud perkataan Tante yang terpotong tadi ialah 'menciumnya'?


Sialan! Jika itu benar, aku telah salah ikut ke sini. Kenapa Rei selalu beruntung dibanding aku?!


Sebelumnya dia sempat melakukan hal aneh dengan Fia. Tapi sekarang malah dengan Syila.


"A-Anu, Bu ... kalau masalah pribadi, enggak usah dilanjut. Kita nggak masalah, Kok."


"Iyah 'kan, Ben?"


Aku mengangguk, menyetujuinya.


"Ah, maaf Fia, Ibu salah. Kalau begitu, Ibu pergi dulu."


Tante meninggalkan kami, kemudian Syila dan Rei kembali duduk.


Tapi ... kenapa mereka masih duduk saling berjauhan seperti itu?


Sudahlah, aku tidak perduli. Lebih baik aku minum jus jeruknya.


"Kamu kenapa tidak pergi sekolah, Rei?"


Selagi aku minum jus jeruk, Kak Indri langsung melontarkan pertayaan.


"A-Aku malu, jika pergi sekolah dengan pipi yang ditutup perban."


Aku rasa itu jawaban yang kurang masuk akal.


"Kalau kamu, Syila? Kenapa tidak pergi sekolah?"


"Eng-enggak apa-apa kok, Kak. Besok juga aku akan kembali pergi bersekolah."


Apa-apaan dengan jawaban itu. Aku sekarang semakin yakin, dengan rasa curigaku terhadap mereka berdua.


"Jawaban kalian terlalu aneh bagiku. Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan kemarin. Yang jelas, besok kalian harus kembali bersekolah, jangan sia-siakan sisa waktu latihan kalian."


Aku setuju dengan respon Kak Indri atas jawaban mereka berdua tadi.


"Kalau begitu, besok kalian harus kembali pergi bersekolah, 'yah!"


Mereka berdua merespon dengan anggukan pelan.


"Apa Kakak puas dengan jawaban mereka berdua?"


Aku harap dia menjawab pertanyaanku dengan ucapan puas. Karena aku sudah tidak kuat, dan ingin pulang ke rumah sendiri.


"Baiklah, itu sudah cukup kok, Ben."


"Jadi, aku tunggu kalian besok, 'yah!"

__ADS_1


Mereka berdua kembali merespon dengan anggukan.


"Kalau begitu, ayo kita pulang, Kak."


"Yuk!"


Kami berdua berpamitan dan berjalan pulang.


Aku lihat, wajah Kak Indri sepertinya sedikit lega, dengan senyuman terpasang di wajahnya.


***


Karena rumahku tidak jauh dengan rumah Rei, akhirnya aku sudah sampai.


"Kak, ini rumahku. Mau mampir?


"Me-memangnya boleh, Ben?"


Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba pintu rumahku terbuka dan ada seorang wanita yang keluar.


Ternyata, yang keluar dari rumahku itu adalah Ibuku.


Tapi ... kenapa Ibu sudah pulang? Bukannya setiap dua bulan sekali Orang Tuaku pulang dari pekerjaannya?


"Beni? Dia siapa? Pacarmu?"


Hah? Ibu bilang pacar? Apa aku tidak salah dengar?


Mana mungkin orang sepertiku punya pacar.


"Halo Bu. Namaku Indri, aku Ketua OSIS dan Beni adalah adik kelasku."


Kak Indri malah menjawabnya disertai membungkukkan badan, agar terlihat sopan.


"Wah, Ibu tidak percaya denganmu, Ben. Kamu ternyata punya pacar seorang Ketua OSIS."


Aku tidak mengerti dengan pola fikir Ibuku. Memangnya aku terlihat cocok dengannya?


"Bukan Bu! Dia bukan pacarku!"


Tanpa memperdulikanku, Ibu malah mendekat, dan mengajak berbicara dengan Kak Indri.


"Ibu minta maaf, Dek Indri. Jika anakku kadang malas melakukan sesuatu ketika mendapat tugas darimu."


"Kok Ibu tahu?"


"Hei!"


Kenapa Kak Indri malah menyutujui perkataan Ibuku? Setidaknya tolong sangkal perkataannya dan bicara yang baik-baik tentangku.


"Ibu jelas tahu, karena Beni adalah anakku."


"Kalian sudah berapa lama pacaran?"


"Sudah aku bilang, Bu! Aku tidak pacaran dengannya!"


"Apakah itu benar, Indri?"


Tcih! Kenapa Ibuku terlihat tidak percaya dengan perkataan anaknya sendiri?


Ibu malah balik bertanya ke Indri.


"Beni benar, Bu. Kami tidak pacaran."


"Oh, jadi begitu ...."


Lihat, Ibuku lebih percaya dengan Indri dibanding anaknya sendiri.


"... Kalau begitu, kapan kalian akan pacaran?"


Hei? Kenapa Ibu malah bertanya seperti itu? Mana mau Kak Indri pacaran denganku.


"Me-Memangnya Ibu mendukung jika kami pacaran?"


Tcih! Dasar Ketua OSIS sialan! Dia malah balik bertanya seperti itu.


"Tentu saja, Ibu pasti setuju!"


Kak Indri menatapku, sambil tersenyum kepadaku.


Ah! Senyum sialan itu, terlihat seperti mengejekku.


"Maaf Bu, aku harus pulang sekarang. Beni sepertinya terlihat kesal karenaku."


"Kalau begitu, aku pamit."


Syukurlah, dia pergi. Kak Indri meninggalkan kami, dan jalan seorang diri.


"Hei, Beni. Sana temani Dek Indri, ini sudah sore. Apa kamu tidak merasa khawatir dengan keadaannya?"


"Tapi Bu, aku sudah le—"


"Sudah, antar saja cepat!"

__ADS_1


Akhirnya, aku mengalah dengan Ibu dan terpaksa mengantar Kak Indri, sampai jalan raya.


__ADS_2