
"orang itu menakutkan,Res, " bisik Titania." Aura pria botak itu benar-benar mengerikan. seumur hidupku aku belum pernah melihat aura segala itu," dosisnya lagi.
si kembar sudah berada di kamar yang akan mereka tempati selama mereka tinggal di sini. di lantai yang sama dengan Miss Young. kamar tiga dari kamar Miss young.
gambar itu lebih luas dibanding kamar mereka di Panti Asuhan ruang itu ada dua tempat tidur single yang berseberangan . di bagian tengah, memisahkan kedua tempat tidur terdapat 2 buah meja tulis yang diletakkan sejajar. menghadap ke arah tempat tidur, masing-masing ada sebuah lemari berdaun dua. lebih besar dibanding di Panti Asuhan dan mereka sudah selesai membereskan barang bawaan mereka yang tidak seberapa.
" Sejak kapan kau bisa melihat aura? "
Titania menarik nafas panjang sampai menutup matanya. menahan emosi yang tiba-tiba muncul. Antares memang kembaran terbaik yang memiliki sekarang sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. tapi keistimewaannya sering membuat hampir selalu membuat kesabarannya habis.
" jangan bercanda! kok tahu kalau yang ku masuk bukan demikian, kan? "garam gadis itu. m elotot kesal kembarannya.
Anthares terbawa menatap wajah marah Kakak kembarnya. namun hanya sebentar, karena ia kemudian melangkah menyebrang, mendekati Kakak perempuannya yang duduk di atas tempat tidur kecil. tangannya membuka lalu memeluk erat tubuh mungil Titania.
" Jangan ngambek Aku hanya tidak ingin melihatmu terlalu gemetar hujannya sambil melepas pelukannya lalu duduk dapat di sisi tatania. lagipula, apalagi yang akan membuat kita takut? kita sudah mengalami banyak hal tidak seharusnya dialami Anak seumuran kita bukan? Dan Kita bisa bertahan, "tutur Antares. kali ini sambil merangkul pundak gerak kakaknya. " sekarang yang terpenting adalah bertahan hidup sampai mampu berdiri sendiri titik seperti kata kakak minnie. karena kita masih punya janji yang harus kita tepati. "
" Kurasa kau benar, " jawab Titania.
Tok tok tok!
__ADS_1
ketukan di pintu menghentikan percakapan mereka. secara serempak keduanya menoleh ke arah pintu dan mempersilahkan masuk, walau mereka sebenarnya tak ingin
pintu kamar mereka terbuka, menampilkan sekolah yang bertubuh seksi, miss young yang mendorong kereta berisikan menambah makanan.
" halo anak-anak. aku menganggap kalian mungkin masih lelah, jadi Kubawakan makanan malam kalian di sini," miss young melangkah ringan.
mendorong trolly makanannya ke arah Tengah. tangannya dengan sigap memindahkan kedua nampan yang berisi penuh makanan.
" kalian terlalu kurus, Jadi kalian harus makan banyak, Katanya lagi, menyadari tatapan takjub dua anak kembar yang menatap porsi makanan diatas nampan. "
Dan ini, katanya lagi sambil meletakkan dua buah gelas susu di dekat nampan. setelah makan narkoma kalian harus menghabiskan susu kalian titik kalian akan membutuhkannya kalau ingin tumbuh, tuturnya, , tersenyum tipis tanpa diketahui oleh si kembar. Titania terbangun di sebuah ruang ganti Dominasi warna putih . mata bulatnya menatap nanar sekelilingnya. tepat di bagian atas kepalanya terdapat lampu yang seperti cermin. memantulkan dirinya yang menggunakan daun terusan berwarna putih tipis terikat dari tak di atas meja dingin di bagian Sisi kanannya, terdapat sebuah meja dari bahan yang sama. di atasnya terdapat beberapa benda yang biasanya digunakan untuk operasi
Ares!? desisnya serak. baru tersadar ternyata tenggorokannya sangat kering titik Sudah berapa lama ia disana,pikirnya. mengingat seberapa kering tenggorokannya titik Iya masih terlarut dengan pikirannya ketika suara teriakan anak laki-laki yang sangat ia kenal terdengar. membuat dirinya semakin panik dan berusaha melepas ikatan di tubuhnya mencari cara agar bisa menemui adiknya yang terus berteriak kesakitan .
tidak peduli apa luka yang disebabkan oleh geseran ikatan kulit di tubuhnya karena memaksa untuk lepas. yang terpenting baginya adalah menemukan adiknya. sambil berteriak berharap adiknya mendengar teriakannya agar tidak merasa sendirian. apapun yang sedang terjadi padanya.
di ruangan lainnya,Anthares yang lebih dulu tersadar dari kakaknya, melakukan hal yang sama seperti Titania. matanya menyala berusaha sejauh mungkin melihat ruangannya karena kepalanya diikat sehingga ia tidak bebas bergerak .
Seperti Titania juga, ketika kesadaran sudah sepenuhnya Iya dapatkan, satu-satunya orang yang ia pikirkan adalah kakaknya satu-satunya keluarganya yang tertinggal. namun berbeda dengan Titania, sebagai ia sempat merontak, pintu ruangan yang tepatnya berada terbua . menampilkan sosok lelaki berwajah kodok yang tidak lain tidak bukan adalah Ayah angkat mereka titik di belakangnya, mengikuti si lelaki kemakgama berdiri dua orang lainnya yang menggunakan baju berwarna hijau khas seragam operasi.
__ADS_1
Anthares panik ketakutan. Iya semakin berusaha melepaskan diri namun tidak berhasil. baliknya yang hitam menatap penuh permusuhan pada lelaki yang telah mengadopsi mereka titik seperti seekor tikus yang berusaha bersikap berani di depan seekor kucing .
" Tidurmu nyenyak?" tanyanya basi-basi. sementara tangannya menyiapkan cairan suntik sambil memperhatikan dosisnya. dan saat lelaki berwajah kode itu bekerja, dua orang lainnya sibuk mematangkan kabel-kabel yang disambungkan ke monitor untuk memeriksa denyut jantung hingga otak Anthares.
Anak lelaki itu tidak sempat berbicara apapun untuk mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya atau kakaknya, karena sesaat sebelumnya berhasil bertanya karena Ayah angkat mereka berjalan Walter menyuntinya dengan cairan bening menceritakan melalui nadi pergelangan tangannya .
Awalnya Anthares hanya terbelalak terkejut karena syutingkannya tiba-tiba tapi begitu jaring itu masuk, ia mulai merasakan kesakitan yang hebat di setiap senti tubuhnya. dari tangan kananya, tempat cairan itu disuntikkan dan mulai menjalar ke setiap bagian tubuh yang.
Rasanya seperti ada cairan panas yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya hingga membuat darahnya mendidih . namun, kesakitan yang ia terima tidak sebanding ketika cairan itu mulai terpompa ke arah leher lalu ke wajah yang kemudian mulai memasuki pembuluh darah di matanya yang membuat matanya mengelap dan terasa membengkak ,seakan matanya akan keluar dari rongganya setiap saat.
Seakan itu belum cukup,berjamin bersama dua dokter lainnya, terus melanjutkan percobaan mereka. tanpa merasa bersalah mereka mendata bagaimana Anthares bereaksi.bajkan saat saat anak kecil itu mulai menggelapar dan kejang- kejang,berjamin justru menyayat pahanya untuk mengambil sempel darah.
Begitu mereka puas, tiga orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru malah memasang sebuah kemera perekam untuk memperhatikan perkembangan Anthares sebelum keluar dari ruangan,menuju tempat Titania berada.
Saat ketiganya masuk, Titania masih terus merontak berusaha membebaskan dirinya karena suara teriakan Anthares yang semakin mengerikan. Betapa terkejutnya Titania ketika melihat Benjamin masuk ke ruangannya bersama kedua orang lainnya. namun dengan cepat ia mengendalikan diri dan mulai meminta jawaban atas apa yang terjadi pada Anthares. tidak mempedulikan dirinya titik meskipun Ia juga sudah mulai mendekat ke tubuhnya .
Berbeda dengan Anthares yang merasa kau sakit hanya secara perlahan karena dimasukkan melalui nadi di tangannya, Titania dan semerasakan sakitnya ketika jarang itu dimasukkan melalui pembuluh darah yang paling dekat dengan jantungnya .
Akibatnya, hanya perlu beberapa detik lagi tidak enak untuk merasakan perasaan tersakitan yang sama dengan adiknya.
__ADS_1
Kini, bukan hanya jeritan Anthares yang memenuhi ruangan terapi juga Titania,hingga tenggorokan keduanya terluka dan hilang kesadaran kerena tidak kuat menahan rasa sakit yang mereka alami.