The Angel Of Deart

The Angel Of Deart
chapter 15


__ADS_3

Mata felix membulat ketika menyadari dirinya terbangun di ruang yang didominasi warna putih titik panik adalah yang ia rasakan saat ini ditambah tubuhnya yang terasa beku.


Di tengah paniknya, manik hitamnya berusaha mempelajari sekitarnya hingga dari sudut matanya ia melihat seorang anak kecil, tepatnya anak perempuan yang gemar yang dikenalkan sebagai anak Benjamin..


Betapa senangnya dirinya begitu menyadari klau ia tidak sendirian


didalam ruangan tersebut titik Apalagi ditambah dirinya diikat di meja, tempat tidur? entahlah, Felix tidak tahu ia Diikat Di mana, Yang pasti di tempat yang ditunjukkannya juga terasa sangat dingin ." titania...?" lirinya hampir berbisik


" yup, ini aku. jangan takut, bertahanlah .ada aku dan anthares disini melalui ini . aku percaya padamu, " liriknya, sambil tersenyum selebar yang ia bisa. meski tidak yakin Apakah pelix bisa melihatnya .namun ia percaya, kalau usahanya untuk membuatkan pelix akan tersampaikan dengan baik melalui kata-kata yang ia tuturkan.


"Apa maksud."


"Sstt, nanti saja .kami akan menceritakan semuanya sekarang yg bisa kau lakukan hanya bertahan.Tidak! potong gadis kecil itu sebelum Felix banyak bertanya,kerena telinga titania menangkap suara langkah kaki di lorong yang akan masuk ke ruangan.


kemampuan Titania semakin berkembang sejak terakhir ia menyadari kalau gerak refleksnya semakin cepat titik kini ia juga bisa


mendengar suara dari jarak yang lumayan jauh sungguh sangat berguna di saat-saat seperti ini.


terima peneliti dan bercermin memasuki ruang, dan ketika diantaranya langsung menghampiri ketiga anak kecil yang diikat di atas meja aluminium .


Melalui sudut matanya, Titania melihat kalau cairan disuntikkan Felix berwarna biru terang. berbeda dengan punyanya yang berwarna kuning pucat dan antheres yang berwarna merah darah.


Titania menatap suntikannya yang semakin mendekati pelipisnya walau ia sudah cukup terbiasa, tetap saja kelumpuhan sementaranya belum bisa benar-benar iya atasi. dengan mata terpejam rapat dan tangan yang mengepal Titania berharap siksaan hari ini akan lebih ringan sama terutama untuk Felix yang baru mengalaminya hari ini.

__ADS_1


Sama seperti titania,antheres juga menutup matanya dengan erat dan mengharapkan hal yang sama dengan kakak kembarnya begitu menyadari jarang setitiknya sudah menembus nadi di pelipisnya .


Suara felixlah yang memecah keheningan ruangan.walau antheres juga berteriak, teriakan Felix jauh lebih menyedihkan dan menghayat hati tatania dan anthares. bagaimanapun mereka tidak melihat teman barunya tersiksa


terlebih lagi, mereka berharap, kali ini teman barunya akan dapat bertahan jadi tahu kesakitan please semakin menjadi-jadi ketika suntikan lainnya yang entah apa isinya ditusukkan ke Nadi di perjalanannya. cairan baru itu menghasilkan sensasi yang berbeda, karena menyebabkan tubuhnya kini kejang-kejang hebat bahkan mulutnya juga mengeluarkan bisa kerenanya.


Sedangkan sitania harus menatap nanas tanpa bisa menjerit ketika sebilah pisau lipat menyayat melintang di tengah-tengah dada bagian atasnya hingga hampir ke perut yang anehnya mulai sedikit terasa sakit. jika sebelum titania tidak akan merasakan kesakitan jika dirinya disakiti ketika sedang lumpuh kini keadaannya berbeda. sepertinya titania


mulai bisa mengendalikan cairan kuning pucat yang selalu disuntikkan ke dalam tubuhnya .


Tapi ia tetap berusaha untuk diam seakan tidak merasakan apapun, mengikuti apa kata antheres.


Begitu juga dengan anthares ia memang masih memang merasa sakit ketika cairan merah darahnya masuk ke tubuhnya tetapi sudah tidak sesakit saat pertama kalinya ia disuntik.


hanya sayatan di bagian dada, sepertinya cukup dalam jawabnya sambil melihat bekas sayatan lidahnya yang kini sudah dijahit .


aku akan meminta salep supaya tidak berbekas, ucap atrak kesal melihat ujung sayap yang ada di bagian perut ditanya karena kakaknya menaikkan kaos yang ia kenakan untuk melihat bekas jahitan di tubuhnya. Titania itu perempuan, kata maminya dulu, anak perempuan tidak boleh ada bekas luka karenanya harus diobati dengan telaten.


" Tidak apa, Res. jangan buang waktu Kau hanya akan membuat penyiksa kita semakin parah kata tatania menggenggam tangan antheres yang sudah duduk di pinggir tempat tidur tidurnya


"Bagaimana denganmu?


" Sepertinya aku akan sulit menggunakan tangan kiriku untuk sementara jadi sepertinya kakakku yang cantik harus mengurusku selama aku tidak bisa menggunakan tanganku, hujannya melihat Gips yang terpasang di bagian pergelangan tangannya dengan kasal

__ADS_1


" jangan berlebihan Ares. Kau pernah mengalami yang lebih parah dari ini. dan kau pengguna tangan kanan, menangkis permintaan antheres yang tidak masuk akal


.tapi lebih daripada itu Kau mah yang terpenting sekarang adalah Felis tegasnya .


kau benar . Tapi apa sekarang kita bisa keluar? Kalaupun kita menjenguknya, apa Kita bisa menceritakan segalanya? jika mereka mendengar, sisa yang kita alami akan semakin parah?


Memangnya Informasi apa yang bisa kita bocorkan? kita hanya menceritakan kebenaran yang akan felix hadapi dan jika ia tahu memangnya apa yang bisa Iya lakukan? lagi pula kau mah tidak ada siapapun di lantai ini. Bahkan aku juga tidak mendengar miss young . jadi ku yakin titania .


gadis itu lantas berdiri, merapikan kosnya yang berantakan dan Melangkah dengan yakin ke arah pintu kamarnya. tanpa menunggu adiknya bergerak titik karena ia tahu kalau anthares pasti akan ikut dengannya. bukan karena mereka selalu berdua tapi juga sudah ia bilang kan, kalau adiknya sama tertariknya dengan pelix keduanya berjalan melewati lorong bergerak dalam diam menuju kamar yang berada tepat di sebelah kamar mereka .


"Ayo masuk! kau menunggu apa? " tanya address heran melihat kembarannya hanya menetap kosong ke arah pintu Aku sedang mendengarkan sekitar, untuk berjaga-jaga, jelas tatania sebelum mengetuk pintu hanya untuk berjaga- jaga lalu meraih kenop pintu dan membukanya


.


pemandangan yang pertama menyapa mereka adalah tubuh tidak sadarkan diri seorang anak lelaki berkulit pucat yang terlihat seperti sedang bermimpi buruk alisnya tampak berkerut dan bibirnya suara liriknya ia meminta tolong bisa didengar dengan oleh tatania, secara pendengarannya menjadi lebih pekat dibanding normal.


titania berlari mendekat ke arah peris lalu menginginkan tangannya dengan erat. tangannya yang bebas menyentuh arus Felis yang berkeruh. kau akan baik-baik saja. ada aku dan ares di sini pulang memandang wajah felix yang ternyata terlihat lebih parah ketika didekati.


" Apa ia akan bertahan? " tanya anthares yang melilih untu duduk di atas lantai. membiarkan kakaknya untuk duduk di pinggir kasur Felix.


" ia harus bertahan .harus! aku sudah tidak lagi sanggup melihat orang yang datang ke sini lalu mati didepan kita, " tegasnya dengan membara.


Anthares terbelalak terkejut mendengar intonasi suara kakaknya tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk kau benar ia harus bertahan titik harus. rasanya akan sangat sepi jika hanya akan ada kita berdua sampai kita bisa melarikan diri dari tempat ini kekahnya.

__ADS_1


.


__ADS_2