The Angel Of Deart

The Angel Of Deart
chapter 3


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas dan sikembar masih tetap terjaga sejak ayah mereka menyembunyikan mereka diruang rahasia, keduanya duduk tanpa suara diatas tempat tidur sambil memeluk erat satu sama lain.


berharap ayahnya dengan cepat menjemput mereka.


sayangnya, entah berapa lama pun mereka menunggu, ayah dan anggota keluarga mereka yg lain tdk akan pernah menjemput keduanya, sebaliknya, tidak lama setelah ayah mereka kluar, si sikembar justru sayup-sayup mendengar jeritan kesakitan dari muluk mereka yakini berasal dari angota kluarga mereka.


Waktu yg ophalia dan orion merasakan terasa melambat saat keduanya dihinggapi perasaan takut.Dan sepanjang malam, saat jeritan masih terdengar, keduanya hanya bisa menangis, berharap agar kluarga mereka dapat selamat.


Untuk pertama kalinya, mereka merasa klau rumahnya bukan lagi rumah terbaik. dulu, mereka dan kakak-kakaknya merasa senang memiliki rumah didaerah perumahan jarak yg setiap rumahnya berjauhan. itu artinya mereka bisa berteriak-teriak sepanjang waktu tanpa merasa ditegur oleh tetangga. tapi kali ini, mereka sungguh berharap ada tetangga mereka yg mendengar dan membantu kluarga mereka.


Waktu sudah menunjukkan angka empat lewat dua belas ketika jeritan yg sayup-sayup terdengar akhirnya berhenti. untuk sesaat, keduanya merasa lega kerena mereka tidak lagi disiksa dengan jeritan yg menakutkan. Namun begitu sadar, mereka justru merasa takut. lenyapnya jeritan yg berkumandang mereka bisa jadi kabar baik atau mungkin kabar buruk. baiknya, mungkin orang jahat sudah pergi . sedangkan buruknya, orang jahat itu belum pergi dan kluarga meresa sudah tidak bernyawa.


Walau bereka berharap klau tebakan adalah yg pertama, kenyataannya sama sekali tdk berpihak pada kedua anak bungsu Adams. Kerena keyakinannya, seluruh kluarga mereka sudah tidak lagi bernafas, keempatnya telah tewas ditangan orang asing yg kini sibuk menggeledar rumah. Berkeliaran mencari dokumen yg di percayakan pada mereka oleh orang yg memerintahkan mereka.


"Sialan! mereka benar-benar bungkan miskin disiksa! "Gerutu salah seorang bertubuh atletis yg sedang mengacak-acak meja kerja Jason.


Kelima orang tidak diundang itu terus mengacak setiap sudut rumah sehingga tidak terasa matahari mulai menampakan dirinya dibagian timur. Sebuah tanda bagi lima orang asing itu untuk pergi meninggalkan rumah Adams jika tdk ingin tertangkap basah atas perbuatan mereka yg telah menewaskan keempat anggota rumah.


Disisi lain, si kembar ophalia dan orion yg telah melawati malam dalam ketakutan akhirnya jatuh tertidur sekitar pukul lima. Disaat orang sibuk mengacak rumahnya. padahal mereka berusaha untuk terus berjaga, dengan harapan semua yang terjadi malam itu hanyalah salah satu lelucon tidak lucu keluarga mereka, Namun rasa kantuk yg mereka rasakan yg emosi yg memuncah membuat mereka kelelahan dalan tidur.


Jika saja bukan rengekan lapar orion pada jam delapan pagi, keduanya masih terbuai mimpi.


Dengan mata sembab akibat menangis dan kurang tidur, ophalia berjalan malas kearah lemari tempat makanan disimpan, mengambil asal beberapa bungkus makanan dan minuman yg ada. ia berjalan kembali menghampiri adik kembarnya yg hanya terpaut empat menit darinya.


"Kita tiduran? "


ophalia mengangguk sambil mengucek matanya dan ngunyah biskuit nya tanpa selera. maniknya bergelir menatap jam meja kecil yg ada dinakas sebuah tempat tidur single yg mereka tempati. sudah tapi tdk ada yg masuk untuk menjemput mereka. pikir gadis kecil itu

__ADS_1


"Apa daddy masih lama? tanya orion. tidak ada siapa pun, sebenarnya.


Namun kembaranya, yg berada diruangan yg sama denganya, dan satu-satunya mahluk hidup disana, merasa klau pertanyaan itu ditunjukkan kepadanya. gadis itu menghala napas panjang mendengar suara adik kembarnya.


Rasanya ia ingin sekali menjitaknya ketika adanya mulai bersikap seperti anak seusianya. suatu pemikiran yg kenyataannya mereka memang masih kecil. Namun akibat pergaulan mereka kerena berada dikelas tiga tingkat lebih tinggi dari semestinya, ophalia dan orion jarang sekali bersikap seperti anak seumur mereka.


"Apa sesuatu telah terjadi? "tanya orion lagi. kali ini benar- benar mengharapkan jawaban. namun ophalia sama sekali tidak berminat untuk menanggapinya, apalagi. memangnya apa yg bisa ia jawab saat dirinya juga berada di ruangan yg sama dengan orion. ia jga sama tdk tahu dengan adiknya.


Suara menakutkan itu sudah berhenti, " bisik orion setelah menelan suapin biskuitnya.


ophalia mengangguk. akhirnya memilih untuk menangapi ucapan adiknya. tapi kerena dirinya masih terlalu lelah untuk berbicara apalagi berpikir, ia hanya memberikan jawaban sebisanya. namun, bocah bermata sipit itu sama sekali tdk berniat berhenti biicara. meski iya tahu kalau kembarannya yg memiliki mata bulat tdk menangapi.


"menurut mu, apa daddy akan kembali? tanyanya lagi. kali ini, sambil menaruh ujung lengan piyama yg digunakan ophalia. Seakan memaksanya menjawab.


Daddy pasti akan menjemput kita, jawab ophalia ragu.


kita harus keluar dari sini. seperti yg daddy bilang. dengan nama baru, jawab kakak kembar orion dengan muluk penuh biskuit. untungnya orion terbiasa dengan sifat kakaknya yg suka bicara sambil makan, jadi dirinya mengerti apa yg diucapkan.


"klau orang yg membuat daddy, mommy, kakak menjerit semalam masih ada dirumah, apa yg harus kita lakukan? "tanyanya lagi. menciptakan dengan malas ophalia.


Tidak bisaka orion diam, ia terlalu lelah untuk berpikir sekarang. ditambah rasa kantuk yg masih dirasakannya, Namun saat hapir meneriakkan adik kembar nya, ophalia tersadar klau memang belum sepenuhnya aman , memang suara jeritan sudah tidak terdengar, tapi bukan berarti orang yg menyebabnya sudah pergi bukan. jikalau semalam mereka mendengar suara jeritan, bukan berarti ruangan mereka bisa mendengar segalanya. bisa saja kerena jeritanya sangat kencang, maka mereka bisa mendengarnya


"mereka tidak mungkin ada dirumah kita sepanjang waktu, Rion, jawabnya ,sedikit tdk sabar


lalu apa yg harus kita lakukan?


"" bisakah kita membahas nanti? kuyakin daddy pasti akan kembali. jika kurasa, kita tdk perlu banyak berpikir dulu.

__ADS_1


"jika tidak?


Kekeras kepalaan orion hampir membuat ophalia megamuk. tapi untungnya ia masih mampu menahan dirinya


" kau harap daddy tdk akan kembali? tanya ophalia menuduh


"aku tdk mengatakan demikian, tapi...


Kembali menghela nafas panjang, ophalia memejamkan matanya. tidak pada tempatnya ia mengalahkan orion atas apa yg terjadi. bagaimana pun, keduanya berada di posisi yg sama.


Daddy bilang klau hari ini Daddy tdk kembali artinya kita harus keluar dan pergi dari sini. rion, walau aku berharap tdk akan terjadi . Tetapi jika iya, kita harus keluar, bagaimana pun caranya.


' ujar ophalia, memeluk adik kembar nya yg sempat merajuk kerena ucapannya, "untuk itu, kita harus memiliki energi yg cukup. dari pada berandai- andai , bukankah lebih baik beristirahat sekarang? dan ketika waktunya nanti, kita bisa memikirkan lebih lanjut apa yg akan kita lakukan, "Jawab ophalia.


apa menurut Daddy ,mommy, kakak-kakak baik -baik saja? "


ophalia melepas pelukannya lalu rebahkan tubuh diatas tempat tidur. matanya menerawang, menatap langit- langit ruangan yg berwarna putih. ia sangat


tapi juga tidak, rasa ingin tidur tapi sulit. terlebih kerena orion terus berceloteh.


Elia?


aku tidak tahu ,orion, aku berharap begitu, tapi aku kan ada disisi bersamamu. Bagaimana kamu tahu apa mereka baik atau tidak, "ujarnya.kurang tidur telah mengambil ahli emosinya, membuatnya menjadi lebih tidak sabar menghadapi orion.


" kurasa kau benar"lirik lelaki empam tahun itu. orion kemudian memilih untuk membereskan sisa-sisa bungkus makanan dan minuman sebelum akhirnya mengikuti jejak kakak kembarnya dgn berbaring di sisiNya. tidak terasa sakit hati sedikit pun atas nada sinis yg dituturkan kakaknya. kerena ia mengerti mengapa ophalia seperti ini


Kedua terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing hingga akhirnya rasa lelah dan kantung kembali menyergap mereka dan membuat keduanya kembali tertidur.

__ADS_1


__ADS_2