
Titania, Anthares,danFelix berjalan menyusuri lorong panjang lantai 3 yang tampak sepi. berbeda dengan romantis dasar dan 2 yang dipenuhi sepeleton hitung dan cara militer bersenjata lengkap.
Titania pada khususnya, melompat-lompat senang sambil memutar-muter kedua Katana sudah lama ia Menanti hari di mana ia dapat meninggalkan neraka itu. ia lelah harus berpura-pura pasrah ia lelah menjadi subyek percobaan.
Langkahnya berhenti tepat di ujung tangga yang menghubungkan dengan lantai 2. bibir plumnya tersenyum lebar sambil mendengarkan apa yang terjadi di lantai bawahnya.
"
Area you ready? " tanyanya kepada kedua remaja lelaki yang ada di belakang punggungnya mereka sudah siap menyambut kita, kekehnya, Iya lalu menoleh menatap felix dan anthares dengan tetap dan termanis yang ia miliki titik biarkan aku mengamuk dulu, oke? kalian mengurus sisanya, katanya lagi. kemudian dengan kecepatan di luar nomor manusia, ia telah melompat turun, melewati setengah anak tangga sekaligus dan kembali melakukannya hingga menginjakkan kakinya di ujung lantai 2.
Raut wajah mengemaskan yang
sebelumnya ia perlihatkan pada anthares dan felix dengan cepat berubah menjadi tanpa emosi. menoleh perlahan ke arah lorong di mana puluhan tentara militer bersikap siaga sambil mancungkan senjata api mereka.
"Wow! kalian menungguku? tanyanya riang, kontras dengan wajahnya yang terlihat datar .suasana mencekam sekaligus meningkatkan kos pada para tentara.
" Freeze! " perintah salah seorang tentara yang tampak berpangkat tinggi jika melihat dari Emblem yang berbaris di bagian lorengnya.
" Oh
! Hello juga! sapa titania dengan Senyum mereka lebar kas senyuman bisnis sebelum menghilang dan muncul tepat dihadapan salah seorang Anggota militer dan menebas lehernya bahkan sebelum lelaki malang itu bisa terkejut karena kemunculan di dunia yang tiba-tiba.
Gadis Remaja itu lalu berdiri diam di tengah-tengah tentara yang langsung memutar mengacungkan senjata mereka tapi tidak memiliki pilihan lain selain menunggu karena mereka tahu, seketika mereka membuka tembakan, mereka bisa melukai sesama mereka juga.
tempat tenang Titania justru tersenyum lebar titik sejarah matahari titik menitnya berpindah seperti anak kecil yang polos. namun hanya sebentar karena ia tiba-tiba merubah wajahnya kembali datar tanpa emosi dan mulai bergerak Mengayunkan kedua katananya, posisi tentara militer yang bikin Bagaimana harus bertindak karena jika ia menendang secara membagi buta, temannya akan mati sedangkan jika mereka membidiknya, mereka dengan cepat kehilangan gerakan gadis itu.
__ADS_1
" One...two...three...," desis titania saat berhasil menebas, menuju, memotong setiap penjaga yang berusaha melukainya dengan senjata api.
remaja tanggung itu bergerak gemuruh seperti menari tapi dengan kecepatan yang tidak mampu ditandai manusia normal.
di sisi lain, tepatnya Dih anak tangga pertama di lantai 2 duduk 2 orang remaja.antheres yang berkulit kecoklatan dengan mata lebih kecil dibanding kembarannya dan berahang tegas alis teleponnya membingkai matanya dengan sempurna dan tulang hidungnya yang tinggi menciptakan wajah tanpa yang jantan.
sebaliknya,felix,lebih tampaknya lebih lembut dibanding antheres. remaja itu berkulit putih dengan mata yang lebih besar dibanding antheres meski tidak sebulat titania. bibirnya seperti buah belum ditambah hidungnya mancung, membuatnya tanpa seperti boneka yang sempurna.
" Sampai kapan kita membiarkannya mengamuk? tanya bales sedikit lebih kencang, agar anthares bisa mendengarnya di sela-sela Suara bising letusan senjata api dan peraduan suara besi dari Katana yang digunakan titiania.
" Apa kau belum mengenal kakakku
bahkan setelah bersamanya selama 6 tahun ini? "tanya anthares.menguap bosan, menunggu titania selesai.
" Twenty- seven...," desisnya mengakhiri pembantaiannya titik Britania lalu memutar tubuhnya melias hasil kerjanya dengan wajah bangga sampai manikmatannya melihat kedua remaja lelaki yang menunggunya di ujung lorong. Gadis itu tersenyum semakin lebar dan melangkah perlahan, menghindari tubuh-tubuh mulai yang berserakan di atas lantai. berusaha sebisanya agar kakinya tidak menginjak tubuh mereka titik bukan karena menghormati orang yang sudah mati tapi ia hanya tidak ingin sepatunya semakin kotor.
" Apa kalian menunggu lama? " tanyanya , mencondongkan tubuhnya titik menetap jenaka kedua remaja yang berdiri tenang menunggunya hingga dapat berada di depan mereka.
" Well, jika kau bisa lebih cepat lagi. Mungkin aku akan memujimu, ledek antheres sambil merungkul bahu sempit kakak beda 4 menitnya.
"You're awesome asal always,my lady, " desis felix mengecup Bibir titania yang sedang dirangkul oleh anthares.
titania tertawa mendengar pujian pujian
__ADS_1
Felix, hingga menyadari bajunya yang kembali k otor. "Arghh! aku harus ganti baju lagi, kesal Si Tania melihat Baju hitamnya yang terlihat rasa Karena cipratan darah penjaga yang ia bunuh.
" Tidak apa, Kau selalu yang tercantik ujar pelix Mengembangkan senyuman malaikatnya. menyebabkan adik kembar Titania meringis jijik mendengar ucapan cheesy felix.ia benar-benar belum terbiasa dengan kelakuan dua orang anak di dekatnya itu.
kita harus berpisah, pun siapa pun yang kalian temui, sebisanya jangan tinggalkan jejak agar Tugasku mudah perintah anthares yang suaranya sudah mulai berubah menjadi sedikit husky dan lebih berat karena hormon remajanya.
" Gotong it! " jawab Titania ceria, sebelum berlalu menghilang ke salah satu koridor .
" See ya later, bro, " ujar felix menepuk pundak anthares lalu mengikuti jejak titania dan ikut menghilang bersamanya di persimpangan koridor.
" Let's see, " kumannya memperhatikan sekitarnya. mempelajari lorong lantai 2 titik tempat yang harusnya diperuntukkan sebagai kamar anak-anak yang akan dijadikan percobaan. Namun karena tidak ada yang berhasil selamat , pemilik kamekama itu selalu berganti. sehingga beberapa diantaranya beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan barang atau dibiarkan kosong tanpa dirawat.
karena itu, tuan di sepanjang lorong lantai 2 adalah tempat yang paling sempurna untuk bersembunyi . mereka begitu percaya diri kalau tidak ada ditemukan. terutama karena begitu banyak kamar yang terbengkalai namun jika seorang masa mampu berpikir demikian, bukanlah predator yang harusnya jauh lebih lihai juga mampu berpikir kesana.
sambil menari-nari bahagia, anthares berjalan sambil bersenandung. setiap ketukan langkanya membuat mereka yang bersembunyi ketakutan semakin gemetar. berharap agar mereka tidak menjadi korban selanjutnya seperti Benjamin terlebih jika mengingat apa yang telah mereka lakukan pada tiga anak malam itu.
anthares tiba didepan sebuah pintu berwarna krem lalu mengetuknya dengan semangat," I know you' re in there, " teriaknya senang. "l can smell you! " katanya sambil mendobrak pintu ruangan.
" Oh hello there! " ucapnya dengan manis ketika melihatnya anak orang pelayan yang berjongkok bergerombol di sebuah sudut sambil menangis dan gemetar, salah satunya adalah miss Young yang memberikan obat tidur di tahun-tahun pertama mereka tinggal di asylum.
" oh! aku membuat kalian ketakutan? !" tanya anthares dengan wajah merajuk lucu.
tapi tidak sampai semenit, wajahnya merajuknya yang imut berubah menjadi tatapan datar dan mulai melangkah cepat menuju ke 6 pelayanan berada.
" Let's play! " desisnya.
__ADS_1