
Matahari pagi sudah terbit ketika busuk yg ditumpangi si kembar sampai distasiun luna, kota yg menjadi tujuan akhirnya mereka. para ,begitu juga si kembar penumpang yg tidak terlalu banyak, turun dengan tartib begitu juga sikembar dan Father Thomas.
Setelah merentangkan kaki pegal mereka, keduanya memilih untuk mengunjungi satu-satunya kedai makanan yg buka. pandangan menyelidiki penasaran si pemilik tdk di acuhkan oleh kedua anak itu. Mereka memilih sibuk membaca papan menu besar yg terpasang didinding kedai dan memesan. setelah membayar, keduanya langsung berlari menjauh. Menutup sepenuhnya celah untuk bertanya apa- pun yg dipikirkan oleh penjaga kedai.
"kita harus kemana sekarang, Rion? lirik ophalia setelah makanan gigitan terakhir roti lapis isi tunanya. Manik mata bulatnya selalu berbinar terlihat berkaca-kaca. Membuat Orion terkejut.
Akhirnya pertahanan ophalia pun luruh, bersama dengan kantung air mata yg mulai tidak mampu menahan Ucapan si gadis kecil.
Bersama dengan emosi ophalia yg membuncah, orion dengan cepat mendatangi kakak kembarnya sebelum duduk di diseberangnya. langkah kakinya terburu-buru mendatanginya. dan kemudian, tangan yg kecil langsung merengkul bahu mungil kembarnya. membiarkan kepala ophalia bersembunyi di perpotongan lehernya.
Meskipun ia dan ophalia hanya berbeda empat menit, gadis kembarnya itu selalu menganggap dirinya kakak dari orion. jadi tidak pernah sekali pun memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan orion. jadi walau orion bisa merasakan sisi lemah kakaknya, ia tidak pernah mengungkapnya demi menjaga harga diri ophalia sebagai kakak . kerena itu, melihat nya hampir menangis sungguh membuat orion bingung.
Elia, kau kenapa? tanya orion sambil menepuk lembut pinggang kakaknya.
masih dapat orion rasakan, gelengan lemah ophalia dibahunya untuk menyanggah pertanyaan
. dibarengi dengan basahnya baju yg ia kenakan akibat air mata yang dikeluarkan ophalia.
"Mau sampai bersikap sebagai kakak padaku padahal jarak kita empat menit, Elia, tutur orion. masih terus menepuk lembut punggung gadis yg sedang menangis dekaapanya.
__ADS_1
Mereka terus berpelukan selama sekitar beberapa menik. menarik perhatian bebarapa menit. menarik perhatian beberapa orang yg berada di dekat mereka. Namun untungnya, tidak ada seorang pun yang terlalu penasaran untuk bertanya. hingga akhirnya ophalia mengurangi pelukan adiknya dan menatapnya dengan penuh kwatiran.
Aku..gadis kecil itu tidak melanjutkan ucapan nya ketika dorongan menyesakkan kembali datang.Berusaha sekuatnya agar tidak lagi menangis.
" tidak perlu sok kuat, Elia.kan sudah kubilang,kita hanya berbeda empat menit. Apa artinya seorang kakak yg berbeda hanya empat menit. lagipula di belahan dunia lain,justru akulah yg disebut kakak kerena aku sudah mengalah dengan membiarkan mu lahir duluan," ujar Orion bangga sambil memukul dadanya.Menciptakan tawa tertahan dari bilah Bibir kembarnya.
Aku...masih berharap kalau berita yg kita baca di koran sore kemarin salah, Rion, " jawabnya.Kembali terisak kerena mengingat headline- headline besar yg menghiasi surat kabar terbitan sore dan berita televisi yg memberitakan tentang pembunuhan sadis yg dialami keluarga Adams yg mereka tanpa sengaja baca dan dengar saat menyusuri area pertokoan.
meski saat mereka mengatahui kebenaran, keduanya berusaha keras untuk tidak menangis dan tidak memikirkan nya. setidaknya mereka berhasil hingga sekarang, ketika Ophalia tidak lagi sanggup menahan semua emosi yg ada di
dalam dirinya."Kenapa harus terjadi dan siapa yg melakukannya?"
padahal gadis itu sama sekali tidak ingin mengungkitnya.Takutadiknya juga akan merasa bersedih.Dan seketika ia juga jadi merasa bersalah ketika melihat wajah sedih Orion.Namun,betapa terkejutnya Ophalia ketika menyadari kalau raut wajah itu dengan cepat berubah.
Pernyataan orion membuat keduanya terdiam.ophelia yg tidak tahu bagaimana harus menanggapinya dan orion yg merasa perlu meredakan amarahnya.
" Lupakan itu. tidak ada yg bisa kita lakukan sekarang.Yang penting adalah di mana rumah kita akan tinggal sekarang," kata orion.memecah keheningan di antara mereka.
Kau benar. Kata Daddy kita tidak boleh pergi ketempat yg kota tahu. jadi...." manik cekolatnya bersitubruk dengan manik gelap adik kembarnya.untuk sesaat tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Hanya bertatapan, berusaha untuk mengerti jalan pikiran masing-masing.
__ADS_1
" Jadi kau sepemikiran dengan ku, " gumam Ophelia setelah menyadari apa yg di pikirkan orion." " Tapi apa Father Thomas bisa dipercaya?Aku merasakan aura tidak enak di dekatnya," jujur gadis itu, memalingkan wajahnya ketempat lain. menonton seorang penjual cinderamata yg sedang memainkan salah satu dagangannya.
Mengikuti pandangan kakak kembarnya,orion ikut menghelanapas panjang." Aku juga merasakan yg sama. Sejujurnya akupun merasa klau ini bukan pilihan yg benar.Namun ku rasa kita tidak punya pilihan lain bukan? "
" Kau benar, " angguk gadis berpipi gembul itu, " Bagaimana pun, kita hanya anak kecil berusia enam tahun.Sepintar atau sekaya apa pun kita,kita tidak mungkin mampu hidup sendiri.jadi kita memang tidak punya pilihan lain, " desah ophalia.Merasa terbebani dengan usianya sendiri.
" Kalau begitu ayo.Kita harus kesana sebelum makan siang. kita tidak mengambil cukup banyak uang juga kan, " kata orion yg langsung bangkit sambil menarik berdiri tangan kakaknya. " Tapi sebelumnya,ayo beli minum dulu. Aku haus. "
Perjalanan menuju panti asuhan hanya memakan waktu sekitar empat puluh lima dansekarang,dua anak berusia enam tahun itu sudah berada di depan sebuah pagar besi tinggi bercat hitam dengan plang besar yg tertulis Luna Orphanage.
Dibalik pagar besar dan tembok tinggi terlihat lapangan rumput luas yg meskipun terlihat terawat,aura yang dipancarkan tidak terasa menyenangkan.begitu.
juga bangunan tiga lantai berjendela banyak yg berdiri kokoh di bagian tengahnya.Bangunan itu terlihat kusam dengan cat yg sudah mengelupas di Sama-sama sini. Beberapa bagian dindingnya bahkan tertutup sepenuhnya dengan tanaman rambat dan beberapa jendelanya ada yg pecah.Benar- benar pemandangan yg berbeda dengan yg ditampilkan di brosur.
" Kau yakin? tanya orion tanpa menoleh
" Hmm, entahlah.Tapi apa kita punya tempat singgah lain? Kita bahkan tidak tahu cara mengurusrumah apalagi membelinya.Dan tinggal di hotel,sepertinya mahal, Jadi kita memang tidak punya pilihan lain kan? " ucap ophalia menoleh ke arah adiknya yang masih asik memandangi bangunan besar dan banyak jendela di depan mereka.
" Titinia Webb dan Anthares Webb bukan? " tanya orion lagi.Memastikan nama yg akan mereka gunakan sesuai rencana. mereka masih mengingat pesan ayahnya untuk tidak menggunakan nama Adams, jadi keduanya memilih nama lain yg masih memiliki hubungan dengan nama bintang.Titania untuk Ophelia dan Anthares untuk Orion.
__ADS_1
"Hmmm,jangan lupakan juga cerita yg telah kita susun tadi. Dan jangan terlalu berlebihan atau mereka tidak akan percaya padamu, " dengus Ophalia memperingatkan kembarannya
" Ya ya ya! " ajak orion,menggengam tangan kembarnya dan berjalan menuju panti asuhan yg mereka harap bisa menjadi tempat berlindung mereka meskipun tampilannya tidak sesuai seperti apa yg mereka bayangkan.