The Angel Of Deart

The Angel Of Deart
chapter 5


__ADS_3

Kedua anak kembar itu akhirnya berhasil keluar dari penerangan belakang rumah dengan selamat tanpa mengundang perhatikan siapapun. Begitu bereka menemukan tempat tersembunyi di balik pohon besar, keduanya menghela naas lega, Sepertinya keadaan rumah yg terlihat seperti film horor telah memberikan tekanan yg besar untuk keduanya.


Sepintar apa pun keduanya, mereka masihlah anak berusia 6 tahun. jadi menhadapi kenyataan kalau rumah tempat mereka berlindung berantakan dan dipenuhi bercak darah, tentu menguncang mereka lebih kuat.Namun tidak ada waktu untuk mereka beristirahat apapun ketakutan kerena dari sudut mata mereka, keduanya bisa melihat ada seseorang berpakaian polisi yg sedang berpatroli.


Untungnya mereka begitu mengenal pekarangan rumah mereka sendiri. jadi dengan cepat, keduanya berlari menuju pepohonan tinggi yg tumbuh di sebelah kiri pekarangan belakang tanah dikomando. Seakan mereka sudah mengerti apa yang diinginkan masing-masing.


Kemudian setelah berhasil menghindari polisi, ophalia dan orion kini tinggal mencari lubang kecil di bawah pagar menjadi rahasia kecil si kembar. Mereka sering menggunakan untuk kabur di mini market untuk membeli cemilan ketika sedang dihukum oleh ibu mereka.


Dengan cepat mereka menyelinap, meninggalkan rumah tempat mereka dibesarkan dan berjalan cepat kearah jalan raya dengan menunduk untuk menghindari tatapan


CCTV.


Si kembar berjalan menghindari keramain di daerah pemukiman. untungnya perumahan tempat rumah mereka berada masih terdapat banyak pepohonan, jadi mereka bisa mengunakan dengan menyelinap diantara bayangan pohon-pohon besar.


Hari sudah semakin larut ketika dua anak kecil menyesuri jalan setapak pertokoan. Daerah yang berada di sebelah barat pemukiman, tidak seperti keadaan pemukiman yg saling berjauhan dan masih banyak pepohonan, daerah pertokoan adalah daerah bisnis. dari setiap bangunnya berdempetan.

__ADS_1


Kaki kecil mereka sesekali menginjak genangan air menyebabkan percikan. dengan kepala tertunduk kedua anak berpakaian serba hitam tidak sedikit pun berniat berhenti.


,


Kaki mereka sudah lelah, tetapi mereka lebih memilih untuk terus berjalan. Telat kuat untuk segera keluar dari kota tempat mereka dilahirkan sangat besar. sampai tidak mampu menghentikan mereka.


...Meskipun perjalanan untuk bisa sampai di perbatasan kota cukup jauh terutama untuk kaki anak kecil,mereka memilih untuk jalan kaki, ketakutan akan terlihat dan dikenali membuat mereka ragu untuk menumpang pada angkutan umum, mereka bahkan memilih untuk menghindari keramain dan terus menyesuri jalan di bawah bayang- bayang....


dua jam telah berlalu sejak mereka mulai jalan. dan akhirnya usaha keduanya mengbuahkan hasil. Stasiun bus antar kota sudah terlihat, tapi tidak apa. mereka yakin tidak akan ada yg mengenali mereka selama wajar mereka bersembunyi dibalik topi dan hondie.


Seakan mendapat kekuatan tambahan, mereka melangkah menjadi lebih ringan ketika menyebrang menuju kemesin pembeli tiket bus yg menempel salah satu dinding berwarna bata. tanpa ragu, keduanya memilih tiket sekali jalan menuju distrik luna. dua distrik jauhnya tempat tinggal mereka . Entah apa yg membuat mereka memilihnya, mungkin hanya pikiran inpulsik anak-anak merekalah yg menyeramkan


mereka membeli dua kursi yg berada di kedua dari belakang. Agar mereka lebih waspada selama perjalanan.sambil terus berusaha terjaga, kedua anak kembar itu mengawasi di sekitar mereka. Mencurigai setiap gerakan penumpang. Setelah beberapa saat berlalu, ketika mereka cukup yakin klau semuanya aman, seseorang yg menurut orion mencurigakan, tertangkap matanya.


Lelaki enam tahun itu sampai meremat tangan mungil kakak kembarnya, ketika di sadari oleh adanya seorang pria yg berpakaian seperti poster memperhatikan mereka bahkan sebelum mereka naik.

__ADS_1


menyadari rematan ditanganya, gadis bermata bulat itu menatap mata sipit adik empat menitnya. berusaha bertukar pesan melalui pandangan mata. Mereka tidak bisa telepati, tetapi sebagai kembar mereka masih mampu mengerti satu sama lain tanpa harus bicara.


Tanpa kesulitan, gadis kecil itu mengerti maksud rematan tangan adiknya. secara perlahan, ia lalu menoleh kepala kearah orang yg dimaksud oleh orion dan mata tanpa sengaja bersitubruk dengan lelaki yg sepertinya seusia ayah mereka. membuat terkejut dan mulai waspada.


Ophelia takut, tapi memilih untuk bersikap berani, ia adalah seorang kakak, meskipun usianya hanya terpaut empat menit. jadi ia harus lebih kuat dari adiknya yg juga mulai gemetar takut. sambil berharap jika ia tdk menujukkan rasa takut, lelaki yg berambut pirangnya tersisir rapih dibelakang ia akan mengabaikan itu.


Namun sayang sekali, harapannya musnah dengan cepat kerena lelaki bertubuh kurus itu justru malah semakin berani mendekati mereka. Mata cekelat si lelaki berkilat penasaran dibalik kecamatan bulatnya yg bertengger diatas hidung agak bengkonya . Bibir tipisnya tersingging keatas wajahnya yg tirus dan pucat.


"kalian tersesat? atau kabur dari rumah? "tanya si pria dengan lembut kepada si kembar yg kini semakin mengeratkan pegangan tangan mereka meski tetap berusaha berani untuk menatap mata tajam si pria dengan tatapan polos mereka. bukan kerena penampilan si lelaki yg membuat takut. tapi kerena kejadian yg baru saja menimpa mereka.


" tidak usah takut, namaku Thomas Lee, kalian bisa memanggilku Father Thomas. aku kepala panti asuhan dan aku sering melihat anak-anak seperti kalian, yg berusaha kabur dari rumah kerena berbagai macam hal, ucapnya dengan senyuman tipis justru membuat sikembar semakin waspada. ada sesuatu yg salah pada senyuman lelaki yg baru saja memperkenalkan dirinya itu.


Aku tidak akan banyak bertanya, tapi jika kalian tahu dimana kalian akan tidur malam nanti. datanglah kepanti asuhan ku. kalian akan menyukai nya, ujar pria lagi sambil memberikan sebuah brosur yg berisikan sejarah, visi, misi denah, bahkan beberapa poto anak anak yg sedang belajar dan bermain.


Ophalia menatap sekilas brosur itu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambilnya. dari brosur, gadis kecil itu melihat panti asuhan bernama luna orphanage itu tempat seperti tempat yg menyenangkan. Setidaknya begitu yg nampak dari setiap poto yg tercetak.

__ADS_1


"kami akan memikirkannya tuang, cicip orion kerena kembarnya sama sekali tidak terlihat berusaha menjawab dan berharap si pria meninggalkan mereka dengan cepat.


Meski tidak terlalu puas dengan jawaban orion, Father Thomas memilih untuk mundur. ia tidak ingin menakuti kedua anak tersebut lebih jauh. jadi dengan tersenyum, lelaki yg menurut si kembar mencurigakan itu, akhirnya kembali ketempat duduk nya. meninggalkan si kembar yg masih menatapnya dengan curiga.


__ADS_2