The Betrayal

The Betrayal
Baby Yav


__ADS_3

Dan saat Jessica bertanya soal baby Yav seketika Yavuz tercekat, dia pikir dia baru saja keceplosan berkata soal baby Yav.


Oh shi.t.


Dia sejenak terdiam, menghentikan langkah kakinya untuk beberapa waktu.


Terlalu dini bicara saat ini pada Jessica, kehamilan besar ditambah kondisi fisik yang tidak mempuni, belum lagi situasi sangat tidak mengizinkan, ada timing waktu terbaik untuk dia bicara soal kenyataan pada Jessica, dia sedang mencari waktu paling tepat, minimal Jessica sudah merasa nyaman dan mulai bergantung dengan nya, setidak nya takut kehilangan dia dan ...


Oh sial, apa yang aku pikirkan?!.


Yavuz tiba-tiba gelisah, dia takut Jessica menolaknya dan pergi menjauh, dia takut.


Ada apa dengan mu, Yavuz?!.


"Yav?"


Suara Jessica mengejutkan pemikiran nya.


"Ya?"


Laki-laki tersebut mencoba menyadarkan dirinya.


"Aku agak bingung?"

__ADS_1


Jessica Bertanya.


Yavuz masih menggendong erat tubuh Jessica, begitu erat dan hangat, baru sadar ini kali pertama dia menggendong seorang gadis dengan cara yang berbeda, biasanya dia memikul mereka seperti karung beras, memerintah bawahan nya untuk mengangkat perempuan yang dia anggap sebagai pengacau tapi kali ini....


Bola mata Yavuz menatap dalam bola mata Jessica untuk beberapa waktu.


"Bukankah kita akan menikah? Bayi ini pada akhirnya akan dipanggil baby Yav didalam keluarga besar kami bukan?"


Tanya Yavuz pada Jessica.


Mendengar apa yang diucapkan Yavuz sejenak membuat Jessica berpikir dengan keras, seperti kata Yavuz semua jelas ada benarnya. Pada akhirnya anak-anak akan di berikan embel-embel nama ayah mereka dibelakang nya untuk para keluarga yang akan memanggil nya.


"Yavuz junior"


Saat laki-laki tersebut berkata begitu, tiba-tiba Jessica merasa kan satu tendangan manis diperut nya.


"Ohhh dia menendang"


Jessica refleks bicara, rona wajah gadis tersebut terlihat berseri-seri.. Mendengar apa yang di ucapkan Jessica tiba-tiba Yavuz menurunkan Jessica secara perlahan, membuat gadis tersebut terkejut, baru sadar mereka sudah ada di area parkiran mobil, sopir pribadi Yavuz membuka pintu mobil dan Yavuz secara perlahan meletakkan Jessica di kursi mobil tengah pinggir bagian kiri.


"Benarkah?"


Yavuz bertanya antusias, mencoba untuk mendekatkan kepalanya ke perut Jessica, hal tersebut membuat Jessica memundurkan tubuhnya, agak tegang saat kepala laki-laki tersebut menempel ke perutnya.

__ADS_1


"Yav..."


Dia terlihat gugup, menggenggam erat telapak tangan nya dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, entahlah rasanya aneh, seolah-olah dia baru saja mendapat kan seorang suami yang begitu hangat juga bertanggung jawab, ingin tahu soal anak mereka dengan menempelkan kepala juga pipi nya ke permukaan perut Jessica.


"Dia tidak menendang lagi?"


Laki-laki tersebut bertanya, membiarkan pipi nya terus berada di perut Jessica.


"Sayang, apa kamu mendengar daddy? coba berikan tendangan manis, katakan kamu suka pada konsep warna daddy"


Yavuz bertanya dengan perasaan bahagia, dia seolah-olah lupa akan status mereka, membiarkan bola matanya terpejam untuk beberapa waktu, menunggu bayi didalam sana memberikan tendangan manis di wajahnya.


Dan tanpa diduga, Yavuz bisa merasakan satu gerakan yang Cukup terasa di pipi nya, membuat Yavuz langsung membuka bola matanya, dia terkejut kemudian mendongakkan kepalanya kearah Jessica.


"kamu mendengar nya? dia setuju dengan apa yang daddy nya ingin kan, Issi"


Dan saat Yavuz berkata begitu menbuat Jessica sedikit mengernyit kan dahi nya, dia mengencangkan genggaman nya pada telapak tangan nya, sangat gugup saat menatap netra Yavuz yang terus menatap dalam ke arah bola matanya.


Sejenak gadis tersebut ingat dia benar-benar mengenal bola mata tersebut sebelum nya. Dia yang cukup menegang menjadi semakin tegang, tidak tahu kenapa tapi Jessica merasa seperti nya dia benar-benar mulai ingat dengan tatapan mata tersebut.


Tidak mungkin bukan?!.


Dan Jessica mencoba untuk menetralisir detak jantung nya untuk beberapa waktu.

__ADS_1


__ADS_2