
Disisi lain
Kediaman xxxxxxx
Pinggiran kota Paris.
bola mata Tiffany menantang bangunan yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu di mana mobil yang ia naiki bersama Dru mulai memasuki pekarangan rumah yang ada di hadapan mereka tersebut.
Tiffany pikir dia pernah melewati tempat ini dan singgah sejenak dulu, yah dulu tapi tidak benar-benar pernah masuk kesana, kak Xia membawanya karena harus mengantar sesuatu pada masa itu tapi mereka hanya berhenti di gerbang depan dan mengantarkan sesuatu yang tidak dia ketahui apa.
Pada masa itu dia mendengar desas-desus nya, tapi kak Xia berkata dia yakin Dru tertipu oleh sang penghuni rumah, tapi dia tidak memiliki bukti untuk menekan nya, kesalahan yang dilakukan Dru pada masa itu menyeret nya untuk terus bertanggung jawab pada sang pemilik rumah, bertahun-tahun laki-laki tersebut membayar kesalahan besar yang dilakukan nya dan suami nya terus merasa dilandasi kesalahan mendalam, ingin sekali menebus kesalahannya dengan berbagai macam cara namun.....
Sejenak Tiffany melirik kearah Dru.
"Apakah ini yang diceritakan oleh kak Xia? kejadian pada malam itu?"
Tiffany bertanya pada Dru, menelisik wajah Dru ketika laki-laki tersebut telah memarkirkan mobilnya.
sejenak bro menulis Kara Tiffany dan dia terlihat diam untuk beberapa waktu kemudian laki-laki tersebut mengagungkan kepalanya secara perlahan.
__ADS_1
"kejadian pada hari itu benar-benar menyisakan banyak luka"
Dru bicara sembari dia menelisik bola mata Tiffany dalam.
Sang istri tampak diam untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya perempuan itu berkata.
"aku mendengar banyak cerita dari kak Xia, tapi tidak benar-benar paham kejadian sebenarnya seperti apa"
Dia ingat kak Xia nya cukup banyak bercerita, kala itu keadaan tidak baik-baik saja, perempuan tersebut lebih memilih untuk tinggal beberapa waktu di kediaman Hillatop, karena dia berkata tidak ada penghuni didalam kediaman Xavier yang mendengar kan dirinya.
"He em"
"Dan sejak saat itu aku perlahan keluar dari dunia hitam, memilih untuk melepaskan semua nya dan menebus rasa bersalah.
Laki-laki tersebut bicara kemudian menghela pelan nafasnya, dia tampak mencoba untuk menetralisir perasaan nya yang terasa kacau balau.
Tiffany tidak lagi melanjutkan kata-katanya atau tanyanya, dia lebih memilih untuk diam sembari meraih telapak tangan Dru kemudian mengelus nya lembut.
"Bukankah takdir itu sudah ditetapkan oleh NYA? meskipun pada hari itu kakak berada di tempat berbeda, pada akhirnya musibah tidak akan mungkin terelakkan bukan? sama seperti dia, meskipun dia ada ditempat berbeda pada akhirnya dia akan tetap mendapatkan musibah nya, dimana pun, dengan siapapun tanpa bisa di ubah."
__ADS_1
Tiffany bicara, mencoba untuk menghibur Dru dan mengingatkan nya.
"takdir mubram tidak dapat diubah atau sudah pasti akan terjadi. Contohnya kematian seseorang, jodoh seseorang, bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami, dan lainnya."
"Dan Allah SWT telah menetapkan takdir setiap makhluk sesuai dengan ketentuan-Nya. bahkan menurut sebuah hadits, hal tersebut dilakukan jauh sebelum penciptaan langit dan bumi."
"Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR Muslim)
Mendengar ucapan istrinya Dru seketika diam, dalam Palung hati nya sesungguhnya dia tidak baik-baik saja dan selalu menyalahkan diri nya tapi nyata nya dia sadar, seperti kata Tiffany, takdir itu adalah ketetapan Nya dan pada akhirnya tidak ada satu manusia pun mampu mengubah nya.
Laki-laki tersebut kemudian menyentuh lembut wajah Tiffany, dia mencoba meraih tubuh istrinya dan memeluk perempuan tersebut secara perlahan.
"Kadang aku lelah tapi tidak berani melepaskan tanggung jawab ku atas dirinya"
Ucap Dru dengan perasaan kacau balau.
Tiffany tidak bicara, membiarkan tangan kanan nya menepuk-nepuk lembut punggung suaminya.
"Ada aku disini kak, jangan khawatir soal apapun"
__ADS_1
Bisik nya pelan sambil terus mengelus lembut punggung suaminya.