
"Kamu dari mana Tiff?"
laki-laki tersebut kembali bertanya pada Tiffany karena istrinya tiba-tiba saja menghilangkan dan ketika dia mencoba untuk mencari keberadaan nya di samping nya, tiba-tiba Tiffany datang dari arah belakangnya dan memutar jalan membuat dia tidak terkejut.
Tiffany pikir Dru masih tertidur tadi, agak terkejut ketika suaminya memanggil namanya sehingga membuat perempuan tersebut seketika menoleh.
"aku pikir kakak masih terlelap di dalam tidur?"
perempuan itu bertanya balik, belum menjawab pertanyaan dari sang suaminya, mencoba membuang rasa terkejut juga gugup yang melanda dirinya. dia mencoba membenahi posisi tidurnya di mana bro berusaha untuk naik dan bersandar di dinding kasur milik mereka.
"sedikit terjaga karena mimpi yang menerjang, itu sudah terbiasa terkadang beberapa kali aku akan kesulitan tidur di malam hari"
Dru menjawab, berkata jika terkadang dia kesulitan tidur ketika di malam hari karena mimpi-mimpi buruk terus menghantam dirinya, tapi tidak ingin menceritakan secara detail karena takut dianggap terlalu berlebihan oleh sang istri.
mendengar apa yang diucapkan oleh Dru seketika membuat Tiffany mengurutkan keningnya.
__ADS_1
"Mimpi buruk?"
dia bertanya sembari menatap dalam bola mata sang suami, bisa dilihat ada kecemasan di balik bola mata laki-laki tersebut dimana Dru terlihat begitu besar dengan keadaan seolah-olah laki-laki tersebut baru saja bermimpi burung di mana bisa Stefany lihat keringat yang membasahi bagian pelipis dan juga bagian kening sang suami.
Tiffany seketika merasa sedikit bersalah ketika dia tahu jika dia tidak menyadari Dru seperti nya mengalami tingkat kesulitan dan kecemasan yang di sembunyi kan nya pada semua orang tentang dirinya.
Secara perlahan Tiffany menyentuh lembut pelipis kiri sang suami dengan tangan kanan nya, dia menghapus keringat yang terlihat membasahi di area sana dengan gerakan perlahan sembari berkata.
"Apa sering mengalami mimpi buruk setelah kejadian itu kak?"
mengingat bagaimana karakter yang jelas begitu dia dan sulit berinteraksi dengan orang lain, dia khawatir laki-laki itu menyimpan bebannya selama bertahun-tahun hingga hari ini.
mendengar apa yang dipertanyakan oleh sang istrinya membuat Dru sejenak untuk beberapa waktu, netranya bertemu dengan netra Tiffany dan dia membiarkan sang istrinya menatap dirinya untuk waktu yang cukup lama.
dia tampak ragu untuk bicara soal dirinya, karena dia bukan tipe orang yang suka bicara sesuatu kepada orang-orang di sekitarnya meskipun dia berada dalam keadaan tersulit sekalipun. kecuali ketika masih bergulat dengan dunia hitam, dia hanya suka memberikan perintah tanpa mau bercerita pada siapapun soal kehidupan nya.
__ADS_1
"Secara emosional atau logika, semua orang pasti mengalami mimpi buruk beberapa kali di dalam hidup mereka, bahkan aku juga pernah merasakannya tapi bukan berarti mimpi buruk tersebut terjadi berulang-ulang bahkan ketika aku merasa trauma karena pengkhianatan Sean"
Tiffany bicara pelan, kini jemari-jemari perempuan tersebut secara perlahan berpindah ke pipi kiri sama suami, Tiffany mengelus nya lembut dalam posisi mereka saling berhadapan dimana mereka bersandar di sandaran kasur.
"Namun ada pengecualian, jika kita mengalami mimpi buruk secara berulang setelah satu bulan dari kejadian trauma, tandanya mimpi buruk sudah tak sehat. Mimpi yang muncul biasanya hanya kenangan yang menyakitkan dan tak bisa membantu kita menerima keadaan,"
tambah perempuan itu lagi.
Dru terlihat diam, memejamkan bola matanya menikmati sentuhan lembut dari istri nya, dia menggenggam perlahan telapak tangan Tiffany, menikmati kehangatan yang belum pernah dia rasakan.
"Sering Mimpi Buruk Setelah Mengalami Trauma, Tandanya kita Butuh Bantuan"
Dan ketika Tiffany mengatakan hal tersebut, seketika membuat Dru terlihat mencoba menghela berat nafasnya.
"Mari pergi memeriksakan diri jika ada waktu"
__ADS_1
Bisik Tiffany pelan kemudian.