The Doctor

The Doctor
SATU


__ADS_3

Seorang gadis berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Seragam putih abu abu masih melekat di tubuh mungilnya. Bibir tipisnya mengumpat merutuki keterlambatannya. Bagaimana tidak? Saat ia dalam perjalanan tadi ia ditabrak oleh seorang pencopet. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya, berharap sang ayah belum dimasukkan ke ruang operasi. Ia sudah terlambat limabelas menit. Rainia mempercepat larinya menyusuri area rumah sakit yang luas.Banyak pasien, pengunjung, perawat, dan dokter yang berlalu lalang. Bahkan Rain sempat bertubrukan dengan seorang suster. Ia terlalu cemas saat ini.


"Maaf suster. Maaf.." Begitulah permintaan maaf Rain dalam keadaan gentingnya. Ia cepat cepat berlari lagi menuju ruang inap sang ayah. Suster yang sudah ditabraknya hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan kembali dengan aktifitasnya.


Nafas Rain memburu. Jika memang ia terlambat, tak jadi apa. Asalkan nanti ketika selesai operasi ayahnya selamat. Ia akan menunggu ayahnya hingga sesi operasi selesai.


Lain dari dugaan, ketika berada di depan ruang rawat sang ayah Rain mendengar sayup sayup suara tangisan seorang wanita yang begitu familiar ditelinganya. Rain terus melangkah dengan perasaan was was. Setibanya di ambang pintu, ia melihat sang ibu menangisi ayahnya yang terbaring di atas ranjang. Sementara satu dokter dan dua suster yang ada di dalam sana menampakkan raut wajah bersalah. Tak hanya itu, ada alat defiblator yang telah mati yang membuat Rain menelan ludahnya susah payah.


Berbagai perasaan berkecamuk dalam benaknya. Ada apa.? Mengapa ibunya menangis.? Di luar keinginannya tubuhnya bergetar. Ia terus menyangkal atas apa yang ia lihat. Dengan langkah yang kaku ia memberikan diri melangkah mendekati sang ibu yang nampak sangat terpukul.


"Bu.. Ibu.. Ke.. Kenapa ibu menangis.?" Rain bertanya terbata.


"Ayah Rain.. Ayahmu.. Ayah meninggal." Jawab sang ibu tergugu.


Bagai tersambar petir, Rain segera mendekat ke ranjang dimana ayahnya terbaring kaku. Dengan sisa tenaganya ia berusaha menopang tubuh yang terasa ringan bak kapas.


"Ibu jangan berbohong. Bu.. Bukannya hari ini ayah akan di operasi.?" Tanya Rain terbata. ia masih mencoba menyangkal kebenarannya. "Dokter tunggu apa lagi.? Cepat bawa ayah saya ke ruang operasi. Ayah saya harus cepat cepat di operasi supaya dia sehat lagi." Pinta Rainia sembari mengguncang bahu dokter yang sebelumnya menangani ayahnya.


"Berhentilah Rain. Ayah sudah meninggal. Ayahmu sudah kembali pada yang kuasa. Sudahlah nak." Ujar ibu Rain sambil memeluk anaknya. "Ibu akan mengurus pemakamannya."


Rain berontak. Ia meronta melepaskan diri dari pelukan sang ibu lalu menghampiri ranjang sang ayah.


"Ayah.. Bangun ayah.. Bukannya ayah sudah berjanji akan datang di acara kelulusan Rain nanti.?" Rain terisak sambil mengguncang tubuh kaku ayahnya yang sudah mendingin. "Ayah berjanjikan akan melihat Rain lulus dengan nilai terbaik.?" Rain meraung pilu. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia sudah tak mampu lagi untuk menopang tubuh mungilnya.


"Kenapa? Kenapa kalian mengabaikan ayah saya.?" Tanya Rain lirih. "Apa karena kami terlambat membayar.?" Pertanyaan itu lolos keluar dari bibir tipisnya. Setelah sekian lama ia simpan dalam hatinya. "Kemana dokter yang dulu pernah janji akan menangani operasi ayahku hari ini.? Apa dia lupa.? Apa ia ingkar janji lagi.?!"


Semua orang tertunduk. Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan gadis cantik itu.

__ADS_1


"Ayah saya terus mengeluh kesakitan, tapi kalian terus mengabaikan keluhannya. Semua orang termasuk dokter hanya memandang finansial daripada keselamatan pasien. Betapa malang nasib ayah saya!" Sebulir air bening lirih dari kelopak matanya, membasahi pipi putihnya. Rain tak kuasa menahan tangisnya, tubuhnya bergetar.


"Ayah.. Ayah..!!!" Tangis Rain semakin meledak. Terdengar begitu memilukan. Ruangan itu di kungkung rasa duka yang mendalam. Sementara Rainia sudah tidak bisa berbuat apa apa.


 


\*


 


Delapan tahhun kemudian.


Sebuah ruangan dengan interior cantik, luas, terpampang jelas di mata Rain. Terutama sebuah meja yang di atasnya terdapat papan nama 'Ahli Bedah Umum Rainia Haera Azzahra'. Di belakangnya terdapat jas dokter berwarna putih bersih yang tergantung. sungguh posisi itu terlihat begitu mengagumkan. Terlebih, Rain yang meraih gelar itu di usianya yang masih begitu muda, yang baru menginjak angka duapuluh lima. Rain tergolong anak yang cerdas, bahkan sejak kematian sang ayah saat ia baru memasuki jenjang SMA ia semakin gencar menunjukkan kecedasan dan prestasinya sehingga ia lulus satu tahun lebih awal. Dengan kecerdasannya pulalah ia bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya melalui jalur akselerasi. Begitupun ketika ia mengambil pendidikan spesialis bedah umum yang lagi lagi di tempuhnya dalam waktu yang singkat.


Siapa yang tidak mengenal Rainia Haera Azzahra di rumah sakit Bakti Husada tempatnya bekerja.? Banyak yang memandang kagum dan juga iri pada sosok cantik nan dingin ini.


"Masuk.!" Titah Rain tanpa mengalihkan atensinya dari kertas yang tengah di pegangnya. Sesaat kemudian masuklah seorang pria dengan jas dokternya membawa laporan di tangannya.


"Selamat pagi dokter." sapanya.


"Hmm... Ada apa dokter Hendri.?" Tanya Rain setelah bergumam.


"Be.. Begini dok. Se.. Sebenarnya.. Mmm sebenarnya..."


"Jika kau kemari hanya untuk belajar bicara, maka sebaiknya kau pergi saja dari sini. Jangan membuang waktuku dan kembalilah saat kau sudah pandai bicara.!!" Sarkas dokter Rain memotong ucapan dokter Hendri.


Sementara orang yang di marahi hanya diam terkejut. Dengan kegugupan yang masih melanda serta berusaha menghilangkan kegugupannya ia berkata. "Ma.. Maaf dokter. Saya kesini ingin mengatakan bahwa pasien gagal jantung yang kita tangani ingin menunda operasinya hari ini."

__ADS_1


"Kenapa.?"


"Itu karena mereka belum memiliki biaya operasinya."


"Dan kau menyetujuinya.?"


"Ya... Saya rasa itu keput......."


"Ada apa denganmu? mereka sudah menyepakati operasi itu sebelumnya dan aku yang akan menangani pasien itu. Mereka menundanya dan kau dengan seenak jidatmu menyetujuinya.? Apakah kau berniat mengoperasi pasien setelah ia kehilangan nyawanya.?!!" Bentak dokter Rain yang lagi lagi membuat dokter Hendri terdiam.


"Sudahlah. Cobalah meminta keringanan pada pihak rumah sakit. Semakin lama operasi di tunda itu akan berakibat buruk pada kondisi pasien. Keputusannya ada padaku, siapkan ruang operasinya malam ini."


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi."


Setelah kepergian dokter Hendri, Rain menghela nafas dalam sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Otaknya memutar kembali di saat ayahnya meninggal dunia sebelum sempat di operasi hanya karena kekurangan biaya. Rain mendengus gusar.


Berbeda dengan dokter Rain, dokter Hendri yang baru keluar dari ruangan dokter Rain ia mengumpat dan mencak mencak sendiri saking kesalnya. Banyak yang memandang dokter muda yang cukup tampan itu dengan aneh.


"Haisss... Gadis dingin dan pemarah sepertinya kenapa menjadi dokter.? Apa pasiennya tidak tambah sekarat karena mulutnya yang pedas itu.? hahhh aku bahkan tidak menyangka akan ada gadis yang tidak memiliki hati dan lemah lembut seperti dirinya." Gerutu dokter Hendri.


"Ada apa dokter.? Sepertinya ada masalah. Setelah keluar dari ruangan dokter Rainia anda sepertinya kurang baik." Tanya seorang suster.


"Ah.. Ti tidak apa apa. Aku hanya sedang berpikir tentang pengeluaranku akhir akhir ini."


"Oh begitu. saya kira ada masalah."


"Tidak apa apa suster Naumi. saya akan kembali ke ruang staf departemen ku." Pamit dokter Hendri.

__ADS_1


__ADS_2