
Beberapa saat sebelumnya..
Di dan Baekhyun kembali ke ruang rawat Chanyeol. Dengan berbagai jurus, akhirnya mereka bisa membujuk dokter Eunri agar memperbolehkan Chanyeol kembali ke dorm. Namun keduanya jadi saling pandang ketika tidak mendapati kamar yang di tempati temannya itu kosong melompong.
"Kemana Chanyeol dan Oh Sehun.?" tanya Do Kyung Soo.
"Entahlah. Mungkin mereka sedang keluar." ujar Baekhyun. "Sebaiknya kita tunggu saja."
Belum sempat Baekhyun mendaratkan bokongnya di sofa, pintu kamar terbuka memunculkan Sehun dengan kantung plastik yang di tentengnya.
"Dimana Chanyeol hyung? Kenapa tidak bersamamu.?" Tanya Do ketika menyadari bahwa Sehun hanya sendiri.
"Apa tidak ada disini hyung.? Tadi aku meninggalkannya karena ia memintaku untuk membeli minuman" ujar Sehun.
"Haishhh anak itu." frustasi Baekhyun.
"Cepat cari dia sebelum ia dikerumuni fans." Ujar Do dan bergegas keluar ruangan di ikuti Baekhyun dan Sehun.
Mereka berjalan sembari melihat ke kiri dan ke kanan memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Itu seperti Chanyeol hyung." ujar Sehun sembari tangannya menunjuk seorang pria tinggi bak tiang listrik yang tengah berdiri di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka. Merekapun segera menghampiri Chanyeol.
"Hyung kenapa kau disini.? Apa salah kamar.?" tanya Sehun.
Namun orang yang di tanyai tidak merespon, terlalu fokus memperhatikan apa yang terjadi di dalam sana. Sepertinya ia tidak menyadari kedatangan teman temannya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, ketiganya pun mengikuti kemana arah pandangan Chanyeol. Mereka terpana melihat adegan di dalam sana.
Setelah dokter dan perawat yang menangani pasien tersebut pergi, Do segera mengajak Chanyeol kembali ke kamarnya dan bersiap untuk kembali ke dorm.
**********
Rainia memijat pelan tengkuknya yang terasa pegal bukan main. Tubuhnya masih terasa lemas. Ketika Rainia meminum airnya pintu ruangan kerjanya terbuka, muncullah ketua Park dengan senyum yang secerah mentari.
"Selamat Rain."
"Untuk.?" tanya Rainia dengan wajah bingungnya.
"Atas kembalinya detak jantung Jung Il Sung. Dia salah satu pasien penting di rumah sakit Haesung."
Rainia hanya mengangguk acuh. Selalu saja orang yang mempunyai kekuasaan dan uang yang menjadi prioritas. Sementara mereka yang miskin terabaikan. Hanya segelintir orang saja yang peduli terhadap mereka. Rainia sangat membenci ini. Karena ayahnya juga mengalami ini. Karena pasien yang katanya penting dokter yang menangani ayahnya menunda operasinya hingga akhirnya meninggal sebelum sempat di operasi.
Ia tidak mau menjadi dokter yang seperti itu. Penting tidaknya Jung Il Sung bagi rumah sakit, ia akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Karena tugas seorang dokter adalah melakukan yang terbaik untuk pasiennya.
"Kau boleh pulang sekarang. Shift malammu di alihkan Minggu depan."
"Khamsamnida."
Setelah kepala Park pergi, Rainia segera membereskan barangnya kedalam tas. Walau bagaimanapun tubuhnya perlu di istirahatkan walau hanya sebentar.
***************
"Dokter..!"
__ADS_1
Suara panggilan yang entah dari siapa membuat Rainia yang tengah dalam perjalanan menuju parkiran menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilnya.
Seorang remaja laki laki setengah berlari menghampirinya. Remaja yang memakai kaus putih dengan celana berwarna biru telur asin, wajahnya terlihat ceria.
"Nuguseyo.?" Tanya Rainia bingung.
Anak remaja itu mengulurkan tangannya. "Il Woon. Namaku Jung Il Woon."
Rainia membalas uluran tangannya, kemudian memandang menelisik mengingat ingat dimana ia pernah bertemu dengan remaja itu.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkan ayahku."
Ucapan remaja itu membuat Rainia mengingat anak laki laki yang memakai almamater sekolahnya, yang menangis sembari memeluk ibunya sayang ketika nyawa ayahnya berada di ujung tanduk. Manis sekali anak ini, pikirnya.
Bibirnya menampilkan seulas senyum yang sangat jarang di perlihatkannya pada orang lain.
"Jangan senang terlebih dahulu. Sebaiknya tolong jaga ayahmu hingga ia siuman dan melewati masa sulitnya."
Il Woon tersenyum hingga menampilkan dua lesung pipi yang terlihat begitu mempermanis wajahnya.
"Jika ayahku sudah siuman dan membaik, maukah kau menerima hadiah dariku nuna.?"
"Tidak. Karena itu sudah tugasku sebagai dokter." Tolak Rainia halus.
"Apa aku harus kembali menangis agar nuna mau menerima hadiah dariku.?" Tanya Il Woon dengan wajah memelasnya.
Rainia menghela nafas di buatnya.
"Baiklah jika memaksa. Sekarang kau harus masuk ke dalam, angin di luar sedang buruk." ujar Rainia akhirnya. Ia menyerah.
Rainia mengangguk. Il Woon berbalik meninggalkan Rainia sendiri di tengah taman belakang rumah sakit Haesung. Dalam hati ia merutuk menyesali mengapa ia harus memarkirkan mobil miliknya di parkiran belakang, bukannya di parkiran khusus dokter.
************
Suasana dorm EXO tengah ramai. Para member tengah sibuk berebut snack sembari menunggu kepulangan Chanyeol. Mereka sudah mendapat kabar dari Baekhyun bahwa Chanyeol akan pulang ke dorm.
"Aku lapar.!" Teriak Kai frustasi. "Kenapa Do hyung lama sekali.?" Kai memanyunkan bibirnya kesal.
"Jangan sentuh punyaku hyung." teriakan yang berasal dari Chen yang melindungi snack nya dari Lay.
"Yaaa itu aku yang beli tadi." ujar Xiumin tidak terima.
"Aku yang membawanya, jadi itu punyaku." ujar Lay sembari menarik baju Chen.
"Hyung jangan menarik bajuku. Nanti sobek aku baru membelinya kemarin."
"Jangan berisik..!" Teriak Suho dengan suaranya yang melengking. Namun tidak ada satupun yang mendengarnya. "Haishhh kalian ini." Suho menjambak rambutnya frustasi. ia menyerah atas kelakuan para membernya ini.
Xiumin, Chen, dan Layasih sibuk memperebutkan snack, sementara Kai merengek kelaparan. Saat ketiganya cek cok. Kai tidak lagi membuang kesempatan. Ia diam diam merangkak menyelinap mengambil snack yang tengah di perebutkan oleh Xiumin, Chen, dan Lay lalu bersembunyi di balik sofa makan diam diam.
"Kaiiiiiiii" Teriakan Xiumin, Chen, dan Lay menggelegar bersamaan begitu menyadari Snack yang mereka perebutkan lenyap entah kemana. Sementara yang di teriaki mendadak jadi tuli.
__ADS_1
Sesaat kemudian pintu dorm terbuka memunculkan empat orang yang mereka tunggu sedari tadi. Mereka yang tadinya ribut, langsung mengerumuni Chanyeol.
"Hyung apa ada yang patah.?" Tanya Kai memutar tubuh Chanyeol ke kanan dan ke kiri. Bahkan sampai mencubit pipi serta menoel telinga lebar Chanyeol.
"Haishhh aku baik baik saja." ujar Chanyeol sembari menyingkirkan tangan Kai dari telinganya. "Dokter Eunri saja yang berlebihan.
Chen yang masih belum percaya, dengan kaca pembesar yang entah ia dapat dari mana memeriksa tubuh Chanyeol dari atas hingga bawah. Chanyeol mencebik apa apaan hyungnya itu.
Suho menarik Chanyeol dan mendudukkannya di sofa yang diikuti member lainnya. sementara Kai ia sudah menculik Di ke dapur. Ia sudah sangat kelaparan.
"Kalau kau baik baik saja, kenapa dokter Eunri malah menyarankan agar kau di rawat di rumah sakit.?" tanya Suho memandang Chanyeol lekat lekat.
"Kau seperti tidak tahu dokter centil itu saja hyung. Jujur saja, aku tidak nyaman dengannya." Ujar Chanyeol.
"Aku juga." Sahut Baekhyun. "Ia tidak bersikap layaknya dokter, lebih seperti fans."
"Lebih tepatnya Sasaeng fans." Sehun menyahuti. Otaknya mengingat kembali di saat ia menderita sakit perut karena salah makan. Bukannya mengobati dokter Eunri malah mengelus perutnya.
"Iyeuuuhhh.." Sehun dan Baekhyun bergidik ngeri.
"Bagaimana kalau kita minta agar dokter Eunri di ganti saja.?" tanya Kai yang baru saja bergabung.
"Aku juga berpikir begitu. Apalagi tadi kami bertemu dengan dokter cantik dah hebat." ujar Baekhyun dengan semangat empat limanya.
Mereka yang tidak ikut ke rumah sakit jadi saling berpandangan. tidak mengerti apa yang di maksud oleh Baekhyun. Serempak mereka memandang ke arah Chanyeol dan Sehun meminta penjelasan. Chanyeolpun menceritakan tentang kejadian di rumah sakit sebelum mereka pulang tadi.
"Wohhh hebat.." komentar Xiumin ketika Chanyeol mengakhiri ceritanya.
"Aku jadi penasaran dengan dokter itu." ujar Kai.
Suho yang sedari tadi menyimak pembicaraan membernya diam diam setuju dengan pemikiran mereka. Terlebih ia diam diam mengamati kinerja dokter Eunri. Bukannya bermaksud kurang ajar, namun ia memang merasa dokter Eunri berbeda dengan dokter sebelumnya. Dokter Eunri terlalu sering menceritakan hal hal yang tidak mereka mengerti ketimbang memeriksa kesehatan mereka.
Terlebih lagi Do. Ketika ia dan Sehun bertanya di mana ruangan Chanyeol di rawat ia sempat mendengar pembicaraan beberapa orang perawat mengenai dokter Eunri.
Flashback on
"Permisi. Dimana ruang rawat Park Chanyeol.?" Tanya Do pada wanita yang berjaga di meja informasi.
"Ruangannya ada di lantai tiga. Ruang VIP nomor 1204." Ujar wanita itu tersenyum ramah.
"Terimakasih."
Do dan Sehun melangkah pergi menuju lift. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti saat beberapa orang perawat dan dua dokter magang membicarakan dokter Eunri.
"Kudengar katanya dokter Eunri membuat masalah lagi." ujar salah satu perawat.
"Ya. Dokter Eunri terang terangan merayu pasien di depan istrinya, hingga berakhir Jambak jambakan." timpal salah satu dokter magang.
"Mengganggu ketentraman saja." gerutu seorang perawat laki laki.
"Hyung kenapa masih di situ.?" Suara Sehun. Mau tidak mau Di mengakhiri acara mengupingnya dan bergegas ke ruangan Chanyeol.
__ADS_1
Flashback off
"Sudahlah nanti saja kita bicarakan. Sekarang ayo makan." Ujar Do mengakhiri acara curhat curhatan mereka.