The Doctor

The Doctor
ENAMBELAS


__ADS_3

Disinilah dokter Rainia berada. Duduk berhadap hadapan dengan ketua Park dengan kepala yang tertunduk, bersiap menerima omelan atasannya. Sementara di seberangnya ketua Park duduk sembari memegangi kepalanya. Terlihat frustasi.


"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu.?" tanya ketua Park Ki Yong masih memegangi kepalanya pertanda ia pusing tujuh keliling. "Melakukan dua operasi sekaligus, membentak ketua rumah sakit, memprotes kinerja keponakannya. Lalu apa lagi.?" tanya ketua Park sambil mengabsen satu persatu kesembronoan dokter Rainia.


Sementara yang di omeli masih diam dengan kepala yang tertunduk dalam. Sebenarnya, masih banyak unek unek yang belum ia sampaikan. Tapi tidak mungkin ia membentak atasannya untuk yang kedua kalinya kan.?


"Sekarang akibat ulahmu, kau di skorsing selama dua minggu.! Sekarang aku akan kehilangan salah satu dokter terbaikku. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi. Apa kau mengerti.?" Tanya ketua Park. Namun sepertinya dokter Rainia tengah hanyut dalam dunianya sendiri.


"Kamu mengerti Rainia Haera Azjala..?!" Bentak ketua Park menyadarkan dokter Rainia dari lamunannya. "Haishhh kenapa namanya susah sekali.?" keluhnya kemudian.


Keluhan ketua Park membuat Rainia berusaha keras agar tidak menyemburkan tawanya di hadapan atasannya itu. Jika sampai itu terjadi tamatlah sudah riwayatnya.


Sementara di dalam ruangan di penuhi oleh atmosfir ketegangan. Berbeda pula dengan keadaan di luar ruangan ketua Park. Sama seperti sebelumnya. Beberapa perawat, dokter residen, dan dokter magang menguping pembicaraan yang sangat langka menurut mereka. Karena selama ini dokter Rainia hanya mendapatkan pujian atas kinerjanya dari dokter senior. Tentu saja hal ini mengundang perhatian mereka.


Dokter Ahn, perawat Wang, dan lima orang lainnya menempelkan telinga mereka di pintu dan dinding kaca yang sudah di beri pelapis agar kegiatan di dalamnya tidak bisa dilihat oleh orang yang berada di luar ruangan.


Dokter magang yang lebih cerdik menggunakan stetoschop dengan menempelkan chestpiecenya di dinding kaca agar mendengar lebih jelas. Dokter Ahn yang melihat dokter magang yang lebih pintar darinya, lantas mengikuti cara dokter magang itu untuk menguping.


Sesaat kemudian terdengar suara seseorang akan membuka pintu. Membuat mereka semua yang menguping lantas panik dan bubar sendiri sendiri dengan caranya masing masing.


Dokter Ahn, dan dokter Hoo saling memeriksa dengan stetoschop masing masing. Dokter Ahn menaruh bagian chestpiece (bagian yang di tempelkan ke tubuh pasien) ke dahi dokter Hoo. Sementara dokter Hoo menaruh chestpiece di pundak dokter Ahn.


Sementara perawat Wang, perawat Hana, dan dokter magang Jimin melakukan hal yang lebih konyol. Perawat Wang duduk di kursi roda yang memang sedari tadi dibawanya untuk pasien namun malah ikut ikutan dalam acara menguping.


Dokter magang Jimin bingung karena stetoschopnya di ambil oleh perawat Han langsung duduk di pangkuan perawat Wang ketika dokter Rainia keluar dari ruangan ketua Park.

__ADS_1


Perawat Hana yang juga ikut acara menguping langsung berlari kearah kursi roda dan berpura pura mendorong dua pasiennya yang duduk tumpang tindih di kursi roda.


Perawat Han yang juga ikut menguping langsung berlari kearah pasien terdekat. Perawat Han yang mengambil paksa stetoschop dokter Jimin langsung berpura pura menjadi dokter dan memeriksa pasien. Tapi ia lupa dan malah menaruh chestpiecenya pada tabung infus, karena biasanya perawat selalu memeriksa infus pasien.


Perawat Yoori, perawat yang selalu mengikuti kemanapun dokter Rainia juga menaruh rasa ingin tahu yang tinggi. Ia juga ikut ikutan yang lainnya dalam aksi menguping. Ketika tiba tiba dokter Rainia akan keluar dari ruangan ketua Park semuanya langsung panik termasuk juga dirinya. Tanpa berfikir panjang, refleks ia mengikuti perawat Han dengan membawa melamin yang berisikan data pasien. Perawat Yoori berpura pura membaca data pasien namun naas bagi perawat Yoori karena membaca melaminnya dengan posisi yang terbalik. Kertas dara pasien di belakang sementara belakang melamin yang polos di depan wajahnya.


Dokter Rainia keluar dari ruangan ketua Park sambil bersungut sungut kesal. "Apa apaan dua minggu.? Haishhh..." Ketika ia berbalik, sontak matanya melotot sempurna ketika atensinya melihat pemandangan yang begitu ajaib tersuguh di depannya. Sementara ketujuh orang tadi berusaha mengintip dimana kiranya posisi dokter Rainia berada.


Matanya nyaris copot saking tidak percayanya akan pemandangan ajaib yang terpampang jelas di matanya. Kenapa orang orang jadi hobi menguping.?


Pemandangan pertama yang dokter Rainia lihat adalah dokter Ahn dan dokter Hoo. Keduanya hanya berdiri di samping pintu ruangan ketua Park Ki Yong. Dokter Ahn dan dokter Hoo saling berhadapan dengan dokter Hoo yang membelakangi dokter Rainia sambil memejamkan matanya takut akan ketahuan oleh dokter Rainia. Sementara dokter Ahn mengintip di mana posisi dokter Rainia berada dibalik tubuh dokter Hoo. Dokter Rainia menampakkan ekspresi yang sulit dibaca. Tampak kesal, bingung, dan lucu di waktu yang bersamaan. Dokter Ahn diam diam meringis ngeri.


"Aduhhhh...." Ringis dokter Ahn ketika mata beningnya bertabrakan dengan mata bening dokter Rainia yang melotot padanya. Rainia hanya bisa menghembuskan nafasnya gusar.


"Apakah disitu letak jantung pasien.?" Tanya dokter Rainia kesal.


Dokter Rainia beralih menegur kepala perawat Han dan perawat Yoori.


"Perawat Han, sejak kapan tabung infus memiliki denyut jantung.?" Tanya dokter Rainia lalu beralih pada perawat Yoori. "Perawat Yoori, apa kau bisa membaca itu dengan posisi seperti itu.? Kau pasti sangat kesulitan."


Kepala perawat Han dan perawat Yoori hanya saling berpandangan ketika menyadari kesalahannya mereka. Sementara dokter Rainia kembali berjalan dan berhenti tepat di depan perawat Hana yang tengah mendorong pasien. Dokter Rainia kembali mendengus. Kebodohan lainnya, pikirnya.


"Perawat Hana, muatanmu berlebih." Tegurnya sambil lalu.


"Ya.??" Tanya perawat Hana sedikit linglung. Ia menelan ludahnya susah payah.

__ADS_1


Dokter Rainia menepuk pundak dokter Jimin dan menyindir keduanya yang duduk saling pangku di kursi roda.


"Dokter Jimin, dimana stetoschopmu.?" tanya dokter Rainia kepada dokter magang Jimin. "Dan kau perawat Wang, apa kau tidak merasa berat.?" tanya dokter Rainia kepada perawat laki laki yang memangku dokter Jimin.


Dokter Rainia yang di buat menggeleng atas perilaku mereka lalu melangkah pergi. Sementara ketujuh orang tadi membentulkan kembali posisi masing masing.


"Wahhh situasi bodoh macam apa itu tadi.?" tanya dokter Ahn ketika teringat kekonyolannya tadi. Sementara dokter Hoo bergidik ngeri.


"Seketika berubah jadi orang idiot." Rutuk dokter Hoo malu.


Sementara perawat Yoori dan kepala perawat Han, memerah malu karena aksi konyol mereka ternyata disaksikan oleh pasien. Sementara perawat Hana, dokter Jimin, dan perawat Wang, berpura pura seolah olah tidak terjadi apapun walaupun mereka juga merasa malu bukan main.


Kemudian pintu kembali terbuka. Ketua Park yang baru keluar itu jadi bingung atas kelinglungan para dokter dan perawatnya.


"Kenapa kalian seperti orang bodoh begitu.? Apa tidak bekerja.?" Tegurnya kemudian.


Sontak saja membuat mereka bubar dan kembali kepada pekerjaan mereka masing masing.


**Haiii semuanya...


Terimakasih sudah membaca karyaku..


Jangan lupa untuk meninggalkan jempolnya yaa..


Jika berkenan tolong berikan votenya juga...

__ADS_1


Terimakasih atas segala dukungannya.. Sampai jumpa pada chapter berikutnya**..


__ADS_2