The Doctor

The Doctor
episode 24 kabar abisha


__ADS_3

"Azka," panggil wulan


Kini mereka sedang berada dikamar, Azka. Wulan berjalan menghampiri Azka yang sedang memainkan hp diatas kasurnya dengan posisi menyandar. Jam menunjukan sekitar pukul setengah 9 malam.


"Kakak," ucap Azka lirih lalu menghentikan Aktivitasnya.


Wulan duduk dikursi yang ada dikamar, Azka. Matanya menelusuri setiap seluk beluk kamar, Azka. Ya, Wulan bisa dikatakan sangat jarang dan bahkan baru beberapa kali masuk kamar adiknya. Itu kenapa ia merasa sedikit asing.


"Ada apa, kak?"


Wulan menghembuskan napas. Tujuannya kesini hanya ingin menanyakan tentang Abisha yang sudah menikah. Apakah adiknya sudah tau atau belum?


"Kamu tau kabar Abisha sekarang?"


Azka mengernyitkan dahi. Dia memang sudah lama tidak bertemu, Abisha. Terakhir setelah acara kelulusan. Tapi kemarin Azka sempat mengchet Abisha untuk menayakan kabar dan tentang daftar kuliah, dan Abisha bilang dia baik-baik saja.


"kemarin katanya dia baik. Emang kenapa kakak nanya kaya gitu? Kangen?"


Wulan tersenyum kecut. Hatinya kembali sakit."Kamu datang kepernikahan, Abisha?"


Tentu saja Azka kaget. Bagaimana mungkin? Hatinya masih belum percaya. Namun, jantungnya sudah berdetak begitu kencang.


"Abisha nikah? Nggak mungkin, kak! Abisha bilang sama Azka dia mau kuliah diluar kota. Kalo nikah rasanya nggak mungkin." Sanggah Azka.


"Awalnya kakak juga nggak percaya. Tapi, itulah kenyataanya. Kakak kesini tadi cuman mau nanya sama kamu. Kenapa kamu tidak memberitahu,  kakak? Tapi ternyata kamu juga tidak tau,"


"Kakak salah kali, kak." Ucap Azka lagi.


"Kakak nggak mungkin salah. Abisha sendiri yang bilang sama kakak kemarin."


Azka sudah tidak habis pikir. Badannya terasa lemas seketika. Wulan tau adiknya menyukai, Abisha. Itu kenapa Wulan memberanikan diri memberi tahu Azka, supaya ia tidak berharap lebih kepada istri orang.


"Kapan?"


"Katanya sekitar seminggu yang lalu. Sekarang dia juga sudah tinggal dirumah suaminya. Dokter Daffin. Kamu ingatkan yang temen, kakak?"


Ingatan Azka langsung menginggat perkataan pasya hari itu. Azka hanya diam. Tidak terima rasanya. Tapi, Azka juga tidak bisa memaksakan kehendaknya.


"Kakak tau kamu menyukai, Abisha. Tapi kamu harus ikhlas, mungkin Abisha bukan jodoh yang allah kirimkan untuk kamu."


"Apa sih, kak. Kita cuman temenan." Balasnya memaksakan untuk tersenyum.


"Kakak tau, ka. Setiap kakak lewat dikamar kamu, kakak liat kamu selalu memandangi foto seorang wanita. Waktu itu Kakak begitu penasaran, dan akhirnya kakak mengambil foto itu yang kamu simpan dilemari. Kakak sedikit kaget kalau foto itu foto, Abisha. Kamu juga sering menanyakan kabarnya'kan? Dan untuk yang terakhir kamu menanyakan kabar, mungkin saja itu suaminya yang balas. Jadi, sekarang jangan menghubunginya lagi. Kecuali ada kepentingan. Sekarang ia sudah punya suami. Kamu lupakan, Abisha. Kakak kekamar." Pamit Wulan. Ia beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya. Jujur ia tidak bisa menahan sedihnya lagi.


Azka masih terdiam. Matanya sudah memerah. Sakit, dadanya terasa sesak. Wanita yang selama ini ia doakan, berharap untuk jadi makmumnya. Namun hari ini hancur.


"Abisha, secepat itu kamu menikah? Kenapa tidak memberiku waktu untuk membuktikan bahwa aku ini mencintaimu. Dari kelas 10 sampai sekarang. Kamu tau, begitu banyak waktu hanya untuk memendam rasa itu. Dan menurutku itu belum cukup. Aku hanya ingin sukses dulu baru melamarmu. Namun, itu terlambat. Kamu sudah mencintai orang lain. Yaallah, maafkan hambamu ini."


***


Abisha hari ini berkumpul dirumahnya bersama ke 3 temannya. Sebenarnya Amanda mengajak  temannya untuk ketemu diluar. Namun, Abisha menolak dengan alasan tidak enak meninggalkan nenek Daffin sendiri dirumah. Alhasil mereka memutuskan untuk kerumah Abisha saja.


Mereka bertiga sudah duduk diruang tamu. Melihat seisi rumah, Daffin. Sungguh mewah pikir mereka.


"Diminum, ya! Maaf seadanya."ucap Abisha sambil memberikan minum dan beberapa cemilan.


"Iya, ini udah cukup, kok."balas mereka.


Abisha duduk disamping, Fitri. Neneknya sedang istirahat dikamar.


"Gila, dokter Daffin kaya banget, ya?"terang Aurin.


"Beruntung banget lo sha punya suami kaya dia."tambah Amanda.


Abisha hanya tersenyum."Kalian apa kabar?"


"Alhamdullillah, baik. " jawab mereka


" Lo gimana? Udah punya kabar baik untuk teman-temanmu ini. Um?" Amanda tersenyum jahil. Membuat Abisha kebinggungan. Kabar Baik? Apa?


"Kaya, Fitri. Dia sekarang udah punya dede bayi, loh."tambah Aurin. Fitri tersenyum. Fitri memang sudah menikah bersama Riki. Tepatnya seminggu setelah kelulusan.


Abisha sedikit kaget"Maksudnya kamu hamil?"tanyanya dengan senang. Fitri mengangguk sambil tersenyum. Dengan sigap Abisha memeluk tubuh, Fitri." Selamat, ya. Bentar lagi udah jadi mama."ucap Abisha.


"Iya, makasih! Kamu gimana? Udah ngisi belum?" Goda Fitri.

__ADS_1


"Belum sampai 2 minggu guys, masa udah tumbuh aja." Timpal Aurin terkekeh.


"Iya, juga. Kalo Fitrikan udah sebulan, ya?" Ucap Amanda membenarkan.


Abisha hanya tersenyum canggung. Bahkan dibuat saja belum! Pikirnya. Bagaimana mau tumbuh jika ditanam saja belum?


"Enak banget ya kalian kayanya nikah muda? Jadi pengen."renggek Amanda.


"Kuy, gercep."


"Calonnya nggak ada, gimana coba?"


"Tenang, Om gue ada. Duda. Mau?" Tawar Aurin terkekeh.


"Gila lo, ya? Amanda cewek seleb mau lo kasih duda. Hah, adah-adah sajah."


"Lo jangan salah. Dudah lebih mengodah ...!"


"Pala lu mengoda."


Fitri dan Abisha hanya terkekeh. Senang rasanya bisa ketemu temannya.


"Sha, lo udah daftar kuliah? Kita berdua udah daftar." jelas Aurin.


"Aku nggak kuliah."


"Lah, kenopo?" Tanya Amanda sedikit kaget.


"Kalian'kan tau aku udah nikah. Jadi, aku pikir-pikir nanti kalo kuliah agak ribet. Takut tugas terbengkalai dan kewajiban aku juga terbengkalai. Lagian aku juga kasian sama nenek kalo harus sendiri dirumah."


"Lagian kenapa lo bisa tiba-tiba nikah gitu, sih?" Tanya Amanda.


"Tau, mendadak banget perasaan." Timpal Aurin.


"Iya, Abisha belum cerita, ya. Kok bisa?" Tanya Fitri.


"Cerita, nih?"


"Iya, kita penasaran banget. Seorang Abisha yang terlihat anti cowok.Tapi tiba-tiba nikah. Aneh nggak, sih?"


"Gue jantungan, kejang-kejang sakin kagetnya."timpal Amanda.


"Lo mah selalu kejang-kejang. Apalagi ketemu cogan? Kaya gini, nih." Aurin membuat gaya seperti orang kejang-kejang. Tawanya tiba-tiba pecah begitu juga dengan Fitri dan Abisha.


Amanda menjitak kepala Aurin yang berada disampingnya. Aurin meringgis. "Sakit, ih."


"Makanya jangan sembarangan gitu."


" Udah-udah kok berantem, sih? Nggak mau dengan cerita Abisha, emang?"tanya Fitri.


"Mau," jawabnya bersamaan. Mereka mengambil cemilan diatas meja. Persiapan untuk mendengarkan sahabatnya cerita.


Abisha tidak ingin bercerita. Abisha malu. " Sha, cerita dong. Siapa tau cerita lo menginspirasi buat gue jadiin novel nanti."terang Amanda. Amanda memang suka menulis. Saat ini ia sedang menekuni hobinya dengan menulis novel.


"Malu,"


"Nggak usah malu. Kitakan teman kamu, lagian kamu nggak pernah cerita loh selama ini sama kita. Masa kita terus yang cerita. Sekali-kali kamu. Fitri juga udah ceritakan. Jadi sekarang giliran kamu."


"Yaudah, ok. Tapi apanya yang mau diceritain?"tanya Abisha binggung


"Gini aja, deh, kamu cerita dari awal kamu kenal Daffin sampai kalian menikah. Kita itu penasaran banget. Kok bisa tiba-tiba? Padahal aku nggak pernah liat kamu jalan sama Daffin atau pergi sama, Daffin. Kok tau-taunya udah nikah aja." Suruh Fitri.


Abisha menatap sahabatnya secara bergantian. Tatapan serius dan menunggu membuat Abisha ingin garuk-garuk kepala. Abisha manarik napas dalam-dalam sebelum memulai bercerita.


"Jadi, awal aku ketemu Daffin yang aku ingat sih di Atm. Waktu itu kita masih PKL dan hampir selesai selesai, sih. Jadi, waktu itu kartu ATM aku nggak sengaja jatuh kebawah dan Daffin yang bantu ambil. Itu'sih."


"Jadi lo kenal sama Daffin pas di ATM?" Tanya Manda sesekali ia memakan cemilan.


"Waktu itu aku belum kenal Sama, Daffin. Aku kenal Daffin waktu anter bunda kerumah sakit. Waktu itu aku nunggu bunda ditaman, terus tiba-tiba Daffin datang dan nyapa gitu."jawabnya ragu-ragu.


"Nyapa? Maksudnya nyapa gimana?" Tanya Fitri.


"Abisha!"jawab Abisha ragu-ragu.


"Lah, berarti dia udah kenal kamu. Terus habis itu kalian kenalan, dong?"tanya Amanda.

__ADS_1


"Iya,"


"Terus, yang buat lo neriman dia apa?"kini Aurin yang bertanya.


"Kalian ingatkan pas aku masuk rumah sakit dulu?" Temannya hanya mengangguk"Dulu aku'kan nginep dirumah sakit satu malam. Jadi, bunda, ayah, adik aku nggak bisa jagain aku. Izar rewel, ayah harus bekerja dan Deeva ada ulangan. Jadi, waktu itu Daffin jagain aku...."jawabnya menatap temannya ragu-ragu.


"Jadi lo tidur didalam satu ruangan? Lo dibrangkar terus Daffin dikursi kaya sinetron-sinetron gitu. OMG,pantesan lo baper."potong Amanda hebohnya.


"Diem lo. Main poting aja."gerutu Aurin.


Amanda terkekeh,"Abis'nya keduluan baper dulu,sih!"


"Manda- Manda."Fitri geleng-geleng.


"So...,"ucap Aurin.


"Awalnya dulu aku ngira dia mau periksa kondisi aku. Ternyata aku salah. Terus dia jelasin, katanya disuruh ayah buat jagain aku bentar. Aku nolak, jujur aku nggak enak. Selain bukan mahram, akukan juga baru kenal sama, Daffin. Jadi, akhirnya dia mau. Jujur aku bersyukur banget. Tapi, sekitar jam 9 malam itu, aku denger bunyi orang nampar tangan gitu. Kaya digigit nyamuk. Awalnya sedikit takut sih mau liat apalagi dirumah sakit. Tapi, bunyinya itu depan kamar aku. Jadi aku bangkit dan liat. Terus saat aku buka pintu, ada dokter Daffin diluar yang lagi baring dikursi depan. Dia kaget aku keluar dan langsung berdiri begitu aja. Terus aku tanya kenapa bisa baring disitu? Dia bilang buat jagain aku. Awalnya aku binggung, kenapa sampe segitunya, apalagi aku baru kenal dia."


"Aku rasa Daffin memang udah kenal kamu lebih dulu. Buktinya ayahmu percaya gitu sama dia sampe suruh dia jagain kamu." Ucap Aurin. Fitri dan Manda bergumam dan mengangguk mengiyakan.


"Lanjut, ding."


"Besoknya, aku pergi kelaut yang ada dibelakang rumah sakit. Aku duduk disana, sambil memikirkan hal semalam. Tapi, tiba-tiba Daffin sudah ada disamping aku. Awalnya aku merasa kesal, dan ingin menjauh. Sampai dihari sebelum kita ujian, Daffin jujur kalau dia udah ngelamar aku."


Temannya kaget" Kapan?"tanya Fitri.


"Katanya sebelum aku masuk rumah sakit. Dan itu kenapa Ayah nyuruh Daffin buat jagain anaknya."


"Pantesan. Kamu tau, waktu itu Dokter Daffin panik banget, dan sewaktu kamu belum sadar Dokter Daffin yang jagain kamu. Awalnya aku mikir karena kondisi kamu mungkin yang Down jadi dokter itu stand by dikamar kamu gitu. Ternyata itu..." tutur Fitri.


"Yaampun, sosweet banget tuh dokter."timpal Aurin.


"Gila, Sweet Abizz."


"Jadi lo terima lamarannya saat itu, dong?"


"Nggak, katanya dia akan datang lagi setelah aku lulus. Dan pas dihari kelulusan, malamnya dia datang kerumah bersama neneknya. Aku binggung dan aku minta waktu. Kaliankan tau, aku ingin kuliah, gapai mimpi-mimpi aku. Jadi menurut aku semua harus dipertimbangkan. Walaupun Daffin bilang aku masih bisa kuliah."


"Jadi aku salat istikharah meminta petunjuk sama allah dan akhirnya ini. Aku menikah. Selain itu ayah dan bunda juga ngeyakinin aku kalau Daffin itu laki-laki yang baik. Katanya dia bisa jagain aku. Ayah dan bunda akan bahagia jika kamu bahagia."


"Jadi kamu cinta nggak sih sama dokter, Daffin?"


"Dari dulu aku binggung apa arti cinta sebenarnya. Aku nggak bisa bedain antara kagum dan cinta. Jadi aku binggung. Tapi, aku cinta, Daffin."jawabnya tersenyum


Temannya tersenyum, ikut bahagia melihat temannya bahagia.


"Mama, papa, Dokter Daffin kemana? Dari tadi kok nggak liat atau denger kamu cerita."


Abisha sedikit tersenyum"Mereka sudah meninggal semenjak Daffin kecil."


Temannya terkejut"Seriously?"


Abisha hanya mengangguk. Dulu ia juga sempat menaggis mendengar Daffin menceritakan tentang dirinya. Dari kecil ia berjuang sampai bisa sesukses ini. Jujur Abisha bangga. Sangat bangga.


"Kasihan banget,"


Lama bercerita tentang diri masing-masing. Pukul setengah 3 sore mereka pamit pulang.


"Kalian hati-hati, ya."ucap Abisha ketika mereka sudah berada diluar.


"Iya, kita pamit." pamit Firti. Mereka berpelukan.


"Iya, sering-sering kesini."


"In shaa allah."jawab mereka bertiga.


"Yaudah, kita pulang , Assallamuallaikum."


" Waallaikumussallam."


Mereka menaiki mobil Amanda. Ya, hari ini Amanda menjadi supir. Mengantar Fitri terus Aurin.


Abisha melambaikan tangan ketika mobil bergerak. Tidak lama ia masuk kedalam dan merapikan kembali ruang tamu yang agak berantakan.


Happy reading!

__ADS_1


__ADS_2