
Dokter Rainia baru saja selesai memeriksa salah seorang pasiennya di dampingi oleh perawat Yoori ketika benda pipih di saku jas dokternya berdering. Dokter Rainia menatap sekilas layar ponselnya sebelum akhirnya menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo.." Ujar Rainia santai menjawab panggilan tersebut menggunakan bahasa Indonesia tanpa menyadari seseorang disampingnya terbengong bengong karena tidak mengerti akan bahasa yang digunakan oleh dokter cantik itu.
"Halo Rain. Apa kau melihat berita.?" Tanya Zamzam seorang dokter sahabatnya dari Indonesia.
"Bukannya menanyakan tentang keadaanku tapi kau malah menanyakan berita yang ku lihat.??" Dokter Rainia menggerutu kesal. "Apa.? Berita apa.? Berita tentang skorsing ku.??" Cerocos dokter Rainia. Ia mengira bahwa sahabatnya itu sedang mengejeknya sekarang.
"Hee apa kau di skorsing.?" Tanya dokter Zamzam polos. Namun seperdetik kemudian terdengar suara gelak tawa diseberang sana, membuat dokter Rainia semakin panas saja.
"Sudah puas kau mentertawakan ku.?" Geram dokter Rainia karena sahabatnya itu masih saja mentertawakannya.
"Sebenarnya belum puas." Jawab Zamzam masih berusaha menghentikan tawanya. "Tapi semoga kau kapok ya.. Hahaha.." Dokter Zamzam kembali tertawa. "Ehkm.. Sebenarnya bukan berita itu yang ku maksud." Dokter Zamzam berusaha untuk kembali membahas tujuannya menelfon dokter Rainia.
"Lalu berita tentang apa.?" Tanya dokter Rainia sembari mulai melangkah meninggalkan bangsal UGD.
"Gunung Sinabung meletus. Rumah sakit kita akan mengirimkan satu tim untuk menjadi relawan disana." Cerita dokter Zamzam.
"Kapan meletusnya.?" Tanya Rainia. Kakinya berhenti melangkah membuat perawat Yoori juga menghentikan langkahnya. "Aa Yoori tolong kumpulan semua data pasienku." Titah dokter Rainia kepada perawat Yoori ketika sebuah ide melintas di kepala cantiknya.
"Siang tadi, sekitar jam satu."
"Hmmmm..." Dokter Rainia bergumam panjang. Otaknya tengah mempertimbangkan beberapa hal.
"Ahh aku hampir lupa. Sudah dulu ya, Aku mau ke ruang rapat untuk membahas tim relawan yang akan diberangkatkan."
"Ya ya.. Tolong masukan namaku dalam daftar tim relawan ya." Ujar dokter Rainia kemudian.
"Ehh.. Kau akan pulang ke Indonesia.??" Dokter Zamzam bertanya setengah kaget.
"Ya. Aku di skorsing selama dua Minggu, jadi tidak ada salahnya kan aku pulang.? Daripada aku harus diam diri disini akan lebih baik jika aku ikut membantu disana. Lagi pula itu adalah tanah airku."
__ADS_1
"Baiklah.. Akan aku bicarakan kepada direktur nanti." Ujar zamzam setuju.
"Sudahlah.. Ku tutup saja ya. Lagi pula tagihan panggilanmu pasti meledak." Ejek dokter Rainia lalu mematikan panggilannya.
Sementara dokter Zamzam diseberang sana seketika ingin berkata kasar ketika mengingat bahwa orang yang di telfonnya barusan tengah berada di negara berbeda. Ingin marah pun rasanya percuma karena ini adalah kesalahannya sendiri yang lupa. Daripada mengeluarkan kata kata kasar yang tidak bermutu, ia akhirnya memutuskan untuk segera ke ruang rapat.
************
Setelah membuat kesal sahabatnya, dokter Rainia segera memasukkan kembali ponselnya kedalam sakunya. Ia segera berbalik arah ke ruangannya. Sementara perawat Yoori sudah pergi sesudah ia memberikan titahnya tadi. Sesampainya di ruangannya ia Sega mengemasi barang barang miliknya, bersiap untuk pulang. Memang seharusnya jam kerjanya masih satu jam lagi, tapi moodnya benar benar sudah sangat buruk hari ini.
Ketika ia akan membuka pintu, pintu di hadapannya terdorong membuatnya lekas lekas menyingkir. Sementara perawat Yoori terkaget kaget. Ia mengira bahwa dokter Rainia masih ada di bangsal rawat.
"Ohh maaf dokter.. Saya kira anda masih di bangsal UGD."
"Hmmmm.." Dokter Rainia hanya bergumam acuh tak acuh.
"Ini data pasien yang anda minta." Ujar perawat Yoori sembari memberikan data pasien yg ada di tangannya kepada dokter Rainia.
"Aku akan pulang sekarang. Besok masa skorsing ku akan berlaku, aku akan pulang ke Indonesia sampai masa skorsing ku berakhir. Tolong sampaikan ini kepada ketua Park. Ohh seperti itu tidak perlu, ketua Park pasti sudah mengatur jadwal selama dua Minggu kedepan. Katakan saja begitu jika ada yang bertanya atau mencariku."
Perawat Yoori hanya mengangguk dengan lesu. Memikirkan ia akan bekerja bersama dokter Eunri membuat kepalanya pusing. "Ahh tamatlah sudah riwayatnku.." batin perawat Yoori bergejolak.
Setelah mengatakan itu dokter Rainia segera keluar ruangan diikuti oleh perawat Yoori. Lalu menyerahkan kunci ruangannya kepada perawat Yoori. Ia mempercayakan ruangannya kepada perawat Yoori.
*********
Dokter Rainia melangkah dengan wajah datarnya. Saat di koridor rumah sakit ia berpas pasan dengan dokter Min Hyun yang akan menggantikan shift nya untuk shift malam. Dokter Min Hyun melemparkan senyum manisnya kepada dokter Rainia walaupun dalam benaknya bertanya tanya tentang kenapa dokter cantik itu pulang lebih awal dari biasanya. Dokter Min Hyun membuka mulutnya untuk menyapa, namun dokter Rainia melengos pergi begitu saja tanpa menghiraukannya sama sekali. Membuat ia menelan kembali kata katanya. Dokter Min Hyun hanya bisa menghembuskan nafasnya kecewa. Sepertinya usahanya selama ini untuk lebih dekat dengan dokter cantik itu masih belum membuahkan hasil apapun.
"Senyum macam apa itu tadi.??" Dokter Rainia menggerutu. Tidak peka.
Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan sapaan sapaan untuknya. Pintu otomatis ER terbuka karena dokter Rainia akan keluar. Ia mendengus dikala lagi lagi satu orang dokter tersenyum dengan begitu lebar menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kau akan pulang.?" Tanya dokter Lee pria berusia 40 tahunan itu masih dengan senyum di bibirnya.
Rainia hanya mengangguk dengan malas. Sudah bukan rahasia lagi jika dokter Lee dan dokter Min Hyun merupakan saingan dalam mengejar dokter Rainia. Bahkan hal ini pulalah yang membuat dokter Eunri semakin tidak menyukai dokter Rainia. Karena kenyataannya dokter Eunri sudah lama menyukai dokter Lee. Hhh kisah cinta macam apa itu.??
"Aku sangat merindukanmu.." Ujar dokter Lee merentangkan tangannya untuk memeluk dokter Rainia.
Tentu saja dokter Rainia menolak. Sebelum tangan dokter Lee menggapai tubuhnya , dokter Rainia lebih dulu menghindar menjauh.
"Ada apa.?" Tanya dokter Rainia tanpa menutupi ekspresi malasnya.
"Ayo pergi makan malam." Ajak dokter Lee.
"Tidak. Aku ingin istirahat." Tolak dokter Rainia tegas.
"Baiklah." ujar dokter Lee dengan wajah kecewanya. "Aku akan pergi dulu." Ujarnya lagi berharap dokter Rainia akan menahannya pergi.
"Ya. Hati hati." Ujar dokter Rainia cuek.
Namun dokter Lee tidak kunjung pergi dari hadapannya, malah menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah dokter Rainia sambil memonyong monyongkan bibirnya. Membuat dokter Rainia bersumpah serapah di dalam hati. Itu tadi hampir. Ia bergidik ngeri, dan hendak menendang dokter Lee. Namun urung ketika matanya menangkap sosok perawat Wang yang baru saja keluar.
"Stttt.. kemari.." Seperti itu kiranya bahasa tubuh dokter Rainia memanggil perawat Wang. Perawat Wang menahan tawanya ketika melihat pose dokter Lee.
"Berdiri disini. Ini perintah, jangan pergi sebelum dia pergi." Ujar dokter Rainia berbisik lirih pada perawat Wang. Kemudian ia perlahan melepaskan hells nya dan pergi dari sana dengan berjingkit perlahan. Setelah agak jauh ia langsung berlari menuju parkiran.
"Apa kau sudah siap.?" Tanya dokter Lee masih dengan mata yg terpejam sementara wajahnya semakin mendekat ke arah perawat Wang.
Perawat Wang menahan nafasnya, ia akan terkena sial jika benar benar dicium oleh dokter Lee. Ia masih normal, masih menyukai wanita. Ketika tidak mendapatkan respon apapun, dokter Lee lantas membuka matanya. Sedetik kemudian ia berteriak kaget ketika melihat perawat Wang yang ada di depannya bukannya dokter Rainia.
Ketika dokter Lee berteriak dengan spontan perawat Wang juga ikut ikutan berteriak. Menciptakan kehebohan yang sungguh tidak perlu. Sementara tak jauh dari sana dokter Min Hyun tertawa mengejek dokter Lee.
"Rasakan itu.." Cemoohnya lalu beranjak pergi.
__ADS_1