
Di salah satu ruangan VIP rumah sakit Haesung, seorang pria tengah berbaring dengan selang infus menancap di pergelangan tangannya. Dari ekspresinya kentara sekali bahwa pria itu tengah kesal. Bagaimana tidak.? Ketika ia dan seorang temannya hendak ke supermarket ia malah terserempet mobil. Dan lagi, akibat kehebohan temannya yang menelfon dokter yang beberapa minggu ini menjadi dokter agensi mereka, ia jadi berakhir di rumah sakit. Padahal ia tak kurang satu apapun. Hanya mendapatkan luka gores di sikut kanannya.
"Haishh.. Hanya luka kecil begini kenapa harus di rawat di rumah sakit segala? Aku hanya di serempet, bukan di tabrak mobil. Dokter centil itu tidak bisakah bersikap profesional.? Bahkan mereka yang bukan dokter saja tahu jika ini tidak perlu.!" Gerutunya panjang lebar.
Pintu kamar terbuka. Menampakkan tiga orang pria berpakaian serba hitam serta masker dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Ketiga pria itu segera masuk dan menutup pintu kembali.
"Kyungsoo_ya. Aku ingin pulang." Rengek pria yang kini sudah duduk di ranjangnya.
"Apa sudah merasa baikan.?" Tanya pria yang bernama Do Kyung Soo itu.
"Haisss ayolah kalian ini. Aku tidak mengalami cidera parah, hanya luka kecil begini tak perlu sampai di rawat inap segala. Ini hanya akan menimbulkan rumor yang tidak tidak."
"Kau cerewet sekali Chan. Apa susahnya menuruti perkataan dokter Eunri.?"
"Ini juga gara gara kau hyung. Jika kau tidak menelfon dokter centil itu aku tidak akan berada disini." Gerutu Chanyeol dengan wajah cemberutnya.
"Baiklah baiklah. Berhentilah bertengkar hyung" ujar Do menengahi pertengkaran kedua hyungnya itu. "Tunggulah sebentar. Aku akan menemui dokter.
"Aku akan pergi denganmu." Ujar Baekhyun yang di angguki oleh Do. "Sehun-ah kau temani lah Chanyeol ne.?!"
"Ne hyung." Ujar Sehun. Do dan Baekhyun pun pergi meninggalkan Sehun dan Chanyeol di ruangannya.
"Sudah hyung, jangan memasang wajah seperti itu. Kau tahu.? Bibirmu itu sudah mirip seperti paruh bebek." Ujar Sehun dengan terkekeh.
"Aku haus. Aku akan keluar untuk membeli minuman." Ujar Chanyeol berdiri dan hendak melangkah menuju pintu
"Biar aku saja yang pergi hyung. Kau tetaplah disini dan jangan kemana mana. Aku bisa di amuk Do hyung jika kau pergi dari sini." Ujar Sehun dan mendorong kembali Chanyeol ke ranjangnya.
Setelah kepergian Sehun, Chanyeol yang merasa bosan mondar mandir di kamar inapnya. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk melihat lihat rumah sakit.
Chanyeol berjalan sambil mendorong tiang infusnya. Pakaian pasien melekat di tubuhnya tingginya. Ia menutup wajahnya dengan masker agar tidak di kejar fansnya.
__ADS_1
Netra Chanyeol menangkap sosok yeoja cantik lengkap dengan jas dokter yang melekat di tubuhnya tengah berlari cepat menuju ruangan yang berada tak jauh dari posisinya saat ini diikuti oleh tiga orang berpakaian perawat di belakangnya. Entahlah apa yang ada di benaknya, kini ia berdiri tepat di depan kamar VIP tersebut. Menyaksikan apa yang tengah terjadi di dalam sana.
***********
Rainia berlari cepat ketika mendapat panggilan dari salah satu ruangan pasien yang menekan tombol darurat. Ketika pintu ruangan terbuka Rainia dan tiga orang perawat segera masuk dengan tergesa.
"Dokter. Tolong selamatkan ayah saya.!" Seru seorang anak laki laki yang masih mengenakan almamater sekolahnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya yang sudah menangis tidak karuan. Sontak pemandangan ini mengingatkan Rainia pada saat kematian ayahnya beberapa tahun lalu.
"Pasien mengalami sesak nafas. Kondisi alat vital dan denyut jantungnya menurun dokter.!" Ujar salah satu perawat menyadarkan Rain dari keterpakuannya.
Rainia mengeluarkan stetoschop kemudian memeriksanya. Senter mediknya ia keluarkan untuk memeriksa pantulan cahaya dari mata pasien.
"Siapkan defibllator.!" Seru Rainia cepat. Dua perawat lainnya segera bergegas untuk menyiapkan alat pemacu jantung tersebut.
"100 joule." titah Rainia setelah mengusap kedua paddle bersamaan.
Setelah bunyi beep yang menandakan defibrillator sudah siap Rainia menekan paddle Ke dada tepat di apeks dan sternum pasien.
"Shock.!" Dada pasien terangkat sesaat lalu terjatuh kembali.
"150 joule." Titah Rainia lagi kemudian mengusap kedua paddle kembali kemudian meletakkannya di antara apek dan sternum pasien. "Shock.!" Seru Rainia kembali.
"Tetap tidak ada perubahan dok.."
Rainia menaruh kedua paddle lalu menumpukkan kedua tangannya di dada pasien memberikan CPR.
"Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga." Rainia berhitung sembari terus menekan dada pasien yang tak kunjung mengalami perubahan dan kemajuan.
"250 joule." Rainia kembali memberi perintah lalu mengulang kembali kegiatan sebelumnya. "Shock.!"
Tubuh pasien kembali terangkat, namun Rainia menegang ketika mendengar suara yang paling di bencinya selama menjadi dokter.
__ADS_1
Tiiiittt.. Patied monitor menampilkan garis lurus yang memanjang. Anak laki laki beserta ibunya semakin menangis histeris. Peluh Rainia mengalir semakin deras. Sementara ketiga perawat menunggu keputusan akhir Rainia.
Rainia tidak bisa membiarkan ini. Ia kemudian menaiki ranjang pasien dan kembali menekan dada pasien dengan kedua tangannya.
"Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga, sat..."
"Dokter sudah tidak ada gunanya." Selamat salah satu perawat.
Rainia mengacuhkannya, ia menulikan pendengarannya. Otaknya menampilkan kembali memori saat saat kematian ayahnya. Ia berada di posisi yang sama dengan anak laki laki ini. Menangis histeris dan terus meminta agar ayahnya kembali.
"Satu, dua, tiga." Rainia masih menekan nekan dada pasien itu sekuat tenaga. Meskipun ia sudah mulai lelah dan keringat yang membanjiri wajahnya.
"Dokter, tidak ada gun..."
Suara beeb terdengar mengalihkan semua atensi orang yang ada di ruangan itu termasuk Rainia pada Patied monitor yang kembali menunjukkan garis bergelombang normal. Pasiennya telah mendapat kembali denyut jantungnya.
Rainia menghela nafas lega. Sesaat kemudian tubuhnya limbung kebelakang karena lemas. Untungnya ketiga perawat dengan sigap menangkap tubuh Rainia dan membantunya untuk berdiri kembali.
Rainia mengeluarkan stetoschopnya dengan tangan bergetar, kemudian memeriksa pasien.
"Tuan Jung Il Sung sudah melewati masa kritisnya. Mungkin satu dua hari kedepan beliau akan siuman." ujar Rainia. "Saya permisi dulu, nyonya Jung."
Nyonya Jung mengangguk. Ketika Rainia akan keluar dari ruangan pasien nyonya Jung kembali memanggil dokter Rainia.
"Ne?" tanya Rainia ketika nyonya Jung menghampirinya dengan air mata berlinang. Nyonya Jung menggenggam erat kedua tangan Rainia.
"Terimakasih banyak sudah menyelamatkan nyawa suamiku. Aku berhutang banyak padamu."
Rainia mencoba tersenyum walaupun masih terkesan kaku.
"Tidak usah berterimakasih, sudah menjadi tugasku untuk ini. Aku yang harus berterimakasih karena nyonya sudah mempercayai ku."
__ADS_1
Nyonya Jung tersenyum. "Aku akan menceritakan bagaimana hebatnya kau pada suamiku nanti."
Rainia hanya mengangguk lalu bergegas pergi dari sana. Tak jauh dari situ, empat pasang mata tengah menatap kagum kepada dokter Rainia, yang tak lain adalah member Exo adanya.