The Doctor

The Doctor
episode 29


__ADS_3

Abisha hari ini pergi kerumah ayah dan bundanya. Abisha hanya pergi sendiri, karena Daffin sedang bekerja. Abisha menaiki sepeda motor sendiri yang Daffin siapkan untuk dirinya. Daffin sebenarnya menyuruh Abisha untuk naik taxi dan pulangnya Daffin yang akan menjemput. Namun, Abisha menolak. Bukan apa, Abisha hanya tidak ingin merepotkan Daffin, apalagi ia bekerja seharian. Jika harus menjemput Abisha, kasihan Daffin.


"Assallamuallaikum," salam Abisha sambil mengetok pintu. Beberapa menit Abisha menunggu akhirnya pintu terbuka.


"Waallaikumussallam," jawab Dewi dari dalam lalu membuka pintu.


"Loh, kak ...," ucap Dewi sedikit terkejut.


Abisha tersenyum lalu menyalimi, Dewi. Dewi mengajak Abisha masuk kedalam dan duduk diruang tamu. Disana ada Abizar yang sedang bermain hp. Abisha langsung menghampiri Abizar, sepertinya tadi Dewi sedang memberi makan, Abizar.


"Kak Ata? Kok disini?" tanya Abizar sedikit kaget melihat Abisha yang sudah ada didepannya. Dewi tersenyum dan duduk disofa sambil mengambil piring yang berisi nasi.


"Nggak boleh, emang? Izar nggak kangen sama, kakak?"


"Nggak!" balasnya santai, lalu membuka hpnya kembali.


Abisha hanya bisa pasrah. Anak kecil itu jika sudah bertemu hp, bagaikan orang yang lupa dunia.


"Dikit lagi, aaa...!" ucap Dewi ingin menyuapkan nasi kepada, Abizar. Abizar menurut saja. Ia langsung membuka mulut dan memakan makanannya


Abisha duduk disamping, Abizar. "Deeva kemana, bun? Kok, sepi?"


"Ada, main hp dikamar!"


"Owh.... oya, Ata lupa, tadi Ata'kan bawa sedikit cemilan buat, Izar. Ata keluar dulu, ya ... bun, ambil cemilannya."


Dewi mengangguk dan sedikit bergumam. Abisha beranjak dan langsung mengambil cemilan dimotornya. Abisha masuk dengan membawa kantong berukuran sedang. Abisha membawanya diatas meja dan kembali duduk.


"Seharusnya kamu nggak usah repot-repot sampe bawain cemilan segala kesini."


"Nggak papa, bun."


Dewi hanya tersenyum "Gimana hubungan kamu sama, Daffin?" tanya Dewi penasaran. Kenapa Dewi jadi ingin menanyakan tentang cucu


"Alhamdulillah,bun ... Kita baik-baik aja." jawab Abisha sedikit tersenyum.


"Bunda mau nanya, deh! Kamu udah berikan hak, Daffin?"


Abisha sedikit terkejut mendengar tuturan bundanya. Sungguh ia sangat malu membahas tentang itu.


"Udah buatin ayah sama bunda cucu'kan? tambah Dewi tersenyum jahil membuat Abisha jadi salting.


"Tunggu kabar baiknya aja, bun." balas Abisha. Dewi tersenyum mendengar tuturan, Abisha.


...***...

__ADS_1


Abisha dalam perjalanan pulang. Ia mengendarai motor dengan wajah yang terus tersenyum. Entah kenapa ia ingin segera sampai dirumah.


Tiba-tiba sebuah motor menghadangnya. Abisha mengerem mendadak. Kaget . Untung ia menggunakan motor dengan kecepatan sedang. Jika tidak, sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.


Abisha menaikan kaca helmnya. Hatinya mulai was-was ketika melihat seorang pria menghampirinya.


"Abisha ...," sapa Pria itu tersenyum hangat. Abisha kembali menutup kaca helmnya dan beniat ingin pergi menghindari pria yang tidak lain adalah Danil. Namun, kunci motornya tiba-tiba diambil, Danil.


Abisha sedikit ketakutan. Apalagi ia berada didaerah yang terlihat sepi.


"Danil, tolong balikin. Aku mau pulang." pinta Syifa yang sudah membuka kaca helmnya.


Danil hanya tersenyum dan meninggalkan Abisha untuk duduk dikursi taman yang tidak jauh dari mereka.


Abisha menghembus napasnya dengan kasar. Ia takut, kesal, ia hanya ingin pulang.


Abisha membuka helm, dan meminggirkan motornya. Lalu berjalan menghampiri, Danil dengan wajah kesal. Sedangkan Danil hanya tersenyum memandang kearah, Abisha.


"Danil, aku mau pulang. Balikin kunci motor aku." pinta Abisha ketika sudah didekat, Danil.


"Duduk dulu, Abisha. Kita ngobrol dulu bentar."


"Danil, tolong. Kamu jangan kaya gini."


"Abisha menikahlah denganku." pinta Danil.


Abisha sedikit terkejut. Ia kembali menghadap Danil."Aku serius. Tinggalkan suamimu. Aku mencintaimu, Abisha." lanjut Danil.


Abisha sudah tidak habis pikir. Apa yang ada didalam pikiran, Danil?


"Danil, kamu jangan aneh-aneh. Sekarang balikin kunci aku. Aku mau pulang." pinta Abisha lagi.


"Kamu mau menikah denganku atau aku akan membuat kamu kehilangan Daffin untuk selamanya." ancam Danil.


"Danil, kamu kenapa? Maksud kamu apa?" Abisha mulai ketakutan. Matanya memanas. Jantungnya bergemuruh.


"Kamu tau maksud aku."


"Danil, kenapa kamu jadi gini? Kamu bukan kaya Danil yang aku kenal dulu. Kenapa sekarang Danil berubah?" rasanya mata Abisha semangkin memanas.


"Karna kamu. Kalau kamu mau nerima aku, aku nggak bakal kaya gini."


"Tapi, nggak harus kaya gini. Aku sudah menikah. Masih banyak wanita diluar sana yang lebih dari pada aku. Allah sudah menyiapkan jodoh untuk setiap umatnya, jadi kamu tidak perlu seperti ini. Kamu harus ikhlas. Kamu harus yakin, suatu saat nanti kamu bakal ketemu sama orang yang benar-benar sudah Allah siapkan untuk kamu. Walau bukan sekarang, tapi nanti."


Abisha berbalik arah meninggalkan, Danil. Ia mengambil hpnya dari dalam tas untuk menelpon, Daffin. Jika menunggu Danil memberikan kuncinya, belum tentu ia bisa pulang hari itu . Danil masih terdiam, ia tertunduk memikirkan ucapan, Abisha. Tidak lama ia sadar, bahwa Abisha sudah pergi.

__ADS_1


Danil mengejar, Abisha. Mencoba untuk kembali mengobrol walau untuk yang terakhir kalinya.


"Abisha tunggu. Abisha..." panggil Danil sedikit berteriak.


Abisha mempercepat langkahnya ketika mendengar teriakan, Danil. Ditambah Danil yang berusaha untuk mengejarnya, dengan ponsel yang terus menempel ditelinga Abisha terus melangkah dengan cepat dan berharap Daffin menganggkat panggilan.


Abisha terus berjalan bahkan ia kini sudah sedikit berlari. Tidak peduli motornya yang ia tinggal. Ia melihat kebelakang, disana Danil masih mencoba mengejarnya.


Abisha menyebrang. Tidak sadar bahwa ada sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju kearahnya.


"Abisha awas...." teriak Danil.


Abisha menoleh, mobil hanya berjarak beberapa meter saja. Bahkan untuk menghindarinya saja ia tidak sempat.


Brukk....


Hp yang sedari tadi Abisha pegang jatuh dan hancur. Abisha terpental cukup jauh. Danil yang melihatnya berhenti sejenak. Rasanya kejadian itu terasa mimpi. Tubuhnya melemas, matanya sudah memanas. Sedangkan penabrak langsung melarikan diri.


Danil menghampiri Abisha yang terbaring lemah. Darah bercucuran dari kepalanya. Danil benar-benar tidak sanggup. Ia hanya mampu menanggis.


"Abisha ... aku mohon kamu bertahan."


Abisha sudah tidak mampu berkata lagi. Sakit. Hanya itu yang Abisha rasakan. Air mata terus mengalir.


"Kak Daffin maafin, Abisha." gumamnya. Tidak lama pandangannya sudah blur, dan akhirnya matanya tertutup rapat. Membuat Danil semangkin panik.


" Abisha bangun, Abisha."


Air mata Danil terus menggalir. Ditambah rasa bersalah. Andai dia mengikuti kemauan Abisha dan membiarkan Abisha pergi. Pasti Abisha tidak akan seperti itu.


" Abisha, bangun."


***


Sebuah mobil berhenti disuatu tempat yang agak sepi. Darah menempel dimobilnya. Sang pemilik ketakutan. Wajahnya panik. Jujur, itu diluar kendalinya.


"Gue bukan pembunuh. Maaf, gue ... gue nggak sengaja. Gue cuman emosi aja. Gue nggak suka liat Danil sama lo." ucapnya.


Tidak terasa air matanya tiba-tiba mengalir. Tubuhnya bergetar ketakutan.


"Kenapa Danil nggak pernah liat gue. Lo udah nikah dan bodohnya, Danil mau sama lo. Gue cemburu, gue nggak suka." tambahnya.


Kini ia menunduk. Takut, bagaimana jika ia masuk penjara gara-gara kasusnya itu.


Happy reading!

__ADS_1


__ADS_2