The Doctor

The Doctor
episode 20 jagain Abisha


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Abisha sah menjadi istri seorang dokter bernama Daffin Faaz Ilman. Ya, Abisha memutuskan untuk menikah sekitar 1 bulan sudah kelulusan. Pernikahannya hanya dibuat sederhana, hanya kerabat keluarga yang bersangkutan yang diundang. Abisha hanya mengundang ketiga sahabatnya, Sedangkan Daffin hanya mengajak Fahri dan Farhan bersama istri.


Tidak ada acara resepsi. Abisha yang meminta. Sedangkan Daffin, juga tidak bisa menolak permintaan sang istri.


Jam menunjukan sekitar pukul 4 sore. Abisha sedang berada dikamarnya. Mengemasi semua pakainya dan memasukannya kedalam koper. Abisha duduk dikasurnya, ingatan ijab kabul tergiang ditelinganya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Abisha Thalita binti Lukman dengan maskawin emas 25 gram dan seperangkat alat Shalat dibayar TUNAI"


Sah....


Sedih, bahagia bercampur aduk hari ini. Setelah melakukan ijab kabul, Daffin meminta izin kepada Ayah Abisha untuk membawa Abisha tinggal dirumahnya. Ingin menginap disana, tapi Daffin khawatir kepada neneknya. Tidak mungkin rasanya Jika Daffin mengajak neneknya menginap dirumah, Abisha. Lukman mengerti dan menurutnya itu adalah hak, Daffin.


Trek...


Pintu kamar terbuka. Abisha menoleh kearah pintu yang menampakan seorang pria yang telah resmi menjadi suaminya. Daffin menutup pintu kembali lalu berjalan kearah, Abisha. Jujur saat ini Abisha sangat gugup.


Daffin duduk disamping, Abisha."Udah selesai beres-beresnya."tanya Daffin


"Udah,"


"Kita Pulang sekarang. Udah sore."ajak Daffin.


Pulang? Abisha tiba-tiba sedih. Rumah yang sudah 18 tahun ini ia tempati dan sekarang harus meninggalkan tempat ini. Kamar ini, kamar yang menjadi saksi bisu kejadian-kejadian yang Abisha alami. Sedihnya Abisha, bahagianya Abisha, dan masih banyak lagi.


"Iya,"


Abisha bangkit dan menurunkan kopernya dari kasur. Lalu Daffin memintanya untuk Daffin saya yang membawa koper tersebut. Mereka turun kebawah, disana sudah ada Ayah, bunda dan adiknya.


Mata Abisha mulai memanas. Ia ingin menanggis, ia belum siap pergi dari rumahnya.


"Sayang, sini."tutur Dewi menyuruh Abisha duduk disampingnya.


Abisha berjalan menuju bundanya yang disampingnya Ada Lukman sedang memangku, Abizar.


"Bunda, ayah, Abisha pamit! Terima kasih sudah mau menjaga Abisha sampai Abisha seperti sekarang. Maaf Abisha belum bisa bahagiain ayah sama bunda."


Mata Abisha sudah memerah, Abisha mencoba menahan tanggisnya. Cukup waktu ijab kabul jangan sekarang lagi.


Sedangkan Deeva, ia sangat sedih, ia hanya diam.


"Iya, disana jangan manja-manja. Ingat kewajiban kamu sebagai seorang istri. Daffin sekarang suami kamu, bakti kamu ada diDaffin sekarang."ingat Lukman.


"Kamu jadi istri harus selalu nurut sama suami kamu. Ikuti perintahnya, jika suami kamu melarang kamu untuk melakukan sesuatu, dengarkan. Selagi itu tidak melangar aturan agama."


"Iya! Abisha pasti kangen banget sama kalian."


"Kamu bisa main kesini. Kan nggak terlalu jauh."


Abisha hanya mengangguk dengan sedikit tersenyum.


"Daffin ayah titip, Abisha. Jagain, Abisha."


"Pasti! Daffin pasti jagain, Abisha." Jawabnya tersenyum.


Abisha memeluk bunda, ayahnya dan kedua adiknya sebelum pergi. Jujur Abisha tidak bisa menahan sedihnya. Abisha sebenarnya tidak mau menanggis, tapi air mata luruh tampa Abisha minta.


Sampai diluar, Abisha menyalimi kedua orang tuanya. Sedangkan Daffin menyimpan koper kedalam mobil.


"Pergi dulu ya, yah, bun."pamit Abisha.


"Sering-sering main kesini."tutur Dewi.


Abisha mengangguk, kini matanya melihat kearah Deeva yang berada didekat pintu. Entah kenapa adiknya sedari tadi hanya diam.

__ADS_1


"Deeva, kakak pamit. Jangan sering-sering berantem sama, Izar."


"Kakak kenapa nggak disini aja, sih?" Jawabnya kesal."Nanti Deeva nggak ada temen hotspot, nggak ada yang ajarin Deeva pr."


"Deeva, nggak boleh gitu. Kakak kamu sekarang sudah punya suami. Jadi, dia wajib ikut bersama suami dan tinggal bersama suaminya."timpal Lukman.


"Suaminya yang suruh tinggal disini aja, yah." Gumamnya.


Mereka hanya sedikit tersenyum. Senyum dipaksakan tentunya. Tidak ada yang tidak sedih. Apalagi Abisha, ia harus berpisah dengan adik gemesnya.


"Izar, sini cium kakak dulu."


Abisha berjongkok dan menciumi Abizar beberapa kali.


"Kakak kok tinggalin, Izar? Nanti kalo nggak ada kakak, nggak ada yang belain Izar kalo dinakalin kak, Iva."


"Kakak udah insaf, zar! Nggak mau ajak ribut kamu lagi. Udah tobat, kakak. Tapi kalau khilaf, maklumi aja. " Sahut Deeva.


Abizar hanya mengerucutkan bibirnya. Membuat Abisha gemas dan mencubit pipi, Abizar.


"Nanti kakak main lagi. Kalo kangen bisa vc, video call."


Abizar mengagguk sambil tersenyum. Lalu Abisha langsung mencium Abizar sekali lagi. Sungguh adiknya itu selalu membuat Abisha gemas jika melihatnya.


Abisha bangkit dan mulai berpamitan kepada kedua orang tuanya. Abisha menaiki mobil Daffin dan diikuti Daffin. Daffin membunyikan klakson 2 kali, tidak lama mobil bergerak meninggalkan perkarangan rumah, Abisha.


***


"Masih sedih?"tanya Daffin, matanya sesekali melihat, Abisha.


"Nantikan masih bisa main, lagian rumah kita tidak terlalu jauh dari rumah ayah kamu. Jadi, kalau kangen tinggal datang."


"Abisha tau."


"Abisha biasa aja, kok."


Daffin tersenyum, lalu mengambil salah satu tangan, Abisha. Abisha sedikit terkejut lalu melepaskan tangan, Daffin.


Daffin mengerutkan keningnya sedangkan Abisha tidak berani memandang, Daffin.


"Kenapa? Sekarang kita udah sah, loh."


"Abisha tau, Abisha belum biasa aja. Agak risih gitu." Jawabnya hati-hati.


Daffin meminggirkan mobilnya lalu duduk menghadap, Abisha.


"Makanya biasain, masa suaminya nggak boleh nyentuh istrinya."


Abisha tau, Abisha hanya canggung, malu, gugup, semua ia rasakan.


"Iya ...."


Daffin mengelus pucuk kepala Abisha gemas. Sungguh hari ini adalah hari bahagianya. Entah apa yang membuat Abisha menerima lamaran, Daffin.


"Yaudah, kapan jalannya? Udah sore. Kasian nenek." Terang Abisha.


"Kasih ini dulu."pinta Daffin tersenyum jahil. Tangannya sudah menunjuk kearah pipinya.


"Apa? Masa Abisha kasih pipi Abisha sama, Bapak. Punya Bapak udah ada, nggak usah ditambah."


Daffin menepuk dahinya. Istrinya ini memang tidak peka atau apa.


"Ini, masa nggak ngerti, sih? Izar aja dikasih sampe berkali-kali, masa suaminya nggak!" Daffin kembali menunjuk pipinya.

__ADS_1


Abisha mulai mengerti maksud, Daffin. Tidak mungkin rasanya ia melakukan itu. Malu! Abisha tau mereka sudah sah, tapi, tapi, tapi...


Abisha menatap Daffin yang juga menatap dirinya. Jantungnya sudah berdebar-debar. Namun, suaminya malah tersenyum jahil.


"APA HARUS SAYA YANG CIUM KAMU?"


***


Trek....


Pintu terbuka. Disinilah Abisha sekarang, dirumah Daffin dan sekarang ia sedang berada dikamar yang mungkin akan jadi kamar barunya. Kamar yang lumayan besar. Daffin mengenggam erat tangan Abisha dan membawanya masuk kedalam. Daffin berhenti dan melepaskan koper dari tangannya.


"Ini sekarang jadi kamar kamu."


Abisha hanya mengangguk sambil tersenyum. Matanya masih ingin melihat-melihat kamar barunya. Sedangkan Daffin membawa koper Abisha dan meletakannya diatas kasur. Daffin duduk disana, sambil memandangi Abisha yang sibuk memandangi seisi kamar.


"Kamu suka?"


Abisha sedikit bergumam lalu menyimpan tasnya di kursi panjang yang ada dikamar. Ia berjalan mendekati kopernya, berniat ingin langsung menyimpan bajunya dalam lemari.


"Pak, baju Abisha simpen dimana?"


"Kamu simpen lemari aja."


Disana ada ada sekitar 2 lemari. Satu lemari berukuran cukup besar dan 1 lemari berukuran sedang. Abisha mulai membawa kopernya mendekat kearah lemari, supaya dia tidak bolak-balik.


Abisha membuka lemari yang berukuran sedang. Disana terlihat ada beberapa pakaian pria.


"Pak ini kok ada pakaian cowok?"


"Itu pakaian suamimu."


"Kenapa bisa disitu? Inikan kamar, Abisha."


Daffin mengernyitkan dahi lalu berjalan mendekat kearah, Abisha.


"Inikan kamar kita, jadi baju aku juga ada disini." Daffin mencubit hidung mancung, Abisha. Istrinya ini memang aneh. Abisha menyingkirkan tangan, Daffin. Lalu memegang Hidungnya yang memerah.


"Kita?"


"Iya. Aku, kamu."


"Abisha tidur sama, Bapak? Abisha nggak mau."


Daffin terkejut,"Kamu istri saya. Lagian kamu pasti mau bilang kalo kamu nggak biasakan."


"Abisha, aku ngerti, tapi kamu akan terbiasa nanti jika dibiasakan. Yaudah, mau aku bantu."


Tidak mungkin Abisha menyuruh Daffin membantunya merapikan pakaian. Disana terlalu banyak aib yang Abisha lindungi.


" Nggak usah, biar Abisha aja sendiri. Mendingan Bapak istirahat."


Daffin hanya mengangguk lalu pergi kekasur dan berbaring asal disana. Abisha mulai memasukan semua pakaiannya kedalam lemari dan menyimpan koper disampingnya.


"Kamu mau mandi sekarang?"tanya Daffin yang melihat Abisha sudah selesai merapikan pakaiannya.


"Iya,"


Abisha mengiya-iyakan saja. Jujur rasanya saat ini ia sangat binggung mau melakukan apa. Mau duduk rasanya pun berasa enggan.


"Mau mandi bareng?"


Abisha hanya bisa melongo tidak percaya. Ingin rasa melempar suaminya menggunakan Sepatu yang ia pakai.

__ADS_1


Happy reading!


__ADS_2