The Doctor

The Doctor
episode 33 jangan modus


__ADS_3

Daffin pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk, Abisha. Daffin membawa satu piring dan satu gelas air minum.


"Daffin ..., itu buat Abisha?" ucap nenek tiba-tiba.


"Iya, nek! Nenek belum istirahat?" tanya Daffin.


"Belum. Gimana, Abisha? Apa dia sudah bangun?" tanya nenek lagi. Ia duduk ditempat makan sambil menuang air putih.


"Sudah, nek. Cuman, Abisha sedari tadi hanya diam."


Nenek tersenyum,"Nanti jika dia sudah sembuh, dia akan seperti dulu lagi."


Daffin hanya sedikit bergumam,"Yaudah, Daffin kekamar dulu. Nenek istirahat, ya. Maaf nggak bisa temenin nenek kaya biasanya."


"Nggak papa! Nenek ngerti."


Daffin langsung menuju kamarnya. Ketika membuka pintu, ia sedikit kaget melihat Abisha yang ingin menaiki kursi rodanya. Spontan, Daffin bergegas masuk dan menyimpan piring didekat sofa. Sebenarnya Abisha sadar dengan kehadiran, Daffin. Namun, ia tidak menghiraukannya. Daffin berjalan menghampiri, Abisha. Abisha sudah hampir duduk dikursi, ia hanya tinggal memalingkan tubuhnya kedepan.


"Abisha bahaya, kaki kamu belum sembuh."tutur Daffin. Daffin membantu Abisha duduk dikursi roda. Sebenarnya kaki Abisha hanya patah, jadi mengunakan tongkat juga bisa.


"Besok-besok tunggu aku. Jangan sendiri-sendiri."


"Lagian kaki aku bukan lumpuh. Jadi aku bisa lakuin itu sendiri."


"Yaudah, kamu sekarang makan."


Daffin mendorong Abisha menuju sofa tempat dimana mereka biasa duduk.


"Mau duduk disini atau disofa?"tanya Daffin.


"Disini aja."


Daffin mulai duduk disofa dan mengatur posisi Abisha untuk menghadap kearahnya. Namun, Abisha memutar kursi rodanya kembali. Daffin tidak mau kalah, ia selalu memutar kursi roda Abisha mengarah kearahnya. Daffin tersenyum melihat Abisha yang terlihat kesal.


"Kamu ngapain?" tanya Abisha membuka suara. Kali ini ia sudah benar-benar kesal.


"Kamu yang ngapain? Katanya mau makan! Kenapa harus diputar lagi kursinya. Nanti aku jadi susah'kan nyuapin kamu." terang Daffin sedikit tersenyum.


"Aku nggak ada bilang minta disuapin. Aku bisa sendiri." Abisha hendak ingin mengambil piring yang ada dimeja sampingnya. Namun, didahului Daffin.

__ADS_1


"Eits ... nggak bisa." Daffin tersenyum jahil, membuat Abisha menatapnya dengan kesal.


"Yaudah, aku nggak mau makan," Abisha mendorong kursi roda menjauhi, Daffin. Ia pergi kearah balkon kamar. Sekarang ia sangat kesal kepada, Daffin. Padahal Abisha sudah begitu lapar.


Abisha menatap langit yang sudah penuh dengan bintang.


"Bunda, aku laper. Aku ingin pulang. Disini aku nggak dikasih makan." ucap Abisha sengahja mengucapkan kata itu supaya Daffin dengar. Daffin yang sudah berada dibelakangnya hanya tertawa geli.


Abisha melihat kebelakang. Disana terlihat jelas Daffin sedang menertawakannya.


"Dia tidak peka! Berarti dia bukan suami yang baik." gumam Abisha menatap Daffin kesal. Ia melihat Daffin berjalan kearahnya dengan membawa piring dan satu gelas air minum. Abisha kembali memutar tubuhnya. Daffin menyimpan piring dan gelas dibawah. Ia berniat ingin menyuruh Abisha makan dilantai. Karena dibalkon tidak ada kursi.


"Istri Daffin kenapa kaya anak kecil?" Daffin tertawa kecil."Yaudah, yuk makan. Kalo nggak mau jangan salahin suaminya yang nggak peka." lanjut Daffin.


"Ambilin nasinya."


"Makan dibawah aja lebih enak. Sini biar aku bantu. Supaya cepet timbul rasanya." Daffin menaik turunkan alisnya. Sedangkan Abisha hanya memandangnya heran."rasa cinta! Sekarangkan memorinya lagi rusak. Jadi, harus diperbarui. Dan sekarang, aku akan isi memori itu dengan membuat kenangan baru."


Abisha hanya mengernyit,"Punya suami kok nggak jelas banget." gumam Abisha.


"Cie... ada yang udah luluh nih sedikit. Nggak papa. Guys ... aku udah dianggap suami lagi, guys... " bisik Daffin kepada angin membuat Abisha semangkin mengerutkan alisnya.


"Berhenti," titah Abisha ketika Daffin hendak ingin membantunya. Wajahnya masih terlihat binggung. Sebenarnya ia hanya binggung akan tinggkah pria yang ada disampingnya.


"Aku bisa sendiri. Kamu minggir." lanjut Abisha. Abisha mulai mendekati tempat dimana Daffin menyimpan Makanan. Abisha mulai turun, kakinya yang patah hanya satu, jadi ia masih bisa menggunakan satu kaki untuk menjaga keseimbangan.


"Jangan nekat! Nanti jatoh."


Abisha tidak menghiraukan, Daffin. Ia sudah berdiri walaupun tidak sempurna. Abisha mulai mengatur keseimbangan untuk duduk. Daffin benar-benar aneh, selalu membuat Abisha susah. Padahal Abisha lebih nyaman jika makan dikursi roda.


Abisha sedikit sesusahan, binggung bagaimana caranya ia duduk dan posisi kakinya yang patah lurus kedepan. Abisha saat ini benar-benar butuh bantuan. Tapi Abisha malu!


"Kenapa dia tidak peka, yaAllah ...?" dalam hati Abisha sudah menanggis. Ia sedikit mulai menjatuhkan tubuhnya. Tiba-tiba, entah datang dari mana atau angin apa, Abisha jadi kehilangan keseimbangan. Dan hap ....


Ia jatuh dipelukan, Daffin. Padangannya bertemu, jantung Abisha berdetak hingga ingin keluar. Daffin tersenyum jahil.


"Udah dibilangin! Keras kepala, sih."


Abisha mencoba untuk bangkit. Tampa aba-aba Daffin membantu Abisha untuk duduk dibawah. Abisha hanya menurut karena menurutnya ia juga perlu cepat. Perutnya sudah lapar.

__ADS_1


Abisha sudah duduk begitu juga dengan, Daffin. Daffin mendekati Abisha ia mengarahkan telinganya tepat didepan dada, Abisha.


Abisha hanya binggung, ia sedikit mendorong kepala, Daffin.


"Jangan modus." Abisha mulai mengambil nasi dan mulai memasukkan nasi kedalam mulutnya.


Daffin hanya terkekeh,"Kamu deg-degan? Seperti yang aku bilang tadi, berarti rasa itu mulai tumbuh."Daffin mulai mengoda Abisha. Mungkin dengan cara itu untuk membuat Abisha kembali mengingatnya.


"Aku tadi cuman kaget."


"Ya, masuk akal. Tapi, tidak apa."


"Aku sangat berharap, kamu cepat sembuh. Aku rindu Abisha yang dulu. Abisha yang selalu nurutin perintah suaminya. Apapun itu." Abisha diam, memikirkan ucapan Daffin.


"Apapun?"tanya Abisha menatap wajah Daffin. Daffin mengangguk sambil tersenyum.


"Abisha juga nggak pernah ngomong pake aku, kamu. Abisha selalu panggil suaminya dengan sebutan kakak, dan dia akan panggil dirinya dengan sebutan, Abisha."


"Kak Daffin?" ucap Abisha lirih. Kini Abisha sudah selesai makan. Ia sedari tadi menatap lekat wajah, Daffin.


Abisha mengalihkan pandangannya kedepan. Mencoba mencari memori-memori yang hilang.


"Kak Daffin Abisha dingin."


"Sini peluk, biar anget."


"Kak Daffin modus'kan? Lepasin,"


"Katanya dingin."


Abisha mulai merasakan sakit dikepalanya. Ia ingat kata-kata itu. Abisha sudah menunduk menahan sakit dibagian kepalanya. Ia memegangi kepalanya. Tak henti-hentinya mulutnya meringgis kesakitan. Daffin kaget, dan mendekati Abisha.


"Udah, kamu jangan terlalu memaksakan untuk mengingat masa lalu kamu."


"Sakit...," Daffin mempompong tubuh Abisha menuju tempat tidur. Ia membaringkan tubuh Abisha disana. Daffin mengambil obat Abisha dan menyuruh Abisha untuk meminum obat tersebut. Abisha sedikit tenang. Ia memandang Daffin yang terlihat sangat panik. Abisha sedikit tersenyum melihat Daffin yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Abisha mulai memejamkan matanya. Sakit kepalanya mulai mereda, namun matanya tiba-tiba terasa berat.


Daffin mengusap pipi Abisha."Selamat tidur. Kalau ingatan kamu tidak akan kembali lagi, setidaknya aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta untuk yang kedua kalinya padaku." ucap Daffin lalu mengecup singkat dahi, Abisha.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2