The Doctor

The Doctor
episode 23


__ADS_3

"Daffin,"panggil Fahri


Daffin menoleh kebelakang. Saat ini ia masih berada dihalaman rumah sakit. Disana terlihat Fahri yang berjalan kearahnya sedikit tergesa. Daffin hanya tersenyum. Sudah beberapa hari ini, ia tidak bertemu, Fahri.


"Kamu udah masuk hari ini? Cepet banget?" tanya Fahri.


"Iya,"


"Nggak pergi bulan madu apa?"


"Nggak tau istri saya saja. Bulan madu aja dia nggak tau apa artinya!" jawab Daffin terkekeh.


"Bercanda aja kamu! Yaudah, yuk, masuk." ajak Fahri sedikit menepuk pundak, Daffin. Daffin hanya terkekeh dan mengikuti langkah Fahri untuk masuk kedalam.


***


Wulan hari ini berniat ingin kerumah,  Daffin. Menyempatkan diri sebelum pergi kerumah sakit. Sudah lama ia tidak pergi kesana. Ia juga sudah beberapa hari tidak bertemu Daffin karena ada tugas diluar.


Wulan memarkirkan motornya dihalaman rumah, Daffin. Ia melihat kearah taman dimana biasa nenek Daffin duduk santai.


Dan ternyata nenek Daffin sedang membaca koran disana.


Wulan turun dari motornya dan mengambil plastik yang berisi kue. Wulan berjalan kearah nenek sambil menenteng plastik tersebut.


"Assallamuallaikum, nek," salam Wulan lalu menyalimi nenek.


"Waallaikumussallam. Wulan," sahut nenek sedikit terkejut.


Wulan duduk dan menyimpan kue diatas meja.


"Ini, saya ada bawain nenek kue."


"Makasih, ya. Kamu udah lama nggak kesini?"


"Iya, Wulan beberapa hari yang lalu ada tugas diluar."


Diposisi tidak jauh dari sana. Abisha membawa  dua cangkir teh untuk nenek dan dirinya. Abisha melangkah keluar. Ketika melihat kearah nenek, ada seorang wanita berhijab syar'i disana.


"Siapa?" batin Abisha berhenti sejenak. Lalu memilih untuk segera menghampiri, nenek.


Abisha juga tidak bisa melihat jelas wanita itu. Karena posisinya membelakangi.


"Nek," panggil Abisha dari arah belakang.


Wulan menoleh kesumber suara."Abisha," Gumam Wulan.


Hatinya sudah bertanya. Kenapa ada Abisha disini? Membawa nampan yang berisi 2 cangkir dan itu artinya ia dari dalam. Sekarang masih pukul setengah 8 pagi, dan Abisha sudah berada dirumah, Daffin?


Abisha tersenyum ketika melihat Wulan." Kak, Wulan." tegur Abisha.


Abisha berjalan memberikan teh kepada nenek dan Wulan. Tidak apa jika minumannya harus diberikan kepada, Wulan. Karena menurutnya tamu itu penting. Jadi, harus didahulukan.


"Diminum ya, kak."Abisha langsung ikut duduk. Untung disana terdapat 3 kursi yang mengelilingi meja.


Wulan hanya mengangguk sambil tersenyum . Jujur rasa penasaran menjalar didalam hatinya.


"Kalian udah saling kenal?" tanya nenek yang sedari tadi terlihat binggung.


"Udah, nek! Abisha ini teman adik saya." terang Wulan.


"Abisha udah lama disini?" tanya Wulan.


Tiba-tiba, rasa khawatir muncul dihati, Abisha. Ia lupa bahwa Wulan juga mengharapkan, Daffin. Walau tidak pernah terucap dari mulutnya, namun bisa dilihat dari tingkahnya.


Abisha sedikit menunduk. Memaksakan untuk tersenyum. Sungguh ia takut Wulan akan membencinya.


"Hampir seminggu." jawab Abisha.


Seminggu? Berarti ia tidur dirumah, Daffin? Wulan sungguh ingin jawaban lebih. Rasanya tidak mungkin Daffin membiarkan wanita yang bukan mahramnya untuk tinggal dirumahnya. Begitu juga dengan abisha. Kecuali ...,


Wulan hanya tersenyum."Kamu Waktu itu nggak Datang ya kepernikahan, Daffin?" ucap Nenek tiba-tiba.


Deg ....


Pernikahan Daffin? Kapan? Kenapa dada Wulan berasa sesak? Matanya juga sudah mulai memanas.


Kini pandangannya beralih kepada Abisha yang menunduk.


"Daffin sudah menikah?" tanya Wuoan untuk memastikan kembali.


"Iya, ini Abisha istri Daffin."


"YaAllah sesakit inikah?" batin Wulan.


Wulan mencoba tersenyum, walau dadanya terasa perih. Kecewa, sakit? Iya! Wulan merasakan itu. Tapi, yang namanya sudah ketentuan Allah, Wulan tidak bisa apa-apa selain ikhlas.

__ADS_1


"Selamat, ya, Abisha. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah."


Abisha memandang Wulan dengan perasaan merasa bersalah.


"Aamiin," jawab Abisha lirih.


"Yaudah, nek, Abisha, saya pamit dulu ya, assallamuallaikum," Wulan menyalimi Nenek. Lalu tersenyum tulus kearah, Abisha.


"Waallaikumusallam." jawab nenek dan Abisha.


Wulan langsung menuju motornya. Sesekali ia mengusap air matanya yang ia tahan sedari tadi.


"Nek, Abisha kesana dulu ya bentar."


"Iya"


Abisha menghampiri, Wulan. Hatinya sekarang berasa tidak tenang. Takut, takut Wulan akan membencinya.


"Kak Wulan."panggil Abisha.


Wulan yang ingin memasang helm kembali meletakannya dimotor.


"Abisha," jawabnya sambil tersenyum.


Abisha mendekat "Maafin, Abisha."


Wulan mengernyitkan dahi. Wulan tidak mengerti maksud, Abisha.


"Kenapa minta maaf?"


"Abisha merasa bersalah udah nikah sama kak Daffin. Padahal Abisha tau, kalo kakak mencintai kak Daffin. Maafin, Abisha."


Wulan memegang salah satu bahu, Abisha." Abisha, kamu nggak salah. Semua sudah ketentuan allah. Lagian saya nggak cinta sama, Daffin. Kamu ini, dapat dari mana coba?" tutur Wulan sedikit tersenyum. Abisha hanya diam. Mungkin didepan Abisha ia bersikap seolah baik-baik saja. Namun, disisi lain...? Abisha mengerti, tidak ada yang tidak terluka jika melihat orang yang ia cintai menjadi milik orang lain.


"Yaudah, Kakak pamit. Udah mau masuk kerja soalnya. Kakak doain semoga kalian bahagia."


"Aamiin...! Makasih, ya,kak."


"Iya,"


Wulan memasang helmnya dan mulai menaiki motornya." Pergi dulu, ya, Assallamuallaikum." Pamitnya lalu melajukan motornya keluar.


"Waallaikumussallam."


***


"Kenapa ya, kalo aku kagum atau cinta sama orang, pasti akan ada yang tersakiti?" batinnya bertanya kepada diri sendiri.


Daffin yang baru selesai mandi. Terheran-heran melihat, Abisha. Sedari ia pulang kerja Abisha hanya diam. Sampai dikamar, ia juga masih diam dan sekarang ia sudah tiduran. Daffin menyimpan handuknya digantungan yang ada dibalkon kamar.  Lalu berjalan mendekati, Abisha. Daffin berjongkok didepan, Abisha. Abisha yang melihatnya hanya diam.


"Kenapa? Kok dari tadi diem terus?"


"Nggak papa."


"Kalo ada apa-apa cerita."


"Iya,"


Daffin bangkit dan membaringkan tubuhnya disamping, Abisha. Namun, Abisha masih dalam posisi sama yang membekalangi dirinya.


Daffin jadi binggung sendiri. Ada apa dengan istrinya?


"Abisha," panggil Daffin sambil memeluk Abisha.


"Kenapa, kak?" Entah menapa tiba-tiba Abisha merasa merinding. Ia belum terbiasa dengan perlakuan, Daffin.


"Liat sini. Kan udah bilang kalo tidur nggak boleh membelakangi suami."


Abisha menelentangkan tubuhnya. Tidak lupa dengan selimut yang selalu diatas dada.


Daffin mengubah posisinya miring kearah Abisha dengan satu tangan menompang kepala.


"Kenapa? Coba cerita."


"Nggak papa."


"Nggak ngaku cium, nih."


"Nggak papa."


Cup....


Daffin mencium pipi, Abisha. Membuat Abisha sedikit kaget dan semangkin tidak mood tentunya.


"Kak Daffin," kesal Abisha. Tangannya mengelap pipinya yang habis Daffin cium.

__ADS_1


"Makanya cerita! Kita sekarang suami istri, jadi harus saling terbuka. Kalo ada masalah cerita, supaya bisa selesaiin sama-sama."


Abisha hanya diam. Ucapan Daffin memang benar. Tapi....


"Nggak mau? Cium lagi, loh." ancam Daffin tersenyum mengoda.


Spontan Abisha menutupi wajahnya. Daffin terkekeh, entah kenapa istrinya tidak suka dicium. Baru pipi dan dahi belum yang lainnya. Tampaknya Daffin akan sering berpuasa.


"Kak, Daffin! Jangan gitu,"


"Makanya cerita."


Abisha melirik Daffin sekilas "Iya."


"So...?"


"Abisha cuman merasa bersalah aja sama kak Wulan." ucap Abisha hati-hati. Ia melirik kearah Daffin yang menatapnya serius.


"Kenapa?"


"Karna..., Abisha udah nikah sama, kakak. Padahal Abisha tau kalau Kak Wulan menyukai, kakak." jawabnya. Kali ini ia tidak berani menatap, Daffin.


Daffin sedikit tersenyum "Hey, Kenapa kamu bisa mikir gitu,hem? Aku cintanya sama kamu. Jadi, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Lagian, aku sama Wulan hanya teman."


"Tetep aja."


"Kamu tau, Fahri mau melamar, Wulan. Jadi, jangan pikirin itu lagi. Pikirin kita aja, nenek tuh udah minta cicit." goda Daffin sedikit terkekeh. Membuat Abisha menjadi salting.


"Kak apa, sih? Abisha masih muda."


Daffin cukup mengerti. Usia Abisha baru 18 tahun. Tapi sampai kapan menunggu. Daffin lelaki normal. Apalagi sekarang usianya hampir 24 tahun. Entah sampai kapan Daffin bisa menahannya.


"Iya, tau! Terus mau kuliah dimana? Kok, aku belum tau kamu daftar dikampus apa. Bukannya ini udah buka ya, pendaftarannya?"


"Um, setelah Abisha pikir-pikir kayanya Abisha nggak usah kuliah, deh. Abisha jagain nenek aja. Abisha cuman takut, kalo Abisha kuliah, kewajiban-kewajiban Abisha jadi terbengkalai."


"Yaudah, terserah kamu." ucap Daffin mendukung istrinya.


"Tapi Kak Daffin malu nggak ya kalo punya istri cuman lulusan SMK. Sedangkan kak Daffin'kan dokter, nih?"


Daffin tersenyum lalu mengelus kepala istrinya."Kenapa harus malu? Malahan aku beruntung."


"Makasih, ya, kak."


"Um, boleh tanya sesuatu?" tanya Daffin


Abisha memilih untuk duduk. "Apa?"


Daffin ikut duduk. Rasanya ia ingin tau banyak  tentang istrinya .


"Tentang, Azka!"


Abisha mengerutkan dahi. Melihat Daffin yang memandangnya serius. Abisha takut. Takut kejadian kelam itu muncul. Dimana Daffin membentaknya karena dirinya dekat dengan, Azka.


"Kenapa, Azka?" tanya Abisha hati-hati.


"Kamu tinggal jawab."


Nada bicara Daffin sudah berubah. Terlihat wajahnya yang datar dengan sorot mata yang menatap Abisha dengan lekat lekat.


"Kakak'kan tau, Azka cuman temen sekelas Abisha sewaktu SMK dulu."


"Hanya teman?"


Kenapa Daffin bertanya seperti itu? Bukankah Abisha telah menikah dengannya. Jika ia bukan berteman terus pacaran gitu. Abisha tidak habis pikir.


"Menurut, kakak? Abisha ini udah nikah. Terus, kak Daffin bertanya seperti itu karena ngira Abisa selingkuh?" rasanya Abisha sedikit kecewa kepada, Daffin.


"Kamu tau, semalam Azka mengechet kamu. Menanyakan kabarmu. Apa kalian sering kaya gitu sebelumnya? Apa ini alasan kamu kenapa pernikahan kita diminta untuk dirahasiakan?" Daffin sudah terlihat marah. Entah kenapa Daffin tidak suka kalau Azka mendekati, Abisha. Semalam chet Azka Daffin yang balas dan Daffin hapus kembali. Sewaktu itu Abisha sudah tertidur.


Mata Abisha mulai memanas. Ia tidak menyangka Daffin bisa berpikiran sejauh itu. Abisha tidak pernah meminta merahasiakan pernikahannya. Ia hanya meminta untuk mengundang keluarga dan teman terdekat saja. Hanya itu, tidak lebih!


"Tapi kami hanya berteman. Apa salah? Lagian Abisha tidak pernah chet Azka atau lelaki manapun setelah menikah." kini Abisha sudah terisak. Abisha tidak bisa menahan tanggisnya. Hatinya sakit dituduh seperti itu.


Daffin membawa Abisha kedalam pelukannya. Daffin tidak bermaksud melukai perasaan, Abisha. Ia hanya minta penjelasan dari, Abisha. Daffin tidak suka kalau Abisha dekat dengan pria lain.


"Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat kamu nanggis. Aku hanya tidak suka melihat kamu berhubungan dengan, Azka. Kamu tau, Azka menyukaimu. Itu kenapa ia selalu menanyakan kabarmu."


Abisha hanya diam. Ia menghapus air matanya."Abisha memang pernah suka sama, Azka . Tapi itu hanya sebatas kagum. Nggak lebih." batin Abisha.


"Udah,"


Daffin menbersihkan sisa-sisa air mata dipipi, Abisha. Abisha hanya diam memandangi wajah, Daffin.


"Jadi, Jelekkan mukanya."

__ADS_1


Abisha langsung terkejut "Kak, Daffin...!" sedangkan Daffin hanya terkekeh.


Happy reading.


__ADS_2