The Doctor

The Doctor
TUJUH


__ADS_3

Suara sirine ambulance beriringan memecahkan keheningan jalan raya yang cukup lengang. Ambulance ambulance itu berurutan datang di pintu utama unit gawat darurat rumah sakit Haesung. Pada pukul sepuluh malam ini telah terjadi kecelakaan beruntun.


Bayangan seorang wanita berlari di sebuah koridor minim cahaya. Bayangan tersebut terlihat membuka salah satu loker yang berisikan beberapa jas jas putih yang terlipat rapi. Ia terburu buru memakai jas dokternya lalu mengganti high heels yang ia kenakan dengan sendal karet. Kepalaku miring kekanan, menahan sebuah benda persegi pilih yang tak lain ponsel adanya.


"Ya aku sudah disini. Segera siapkan semuanya." Perintah dokter itu pada seseorang di seberang sana. Selesai dengan urusannya ia segera berlari meninggalkan tempat ia berpijak sebelumnya.


Dokter itu tak lain tak bukan adalah Rainia adanya. Sebenarnya ia tidak sedang bertugas malam ini. Namun keadaan UGD yang ramai pasien membuat pihak rumah sakit mau tidak mau menghubungi Rainia meminta bantuannya.


Beberapa pasien di dorong masuk ke dalam UGD. Suara suara rintihan menahan sakit terdengar memenuhi ruang UGD yang kian menambah hiruk pikuk di dalamnya. Dokter dokter muda sibuk membantu para dokter senior dan perawat menangani pasien yang baru saja datang. Pasien yang datang kebanyakan menderita luka yang cukup serius. Sejumlah perawat tampak berlarian membawa alat alat medis. Sementara sebagian perawat lain membantu petugas ambulance menurunkan pasien kemudian mendorong brangkar pasien masuk ke ruang UGD.


Dokter Rainia datang berniat untuk membantu perawat. Atensinya menangkap begitu banyak pasien yang berlumuran darah. Semua dokter yang terlihat sibuk, dokter dokter junior yang membantu para perawat tak kalah repotnya.


"Huffthh.." Rainia menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan rasa kantuk dan lelahnya. Kemudian ia mengamati satu persatu pasien yang harus segera di selamatkan terlebih dahulu, atau pasien yang memiliki tingkat kegawatan tinggi. Sepertinya malam ini adalah malam yang panjang dan melelahkan.


Atensinya menangkap sosok pasien yang baru saja keluar dari ambulance dengan gelang merah di lengannya. Rainia segera menghampiri pasien tersebut dan membantu dua orang perawat mendorong pasien masuk ke ruangan UGD.


"Kenapa semua pasien dilarikan ke rumah sakit ini.?" Rainia bertanya sembari terus mendorong brangkar.


"Ada kecelakaan beruntun yang melibatkan tiga bus pariwisata dan empat minibus. Empatpuluh pasien di larikan ke rumah sakit kita dan sisanya ke rumah sakit Jenhwan dan Hangguk" jawab salah satu perawat yang bernametag Yoori.


"Dokter, sepertinya ada pendarahan hebat pada tulang tengkorak pasien." Tutur perawat Hana.


"Fraktur kranial.?" Tebak dokter Rainia. "Ayo ppali ppali..!" teriak Rainia kepada empat perawat wanita tersebut untuk segera membawa pasien ke dalam ruang prioritas pertama untuk segera ditangani. Setibanya di ruang prioritas pertama Rainia segera memakai sarung tangan dan maskernya.


"Tanda vital"


"Tekanan darah 80/50, denyut nadi 120, suhu tubuh 38,7°, laju pernafasan 20." perawat Yoori menyebutkan dengan cepat.


"Dokter Hoo, cepat bantu aku.!" Teriakan Rainia bergema.


Dokter Hoo datang dan bergegas membantu Rainia. Setibanya ia segera menuju ke arah kepala pasien yang mengalami cidera. Dokter Hoo membuka perban sementara Rainia menjelaskan situasinya.


""Pasien mengalami pendarahan intrakranial karena fraktur kranial. Aku akan mengobati..." Belum selesai dokter Rainia berbicara, tiba tiba darah muncrat dari balik perban yang baru saja ia buka hingga mengenai wajah dokter Hoo.

__ADS_1


"Dokter.!" Seru dokter Hoo. Dokter Rainia menoleh dan mendapati dokter hi yang dipenuhi oleh darah.


"Tukar posisi, cepat.!" titah Rainia setengah berseru.


Sruuutt.. Darah kembali muncrat mengenai jas dokter dan maskernya.


"Kelly." Rainia meminta sebuah peralatan medis yang dengan cepat diberikan perawat Hana.


"Salline." Dokter Hoo memberikan larutan salline yang diminta Rainia. Dokter Rainia yang di bantu oleh dokter Hoo berkutat dengan cidera di kepala pasien.


"Panggil dokter bedah syaraf sekarang juga.!!" Teriak Rainia yang di tanggapi dengan secepat kilat oleh perawat Yoori.


Dokter Rainia melepas maskernya begitu ia keluar dari ruang prioritas pertama, setelah selesai menangani pasien cidera kepala tadi. Rencananya ia akan menemui pasien selanjutnya namun ponselnya berdering, menghentikan langkah kakinya. ketika ia akan mengangkat telpon sebuah panggilan menginterupsinya.


"Dokter. Dokter Rain disini.!!" Salah seorang perawat wanita berteriak panik mendapati pasiennya memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Rainia yang tak mendengar panggilan tersebut lantas mengangkat telpon dari Baekhyun.


"Dokter segera ke dorm. Chanyeol pingsan." terdengar suara panik Baekhyun ketika telpon tersambung.


"Apa.?!" tanya Rainia setengah berseru.


"Dokter Rain..!!" Teriak perawat tadi kembali berteriak panik. Sadar seseorang memanggilnya Rainia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya pasien dengan darah memenuhi hampir seluruh wajah bagian bawahnya.


"Arghhh.." Rainia mengerang frustasi. "Cobalah untuk menghubungi dokter atau rumah sakit lain Baekhyun-ssi. Rumah sakit Haesung tengah menangani empatpuluh pasien gawat darurat saat ini. Semua orang sedang sangat sibuk." Rainia mencoba menjelaskan kepada si penelepon.


"Kau yang bertanggung jawab sebagai dokter agensi SM Entertainment. Jadi kau yang harus menanganinya." terdengar suara bentakan dari manager Exo yang tampaknya mengambil alih telpon.


"Aku tahu. Tapi tolonglah untuk mengerti keadaan kami saat ini."


Sementara perawat Eun Soo yang tidak mendapatkan respon dari Rainia tanpa berpikir panjang ia langsung menarik tangan dokter Rainia untuk segera menangani pasien. Rainia mengikuti langkah cepat perawat Eun Soo. Keduanya berjalan setengah berlari. Rainia mengambil stetoschop dari saku jas dokternya, lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Sesampainya di samping pasien, seorang perawat pria tampak berusaha menyadarkan pasien. Dokter Rainia datang dan segera memeriksa denyut jantung pasien dengan stetoschopnya. Ia masih merasakan tanda tanda kehidupan pada pasien.


"Saya khawatir jika pasien mengalami geger otak." ujar perawat Eun Soo.

__ADS_1


"Apa darahnya juga keluar dari hidung.?" tanya Rainia sambil memeriksa pasien.


"Tidak dokter. Hanya saja pasien mengeluh sakit di bagian kepala dan perut sebelum tak sadarkan diri." Jelas perawat Eun Soo.


"Mungkin pasien mengalami benturan yang keras. Yang jelas ini buka geger otak." Ujar Rainia memeriksa pupil mata pasien dengan penlight.


"Lakukan CT-Scan, dan pindahkan dia ke ruang prioritas pertama sekarang juga. Jangan lupa cek darahnya, aku akan segera menyusul."


Perawat Eun Soo mengangguk mengerti. Ia mengkode perawat pria bermarga Wang di depannya untuk segera memindahkan pasien keruang prioritas pertama untuk segera di tangani.


Sementara pasien di bawa ke ruang prioritas pertama, dokter Rainia berlari menuju ruangannya untuk menelpon manager Exo kembali. Menjelaskan secara singkat keadaan di rumah sakit. Namun sang manager tetap bersikeras agar dokter Rainia yang menangani Chanyeol. Rainia semakin frustasi dibuatnya. Rainia berpikir sejenak, persetan dengan keadaan Chanyeol. Rumah sakit sangat membutuhkannya sekarang. Chanyeol mungkin hanya kelelahan saja pikirnya.


Rainia meninggalkan ponselnya di ruangannya lalu berlari kembali menuju ruang prioritas pertama.


Sesampainya di sana ternyata sudah ada dokter Minho seniornya sekaligus wakil kepala instalasi UGD yang sudah selesai menangani pasien tersebut. Rainia hanya pasrah ketika dokter Minho memelototinya tajam.


"Kemana saja kau itu ha.? Pasien hampir saja mati." Bentak dokter Minho yang memang terkenal galak itu.


"Maaf saya ada sedikit urusan tadi." Ujar Rainia menunduk. Ia mengetahui kesalahannya. Ternyata seperti ini rasanya di marahi oleh atasan.? Biasanya ia yang sering memarahi bawahannya.


"Permintaan maafmu tidak akan berguna ketika pasien meninggal.! Lakukan operasinya, kuserahkan padamu." Perintahnya yang di angguki oleh Rainia.


"Bagaimana kondisinya.?" tanya Rainia setelah kepergian dokter Minho.


"Pasien mengalami pendarahan pada lambung, dokter. Ini hasil CT scannya. Ruang operasi sedang disiapkan." Perawat Eun Soo menyerahkan hasil CT-Scan pasien yang di sambut oleh Rainia.


"Tes darahnya.?" perawat pria di sampingnya menyerahkan hasil tes darah pasien.


"Bagaimana dengan hasil endoscopy.?"


"Dokter Minho belum melakukannya dok." perawat Wang menjawab sedikit ragu.


"Kalau begitu ayo kita lakukan."

__ADS_1


Rainia mendekati pasien untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Sementara perawat Wang dan perawat Eun Soo menyiapkan alat.


__ADS_2