
Rainia berjalan tanpa membalas sapaan perawat atau dokter yang berpaspasan dengannya. Ia memang sedikit hangat kepada member Exo saat makan bersama semalam di rumahnya. Tapi saat ini Rainia kembali menunjukkan ekspresi datar dan dinginnya. Hari ini adalah hari pertamanya kembali melakukan aktifitasnya di rumah sakit paska cuti sakitnya.
Dokter Rainia baru selesai menangani pasien yang tiba tiba mengalami kejang kejang saat perawat Wang datang menghampirinya.
"Dokter anda di panggil presdir sejak tadi." tutur perawat Wang yang membuat dokter Rainia segera melenggang pergi tanpa berkata sepatah katapun.
"Ahhh akhirnya datang juga hari ini.." keluhnya dalam hati.
Ya. Setelah beberapa hari menghindar, akhirnya masalah ini harus dihadapi juga. Ia harus mulai menyimpan banyak stok kesabaran atau ia akan meledak. Tapi mengingat gosip beberapa perawat pagi tadi sepertinya akan sulit untuknya menahan amarahnya. Terlebih ia tidak tahu apakah presdir Kim akan memarahinya atau tidak.
Flashback..
Rainia baru saja selesai memarkirkan mobilnya ketika telinganya menangkap bisik bisik perawat yang menggosipkan dirinya. Ia tetap berjalan dengan tenang tanpa menghiraukan gosip bahkan sapaan orang orang padanya. Namun setelah mereka lengah, dokter Rainia segera melipir bersembunyi di balik pilar tak jauh dari perawat itu. Sedikit mencuri dengar topik gosip mereka.
"Bukankah itu dokter Rain.?" Tanya seorang perawat kepada tiga temannya.
"Ya. Sepertinya ia baru masuk setelah beberapa hari cuti karena sakit."
"Hahhh aku kasihan padanya. Gara gara dokter Eunri ia mendapatkan masalah." ujar perawat Yoori.
"Masalah.?" tanya perawat lain yang sepertinya belum tahu mengenai insiden dua operasi sekaligus itu.
"Kalian tidak tahu.? Saat kita kedatangan empatpuluh pasien kecelakaan bus kemarin, dokter Rainia sedang mengoperasi pasien namun tiba tiba perawat Han masuk keruang operasinya meminta pertolongan karena dokter Eunri tidak bisa menangani pasiennya. Akhirnya dokter Rainia memutuskan untuk mengoperasi dua pasien sekaligus. Itu sangat menegangkan, jantungku bahkan nyaris tanggal dari tempatnya." jelas perawat Yoori yang memang menyaksikan kejadian tersebut.
"Aku tidak heran jika dokter Eunri yang melakukan itu. Bukankah ia bahkan tiga kali gagal dalam ujian spesialis bedah.? Lalu mengapa dibiarkan mengoperasi pasien sendiri.? Bukankah harusnya ia jadi asisten operasi saja.?"
"Kau tidak tahu jika ibunya pemilik saham terbesar setelah Presdir Kim.?" tanya perawat Yoori sedikit ketus. "Status bangsawan yang menjengkelkan. Aku bahkan tidak mau jika harus satu ruangan operasi dengannya."
Rainia pergi dari sana. Tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Kepalanya jadi mendadak pusing tujuh keliling. Berhadapan dengan orang yang punya kuasa memang selalu merepotkan.
__ADS_1
Flashback off
**************
Tok tok tok...
Rainia mengetuk pintu ruangan presdir Kim. Ia menghela nafasnya dalam dalam sebelum akhirnya melangkah masuk ketika dipersilahkan masuk. Ternyata ketua Park juga ada di ruangan presdir Kim. Presdir Kim duduk di salah satu sofa berhadapan dengan ketua Park. Tatapannya menyorot tajam kearah Rainia.
"Saya kira kamu sudah tahu mengapa aku memanggilmu kemari.?" tanya Presdir Kim tajam. Dokter Rainia hanya menundukkan kepalanya tanda menghormati atasannya.
"Memimpin dua operasi sekaligus dalam satu waktu. Benarkah itu.?" tanya Presdir Kim dengan suara rendahnya. "Jawab..!" Bentaknya sembari menggebrak meja yang tidak bersalah. Membuat ketua Park terlonjak kaget begitupun dengan dokter Rainia. Dokter Rainia berusaha meredakan amarahnya dengan mengepal tangannya kuat.
"Benar.!" Jawab dokter Rainia tegas. Bahkan ia menegakkan kembali kepalanya yang tadi tertunduk.
Ketua Park memberikan tatapan peringatan kepada dokter bimbingannya itu. Bagaimana bisa dokter muda itu menatap acuh kepada presdir Kim dan bersikap seakan akan tidak memiliki masalah apapun.? Pikir ketua Park agak jengkel.
"Benar. Tapi apa yang kau lakukan sangat menyalahi aturan. Bagaimana bisa seorang dokter melakukan dua operasi beresiko tinggi sekaligus.? Bagaimana jika salah satu pasien meninggal.? Atau bahkan mungkin keduanya.? Reputasi rumah sakit akan di pertaruhkan dan mungkin lisensimu akan di cabut."
Hoo apakah presdir Kim sedang menghawatirkan lisensinya sekarang.? Mengapa tidak menghawatirkan lisensi keponakannya sendiri.? Reputasi rumah sakit.? Apa apaan itu.
"Di saat gawat seperti itu, saya hanya mengambil keputusan sebagai seorang dokter. Tanpa memikirkan lisensi atau bahkan reputasi rumah sakit karena keselamatan pasien lebih penting. Saya tidak peduli lisensi saya akan di cabut atau apalah itu. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang dokter." Jawab dokter Rainia dengan nada bicara yang sedikit tinggi. Kenapa kebanyakan orang hanya memikirkan reputasi ketimbang nyawa manusia.?
"Keduanya sama sama kritis dan saya tidak bisa memilih salah satu diantara mereka. Sekali lagi maaf, saya tidak peduli anda kepala rumah sakit atau bahkan pemilik rumah sakit sekalipun. Saya akan tetap berusaha menyelamatkan siapa saja yang memerlukan pertolongan saya. Suatu saat nanti dalam kondisi dan situasi yang sama, jika saya harus melakukan dua operasi sekaligus entah untuk yang kedua kalinya atau bahkan keseratus kalinya saya akan tetap melakukannya."
"Turunkan nada bicaramu.!" bentak Presdir Kim semakin marah.
"Saya mohon maaf. Mungkin sangat tidak sopan saya berbicara seperti ini kepada anda. Tapi saya rasa reputasi rumah sakit di tentukan oleh seluruh warga rumah sakit. Dokter, perawat, bahkan karyawan sekalipun. Dan sebenarnya reputasi rumah sakit ini sudah turun bahkan sebelum saya menyalahi peraturan rumah sakit ini, karena kinerja buruk dari keponakan anda sendiri. Terimakasih karena anda sudah menghawatirkan lisensi saya. Tapi akan lebih baik jika anda menghawatirkan lisensi keponakan anda sendiri. Saya permisi.!" Ujar dokter Rainia sebelum akhirnya meninggalkan ruangan presdir Kim dengan membanting pintu.
Amarahnya sudah mencapai puncaknya. Jika ia lebih lama berada di ruangan tersebut ia tidak yakin tidak akan melempari presdir Kim dengan vas bunga yang bertengger cantik dimeja tersebut.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak geram ketika mendapatkan bentakan sedemikian rupa bahkan setelah ia membantu keponakannya yang melakukan kesalahan paling bodoh dalam sejarah kedokteran. Jika keponakannya tidak ceroboh sedemikian rupa bukankah ia juga tidak harus melakukan tindakan ekstrim seperti itu.?
Ketika ia berbalik, ia terkejut ketika mendapati dua orang staf kepala dan beberapa perawat yang menguping.
"Haishhh.." Kesal dokter Rainia. Ia menghentakkan kuat kuat kakinya dilantai saking kesalnya.
Mereka hanya memberikan hormat dengan menundukkan kepala seraya pura pura tidak mengerti. Dokter Rainia mempercepat langkahnya bergegas pergi dari sana dan menelfon sahabatnya yang di Indonesia mencurahkan segala kekesalannya.
"Wajar saja jika presdirmu itu marah padamu karena kau yang membuat kesalahan. Lagipula kenapa kau masih saja membangkang.? Kukira kau akan berubah ketika berada di negri orang nyatanya semakin parah." omel dokter Zamzam diseberang telfon.
"Aku menelfon mu untuk bicara denganmu. Kenapa malah mengomeli ku seperti ini.? Aku menyesal sudah menceritakannya padamu." gerutu dokter Rainia lalu mematikan panggilannya sepihak.
Beberapa perawat bahkan dokter yang berpaspasan dengan dokter Rainia menyapanya. Namun dokter Rainia tidak menghiraukannya dan memasang wajah yang di tekuk seribu. Membuat para perawat kembali bergosip tentangnya.
Kring kring kring....
"Apa lagi.?!" bentak dokter Rainia kesal mengangkat ponselnya. Moodnya sangat buruk saat ini.
"Ketua Park mencarimu." suara dokter Hoo. "Cepatlah, sepertinya ketua park sangat marah" tuturnya lagi.
"Sekarang apa lagi.?? Arghhh..." erang dokter Rainia sembari mengacak acak rambutnya frustasi.
**Maaf ceritanya menggantung..
saya akan melanjutkannya nanti..
jempol ku sudah tak sanggup mengetik lagi..
Terimakasih sudah membaca.. semoga kalian sehat selalu... Jangan lupa untuk meninggalkan like nya yaaa.. ehehehe**
__ADS_1